Pages

Tampilkan postingan dengan label Yesus jalan kebenaran dan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yesus jalan kebenaran dan hidup. Tampilkan semua postingan

04 Mei 2014

Kebenaran Masih Dibutuhkan dalam Hidup



Kebenaran sering menjadi taruhan dalam hidup ini. Banyak orang menyelewengkan kebenaran, karena ingin hidup aman dan tenteram. Mereka mengabaikannya, karena ingin menikmati hidup yang penuh dengan ketidakjujuran.

Suatu hari seorang anak menceritakan sesuatu yang salah yang dilakukan oleh teman kelasnya. Menurutnya, temannya itu telah nyontek selama ulangan. Ia menceritakan hal itu kepada teman-temannya yang lain. Akibatnya, teman-temannya marah terhadap teman yang disangka nyontek itu.

Mereka mendatanginya. Mereka meminta, agar dia mengakui bahwa dia nyontek. Tidak mengerjakan ulangan dengan jujur. Anak itu membela diri. Soalnya adalah ia tidak melakukan hal itu. Ia sudah belajar dengan baik. Ia mengerjakan soal-soal ulangan dengan baik pula. Ia yakin, ia akan memperoleh hasil yang baik.

Mereka tidak bisa membuktikan bahwa teman mereka telah nyontek selama ulangan. Mereka tidak apa-apakan dia. Biasanya mereka akan memarahi teman mereka yang kedapatan nyontek waktu ulangan. Kali ini mereka tidak bisa buat apa-apa, karena mereka mendengar cerita dari teman yang lain.

Selidik punya selidik, ternyata teman mereka itu mengatakan suatu kebohongan. Ia ingin merusak nama baik temannya itu. Ia benci terhadap sesamanya itu. Karena itu, ia mengatakan yang tidak benar tentang dirinya. Akibatnya, anak yang berbohong itu kehilangan banyak teman. Ia tidak disukai karena telah menyebarkan berita bohong tentang teman kelasnya. Kebohongan itu ternyata tidak bertahan lama. Ia akan menguap seperti air di samudera yang luas. Hilang tanpa bekas.

Sahabat, mengapa kebohongan mudah digerus oleh zaman? Karena kebohongan tidak punya kekuatan. Kebohongan tidak punya bukti-bukti yang kuat untuk mempertahankan diri. Karena itu, kebohongan sering bertahan untuk waktu yang tidak lama. Cepat lenyap dari hadapan manusia. Nilai kebenarannya tidak ada, sehingga tidak punya kekuatan apa-apa.

Sedangkan kebenaran itu penuh kekuatan. Kebenaran itu kuat seperti angin yang memporakporandakan. Kebenaran mampu menghancurkan tipu muslihat, karena kekuatannya yang dahsyat itu. Ketika orang menceritakan kebohongan, orang kehilangan hubungan dengan kekuatan yaitu kebenaran.

Memang, orang yang selalu berpegang teguh pada kebenaran selalu mengalami godaan-godaan. Bahkan orang seperti ini dipandang sebagai ancaman bagi orang yang hidupnya dipenuhi dengan kebohongan. Namun orang yang mengandalkan kebenaran mesti bertahan. Tidak boleh menyerah. Tidak boleh tergoda untuk mengikuti jalan orang yang suka berbohong. Orang seperti ini tidak boleh larut dalam tipu muslihat kebohongan.

Sebagai orang beriman, kita mesti senantiasa mengandalkan kebenaran dalam hidup ini. Orang yang berpegang pada kebenaran selalu memperjuangkan kebaikan bersama. Sedangkan orang yang mengandalkan kebohongan hanya memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri. Yang penting dirinya senang dan orang lain mengalami susah dan derita.

Mari kita terus-menerus memperjuangkan kebenaran dalam hidup ini. Dengan demikian, kita berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1092

26 April 2013

Mengatasi Gelombang Kehidupan

 
Apa yang akan Anda lakukan di saat Anda berhadapan dengan gelombang kehidupan ini? Anda lari terbirit-birit? Atau Anda berusaha untuk menghadapinya dengan penuh iman?

Saya masih ingat saat pertama mengadakan perjalanan jauh di tahun 1983. Kapal yang kami tumpangi dari pelabuhan Maumere, Flores, bukanlah kapal penumpang. Tetapi sebuah kapal barang yang mengangkut kopra. Kapal tersebut baru selesai dibuat beberapa bulan sebelumnya. Jadi masih tergolong kapal yang sangat baru. Kapten kapal dan anak buah kapal yang lain termasuk masih baru. Namun mereka tampak sudah sangat berpengalaman.

Malam hari kapal mulai meninggalkan pelabuhan Maumere. Tampak perjalanan begitu mudah. Namun begitu kapal memasuki Selat Sape, dua malam kemudian, semua menumpang berteriak. Mengapa? Karena kapal dihempas oleh gelombang yang tinggi di wilayah Selat Sape itu. Semua penumpang yang tidur digeladak kapal menjadi panik. Mereka takut kalau-kalau kapal itu tenggelam ke dasar laut.

Namun kapten kapal meyakinkan para penumpang bahwa kapal dan seluruh penumpang akan selamat. Kapten kapal dan anak buah kapal yang lain berusaha untuk mengeluarkan kapal dari jebakan ombak yang tinggi. Mereka berhasil. Kapal kemudian berlayar kembali dengan normal membelah laut.

Semua penumpang bertepuk tangan. Ada yang mengangkat dua jempol ke arah kapten kapal yang berdiri tersenyum memandang para penumpang. Ia berteriak, “Kita selamat. Jangan panik lagi. Setelah ini, perjalanan kita sampai Surabaya akan aman-aman saja.”

Sahabat, dalam hidup sehari-hari kita juga mengalami gelombang kehidupan. Ada yang merasakan gelombang yang tinggi menghempas dirinya. Namun ada pula yang merasakan gelombang-gelombang kecil seperti api yang berkecamuk di dalam sekam. Ada dari antara kita yang panik. Ada yang merasa kehilangan pegangan. Ada yang berusaha untuk mencari jalan keluar untuk menghadapi gelombang kehidupan itu. Namun ada yang pasrah begitu saja. Ada yang menyerah tak mau berjuang lagi.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa kalau orang punya usaha untuk keluar dari gelombang kehidupan, selalu ada jalan. Kalau ada keyakinan untuk melepaskan diri dari gelombang kehidupan, orang memiliki kekuatan untuk bangkit. Orang tidak terpuruk dan menyerah kalah begitu saja. Orang menemukan kekuatan untuk berjuang terus dalam kehidupan ini. Orang tetap tegar menghadapi gelombang kehidupan ini.

Orang beriman itu punya pegangan hidup, yaitu Tuhan yang disembah dalam hidup sehari-hari. Setiap hari Tuhan memberikan keyakinan kepada orang beriman untuk tetap bertahan dalam hidup ini. Tuhan mengemudikan hidup manusia.

Yesus bersabda, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Tuhan mengarahkan manusia ke jalan yang benar, yaitu kepada diri-Nya. Dengan demikian, manusia memperoleh ketenangan dalam hidup ini. Manusia memperoleh keselamatan yang datang dari Tuhan. Mari kita serahkan hidup kepada Tuhan yang menuntun hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


967