Pages

12 November 2010

Menjauhkan Diri dari Godaan-godaan Iblis



Suatu hari, Iblis mengiklankan bahwa ia akan mengobral perkakas-perkakas kerjanya. Pada saat penjualan, seluruh perkakasnya dipajang untuk ditonton calon pembeli. Lengkap dengan harganya yang ditempelkan pada setiap perkakas. Seperti kita masuk ke toserba, semua barang yang dijual tampak sanggat menarik. Semua barang tampak sangat berguna sesuai dengan fungsinya. Harganya pun tidak mahal.

Barang-barang yang dijual si Iblis antara lain dengki, iri hati, tidak jujur, tidak menghargai orang lain, tidak tahu terima kasih, malas, dendam dan masih banyak yang lain lagi.

Di suatu pojok display ada sebuah perkakas yang bentuknya sederhana. Sudah agak aus, tetapi harganya sangat mahal. Bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan yang lainnya.

Seorang calon pembeli bertanya kepada Iblis, “Ini alat apa namanya?”

Sambil tersenyum, Iblis menjawab, “Ini namanya Putus Asa.”

Pembeli itu penasaran. Ia bertanya lagi, “Mengapa harganya mahal sekali, padahal sudah aus?”

Iblis menjelaskan, “Ya, karena perkakas ini sangat mudah dipakai dan berdaya guna tinggi. Saya bisa dengan mudah masuk ke dalam hati manusia dengan alat ini dibandingkan dengan alat lain. Begitu saya berhasil masuk ke dalam hati manusia, saya dengan sangat mudah melakukan apa saja yang sangat saya inginkan. Barang ini menjadi aus, karena saya sering menggunakannya hampir kepada semua orang. Apalagi kebanyakan manusia tidak tahu kalau putus asa itu milik saya.”

Sahabat, setiap hari kita menyaksikan budaya kematian. Mengapa semua itu terjadi? Karena manusia tergiur oleh indah dan menariknya iklan si iblis yang dihadirkan dalam berbagai bentuk. Begitu banyak orang mesti mengakhiri hidupnya, karena tidak tahan terhadap begitu beratnya hidup ini. Apa yang mereka miliki untuk melanjutkan hidup ini musnah, karena digadaikan dengan bujuk rayu si iblis.

Begitu banyak orang mesti menderita sebagai akibat dari dendam kesumat oleh bangsa-bangsa tertentu. Dendam menjadi senjata ampuh bagi iblis untuk melumpuhkan kehidupan manusia. Yang kemudian hidup di tengah-tengah manusia adalah budaya kematian. Sementara manusia larut dalam jerit tangis, si iblis bersuka cita dalam pesta pora kemenangan.

Karena itu, manusia mesti mensiasati hidupnya. Manusia mesti tidak boleh mudah tergoda oleh iklan-iklan murahan yang mematikan dari iblis. Manusia tidak boleh mudah tergiur oleh bujukan-bujukan yang manis dari si jahat. Untuk itu, manusia mesti memupuk iman yang semakin kuat kepada Tuhan. Hanya dengan membangun iman yang semakin kuat, orang akan mengembangkan hidup ini untuk lebih mencintai.

Orang beriman mesti selalu sadar akan cara hidupnya bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman itu senantiasa menjauhkan diri dari dendam dan iri hati. Orang beriman mesti menjauhkan diri dari putus asa yang hanya menghancurkan hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan bagi banyak orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 20.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

549

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.