Pages

05 November 2010

Merefleksikan Kebaikan Sesama


Suatu hari seorang gadis terkejut melihat kerut-kerut di wajahnya mulai semakin banyak. Padahal selama ini ia kurang menyadarinya. Namun ia tidak mau terlalu memperdulikannya. Biarlah semua itu terjadi. Toh ia bukan seorang gadis belasan tahun lagi. Ia seorang gadis tiga puluhan. Ia ingin menikmati masa-masa itu dalam ketenangan. Tidak perlu kuatir akan keadaan yang terjadi dengan dirinya.

Memang, beberapa temannya sudah mengingatkan dia akan kerut-kerut di wajahnya. Namun ia tetap tidak peduli. Baginya, mereka hanya bisa mengkritik. Mereka tidak bisa menghilangkan kerut-kerut di wajahnya. Mereka boleh saja memberi berbagai nasihat yang menenangkan batinnya. Tetapi mereka bukan Tuhan yang mampu menghilangkan persoalan di wajahnya itu.

Ia punya prinsip bahwa siapa saja yang getol mengkritik orang lain, belum tentu dapat melakukan apa yang dikritiknya itu untuk dirinya sendiri. Memang, lebih mudah memberikan koreksi terhadap orang lain daripada mengkritik diri sendiri. Lebih mudah kita menghabisi orang lain daripada kita membongkar kekurangan dan kelemahan diri kita untuk diperbaiki.

Sahabat, orang mengatakan bahwa sekali Anda bergembira menemukan sebutir debu kesalahan orang lain, Anda tergoda untuk mendapatkan yang sebesar kerikil. Begitu seterusnya hinggga tanpa sadar Anda menciptakan gunung kesalahan orang lain. Benarkah demikian yang mesti berjalan dalam hidup manusia?

Kiranya refleksi terus-menerus mesti dibuat, agar orang tidak hanya melihat kesalahan dan dosa orang lain. Melalui refleksi itu orang semestinya menemukan hal-hal yang baik dalam diri orang lain. Banyak hal baik yang ada dalam diri sesama kita. Ini yang semestinya menjadi pedoman dalam hidup kita. Kita mesti yakin bahwa sesama kita juga memiliki kebaikan-kebaikan yang membantu kita untuk menjalin persaudaraan bersama.

Orang yang hanya melihat dirinya sendiri selalu baik biasanya kurang kritis terhadap dirinya sendiri. Orang seperti ini menempatkan diri terlalu tinggi. Orang seperti ini biasanya menyombongkan dirinya. Tujuannya agar orang lain memuji-mujinya. Dengan demikian, ia dianggap sebagai orang yang paling baik dan paling mampu dalam segala bidang.

Tentu saja orang beriman bukan orang seperti ini. Orang beriman itu mesti berani membongkar kelemahan dirinya. Tujuannya untuk mengalami proses pembentukan kembali, sehingga ia dapat bertumbuh dan berkembang dengan lebih baik. Orang beriman itu orang yang tidak mau menyombongkan dirinya sendiri. Tetapi orang yang dengan penuh kasih menempatkan diri sejajar dengan sesamanya.

Karena itu, mari kita berusaha untuk menghormati kelebihan dan kelemahan sesama kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang yang sungguh-sungguh berguna bagi sesama kita. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 20.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

542

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.