Pages

28 November 2010

Memiliki dan Membangun Harapan

Suatu sore sepasang suami istri menggelar dagangan mereka di trotoar jalan. Lampu jalan tidak cukup terang untuk menerangi dagangan mereka. Di kanan kiri tumpukan puing-puing bongkaran pasar mengepung. Di depan mereka berlalu lalang kendaraan dan langkah-langkah kaki yang cepat. Melihat kondisi seperti ini, belum tentu ada orang yang menoleh ke arah dagangan mereka.

Belum lagi polisi pamong praja (pol pp) yang ganas sering melintasi tempat mereka. Pernah suatu sore dagangan mereka dibawa pergi oleh pihak pol pp. Mereka harus menebusnya dengan mahal. Padahal sore itu dagangan berupa gorengan yang mereka jual belum banyak laku. Sore itu mereka tidak bisa menjual dagangan mereka hingga malam hari. Mereka cepat-cepat menyusul pihak pol pp ke kantor untuk menebus dagangan mereka. Setelah itu, mereka pulang ke rumah.

Ketika ditanya tentang hal ini, mereka menjawab, ”Kami tidak kehilangan harapan. Itulah satu-satunya matapencaharian kami. Kami tahu harapan tidak pernah meninggalkan mereka yang menggenggamnya.”

Karena mampu menggenggam harapan itu, pasangan suami istri ini mampu menghidupi keluarganya. Mereka mampu membiayai anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi. Mereka yakin, harapan yang ditumbuhkembangkan dalam hidup sehari-hari akan mampu memberi mereka kekuatan untuk tetap bertahan dan maju dalam hidup.

Sahabat, ada banyak orang jatuh dalam usaha-usaha mereka, karena kurang punya harapan. Sedikit tantangan datang menerpa, mereka tidak kuat bertahan. Mereka ikut jatuh terjerembab. Akibatnya, keputusasaan yang menjadi bagian dari hidup mereka. Orang kurang menumbuhkan harapan di dalam dirinya. Orang kurang berani menggenggam harapan.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa harapan mesti menjadi bagian dari hidup kita. Kita hidup dalam dunia yang tidak begitu saja mudah menyediakan berbagai sarana dan fasilitas untuk hidup kita. Kita sendiri mesti berusaha untuk menyediakan sarana-sarana itu untuk kemajuan hidup kita. Untuk maju, orang mesti berani menggenggam harapan dalam hidup ini.

Setiap usaha yang dilakukan pasti akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi hidup. Tidak akan hilang begitu saja. Tidak akan berlalu begitu saja. Karena itu, bertahan di dalam harapan merupakan suatu keutamaan yang mesti ditumbuhkembangkan dalam hidup ini. Menggenggam harapan tidak berarti mematikannya, namun terus-menerus berusaha untuk memajukan usaha-usaha.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk tetap setia pada usaha-usaha yang telah kita mulai. Banyak orang gagal dalam usahanya, karena kurang punya kesetiaan. Mereka berusaha, tetapi begitu ada tantangan yang menghadang, mereka meninggalkannya. Mereka membiarkan usaha-usahanya mati tak terurus.

Mari kita memupuk dan menggenggam harapan kita. Kita menaruh harapan kita pada Tuhan yang mampu membantu kita bertahan dalam usaha-usaha kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan damai dan sukacita dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.