Pages

Tampilkan postingan dengan label bertahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bertahan. Tampilkan semua postingan

23 Oktober 2015

Ketahanan dalam Menjalani Hidup



Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menyaksikan seorang bintang yang hebat? Anda tentu saja mengaguminya. Anda mungkin gemas terhadapnya. Namun apakah cukup sampai di situ. Tentu saja yang diharapkan adalah lebih dari itu.

Cristiano Ronaldo masih terus memperlihatkan penampilan mengagumkan bersama Real Madrid sejauh ini. Rekor apalagi yang sudah ia pecahkan dan rekor apa yang akan ia lalui? Tiga gol yang dicetak Ronaldo ke gawang Villarreal pada suatu akhir pecan, membuat pemain berkebangsaan Portugal itu telah mencetak 22 gol dalam 18 penampilannya bersama Madrid, di Liga Spanyol pada musim kompetisi 2014/2015 yang lalu.

Catatan itu rupanya cukup istimewa, karena Ronaldo melewati catatan legenda Madrid, Ferenc Puskas, yang mencetak 21 gol dalam 18 pekan pada musim 1960-61 atau 50 tahun silam.

Di bawah Ronaldo dan Puskas, ada Gaspar Rubio, Manuel Alday, Alfredo Di Stefano dan Hugo Sanchez yang mencetak 19 gol dalam 18 pekan di masa kejayaan mereka masing-masing. Lantas, rekor apalagi yang bakal dipecahkan Ronaldo di pekan-pekan selanjutnya? Ada sebuah catatan penting yang bisa ia patahkan, yaitu pemain tercepat yang mencetak 50 gol di Liga Spanyol buat Madrid.

Saat ini, catatan tersebut dikuasai oleh Puskas yang membutuhkan 54 pertandingan untuk mencatat 50 gol di La Liga. Kemudian ada nama Di Stefano yang menorehkannya dalam 56 pertandingan. Ronaldo saat ini total sudah mencetak 48 gol dalam 47 pertandingan Liga Spanyol. Artinya, bila Ronaldo mampu mencetak setidaknya dua gol dalam enam pertandingan Liga Spanyol ke depan, maka rekor Puskas pun bakal patah.



Tidak Bercabang-cabang

Begitulah kehebatan Cristiano Ronaldo. Tentu ada rahasia di balik kesuksesan Ronaldo. Ia tidak pakai jimat atau mendatangkan roh-roh halus. Yang ia lakukan setiap hari adalah latihan yang keras. Ia gunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengasah ketrampilannya menggiring bola dan menceploskannya ke dalam gawang lawan. Catatan rekor yang dibuatnya tentu saja mengagumkan banyak orang. Kita juga termasuk yang mengagumi apa yang dilakukan oleh Cristiano itu.

Namun sering kita hanya terpaku pada mengagumi kehebatan seseorang. Kita tidak mencontoh kehebatan orang itu. Memang, kita tidak perlu menjadi sama dengan orang itu. Namun yang mesti kita lakukan adalah menimba semangat yang dimiliki oleh orang yang hebat itu. Dengan demikian, kita tidak hanya mengagumi kehebatannya.

Selain latihan yang keras, tentu saja orang yang hebat itu juga memiliki kedisiplinan yang tinggi. Ia mesti latihan tepat waktu. Ia tidak boleh malas-malasan. Ia juga mesti beristirahat pada waktunya. Tetapi ia juga mesti fokus pada apa yang sedang dijalaninya. Pikirannya tidak bercabang-cabang. Hanya satu hal yang mesti ia lakukan, yaitu ia memusatkan perhatian pada apa yang sedang ia lakukan itu.

Nah, sering banyak orang gagal dalam hal ini. Ketahanan orang kurang terlatih untuk hal ini. Karena itu, kita butuh waktu untuk membangun hidup kita. Dengan demikian, kita memiliki ketahanan dalam menjalani hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang (masih) Kota Asap

1175

11 Juni 2014

Tetap Menaruh Pengharapan pada Tuhan


Apa yang Anda lakukan, kalau doa dan permohonan Anda belum dikabulkan? Apakah Anda masih menaruh pengharapan pada Tuhan?

Suatu ketika Tuhan berjanji kepada Abraham, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. Maka firmanNya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu’” (Kej 15:5).

Sayang, bertahun-tahun janji itu belum ditepati. Istri Abraham, Sara, tetap tidak memiliki anak selama bertahun-tahun. Bahkan saat usia kedua orang kudus itu sudah sangat tua, belum juga ada tanda-tanda bahwa Sara akan melahirkan seorang anak pun.

Namun Abraham tidak kecewa. Abraham tetap percaya bahwa suatu ketika Tuhan menepati janjiNya. Tuhan tidak pernah berbohong. Tuhan senantiasa setia pada janjiNya. Karena itu, dalam situasi seperti itu Abraham tetap setia kepada Tuhan. Ia memberikan hidupnya kepada Tuhan. Ia tidak menggerutu kepada Tuhan. Keyakinannya tetap, yaitu Tuhan akan tetap menepati janjiNya.

Penantian selama 39 tahun itu tidak sia-sia. Tuhan menepati janjiNya. Tuhan memperhatikan Sara, seperti yang difirmankanNya. Sara pun mengandung. Lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan. Abraham berumur 100 tahun saat Ishak lahir, sedangkan Sara 90 tahun. Tidak ada kata terlambat bagi Tuhan! Dia membuat segala sesuatu indah pada waktuNya.

Sahabat, secara manusiawi kita pasti akan kecewa saat janji yang telah diberikan kepada kita ternyata belum terpenuhi. Orang yang memberi pengharapan kepada kita sebut sebagai Pemberi Harapan Palsu alias PHP. Mungkin kita akan sakit hati. Ada yang mungkin menyerah pada keadaan. Ada yang berhenti berharap kepada Tuhan dan mulai memakai logika. Ada yang kemudian mencari pertolongan pada hal-hal di luar Tuhan. Misalnya, orang bepergian kepada dukun untuk memberi ketenangan batin, meski hanya semu.

Padahal nabi Yeremia berkata, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!” (Yer 17:5). Kisah Abraham menjadi contoh bagi kita untuk tetap berharap pada Tuhan, meski apa yang kita harapkan belum terpenuhi.

Dalam situasi sulit, kita berdoa kepada Tuhan untuk memohon pertolonganNya. Kita menaruh harapan pada Tuhan. Namun kita sering tergoda untuk meninggalkan Tuhan, karena doa permohonan kita belum dikabulkan. Untuk itu, yang mesti kita lakukan adalah tetap bertahan pada iman kita akan Tuhan. Tuhan mengabulkan doa dan permohonan kita pada waktunya. Tuhan akan membahagiakan kita pada saat yang tepat.

Mari kita tetap menggantungkan harapan kita pada Tuhan semata. Mengapa? Hanya Tuhan yang menjadi pemenuhan pengharapan kita. Hanya Tuhan yang mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan kepada kita. Berharap berarti kita juga belajar untuk tetap setia kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT



1103

01 Juni 2014

Bertahan dalam Pengharapan Membawa Sukacita

 
Memiliki pengharapan merupakan bagian dari menumbuhkan iman dalam kehidupan sehari-hari. Namun sering orang mudah putus asa. Orang tidak mudah bertahan dalam pengharapan.

Seorang pemuda sedang memancing di sebuah tambak ikan. Ia berharap, hari itu ia mendapatkan banyak ikan. Ia ingin menghadiahkan ikan itu untuk mamanya yang tersayang. Hari itu, sang mama merayakan ulang tahun kelimapuluh. Setengah abad. Jadi ia ingin membuat kejutan bagi sang mama tercinta.

Sayang, hingga sore menjelang, belum banyak ikan yang ia peroleh. Rupanya ikan-ikan di tambak itu tinggal sisa-sisa. Ikan-ikan di tambak itu baru dua hari lalu dipanen oleh pemiliknya. Namun pemuda itu tetap punya pengharapan untuk mendapatkan ikan yang banyak.

Pemuda itu tidak putus asa meski setiap kali melempar pancing, ia tidak memperoleh ikan. Ia tetap tersenyum. Ketika matahari mulai tenggelam, ia pun beranjak pulang. Dengan lima ekor ikan yang ia peroleh, ia pulang ke rumah dengan gembira. Ia membersihkan ikan-ikan itu. Lantas ia membakar ikan-ikan itu. Itulah persembahan yang bisa ia berikan bagi sang mama tercinta.

Sahabat, banyak orang kehilangan harapan ketika ada aral yang melintang di hadapan mereka. Rasa putus asa kemudian menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tidak ada gairah lagi dalam hidup ini. Orang menjalani hidup ini dengan penuh pesimisme. Akibatnya menjadi jelas, yaitu orang akan mengalami stress dalam kehidupannya.

Kisah di atas memberi kita warna kehidupan yang berbeda. Kesulitan dihadapi dengan gairah hidup yang penuh pengharapan. Pemuda itu tidak mau putus asa dalam upayanya membahagiakan sang mama. Baginya, memiliki pengharapan itu jauh lebih baik daripada berhenti tidak melakukan apa-apa. Meski mendapatkan ikan yang tidak banyak, ia berbahagia. Ia boleh mengungkapkan rasa sayangnya kepada sang mama.

Orang yang memiliki pengharapan itu memberi kekuatan dan rasa aman bagi jiwa. Harapan adalah sikap yang sehat. Mengantisipasi yang baik membawa kenyamanan bagi pikiran dan hati.

Sebaliknya, keadaan putus asa merupakan kondisi yang mengerikan. Kondisi ini menyedihkan bagi kehidupan manusia. Bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang yang hidup di sekitar kita. Orang yang kehilangan harapan berjalan dalam terowongan gelap yang panjang.

Orang beriman mesti selalu memiliki pengharapan dalam hidup. Mengapa? Karena pengharapan memberikan rasa optimis dalam hidup. Pengharapan mampu membangkitkan gairah dalam menjalani hidup ini. Pengharapan membuat orang memiliki kreativitas untuk membahagiakan diri dan sesamanya.

Mari kita menggantungkan harapan kita pada Tuhan semata. Tuhan akan melengkapi pengharapan kita dengan rahmat demi rahmat-Nya. Untuk itu, kita mesti berpasrah diri kepadaNya. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk menemukan kebahagiaan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/KOMSOS KAPal

1097