Pages

06 Maret 2010

Ketika Manusia Tergiur Godaan


Ada seorang baik hati yang ingin menunjukkan kebaikannya. Pada suatu hari dia memperhatikan kondisi malang dari seorang tukang kayu. Orang baik yang kaya itu memanggil tukang kayu yang miskin itu dan menyerahkan wewenang kepadanya untuk membangun sebuah rumah yang indah.

Ia berkata kepada tukang kayu itu, “Saya inginkan agar rumah ini menjadi sebuah rumah yang sungguh indah. Gunakan saja bahan-bahan terbaik, pekerja-pekerja terbaik dan jangan menghemat.”

Orang kaya itu mengatakan bahwa dia akan mengadakan perjalanan dan mengharapkan, agar rumah itu selesai dibangun pada saat dia kembali.

Tukang kayu itu melihat hal ini sebagai suatu kesempatan berharga yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Karena itu, dia menghemat bahan-bahan, menyewa pekerja-pekerja yang bermutu rendah dan dibayar rendah. Ia menutupi kekurangan mereka dengan cat dan memotong sudut-sudut sedapat mungkin.

Ketika orang baik yang kaya itu pulang, tukang kayu itu menyerahkan kunci rumah kepadanya. Ia berkata, “Saya telah mengikuti petunjuk tuan dan membangun rumah seperti yang tuan katakan.”

Orang kaya itu tersenyum memandangnya dan berkata, “Saya sangat senang.” Kemudian ia menyerahkan kembali kunci rumah baru itu kepada tukang kayu itu. Ia berkata, “Ini kunci-kuncinya. Inilah milikmu. Saya sudah menyuruh engkau membangun rumah untuk dirimu sendiri, engkau dan keluargamu harus memiliki itu sebagai hadiah dari saya.”

Tahun-tahun selanjutnya tukang kayu itu tidak pernah berhenti menyesal, karena telah menipu diri sendiri. Dalam rasa sesal yang mendalam, ia berkata, “Kalau saya tahu bahwa saya membangun rumah ini untuk diri saya, tentu akan jadi lain...”

Kejujuran dan kesetiaan ternyata masih menjadi barang mahal di dunia ini. Kesetiaan pada janji atau komitmen begitu mudah luntur, karena orang mudah tergiur oleh godaan-godaan. Orang tergiur untuk memiliki harta yang banyak, sehingga ia lupa akan kesetiaannya pada janji yang pernah diucapkannya. Hal ini terjadi di mana-mana di berbagai bidang kehidupan.

Dalam kehidupan berkeluarga, misalnya. Orang mudah mengingkari janji perkawinan yang telah mereka ucapkan. Cinta yang mereka ucapkan itu ternyata hanya manis di bibir saja. Setelah sekian tahun membangun hidup berkeluarga, terjadilah perselingkuhan. Suami hidup dengan perempuan lain. Istri mencari gandengan baru.

Karena itu, dibutuhkan kejujuran dalam hal-hal yang nyata. Orang mesti jujur menampilkan diri di hadapan sesamanya. Suami istri mesti tampil apa adanya. Tidak menyimpan misteri sendiri-sendiri. Kalau masih menyimpan rahasia sendiri-sendiri nanti menyesal kalau terjadi perceraian. Pepatah mengatakan bahwa sesal kemudian tidak berguna. Untuk itu, mari kita bangun kejujuran dari hati yang tulus dan bening. Bukan suatu kejujuran semu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

342
Bagikan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.