Pages

Tampilkan postingan dengan label menderita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menderita. Tampilkan semua postingan

11 Maret 2016

Membuka Telinga bagi Sesama yang Menderita

 
Ketika ada sesama Anda yang mengalami kegalauan dalam hidupnya, apa reaksi Anda? Anda biarkan saja atau Anda membuka hati dan telinga Anda untuk mendengarkan keluh kesahnya?

Seorang anak merasa galau dalam hidupnya. Soalnya adalah kedua orangtuanya menganggap remeh terhadap dirinya. Padahal ia adalah anak kandung kedua orangtuanya. Selama hidupnya, ia juga selalu melakukan hal-hal yang terbaik bagi dirinya dan orangtuanya. Karena itu, ia merasa heran mengapa orangtuanya tidak mau mendengarkan dirinya.

Suatu hari, ia meminta kepada ibunya, “Ibu, dengarkan aku sekali ini saja.”

Namun tidak ada jawaban yang ia dapatkan. Justru ibunya memarahi dirinya. Ia tidak ingin mengdengarkan suara anaknya. Anak itu menjadi semakin galau. Sebagai manusia, ia ingin didengarkan. Ia bukan sekedar sebuah patung. Ia seorang manusia yang bermartabat. Ia tidak mau berputus asa.

Ia mendatangi ayahnya. Ia bertanya, “Ayah, ayah mau mendengarkanku kan?”

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut sang ayah. Air mata mengalir dari mata sang anak. Ia telah memohon untuk didengarkan, tetapi tak ada sebuah telinga pun yang terbuka bagi dirinya. Ia bertanya dalam hati, apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia pun termenung, merefleksikan persoalan yang sedang dihadapinya.

Kesimpulan yang ia temukan adalah ia seorang anak yang lemah dan juga selalu gagal dalam banyak hal. Dia sudah melakukan yang terbaik, namun tak kunjung mendapatkan hasil yang baik. Akibatnya, tak seorang pun mau mengakui keberadaannya.

Berada dalam situasi tidak didengarkan merupakan suatu pukulan besar bagi diri seseorang. Orang merasa tidak dimanusiakan. Orang merasa seperti robot atau patung. Orang merasa tak berguna dan juga merasa tersisih. Tidak ada ruang baginya untuk bisa mengungkapkan pendapat.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk senantisa memasang telinga bagi orang lain. Banyak orang mengalami berbagai persoalan dalam hidupnya. Mendengarkan persoalan mereka berarti kita menerima kehadiran mereka sebagai manusia. Mendengarkan orang lain berarti kita juga menghargai kehadiran mereka.

Orang beriman mesti selalu menyediakan telinganya untuk sesamanya. Telinga yang selalu terbuka berarti juga orang memiliki kepedulian yang besar terhadap sesamanya. Orang tidak hanya membiarkan telinganya dimasuki oleh suara-suara. Lebih dari itu, orang sungguh-sungguh memasang telinganya bagi sesamanya itu. Mengapa? Karena sesama itu bukan sekedar patung atau boneka. Mereka adalah manusia yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi.

Kita mesti ingat bahwa orang yang merasa tidak berguna sering mengakhiri kehidupannya. Mereka berpikir bahwa kematian adalah jalan terbaik, karena orang lain tak lagi menghargai kehadiran mereka. Untuk itu, memasang telinga sejenak saja untuk sesama kita akan sangat berguna dan berharga. Pertama-tama, kita menyelamatkan sesama itu dari kematian. Kedua, kita memberikan rasa optimis baginya dalam menjalani hidup ini.

Mari kita tetap memasang telinga bagi sesama yang sedang berada dalam kegalauan hidupnya. Dengan demikian, kita dapat menyelamatkan jiwanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1188

16 Juni 2011

Memupuk Kepekaan Hati bagi Yang Menderita




“Kawan-kawan, seorang ibu dan tiga anaknya masih terjebak banjir di Kampung Melayu. Sudah dua hari mereka tidak mendapat suplai makanan. Bantuan dapat disalurkan melalui posko relawan atau tim SAR di lokasi”. Begitu bunyi salah satu SMS yang dikirim oleh Nor Pud.

Kali lain, Nor Pud mengirim SMS berbunyi, “Apakah kita akan membiarkan anak-anak korban penggusuran itu harus kehilangan kesempatan untuk belajar? Mereka tidak berdosa. Mereka harus diselamatkan.” SMS itu merupakan reaksinya atas peristiwa penggusuran di sebuah lokasi di Jakarta Barat.

Biasanya SMS-SMS semacam itu dilengkapi dengan nama orang yang bisa dihubungi dan nomor telepon yang bisa dikontak. Kadang sangat detail ditulis obat-obatan atau jenis barang yang dibutuhkan. Bahkan lokasi orang-orang yang membutuhkan bantuan biasanya dicantumkan sangat lengkap, sehingga memudahkan siapa saja yang ingin memberikan bantuan.

Hampir setiap minggu Nor Pud Binarto mengirim SMS semacam itu kepada kenalan-kenalannya untuk membantu para korban. Isinya berupa imbauan agar mereka yang menerima SMS tersebut tergerak untuk membantu. Bukan cuma peristiwa di wilayah Jakarta yang menjadi kepeduliannya. Mulai longsor di Papua, bentrokan berdarah di Ambon, gempa di Jogja, sampai TKI yang terlantar akibat diusir pemerintah Malaysia menjadi perhatiannya.

Lelaki enerjik ini seorang yang selalu gelisah. Terlalu banyak yang ingin dilakukannya. Tetapi waktu seakan terlalu singkat. Bicaranya juga ceplas-ceplos. Kritis bahkan cenderung nyinyir. Hampir semua keadaan dikritisinya. Terutama yang menyangkut kebijakan-kebijakan pemerintah yang dia nilai menyengsarakan rakyat kecil. Ia pernah menjadi penyiar salah satu stasiun radio terkenal di Jakarta.

Sahabat, kepedulian terhadap sesama yang menderita menggerakkan hati orang untuk membantu. Apa yang dilakukan oleh Nor Pud itu tampaknya biasa-biasa saja. Namun ia ingin agar orang memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Ia ingin agar orang yang menerima SMS-nya itu tergerak hatinya untuk sesamanya yang sedang menderita.

Memang tampak cara seperti ini terlalu sederhana. Namun hasil dari cara seperti ini ternyata luar biasa. Banyak orang kemudian tergerak hatinya untuk membantu sesamanya yang sedang mengalami penderitaan. Usaha yang tampak kecil itu membawa kebahagiaan bagi banyak orang yang menderita.

Nor Pud mengorbankan waktu dan uangnya untuk menggerakkan sesamanya bagi yang menderita. Tentu saja pengorbanan seperti ini dapat dilakukan berkat kepekaan terhadap sesama. Kepekaan itu tumbuh dari rasa kasih yang besar terhadap orang lain yang menderita.

Kisah Nor Pud memberikan inspirasi bagi orang beriman untuk selalu memiliki dan memupuk kepekaan dalam dirinya terhadap sesama yang menderita. Kepekaan itu kemudian menggerakkan hati orang untuk tanggap terhadap kebutuhan sesama. Mari kita berusaha terus-menerus untuk memiliki kepekaan hati terhadap sesama yang menderita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Tabloid KOMUNIO dan Majalah FIAT

700

27 Desember 2009

Kasih Itu Membahagiakan




Ada seorang tua yang tinggal di tepi sungai. Sungai ini adalah peralihan bagi para bebek dari udara dingin ke udara hangat menjelang musim dingin.

Pada suatu saat menjelang musim dingin, tiba-tiba datanglah angin kencang. Akibatnya, sebagian dari bebek-bebek yang sedang berenang di sungai itu terperangkap ke dalam gua yang terletak tidak jauh dari sungai itu.

Mengetahui hal ini, orang tua yang penuh cinta kasih ini kemudian setiap hari memberi makan bebek-bebek itu. Ia takut kalau bebek-bebek yang berada di dalam gua itu tidak memperoleh makanan dan mati kelaparan. Ia tidak tega melihat bebek-bebek itu tidak bisa bermain-main lantaran tubuh yang lemas. Ia mengulurkan tangan kasihnya untuk bebek-bebek itu.

Karena bebek-bebek itu diberi makan secara rutin setiap hari, mereka sampai lupa untuk pindah ke daerah yang udaranya hangat. Dari tahun ke tahun semakin banyak bebek yang menempati gua itu. Pada suatu hari ketika musim salju tiba, orang tua ini tiba-tiba meninggal dunia dan semua bebek yang berada di dalam gua itu menderita kelaparan.

Orang tua itu sudah tidak lagi memberi mereka makan. Bebek-bebek itu terancam mati dan punah. Namun ada orang lain yang mengunjungi gua itu terharu melihat perjuangan bebek-bebek itu untuk mencari makanan. Ia memulai aksinya dengan setiap hari datang ke gua untuk memberi makan bebek-bebek itu. Kehidupan bebek-bebek itu pun berlanjut. Mereka tidak mati. Mereka boleh meneruskan perjalanan hidup mereka.

Hidup ini dipenuhi dengan kasih yang bertumbuh dan berkembang setiap saat. Orang yang memiliki kasih itu orang yang peduli terhadap keaadaan di sekitarnya. Orang seperti ini tidak tega melihat sesamanya menderita. Begitu ia melihat ada sesamanya yang kekurangan, ia langsung mengulurkan tangan untuk membantu. Baginya, membantu sesama itu rahmat dari Tuhan. Tuhan menggunakan dirinya untuk membantu sesamanya yang menderita.

Banyak peristiwa hidup yang kita alami atau kita jumpai dalam hidup ini. Peristiwa-peristiwa itu membantu kita untuk menyadari bahwa hidup ini mesti terus berlanjut. Hidup ini tidak boleh berakhir dengan penderitaan. Hidup ini mesti terus mengalir dalam kebahagiaan.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita menjadi lebih bernilai bagi sesama di sekitar kita. Hidup seperti ini akan memberikan kepuasan batin dan kebahagiaan bagi kita. Karena itu, orang beriman itu orang yang selalu memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Artinya, ia hidup bukan hanya bagi dirinya sendiri. Tetapi juga bagi sesama yang membutuhkan bantuannya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


273
Bagikan

20 Juli 2009

Peduli terhadap Sesama yang Miskin


Suatu hari diumumkan kepada penduduk seluruh negeri bahwa Raja Muda hilang dari istana. Kontan saja semua punggawa kerajaan dikerahkan untuk menemukan Baginda Muda. Berhari-hari, berminggu-minggu tidak ketemu, bertanyalah seorang petinggi kerajaan kepada seorang pertapa yang dikenal punya indra keenam.

“Raja sedang menyamar sebagai seorang miskin yang kelaparan,” kata sang pertapa.

Dikumpulkannya seluruh orang miskin dan pengemis di seluruh pelosok negeri di alun-alun kota. Tetapi ketika diteliti dan diinterogasi, tidak seorang pun mengaku sebagai Baginda Muda. Takut bahwa Baginda Muda telanjur kelaparan, kerajaan memutuskan untuk membagikan separuh kekayaan untuk orang-orang miskin.

Para penduduk kaya di kerajaan itu pun melakukan hal yang sama. Mereka kuatir jangan-jangan mereka telah berlaku tidak adil kepada Baginda Muda yang mungkin menyamar sebagai buruh, pembantu maupun pengemis. Dalam waktu tidak begitu lama, kerajaan ini masyur di seluruh kawasan, karena terjadi pemerataan kesejahteraan.

Keprihatinan yang mendalam di negeri ini adalah terjadinya jurang yang begitu dalam antara kaum kaya dan miskin. Orang miskin itu tidak punya apa-apa untuk menjadi penyambung hidup. Untuk dapat meneruskan hidup keesokan hari, mereka mesti bingung. Mereka tidak tenang dalam hidup ini. Tetapi begitu banyak orang kaya yang kurang peduli terhadap hidup mereka. Tambahan lagi ada begitu banyak pula pejabat yang melakukan tindakan korupsi. Akibatnya, dana yang semestinya digunakan untuk mengentaskan kemiskinan justru hilang lenyap. Lalu kapan kaum miskin dapat keluar dari belenggu kemiskinan mereka?

Beruntunglah bahwa beberapa tahun terakhir ini dilaksanakan Bantuan Langsung Tunai atau BLT bagi rakyat miskin. Bantuan ini didapat dari subsidi pemerintah. Namun disinyalir terjadi banyak penyimpangan dalam pelaksanaannya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena ada egoisme yang terlalu kuat mengakar dalam diri. Orang tidak peduli akan penderitaan sesamanya. Orang kurang punya hati yang peka terhadap situasi kemiskinan sesama di sekitarnya.

Karena itu, dibutuhkan suatu pendidikan kepekaan hati terhadap sesama yang berkekurangan dan miskin. Kisah di atas mau mau mengatakan bahwa situasi kemiskinan itu menggugah hati Baginda Muda untuk peduli terhadap mereka yang miskin. Kepeduliannya itu telah membawa suatu perubahan yang sangat besar dalam hidup manusia. Dalam waktu yang singkat terjadi suatu pemerataan kesejahteraan hidup.

Dalam salah satu pengajaran-Nya, Yesus mengidentikan diri dengan orang-orang yang miskin dan menderita. Ia mau mengatakan kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaran-Nya bahwa peduli terhadap mereka yang miskin juga berarti peduli terhadap diri-Nya. Tuhan hadir dalam diri setiap orang, termasuk mereka yang miskin dan menderita. Karena itu, kalau kita peduli terhadap sesama yang miskin dan menderita, kita peduli terhadap Tuhan yang hadir dalam hidup kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki kepedulian terhadap sesama yang miskin dan menderita. Mereka selalu hadir dalam hidup kita. Mereka juga menjadi bagian dari hidup kita. Kita diajak untuk senantiasa memiliki kepedulian terhadap situasi kemiskinan mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (94)

18 Juli 2009

Arahkan Hati dan Hidup kepada Tuhan


Seorang dukun diperintahkan oleh hakim sebuah pengadilan untuk mengembalikan uang seorang perempuan kliennya. Soalnya, perempuan itu kecewa karena jampi-jampi yang ia berikan gagal membuat mantan pacar perempuan itu kembali ke pelukannya. Dukun itu harus mengembalikan 10 juta rupiah plus denda sebanyak dua juta rupiah.

Dukun itu kena batunya. Sebelumnya banyak orang yang kena tipu oleh jampi-jampinya. Namun mereka tidak menuntut dukun itu ke pengadilan. Baru kali ini ia dituntut oleh perempuan muda yang kehilangan pacar itu.

Keinginan untuk mendapatkan kembali pacarnya itu membuat perempuan muda itu berjuang mati-matian. Berbagai cara ia lakukan. Termasuk mendatangi dukun. Tetapi ia tertipu. Biaya besar yang ia keluarkan itu ternyata tidak mendatangkan hasil yang memadai. Ia kecewa dan menuntut dukun itu ke pengadilan.

Dalam dunia yang serba modern ini ternyata masih ada orang yang percaya kepada hal-hal yang tidak masuk akal. Kisah di atas menunjukkan bahwa janji manis sang dukun itu ternyata hanya isapan jempol belaka. Ia bukan Tuhan yang punya kuasa untuk mengembalikan sang kekasih yang sudah berpindah tangan.

Persoalannya adalah mengapa orang begitu mudah percaya kepada hal-hal yang tidak masuk akal? Jawabannya adalah karena orang kurang punya iman. Orang mudah mengambil jalan pintas. Orang tidak berpegang teguh pada imannya akan Tuhan. Karena itu, orang mudah goyah dalam hidupnya. Orang mudah terjerumus ke dalam kegelapan hidup.

Apa yang mesti dilakukan oleh orang beriman? Tetaplah bertahan dalam iman akan Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan itu tidak ingin menyakiti hati manusia. Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hidup manusia. Tuhan senantiasa menyertai dan melindungi manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia ini.

Sebagai orang beriman, hati kita mesti selalu diarahkan kepada Tuhan. Banyak godaan yang akan mengganggu pikiran dan hidup manusia. Banyak tawaran kemudahan untuk dipegang oleh manusia. Namun kita mesti sadar bahwa godaan-godaan dan tawaran-tawaran itu sering membuat manusia menderita.

Orang yang mudah tergiur oleh janji untuk mendapatkan kekayaan secara mendadak biasanya akan mengalami penderitaan. Biasanya bukan untung yang diperoleh, tetapi justru kebuntungan yang dialami dalam hidup ini. Akibatnya, orang mengalami stress dalam hidupnya. Orang mengalami penderitaan demi penderitaan.

Karena itu, mari kita arahkan hidup hanya kepada Tuhan semata. Percayalah Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hidup kita. Tuhan selalu mengarahkan hidup kita kepada kebahagiaan dan kebaikan. Tuhan membekati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB (92)