Pages

Tampilkan postingan dengan label kepekaan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepekaan hati. Tampilkan semua postingan

16 Juni 2011

Memupuk Kepekaan Hati bagi Yang Menderita




“Kawan-kawan, seorang ibu dan tiga anaknya masih terjebak banjir di Kampung Melayu. Sudah dua hari mereka tidak mendapat suplai makanan. Bantuan dapat disalurkan melalui posko relawan atau tim SAR di lokasi”. Begitu bunyi salah satu SMS yang dikirim oleh Nor Pud.

Kali lain, Nor Pud mengirim SMS berbunyi, “Apakah kita akan membiarkan anak-anak korban penggusuran itu harus kehilangan kesempatan untuk belajar? Mereka tidak berdosa. Mereka harus diselamatkan.” SMS itu merupakan reaksinya atas peristiwa penggusuran di sebuah lokasi di Jakarta Barat.

Biasanya SMS-SMS semacam itu dilengkapi dengan nama orang yang bisa dihubungi dan nomor telepon yang bisa dikontak. Kadang sangat detail ditulis obat-obatan atau jenis barang yang dibutuhkan. Bahkan lokasi orang-orang yang membutuhkan bantuan biasanya dicantumkan sangat lengkap, sehingga memudahkan siapa saja yang ingin memberikan bantuan.

Hampir setiap minggu Nor Pud Binarto mengirim SMS semacam itu kepada kenalan-kenalannya untuk membantu para korban. Isinya berupa imbauan agar mereka yang menerima SMS tersebut tergerak untuk membantu. Bukan cuma peristiwa di wilayah Jakarta yang menjadi kepeduliannya. Mulai longsor di Papua, bentrokan berdarah di Ambon, gempa di Jogja, sampai TKI yang terlantar akibat diusir pemerintah Malaysia menjadi perhatiannya.

Lelaki enerjik ini seorang yang selalu gelisah. Terlalu banyak yang ingin dilakukannya. Tetapi waktu seakan terlalu singkat. Bicaranya juga ceplas-ceplos. Kritis bahkan cenderung nyinyir. Hampir semua keadaan dikritisinya. Terutama yang menyangkut kebijakan-kebijakan pemerintah yang dia nilai menyengsarakan rakyat kecil. Ia pernah menjadi penyiar salah satu stasiun radio terkenal di Jakarta.

Sahabat, kepedulian terhadap sesama yang menderita menggerakkan hati orang untuk membantu. Apa yang dilakukan oleh Nor Pud itu tampaknya biasa-biasa saja. Namun ia ingin agar orang memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Ia ingin agar orang yang menerima SMS-nya itu tergerak hatinya untuk sesamanya yang sedang menderita.

Memang tampak cara seperti ini terlalu sederhana. Namun hasil dari cara seperti ini ternyata luar biasa. Banyak orang kemudian tergerak hatinya untuk membantu sesamanya yang sedang mengalami penderitaan. Usaha yang tampak kecil itu membawa kebahagiaan bagi banyak orang yang menderita.

Nor Pud mengorbankan waktu dan uangnya untuk menggerakkan sesamanya bagi yang menderita. Tentu saja pengorbanan seperti ini dapat dilakukan berkat kepekaan terhadap sesama. Kepekaan itu tumbuh dari rasa kasih yang besar terhadap orang lain yang menderita.

Kisah Nor Pud memberikan inspirasi bagi orang beriman untuk selalu memiliki dan memupuk kepekaan dalam dirinya terhadap sesama yang menderita. Kepekaan itu kemudian menggerakkan hati orang untuk tanggap terhadap kebutuhan sesama. Mari kita berusaha terus-menerus untuk memiliki kepekaan hati terhadap sesama yang menderita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Tabloid KOMUNIO dan Majalah FIAT

700

30 Oktober 2010

Menumbuhkan Kepekaan Hati

Suatu hari seorang gadis berdiri di depan jendela kamarnya. Lantas ia membuka jendela kamarnya yang sudah lama terkunci rapat. Ia memandang keluar. Ternyata di luar sana terdapat begitu banyak hal indah. Ada bunga-bunga mawar warna-warni menghiasi halaman rumahnya. Lantas matanya memandang menembus pagar rumahnya. Matanya yang bulat dan jernih itu menangkap seonggok tubuh tergeletak di atas trotoar. Tidak bergerak. Pakaian kumalnya menutupi tubuhnya.

Segera gadis itu meninggalkan kamarnya. Ia melompati pagar rumahnya untuk mendapati tubuh itu. Ia menyentuh tubuh itu. Sudah dingin. Ia tidak tinggal diam. Hatinya tersentak. Ia menjumpai orangtuanya untuk melaporkan hal itu. Ia ingin melakukan sesuatu yang terbaik bagi tubuh yang dingin dan kaku itu.

Hatinya begitu mudah tersentuh oleh kondisi tubuh tak bergerak itu. Ia ingin mengulurkan tangannya. Reaksi orangtuanya sangat positif. Sang ayah mengajak tetangganya untuk mengurus jenasah itu. Hari itu menjadi hari yang sangat bermakna bagi gadis itu dan keluarganya. Mereka boleh berbuat kasih bagi sesamanya yang tidak berdaya. Itulah wujud penghayatan imannya dalam hidup sehari-hari.

Sahabat, sering orang menutup diri terhadap dunia sekitarnya. Mengapa ini bisa terjadi? Karena orang selalu disibukkan oleh urusannya sendiri. Orang mendahulukan kepentingannya sendiri. Padahal orang tidak dapat menghayati imannya tanpa berjumpa dengan orang-orang yang hidup di sekitarnya. Orang tidak bisa melarikan diri dari dunia sekitarnya.

Untuk itu, orang mesti berani membuka jendela hatinya. Orang mesti berani memandang dunia ini lebih jauh. Ternyata ada banyak keindahan di sekitar kita. Ada begitu banyak hal yang masih membutuhkan uluran tangan kita. Ada begitu banyak hal yang mesti mendapatkan polesan tangan-tangan kita.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ketika kita membuka hati bagi orang lain, kita akan menemukan hidup ini semakin bermakna. Ternyata hidup ini tidak berakhir dengan diri kita sendiri saja. Tetapi hidup ini mesti dikembangkan dan ditumbuhsuburkan dalam hidup sehari-hari.

Apa jadinya kalau kita cuek dan pesimis terhadap dunia sekitar kita? Apa jadinya kalau kita hanya memperhatikan diri kita sendiri? Kiranya dunia ini akan semakin runyam. Sesama yang ada di sekitar kita tidak kita dengarkan. Padahal kalau kita sungguh-sungguh buka mata dan telinga, kita akan mampu menumbuhsuburkan iman kita kepada Tuhan. Hidup kita bukanlah suatu kesia-siaan. Tetapi kita akan menemukan makna yang terdalam dari hidup ini. Ternyata hidup ini semakin memiliki makna, ketika kita mengulurkan tangan kita dengan penuh kasih.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa membuka mata dan hati kita kepada sesama. Hanya dengan cara tersebut kita dapat menyelamatkan semakin banyak orang yang mengalami penderitaan. Mari kita tingkatkan kepekaan kita terhadap sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 20.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

539