Pages

Tampilkan postingan dengan label berdoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berdoa. Tampilkan semua postingan

14 April 2013

Berdoa dengan Penuh Pengharapan

 

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda merasa doa-doa Anda tidak dikabulkan oleh Tuhan? Anda kesal dan kecewa terhadap Tuhan? Atau Anda terus-menerus menaruh pengharapan kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang?

Suatu hari seorang bapak agak kesal terhadap Tuhan. Pasalnya, ia sudah berdoa berkali-kali, tetapi tampaknya Tuhan belum mengabulkan doa-doanya. Padahal kebutuhannya sudah sangat mendesak. Ia masih butuh uang untuk biaya pernikahan anaknya. Cukup banyak. Tetapi beberapa hari menjelang pernikahan biaya itu baru ia keluarkan, Tuhan mengabulkan doanya. Ia merasa lega, tetapi ia juga agak kesal. Mengapa Tuhan tidak segera mengabulkan permohonannya?

Ia berkata, “Itulah yang kadang-kadang membuat saya kesal terhadap Tuhan. Kita sudah sangat berharap, agar Tuhan mengabulkan doa-doa kita, tetapi baru di saat-saat terakhir doa-doa itu dikabulkan. Tuhan ini bagaimana? Apakah kita harus selalu bersabar?”

Ia mengibaratkan penantian atas pengabulan doa-doanya itu dengan saat ia sedang haus. Ia sangat merindukan seteguk air. Begitu ia meminum air itu, ia merasa lega. Hilanglah semua kerinduannya untuk meneguk air.

Ia berkata, “Begitu pula doa-doa permohonan kita. Rupanya Tuhan mengabulkan doa-doa kita tepat pada waktunya. Kita harus bersabar menanti pengabulan doa-doa kita itu.”

Bapak itu mengaku, ia sangat penasaran atas tindakan Tuhan itu. Namun ia juga merasa puas atas pengabulan doa-doanya. Ia berharap, ia terus-menerus memupuk rasa cintanya kepada Tuhan. Menurutnya, berdoa kepada Tuhan itu menunjukkan rasa sayang manusia kepada Tuhan yang telah menciptakan dirinya.

Sahabat, kita manusia sering kurang sabar dalam hidup ini. Kita mau agar apa yang kita inginkan segera terlaksana. Demikian pula dalam hal berdoa. Kita merasa bahwa kita sudah berdoa dengan sangat khusyuk dan penuh iman kepada Tuhan. Karenanya, Tuhan mesti segera mengabulkan permohonan kita. Kalau Tuhan tidak segera mengabulkan doa-doa kita, kita menjadi kesal. Kita sewot.

Kisah tadi memberi inspirasi kepada kita untuk tetap menaruh harapan pada Tuhan. Orang yang berharap itu orang yang sungguh-sungguh menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Orang yang membuka hatinya untuk hadirnya Tuhan dalam dirinya. Orang seperti ini biasanya tetap berdoa meski tidak tahu kapan Tuhan mengabulkan doa-doanya.

Selain itu, orang juga mesti tetap tekun berdoa kepada Tuhan. Orang yang tekun itu mengungkapkan kesetiaan dan imannya kepada Tuhan. Hanya dalam ketekunan itu orang mampu menumbuhkan imannya kepada Tuhan. Soalnya, kita sering kurang tekun. Kita gampang menyerah pada situasi hidup kita, karena kita sering memaksakan kehendak diri kita kepada Tuhan. Karena itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk tekun dalam berdoa. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ



960

17 Juni 2012

Berdoa bagi Kebaikan Semua Orang

Buah dari doa adalah kedalaman iman. Buah dari iman adalah cinta. Buah dari cinta adalah pelayanan, namun agar dapat berdoa kita membutuhkan keheningan hati. Sedangkan jiwa memerlukan waktu untuk beranjak dan berdoa untuk menggunakan mulut, untuk menggunakan mata, serta menggunakan seluruh tubuh. Kalau kita tidak memiliki keheningan itu, kita tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Kali ini kita mau menggunakan kelima jari kita untuk membantu kita menghayati doa-doa kita.

Pertama, Jari Jempol. Jari ini adalah jari yang paling dekat dengan diri kita. Ketika kita sedang melipat tangan dan berdoa bagi orang-orang yang sangat akrab dengan kita. Sebutkan nama-nama mereka yang kita kenal dengan baik. Mendoakan orang-orang yang kita kasihi adalah suatu pekerjaan yang manis.

Kedua, Jari Telunjuk. Jari ini biasa kita gunakan untuk menunjuk. Namun dalam doa kita tidak meminta Tuhan untuk mencelakakan orang yang kita tunjuk. Tetapi dengan menggunakan jari telunjuk, kita mendoakan mereka yang mengajar. Kita mendoakan guru-guru kita. Kita mendoakan orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan. Tujuannya agar mereka mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang bermutu. Dengan demikian, anak-anak bangsa ini sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang baik. Kita mendoakan para pendidik itu agar mereka dapat menunjukkan arah yang tepat bagi para peserta didik.

Ketiga, Jari Tengah. Ini jari yang paling tinggi, berarti kita harus ingat pada para pemimpin bangsa. Kita mendoakan presiden hingga para pejabat di bawahnya. Kita mendoakan para pemimpin organisasi sosial maupun bisnis. Mereka sering mempengaruhi bangsa kita dan membimbing opini publik. Mereka sangat butuh bantuan dari-Nya. Kita berdoa agar mereka memimpin bangsa ini dengan jujur dan setulus hati.

Keempat, Jari Manis. Jari keempat ini jari yang paling lemah. Guru piano pun biasanya cukup kebingungan ketika berhadapan dengan si jari yang lemah ini. Karena itu, mari kita doakan saudara-saudari kita yang lemah, yang sedang terkena musibah. Kita doakan bagi mereka yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Kita doakan mereka sangat membutuhkan bantuan dan doa dari kita.

Kelima, Jari Kelingking. Jari terakhir ini paling kecil di antara jari-jari manusia. Inilah yang menggambarkan sikap kita yang seharusnya rendah hati saat berhubungan dengan Tuhan dan sesama. Kita berdoa bagi diri kita sendiri, agar kita diberi kebijaksanaan dalam hidup. Dengan demikian, hidup ini menjadi indah bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

907

08 Juni 2012

Berdoa dengan Penuh Penyerahan Diri

Saya percaya bahwa setiap hari Anda berdoa kepada Tuhan. Doa-doa itu menjadi kekuatan iman bagi perjalanan hidup Anda. Persoalannya adalah bagaimana sikap Anda dalam berdoa? Apakah Anda berdoa hanya untuk meminta Tuhan memenuhi keinginan-keinginan diri Anda? Atau Anda mau menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan?

Suatu hari seorang anak datang ke rumah ibadat. Ia duduk di sana berjam-jam. Ia berdoa kepada Tuhan untuk ayahnya yang sedang sakit di rumahnya yang kecil. Ia mohon agar Tuhan yang baik memberikan kesembuhan bagi ayahnya yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia merasa yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan doa-doanya.

Dalam keheningan itu, ia berdoa, “Tuhan, saya tahu Engkau mahabaik. Engkau akan memberikan yang terbaik bagi ayah saya yang sedang sakit di rumah. Saya harap, Tuhan tidak akan cepat-cepat memanggil ayah saya. Namun seandainya Tuhan ingin mengambil ayah saya sekarang ini juga, saya rela. Yang penting yang terbaiklah yang Tuhan berikan kepada ayah saya.”

Selesai berdoa, anak itu pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, seorang adiknya menjumpainya. Sambil menangis, sang adik melaporkan kepadanya bahwa sang ayah telah tiada. Ayahnya telah menutup matanya untuk selama-lamanya saat ia berdoa di rumah ibadat.

Sambil menatap mata adiknya, ia berkata, “Jangan bersedih. Tuhan telah memberikan yang terbaik bagi ayah kita. Penderitaannya yang panjang di dunia ini telah berakhir. Tuhan telah melapaskan ayah kita dari penderitaan di dunia ini.”

Mata sang adik berbinar-binar. Ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Ia menjadi kuat oleh kata-kata kakaknya.

Sahabat, iman yang mendalam kepada Tuhan ditunjukkan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Bahkan menyerahkan orang yang kita kasihi kepada Tuhan yang ingin mengambil milik kepunyaanNya. Semangat doa orang beriman mesti berubah. Bukan lagi hanya meminta dan meminta. Tetapi sikap doa orang beriman menjadi sikap penyerahan diri yang total kepada Tuhan.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa doa menjadi nafas hidup orang beriman. Anak itu berdoa bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia tidak egois. Ia tidak menuntut agar Tuhan memberikan yang terbaik bagi ayahnya. Namun ia menyerahkan sang ayah ke dalam kuasa dan kehendak Tuhan.

Setiap hari Anda berdoa. Pertanyaannya adalah bagaimana cara Anda berdoa? Apakah Anda berdoa hanya karena terpaksa? Atau Anda berdoa dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan?

Bagi orang beriman, doa bukan hanya suatu tuntutan untuk dilakukan setiap hari. Namun doa merupakan suatu sikap iman kepada Tuhan. Artinya, orang berdoa karena orang ingin menyerahkan seluruh suka duka hidup kepada Tuhan. Orang beriman percaya bahwa Tuhan adalah pemilik hidup ini. Tuhan memberikan yang terbaik bagi hidup manusia.

Karenanya, orang beriman mesti berani menyerahkan seluruh hidup ke dalam kuasa Tuhan. Mari kita terus-menerus menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan melalui sikap iman yang benar kepadaNya. Dengan demikian, kita mampu hidup sebagai orang yang baik dan benar di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

902

01 November 2011

Berdoa dengan Segenap Hati dan Tenaga

Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda merasa doa-doa Anda tidak dikabulkan oleh Tuhan? Anda berhenti berdoa? Anda mengeluh kepada Tuhan? Atau Anda mengerima kenyataan hidup Anda?

Suatu sore, seorang gadis mengikuti ibadat di gereja. Gadis itu merasa sangat terganggu, karena sore itu hujan deras mengguyur bumi. Atap gereja yang terbuat dari aluminium bergemuruh oleh hempasan hujan yang sangat deras. Gadis itu agak resah. Ia ingin berdoa dalam keheningan malam, tetapi kenapa suara gemuruh hujan menghilangkan konsentrasinya.

Namun gadis itu tidak hilang akal. Ia tidak mau berdiam diri begitu saja. Ia ingin berdoa dengan baik dan tenang. Karena itu, ia pergi ke sudut gereja. Ia berdiri sambil menyandarkan tubuh ke dinding gereja. Ia menatap derasnya butiran air hujan yang seolah ditumpahkan dari langit.

Dalam kondisi seperti itu, ia berdoa, “Tuhan, kami mau mendengarkan sabda-Mu dalam Perayaan Ekaristi. Tapi bagaimana mungkin dengan keterbatasan pendengaran kami seperti ini, kami bisa mendengar sabda-Mu? Hujan deras ini membuat kami tidak bisa mendengar dengan baik. Tolong Tuhan, Perayaan Ekaristi akan segera dimulai. Biarlah selama Perayaan Ekaristi hujan ini reda, supaya kami bisa mendengarkan sabda-Mu dengan jelas.”

Doa-doa itu ia lantunkan dengan penuh keyakinan dan harapan. Ia percaya, Tuhan akan mendengarkan apa yang ia katakan. Mungkin ini naif, masak suara Tuhan bisa terbendung oleh gemuruh hujan?

Setelah, gadis itu masuk gereja, karena waktu hampir menunjukkan jam 17.00 WIB, saatnya Perayaan Ekaristi dimulai. Ketika kaki melewati ambang pintu gereja, ia merasakan suara air yang menghantam aluminium, atap gereja, mulai melembut. Saat Perayaan Ekaristi dimulai, hujan betul-betul reda. Tinggal sisa rintik-rintik kecil yang ada.

Sahabat, kekuatan doa membuktikan bahwa manusia semestinya selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Berdoa itu sebenarnya tidak sekedar berkata-kata di hadapan Tuhan dalam keheningan. Tetapi berdoa itu menyerahkan seluruh kepribadian kita. Kita menyerahkan suka duka hidup kita. Kita menyerahkan iman kita kepada Tuhan. Kita mau mengatakan kepada Tuhan bahwa kita hanya bisa melanjutkan hidup ini dengan bantuan Tuhan. Tanpa bantuan Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa doa yang penuh iman membawa orang semakin dekat dengan Tuhan. Berdoa yang tak kunjung putus merupakan panggilan hidup manusia. Mengapa? Karena pada dasarnya manusia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan dari Tuhan.

Banyak orang kurang yakin akan kebaikan Tuhan. Karena itu, mereka tidak mau berdoa. Atau mereka berdoa hanya pada saat-saat tertentu saja. Atau mereka berdoa karena mereka butuh sesuatu dari Tuhan. Tentu saja sikap seperti ini bukan sikap orang beriman yang baik. Keberadaan kita sebenarnya suatu sikap doa yang terus-menerus. Mengapa? Karena kita adalah milik kepunyaan Tuhan. Hidup kita semestinya selalu terarah kepada Tuhan. Hati yang terarah itu hati yang selalu berdoa.

Mari kita berdoa dengan segenap hati dan tenaga kita. Dengan demikian, Tuhan mendengarkan doa-doa kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

28 September 2009

Berdoa untuk Kebaikan Sesama



Ada seorang yang sangat saleh. Dia bernama Hyde. Ia menggunakan waktunya berjam-jam untuk berdoa setiap harinya, sehingga orang menyebutnya: Hyde si pendoa. Sebagai seorang yang sangat tekun berdoa, namanya sangat terkenal di seluruh dunia.

Pada suatu hari, seorang tokoh terkenal dari luar kota datang mengunjungi Hyde. Ia diperkenankan masuk ke dalam ruangan di mana Hyde sedang berdoa. Orang ini berpikir, “Ah... sebentar lagi aku pasti akan mendengar doa paling indah dari kata-katanya.”

Ketika ia masuk ke dalam ruangan itu, ia memang melihat Hyde sedang berdoa dengan penuh kesungguhan. Lalu ia juga ikut berlutut di sebelah Hyde. Tetapi ia tidak mendengar Hyde mengucapkan sepatah kata pun. Setelah ditunggu 5 menit, yang keluar dari mulut Hyde hanyalah kata ‘Tuhan’. Lima menit kemudian, nama Tuhan disebut lagi. Dan tidak berapa lama kemudian Hyde kembali mengucapkan nama terindah itu: ‘Tuhan’.

Apa yang terjadi? Tokoh terkenal yang berdoa di sisi Hyde itu menceritakan bahwa ketika Hyde menyebut nama Tuhan sampai tiga kali, ruangan itu dipenuhi dengan kuasa Tuhan sedemikian rupa. Ia merasa tubuhnya hampir terangkat dari lantai.

Doa adalah nafas kehidupan manusia. Sebagaimana tanpa nafas tubuh kita akan mati, demikianlah tanpa doa, kerohanian kita akan merana. Banyak orang menganggap remeh kekuatan doa. Ada orang yang menganggap bahwa berdoa itu membuang-buang waktu saja. Tidak ada hasil apa-apa. Benarkah demikian?

Kisah tadi menunjukkan bahwa doa mempunyai kekuatan yang luar biasa. Doa yang singkat tidak kalah kuatnya dengan doa yang panjang-panjang. Apalagi kalau doa itu dilantunkan dengan penuh iman kepada Tuhan.

Semua agama mengajarkan kepada kita betapa penting doa itu. Doa seseorang memiliki kekuatan untuk mengubah hati manusia. Manusia yang keras hatinya dapat berubah menjadi lembut, kalau ia didoakan oleh sesamanya. Kalau orang itu dipersembahkan kepada Tuhan, ia akan memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati.

Kata orang, kekerasan hati hanya dapat diubah dengan doa orang-orang yang penuh harap kepada Tuhan. Sebagai orang beriman, kita semua diajak untuk memanjatkan doa bagi semua orang yang ada di sekitar kita. Kita tidak hanya mendoakan diri kita sendiri. Kita mesti doakan juga orang-orang yang berada di sekeliling kita. Mereka menjadi bagian dari hidup kita. Mereka juga mesti mendapatkan perhatian dari kita lewat doa-doa kita.

Karena itu, mari kita berdoa setiap waktu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



181

24 Juli 2009

Bertobat Terus-menerus


Setelah lama mengusahakan kesucian diri dengan matiraga dan amal saleh, seorang pemuda datang kepada Tuhan. Ia berkata, “Ya Tuhanku, lindungilah aku dari perbuatan dosa terhadapMu.”

Dilihatnya dalam doa itu Tuhan tersenyum kepadanya. Ada suara yang menggetarkan kalbunya, “Ya, anak-Ku. Semua orang berdoa seperti itu. Jika Kukabulkan semua doa permohonan itu, kepada siapa nanti akan Kutunjukkan rasa belas kasihKu? Kepada siapa akan Kuberikan pengampunan-Ku?”

Pemuda itu merasa bingung dengan suara Tuhan itu. Lantas ia berkata, “Tetapi aku merasa begitu tidak pantas. Setiap kali aku ingin bangkit dari kedosaanku, pada saat itu pula aku bermandi lumpur dosa. Aku lemah, aku berdosa. Aku ingin lepas dari situasi ini.”

Tuhan tersenyum mendengar keluh kesah pemuda itu. Lalu Tuhan mendekatinya dan membelai rambut pemuda itu. Tuhan berkata, “Aku menerimamu apa adanya. Bukan karena engkau suci dan tidak berdosa, anakKu.”

Orang selalu beranggapan bahwa hidup dekat dengan Tuhan itu hanya orang-orang yang suci. Ternyata tidak. Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang itu menerima semua orang yang datang kepadaNya. Tuhan tidak pernah menolak ciptaanNya, apa pun situasi hidup mereka.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa dosa bukan menjadi halangan bagi Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Justru Tuhan begitu berkenan kepada orang yang berdosa. Tuhan tidak memandang banyaknya dosa. Yang penting manusia mau menyesali dosa dan kembali kepada Tuhan. Karena itu, pertobatan menjadi hal yang mesti selalu diutamakan dalam hidup manusia.

Dalam pengajaranNya, Yesus selalu mengatakan bahwa Ia datang pertama-tama untuk manusia yang berdosa. Ia membawa mereka kembali kepada Tuhan. Ia selalu menghargai sesal dan tobat dari manusia. Karena itu, bagi Yesus, lebih berharga seorang berdosa yang bertobat daripada seratus orang yang suci yang tidak perlu bertobat.

Karena itu, pertobatan mesti selalu diutamakan dalam hidup ini. Pertobatan itu sumber keselamatan bagi manusia. Pertobatan itu membawa orang kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kita menyadari diri kita sebagai orang yang berdosa. Tidak ada orang yang tidak pernah melakukan dosa dalam hidupnya. Namun yang penting adalah kita mau menyesali dosa-dosa kita dan hidup sesuai dengan ajaran Tuhan.

Mari kita berusaha untuk terus-menerus bertobat dalam hidup kita sehari-hari. Dengan bertobat, kita akan memiliki hidup yang abadi. Tuhan berkenan kepada kita yang mau meninggalkan dosa-dosa dan hidup menurut ajaran Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (98)