01 September 2014
Melakukan Pekerjaan dengan Hati yang Tulus
21 Maret 2013
Berkorban dengan Hati yang Tulus
10 Januari 2013
Membiarkan Cinta yang Tulus Menguasai Diri
" Bagikan
10 Juli 2012
Memberi dengan Sepenuh Hati
Konon Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Di manapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas. Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berkata kepada Elang, "Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!"
Elang menjawab, "Kedengarannya ide yang bagus".
Lantas keduanya turun ke bumi. Mereka melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor Sapi. Sapi ini tengah sibuk makan jagung. Namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekatnya, Sapi berkata, "Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini".
Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, "Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?"
Sapi menjawab, "Oh, kami punya banyak makanan di sini. Tuan Petani memberi kami apapun yang kami inginkan."
Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani. Sapi menjawab, "Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan."
Kalkun tambah bingung, "Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang ingin kamu makan?"
Sapi menjawab, "Tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal."
Elang dan Kalkun menjadi syok berat! Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.
Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini.
Sahabat, kebaikan itu mesti dibagikan kepada sesama yang membutuhkan. Banyak orang hanya mau menikmati kebaikan itu untuk diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka menjadi egois. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Mereka tidak peduli terhadap sesamanya.
Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ada begitu banyak rahmat yang Tuhan berikan kepada kita. Itulah rahmat kebaikan. Rahmat kebaikan itu bukan hanya untuk diri sendiri. Rahmat kebaikan itu mesti disalurkan bagi sesama yang membutuhkan. Tentu saja hal ini tidak segampang yang dipikirkan. Mengapa? Karena sering orang merasa bahwa kebaikan yang diberikan kepada sesamanya itu hilang begitu saja. Menjadi milik orang lain. Bukan lagi menjadi milik mereka.
Tentu saja pikiran seperti ini kurang pas, karena semakin orang memberi kepada sesamanya, semakin banyak rahmat yang diperolehnya. Apalagi kalau orang memberi dengan penuh kasih. Tuhan akan mendukung dengan rahmatNya orang yang rela memberikan apa yang dimilikinya bagi sesamanya.
Karena itu, orang beriman mesti berani memberi apa yang dimiliki bagi sesamanya yang membutuhkan. Yakinlah, apa yang kita berikan itu tidak hilang, tetapi akan membuahkan rahmat berlimpah bagi hidup kita. Mari kita berani memberi apa yang kita miliki bagi sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih damai dan sukacita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
916
" Bagikan
19 Juni 2012
Menumbuhkan Cinta yang Tulus
Robertson MCQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan ingin merawat istrinya, Muriel. Sang istri menderita sakit Alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak. Muriel seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu.
Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri, karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya. Suatu kali Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel. Di luar kesadarannya, Muriel malah menyerahkan air seninya sendiri kepada suaminya. Robertson tiba-tiba kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya untuk menghentikannya.
Setelah itu, Robertson menyesal. "Apa gunanya saya memukulnya? Walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah, saya belum pernah memukulnya karena marah. Namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, Tuhan," ia berkata dalam hatinya.
Lalu tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya. Robertson dan Muriel menikah pada 14 Februari 1948. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel. Lantas ia menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel. Pada malam harinya menjelang tidur, ia mencium dan menggenggam tangan Muriel.
Pada 14 Februari 1995, Robertson memandangi istrinya yang tak berdaya. Ia berdoa, "Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya. Jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam. Biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin!"
Pagi harinya, ketika Robetson berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku.... sayangku...". Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.
Sahabat, cinta yang tulus tetap tumbuh dalam hidup sehari-hari. Tidak peduli terhadap berbagai tantangan yang ada. Sakit dan derita bukan menjadi halangan bagi tumbuhnya cinta yang tulus. Justru pada saat-saat sakit dan derita semestinya cinta itu semakin hidup dalam diri setiap orang. Mesti ada solidaritas yang terus tumbuh di saat-saat sakit dan derita menerpa hidup seseorang.
Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa pada saat-saat sakit dan derita justru orang membutuhkan cinta yang lebih tulus dan mendalam. Perhatian menjadi suatu bukti tetap hidupnya cinta yang tulus itu. Robertson rela mengorbankan kedudukannya yang tinggi demi cintanya kepada sang istri yang tak berdaya di atas tempat tidur. Namun pengorbanan itu tanpa sia-sia. Ia mendapatkan balasannya dengan sapaan mesra dari sang istri yang bertahun-tahun lamanya tak terdengar. Itulah sukacita. Itulah damai yang menggayut di hati, meski kata-kata itu sangat minim.
Sebagai orang beriman, kita juga dipanggil untuk senantiasa menumbuhkan cinta yang tulus dalam hati dan hidup kita. Cinta yang tulus itu mesti berbuah. Buahnya adalah kepedulian dan perhatian bagi yang lemah dan tak berdaya. Di saat-saat susah menyelimuti hidup kita, kita butuh cinta yang tulus dari sesama.
Mari kita tumbuhkan cinta yang tulus dalam hidup kita, agar damai menjadi bagian dari hidup kita. Untuk itu, kita butuh memiliki hati yang peka terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Cinta yang tulus dapat tumbuh saat orang membuka hatinya lebar-lebar bagi hidup sesamanya. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
909
07 Februari 2012
Kasih yang Tulus Tumbuhkan Kebesaran Jiwa
Ada seorang gadis cantik yang cerdas. Setelah menyelesaikan sekolahnya di perguruan tinggi, gadis itu bekerja di sebuah perusahaan terkenal. Gajinya cukup tinggi. Meski begitu, gaya hidupnya sangat sederhana. Ia jarang berfoya-foya. Ia tinggal di sebuah apartemen dekat kantornya. Hal itu ia lakukan untuk menghindari biaya mahal, kalau ia mesti tinggal di rumah ibunya yang berada di luar kota.
Di rumah gadis itu, hidup ibunya yang sudah janda. Sebagian kepala dari ibunya botak. Kulit kepalanya menampakkan borok yang baru mengering. Rambut kepalanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Wajahnya pun cacat seperti luka bakar. Ia seperti sebuah monster yang mengerikan.
Gadis itu tidak pernah tahu tentang penyebab dari kondisi ibunya. Namun ia selalu mencintainya. Ia selalu menerima kehadiran sang ibu dengan penuh kasih. Apalagi sang ibu telah membesarkan dan membiayai sekolahnya hingga selesai. Sesekali di akhir pekan, gadis cantik itu membawa sang ibu berjalan-jalan di pantai.
“Nak, apa kamu tidak malu punya ibu seperti ini? Bukankah wajah ibu jelek dan penuh koreng-koreng?” Tanya ibunya suatu hari.
Gadis itu terkejut mendengar pertanyaan ibunya. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang menusuk hatinya itu. Gadis itu tersenyum. Ia hanya menggelengkan kepala. Ia tidak pernah merasa malu. Baginya, sang ibu telah mengasihinya begitu tulus. Ia ingin membalas kasih yang tulus itu, meskipun sebenarnya ia tidak pernah dapat membalasnya dengan sempurna.
Sahabat, kita hidup dalam dunia yang nyata. Artinya, kita hidup bersama orang lain yang tidak selamanya sempurna dalam berbagai hal. Ada saja orang-orang yang dekat dengan kita memiliki cacat dalam hidupnya. Ada saja orang-orang yang kita kasihi menderita penyakit yang ganas. Ada saja orang-orang yang begitu kita kagumi jatuh ke dalam kesalahan dan dosa yang berat.
Apa sikap kita yang paling baik terhadap kondisi seperti ini? Kita menolak kenyataan seperti itu? Atau dengan lapang dada dan penuh kasih setia kita menerima kenyataan itu?
Kisah di atas sangat menyentuh hati kita. Gadis cantik itu bisa saja meninggalkan ibunya seorang diri. Bisa saja ia tidak mengakui perempuan tua itu sebagai ibu kandungnya. Namun ia tidak lakukan itu. Mengapa? Karena ia mengalami betapa kasih sang ibu memampukan dirinya untuk meraih sukses dalam hidupnya. Berkat kasih itu pula ia memiliki masa depan yang cerah dan baik.
Kebahagiaan dapat tercipta dalam hidup kita, kalau kita mau menerima kehadiran sesama kita dengan tangan terbuka. Ketika kita menerima kenyataan diri sesama yang kita cintai sebenarnya kita menerima diri kita sendiri. Ketidaksempurnaan yang dimiliki oleh orang-orang yang dekat dengan kita sebenarnya juga menjadi milik kita.
Menerima cacat fisik atau psikis dari orang yang kita cinta itu butuh kebesaran jiwa. Kita mesti berani mengabaikan gengsi yang ada dalam diri kita. Hal ini bisa kita lakukan, kalau kita memiliki cinta yang tulus dan mendalam terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita. Mari kita tumbuhkan kasih yang tulus dalam diri kita dengan menerima kehadiran sesama kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
867
25 Mei 2011
Melakukan Perbuatan Baik dengan Tulus
Bachtiar Angkotasan harus menyisakan Rp 5.000 setiap hari dari hasil mengamen untuk membayar kontrakan di Kampung Jati, Kelurahan Jati Mulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Setiap bulan ia harus membayar Rp 200.000 untuk biaya kontrakan dengan ukuran 4 X 6 meter.
Pria berusia 47 tahun ini berkata, “Saya bayar pakai uang receh hasil ngamen.” Bachtiar menjelaskan, setiap hari ia mendapatkan uang sekitar Rp 30.000 dari mengamen dari bus ke bus. Pemilik kontrakkan mengerti atas kondisinya yang bekerja sebagai pengamen. Ia bersama dua anaknya telah tinggal di sana sekitar enam bulan.
Tentang pembayaran menggunakan uang receh, ia berkata, “Sebelumnya saya minta maaf dulu belum sempat tuker receh ke warung. Pemilik rumah bilang ngga apa-apa.”
Bachtiar harus menghidupi kedua anaknya Gia Wahyuningsih yang berusia 5 tahun dan Agum Gumelar Santoso yang berusia 8 tahun. Ia berpisah dengan istrinya, Mimih Nunung, empat tahun lalu. Gia mengidap epilepsi dan gizi buruk sejak umur satu tahun.
Gia kerap berontak selama di rumah, sehingga Bachtiar terpaksa mengikat Gia dengan kain di bagian pinggang selama ia pergi mengamen. Gia terpaksa "dipasung" sejak tiga tahun lalu hingga polisi mendapat informasi dan membawa Gia ke rumah sakit.
Sahabat, di satu sisi usaha yang dilakukan oleh Bachtiar sungguh-sungguh baik. Ia merasa bertanggung jawab terhadap kedua anaknya. Ia tidak meninggalkan mereka berjuang sendirian. Ia rela mengorbankan dirinya untuk kelangsungan hidup kedua anaknya. Inilah orang yang beriman. Orang sungguh-sungguh peduli terhadap sesamanya. Ia tidak membiarkan mereka terlantar.
Soalnya adalah kemiskinan memaksa Bachtiar untuk melakukan hal-hal yang melanggar aturan. Anak putrinya yang sering berontak, karena menderita epilepsi, ia ikat dengan kain. Dengan demikian, anaknya tersebut mengalami penderitaan yang lebih parah lagi. Kebebasannya menjadi terganggu. Hak-hak hidupnya seolah-olah dirampas. Tentu saja perbuatan seperti ini tidak bisa diterima.
Bahaya yang sering terjadi dalam hidup adalah orang sering hanya berpikir berat sebelah. Yang penting ia melakukan sesuatu yang baik, ia tetap melakukannya. Padahal belum tentu perbuatannya yang baik itu juga baik untuk orang lain. Perbuatan yang baik itu belum tentu memenuhi kepentingan bersama.
Karena itu, orang beriman mesti tidak boleh berat sebelah. Orang beriman itu orang yang selalu memperhitungkan secara matang suatu perbuatan yang dilakukannya. Dengan cara itu, orang tidak perlu menindas sesamanya ketika mnelakukan suatu perbuatan yang baik. Suatu perbuatan baik yang tidak berat sebelah akan memberikan kepuasan bagi semua orang.
Mari kita berusaha untuk senantiasa melakukan suatu perbuatan baik yang berguna bagi semua orang. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih baik dan indah. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
684
" Bagikan
09 Desember 2010
Melakukan Perbuatan Baik dengan Hati yang Tulus
Akibatnya, ibu ini tidak pernah diajak oleh teman-temannya untuk berbagai kegiatan yang ada di lingkungannya. Mereka enggan bergaul dengan orang yang mengukur segala sesuatu dengan materi atau uang. Bagi mereka, orang seperti ini hanya menjadi duri dalam daging. Orang seperti ini tidak memiliki kepedulian terhadap sesamanya.
Orang mesti melakukan sesuatu dengan setulus hatinya. Orang yang melakukan suatu kebaikan mesti mendasarkan perbuatannya di atas cinta yang mendalam terhadap sesamanya. Dengan demikian, orang akan menemukan kebahagiaan dan damai dalam hidupnya. Orang tidak perlu mengukur kebahagiaan dan damai itu dengan materi atau uang. Ibu yang nahas itu akhirnya tidak punya sahabat untuk bertukar pikiran dan berwawan hati. Ia hidup sendiri. Ia menjadi orang yang kesepian.
Sahabat, apa pun yang kita lakukan semestinya kita lakukan dengan kebaikan hati. Hati yang baik itu mencerminkan orang yang mau terlibat dalam kehidupan sesamanya. Orang yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Orang yang mau berjuang bukan hanya untuk keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain.
Memang, tidak mudah melakukan sesuatu dengan kebaikan hati. Hati manusia sering terselubungi egoisme dan kepentingan diri yang berlebihan. Kalau untuk kepentingan diri sendiri, manusia selalu berjuang mati-matian. Manusia tidak peduli akan apa yang akan terjadi. Yang ia lakukan adalah menyelamatkan dulu dirinya sendiri. Tentu saja hal seperti ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam hidup bersama.
Karena itu, orang mesti berani berkorban bagi kehidupan ini. Orang mesti memiliki hati yang tulus untuk melakukan sesuatu dengan motivasi yang baik. Seorang bijak berkata, “Kalau busur Anda patah dan anak panah terakhir telah dilontarkan, tetaplah membidik.” Kata-kata bijak ini mau mengatakan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan mesti datang dari hati yang tulus. Orang tidak boleh berhenti berbuat baik, ketika ada halangan dan rintangan.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus melakukan perbuatan baik dengan hati yang tulus. Hanya dengan cara ini, kita dapat menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
566
" Bagikan
29 November 2010
Membangun Hati yang Tulus dan Murni
Namun di sana tidak hanya terdapat halte-halte kereta bawah tanah itu. Di Metro ini juga terdapat supermarket yang sangat besar. Ada ratusan toko berada di tempat ini. Di dalamnya terpajang ribuan bahkan jutaan barang-barang menarik untuk dibawa pulang oleh para pengunjung. Yang dibutuhkan dari para pengunjung adalah kesabaran untuk memilih barang-barang yang dijajakan di sana. Ada souvenir-souvenir indah yang bisa didapatkan di tempat ini sebagai buah tangan bagi orang-orang yang dicintai.
Suatu hari ada seorang ibu yang membeli banyak sekali anting-anting. Ia sangat kagum terhadap anting-anting tersebut. Menurutnya, ia ingin membagikannya untuk rekan-rekan kerjanya di kantor. Itulah kenang-kenangan yang terindah bagi mereka. Ia tidak peduli harga anting-anting itu. Yang penting baginya adalah ia dapat membangun relasi yang baik dengan teman-temannya. Ia membelinya dengan hati yang tulus. Ia ingin menjadikan anting-anting itu sebagai bingkisan dari lubuk hatinya.
Sahabat, sebuah hadiah atau bingkisan memiliki nilai yang sangat mendalam bagi yang menerimanya. Apalagi kalau bingkisan itu diberikan dengan tulus. Karena itu, persoalannya bukan seberapa mahal harga bingkisan itu. Tetapi seberapa tulus bingkisan itu diberikan kepada orang yang dikenal dan dicintai.
Kalau sebuah bingkisan atau hadiah diberikan dengan wajah yang muram durja, tidak akan memiliki nilai sama sekali. Meski mahal sekalipun harga bingkisan itu, bingkisan itu tidak memiliki sentuhan kasih yang mendalam. Mengapa? Karena bingkisan itu tidak berasal dari hati yang mencintai. Sesuatu yang berasal dari hati yang tulus akan selalu singgah di hati. Tidak ada penolakan. Bahkan akan diterima dengan penuh rasa terima kasih.
Kata orang, hati manusia itu pusat seluruh hidupnya. Perbuatan baik seseorang berasal dari hatinya yang tulus. Demikian pula iri hati, permusuhan dan dendam dapat tercipta dan dapat hidup di dalam hati manusia. Kalau orang dapat mengarahkan hatinya dengan baik, orang akan memetik hal-hal yang berguna bagi hidupnya. Namun kalau orang mengarahkan hatinya untuk kepentingan egoismenya, segala sesuatu hanya ditarik untuk dirinya sendiri.
Karena itu, membangun hati yang tulus dan murni mesti menjadi bagian dari hidup orang beriman. Orang beriman senantiasa menimba kasih Tuhan dalam hidupnya. Tuhan selalu mencintai manusia. Tuhan tidak pernah menarik segala sesuatu untuk kepentinganNya sendiri. Sebaliknya, Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada manusia. Mari kita membangun hati yang tulus dan murni bagi kesejahteraan kita bersama. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
559
25 Juli 2010
Memberi dengan Hati yang Tulus
Lantas pemuda itu meninggalkan orang-orang itu. Ia tidak tahan melihat penderitaan mereka. Namun ia kembali lagi kepada mereka dengan sejumlah makanan, minuman dan obat-obatan. Ia memberi mereka makan. Ia mengobati luka-luka mereka. Beberapa saat kemudian orang-orang itu mulai berhenti menggigil. Kaki-kaki mereka pun mulai kuat untuk melangkah. Mereka mulai tersenyum.
Uluran kasih dari sesama mampu meringankan penderitaan. Orang-orang itu pun boleh menikmati sesaat sukacita. Mereka boleh mengalami indahnya kasih Tuhan melalui tangan-tangan yang dengan tulus memberi bantuan. Bagi mereka, itulah saat yang paling indah dalam hidup mereka. Suatu saat yang telah memberi mereka kesegaran raga. Saat di mana mereka boleh mengatakan bahwa Tuhan masih ada bersama mereka.
Ada begitu banyak penderitaan di dunia ini. Orang mengalami penderitaan materiil seperti tidak punya rumah yang layak, berbagai macam penyakit dan kelaparan. Mereka berjuang untuk keluar dari penderitaan itu. Namun sering terjadi kebuntuan dalam hidup mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ada ketidakpedulian dari sesama manusia. Ada hati manusia yang tertutup begitu rapat oleh penderitaan sesamanya.
Tambahan lagi ada orang-orang yang tamak dan serakah. Orang-orang seperti ini enggan memberi sedikit dari kepunyaannya untuk sesamanya. Lebih baik mereka menyimpannya untuk diri mereka sendiri daripada mesti memberikannya untuk orang-orang yang tidak mereka kenal.
Karena itu, sedikit pemberian akan sangat bernilai bagi hidup manusia yang mengalami penderitaan itu. Seteguk air atau segenggam nasi akan sangat berharga bagi seorang penderita lapar. Akan ada sukacita yang begitu besar, ketika orang memberi dengan tulus mereka yang membutuhkan makanan.
Sebagai orang beriman, kita semua memiliki tugas dan kewajiban untuk membantu sesama yang berkekurangan. Ketika kita membantu mereka sebenarnya kita memberi kesempatan kepada mereka untuk bersukacita. Mereka memiliki kesempatan untuk berbahagia, meski hanya sesaat.
Mari kita mengulurkan tangan kita dengan hati yang tulus. Dengan demikian, semakin banyak orang akan menemukan bahagia dan damai dalam hidupnya. Hanya dengan cara ini orang beriman mengamalkan cinta kasih dalam hidupnya. Hanya dengan memberi sesama yang membutuhkan, kita dapat mengenal Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu secara lebih dekat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
449
Bagikan
14 Juni 2010
Belajar Memberi dengan Tulus
Suatu hari ada seorang janda miskin yang memasukan sejumlah uang ke dalam kotak persembahan. Ia memberikan apa yang menjadi miliki kepunyaannya. Waktu itu, Yesus menyaksikan peristiwa itu. Ia juga melihat orang-orang kaya yang memberikan uang persembahan dalam jumlah yang banyak.
Lantas Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Kalian lihat apa yang diperbuat oleh janda miskin itu? Dia memberikan seluruh yang dimilikinya. Dia juga memberikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Itulah pemberiannya yang terindah. Tidak seperti orang-orang kaya itu.”
Murid-muridNya bingung mendengarkan penjelasan Yesus. Bagi mereka, pemberian yang paling baik adalah pemberian orang-orang kaya itu. Mengapa? Karena dengan cara itu, mereka dapat membantu kebutuhan hidup banyak orang. Namun Yesus tidak setuju dengan apa yang sedang mereka pikirkan. Menurut Yesus, orang-orang kaya itu memberi dari kesombongan mereka. Mereka memberi untuk mendapatkan pujian. Mereka memberi supaya dilihat orang.
Lain dengan pemberian janda miskin itu. Ia memberikan seluruh hidupnya. Ia memberikan seluruh jerih payahnya. Karena itu, Yesus memuji pemberian janda miskin itu. Meski tidak banyak ia memberi persembahan, ia menjadi orang yang berbahagia. Ia memberikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Dan Tuhan berkenan kepadanya.
Sering manusia memberi sesuatu kepada orang lain untuk dihormati. Atau orang memberi untuk diberi kembali. Ini yang diistilahkan dengan do ut des: memberi supaya diberi. Tentu saja pemberian seperti ini tidak tulus. Pemberian seperti ini mengandung pamrih, supaya dibalas dengan pemberian pula.
Karena itu, kita mesti belajar untuk memberi dengan tulus, dengan sepenuh hati. Pemberian yang dilakukan dengan tulus biasanya tidak mengharapkan balasannya. Balasan itu akan datang dengan sendirinya, kalau orang memberi dengan hati yang tulus. Pemberian yang didasari oleh rasa pamrih biasanya mengganggu hati dan pikiran orang. Orang selalu berpikir, kapan ia akan mendapatkan kembali apa yang hilang itu.
Sebagai orang beriman, kita mesti terus-menerus belajar untuk memberi dengan hati yang tulus. Mengapa? Karena pemberian yang tulus itu membuat kita bahagia. Kita tidak merasa kehilangan dengan memberi itu. Justru kita dapat bersyukur atas pemberian itu. Orang yang mendapatkan itu akan mengalami sukacita dan bahagia dalam hidupnya. Ia tidak perlu berpikir untuk mengembalikan pemberian itu.
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com408
Bagikan
13 Juni 2010
Belajar Mengasihi dengan Tulus
Suatu hari seorang anak datang kepada ibunya. Ia bertanya, ”Ma, apakah mama masih mencintai saya?”
Mamanya sangat terkejut mendengar pertanyaan itu. Lantas ia bertanya kepada anaknya, ”Kenapa kamu bertanya begitu? Apa kamu merasa bahwa selama ini mama tidak mencintaimu?”
Anak itu menjadi bingung. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa bersalah atas pertanyaannya. Ia merasa sedih telah mengajukan pertanyaan seperti itu. Ia meminta maaf kepada mamanya, karena telah meragukan cinta sang mama.
Mamanya memaafkannya. Ia memeluknya dengan dekapan kasih. Suatu dekapan yang menguatkan dirinya. Ia semakin yakin akan kasih sang mama. Hidupnya dipenuhi dengan kegembiraan dan sukacita. Ketika mengalami persoalan, ia cepat-cepat mendatangi mamanya. Ia yakin, mamanya akan membantunya dalam mengatasi setiap persoalan hidup.
Kasih seorang ibu tidak akan pernah putus dalam hidup seorang anak. Meski anak itu tega melupakan kehadiran seorang ibu, sang ibu tidak akan pernah melupakannya. Ia menyayanginya. Ia memberikan kasihnya kepada anaknya itu dengan tulus. Bahkan dalam kondisi seperti itu, seorang ibu yang normal masih tetap mengharapkan yang terbaik bagi anaknya.
Tentu saja kita semua ingin, agar kasih ibu senantiasa menjadi bagian dari hidup kita. Kita ingin agar kita tetap berada bersama kasih seorang ibu. Kita ingin belajar tentang kasih yang tulus dari seorang ibu. Belajar tentang kasih yang tulus itu sangat penting dalam hidup kita. Mengapa? Karena dunia ini semakin menjauhkan kita dari kasih yang tulus itu. Yang kita temukan dalam dunia ini adalah kasih yang palsu. Orang mengasihi hanya untuk mencari kepentingan dirinya sendiri. Orang tidak berani mengasihi untuk kepentingan sesamanya.
Karena itu, belajar mengasih dengan tulus itu suatu panggilan dalam hidup kita. Ketika kita mengasihi sesama dengan hati yang tulus, kita akan menemukan sukacita dan damai. Kita akan mengalami betapa indah kasih yang tulus itu. Kita akan merasakan bahwa Tuhan begitu dekat dalam hidup ini. Tuhan ternyata tidak jauh dari hidup kita. Tuhan ingin agar kita mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini.
Sebagai orang beriman, kita mesti terus-menerus belajar untuk saling mengasihi dalam hidup ini. Mengapa? Karena kasih itu memampukan kita untuk hidup rukun dan damai dengan sesama. Kasih itu menjadi andalan bagi kita untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini. Karena itu, mari kita hidup di dalam kasih yang memberi kita hidup yang lebih baik. Tuhan memberkati. **
Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:
1. Masihkah Anda terus-menerus belajar untuk mengasihi dengan tulus?
2. Temukan buah-buah kasih yang tulus dalam diri Anda. Renungkan dalam perspektif hidup bersama.
3. Mengapa Anda mesti mengasihi dengan tulus?
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
407
Bagikan
30 September 2009
Berdoa dengan Hati yang Tulus
Ada seorang pemuda yang malas berdoa. Ia berkata bahwa doa pagi waktu bangun tidur dan doa malam menjelang tidur intisarinya setiap hari sama saja. Waktu malam intinya ialah mengucap syukur untuk perlindungan sepanjang hari, lalu memohon perlindungan Tuhan untuk sepanjang malam. Sedangkan doa pagi intinya ialah berterima kasih untuk perlindungan sepanjang malam dan memohon kekuatan serta perlindungan untuk kehidupan di hari yang baru.
Pemuda itu kemudian mengambil dua helai kertas dan menuliskan doa pagi dan doa malam yang sudah ia hafal dengan baik. Setelah selesai ia tempelkan doa pagi di sebelah kiri tempat tidurnya dan doa malam di sebelah kanannya.
Keesokan harinya, ketika bangun di pagi hari, ia hanya berkata kepada Tuhan: “Tuhan, Engkau kupersilakan membaca doa pagiku di sebelah kiri ini. Silahkan baca ya Tuhan, itulah doaku.” Pada waktu malam, dengan mata yang mengantuk ia berkata, “Tuhan saya mau tidur. Silakan Engkau baca sendiri doa malamku.”
Doa seperti pemuda ini memang sangat gampang. Tetapi kemalasan seperti ini sering tidak membawa kebahagiaan bagi hidup. Doa seperti ini sering menghantui hidup seseorang. Orang berdoa hanya karena merasa wajib. Kalau tidak ada kewajiban, orang tidak perlu berdoa.
Hal yang sama akan terjadi ketika seseorang menjalankan ibadahnya hanya karena kewajiban agamanya. Ia merasa sudah beres kalau sudah melaksanakan kewajiban itu. Akibatnya, orang akan merasa dikejar-kejar oleh kewajiban. Padahal ibadah yang baik itu mesti dilaksanakan dengan hati yang bebas. Doa yang baik itu mesti muncul dari hati yang tulus. Doa orang yang percaya itu tidak memerintah Tuhan untuk bekerja bagi dirinya.
Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berdoa dengan hati yang tulus. Doa orang yang tulus itu didengarkan oleh Tuhan. Untuk itu, orang tidak perlu berdoa dengan panjang-panjang. Berdoa dengan kalimat-kalimat yang pendek itu akan sangat efektif dan menghasilkan banyak buah bagi hidup.
Mari kita berusaha berdoa dengan hati yang tulus. Dengan demikian Tuhan yang mahapengasih dan penyayang memberikan yang terbaik yang kita butuhkan dalam hidup ini. Kita yakin, Tuhan itu baik kepada kita. Kita percaya Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
183