Pages

Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

07 Mei 2014

Cinta Sejati mesti Ditumbuhkan


Dalam hidup ini, sebenarnya apa yang dibutuhkan oleh Anda? Apakah mobil mewah yang bisa membawa Anda ke mana-mana dengan aman dan nyaman? Atau istri cantik atau suami ganteng yang selalu berada di sisi Anda? Atau harta kekayaan yang melimpah yang membuat hati Anda tenang?

Ada seorang bapak yang suka gonta-ganti mobil mewah. Ia suka memburu mobil-mobil mewah itu. Ia mengira bahwa setiap kali ia memiliki mobil mewah, hatinya akan tenang. Ternyata tidak! Ia selalu tidak puas dengan setiap mobil mewah yang telah dimilikinya. Ia selalu resah. Ia terus-menerus memburu mobil mewah itu.

Lantas apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia di zaman sekarang ini? Kalau bukan harta kekayaan dan kemewahan, lalu apa? Seorang bapak selalu resah, karena memiliki istri yang sangat cantik. Mengapa? Ia selalu curiga, jangan-jangan istrinya selingkuh karena disukai banyak kaum pria. Jadi apa yang membuat manusia tenang dalam hidup ini?

Sahabat, pertanyaan-pertanyaan di atas membawa kita pada suatu refleksi yang mendalam tentang hidup ini. Apa yang paling utama kita butuhkan dalam hidup ini sebenarnya cinta atau kasih sayang. Cinta membuat orang tenang dalam hidupnya. Cinta yang tulus membuat orang berani menjalani hidup ini apa adanya. Semua kekayaan dan kemewahan yang dimiliki hanyalah sarana untuk memiliki cinta yang tulus. Kalau orang tidak mengalami cinta yang tulus berkat harta yang melimpah, orang mesti berpikir ulang tentang harta yang melimpah itu.

Menurut seorang psikolog, untuk dapat sehat secara mental, yang diperlukan seseorang adalah cinta. Orang mesti menyadari lebih dalam bahwa manusia hidup dari cinta, hidup oleh cinta dan juga untuk cinta. Viktor Frankl mengatakan bahwa cinta adalah tujuan utama dan tertinggi yang dapat dicapai manusia.

Psikolog terkenal ini berkata, ”Saya menangkap makna rahasia terbesar yang melingkar dalam syair, dalam pikiran dan keyakinan manusia, yaitu penyelamatan manusia diperoleh lewat cinta dan di dalam cinta.”

Karena itu, yang mesti dilakukan oleh manusia dalam hidup ini adalah menghidupi cinta tanpa syarat. Suatu cinta yang senantiasa mengutamakan kebahagiaan dalam hidup ini. Inilah cinta sejati. Cinta yang merupakan hadiah yang diberikan secara cuma-cuma kepada orang lain.

Tugas seorang beriman adalah memberikan cinta yang tulus dan sejati kepada sesamanya, siapa pun mereka. Sering orang memilih-milih siapa yang dapat dicintainya. Namun cinta yang sejati tidak memilih-milih. Erich Fromm, psikolog yang terkenal dengan bukunya, The Art of Loving, menulis tentang cinta tak bersyarat. Menurut Fromm, cinta tak bersyarat berhubungan langsung dengan kerinduan yang paling dalam, bukan hanya kerinduan pada anak, melainkan kepada setiap manusia.

Mari kita tumbuhkan cinta dan kasih sayang dalam hidup kita. Dengan demikian, kita mampu menciptakan suatu dunia yang lebih baik. Kita mampu mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1093

19 Juni 2012

Menumbuhkan Cinta yang Tulus

Apa yang akan Anda lakukan kalau orang yang sangat Anda cintai mengalami duka dan derita dalam hidupnya? Anda meninggalkannya sendirian, atau anda mengorbankan hidup Anda bagi dia?

Robertson MCQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan ingin merawat istrinya, Muriel. Sang istri menderita sakit Alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak. Muriel seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu.

Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri, karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya. Suatu kali Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel. Di luar kesadarannya, Muriel malah menyerahkan air seninya sendiri kepada suaminya. Robertson tiba-tiba kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya untuk menghentikannya.

Setelah itu, Robertson menyesal. "Apa gunanya saya memukulnya? Walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah, saya belum pernah memukulnya karena marah. Namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, Tuhan," ia berkata dalam hatinya.

Lalu tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya. Robertson dan Muriel menikah pada 14 Februari 1948. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel. Lantas ia menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel. Pada malam harinya menjelang tidur, ia mencium dan menggenggam tangan Muriel.

Pada 14 Februari 1995, Robertson memandangi istrinya yang tak berdaya. Ia berdoa, "Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya. Jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam. Biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin!"

Pagi harinya, ketika Robetson berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku.... sayangku...". Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.

Sahabat, cinta yang tulus tetap tumbuh dalam hidup sehari-hari. Tidak peduli terhadap berbagai tantangan yang ada. Sakit dan derita bukan menjadi halangan bagi tumbuhnya cinta yang tulus. Justru pada saat-saat sakit dan derita semestinya cinta itu semakin hidup dalam diri setiap orang. Mesti ada solidaritas yang terus tumbuh di saat-saat sakit dan derita menerpa hidup seseorang.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa pada saat-saat sakit dan derita justru orang membutuhkan cinta yang lebih tulus dan mendalam. Perhatian menjadi suatu bukti tetap hidupnya cinta yang tulus itu. Robertson rela mengorbankan kedudukannya yang tinggi demi cintanya kepada sang istri yang tak berdaya di atas tempat tidur. Namun pengorbanan itu tanpa sia-sia. Ia mendapatkan balasannya dengan sapaan mesra dari sang istri yang bertahun-tahun lamanya tak terdengar. Itulah sukacita. Itulah damai yang menggayut di hati, meski kata-kata itu sangat minim.

Sebagai orang beriman, kita juga dipanggil untuk senantiasa menumbuhkan cinta yang tulus dalam hati dan hidup kita. Cinta yang tulus itu mesti berbuah. Buahnya adalah kepedulian dan perhatian bagi yang lemah dan tak berdaya. Di saat-saat susah menyelimuti hidup kita, kita butuh cinta yang tulus dari sesama.

Mari kita tumbuhkan cinta yang tulus dalam hidup kita, agar damai menjadi bagian dari hidup kita. Untuk itu, kita butuh memiliki hati yang peka terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Cinta yang tulus dapat tumbuh saat orang membuka hatinya lebar-lebar bagi hidup sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

909

10 April 2012

Membangun Cinta Sejati dalam Hidup


Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda mengalami hidup ini berjalan biasa-biasa saja? Apa Anda akan ikut saja terbawa oleh arus zaman ini? Atau Anda mau mengubah pola tingkah laku Anda untuk membangun hidup yang lebih bergairah?

Maria kecil yang berusia sepuluh tahun tinggal di sebuah desa pinggiran kota di Chili tengah. Ketika ibunya menginggal, Maria menjadi ibu rumah tangga, merawat ayahnya yang bekerja giliran malam di sebuah pertambangan lokal. Maria memasak, membersihkan rumah dan memastikan bahwa makanan ayahnya sudah siap saat ia meninggalkan rumah untuk bekerja setiap malam.

Maria mengasihi ayahnya. Ia kuatir melihat betapa ayahnya menjadi begitu sedih sejak kematian ibunya. Suatu malam, Maria menyiapkan makanan untuk ayahnya. Lantas ia menyaksikan kepergian ayahnya ke tambang sambil menenteng sebuah rantang. Ia berdoa demi keselamatan ayahnya.

Rupanya, itulah malam terakhir baginya untuk berjumpa dengan ayahnya. Pada pukul 01.00 pagi Maria tiba-tiba terbangun, karena suara yang mengerikan. Peluit darurat di pertambangan itu meraung-raung dalam kegelapan, memanggil para penduduk kota untuk segera datang dengan cangkul dan tangan yang siap untuk membantu menggali para penambang yang terjebak di gua bawah tanah.

Maria berlari ke tambang untuk mencari ayahnya. Beberapa orang dengan panik menggali reruntuhan terowongan yang ambruk dan mengurung delapan orang. Salah satunya adalah ayah Maria.

Para petugas penyelamat itu menemukan delapan orang itu meninggal dalam posisi duduk membentuk lingkaran. Para petugas menemukan sebuah surat buat Maria dari sang ayah.

“Maria yang terkasih, saat kau baca pesan ini, Ayah sudah berada bersama ibumu di surga. Harapan kami akan hidup ini memudar, tetapi tidak demikian dengan hidup yang akan datang. Ayah sangat menyayangimu, Maria. Suatu hari kelak, kita semua akan bersama-sama di surga.”

Sahabat, dalam kegalauan ternyata masih ada cinta bagi orang sangat dikasihi. Cinta yang sejati tak pernah luntur. Cinta yang sejati tak pernah berakhir. Cinta yang sejati tetap mempesona. Mengapa? Karena cinta yang sejati tidak hancur oleh hancurnya raga.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa cinta yang sejati memberi semangat hidup. Cinta yang sejati itu tetap hidup. Api dari cinta yang sejati itu tetap menyala-nyala. Tidak pernah memudar. Hal ini hanya bisa terjadi ketika orang punya iman yang besar kepada Tuhan. Orang yang punya iman itu orang yang berani menyerahkan seluruh hidup kepada penyelenggaraan Tuhan.

Pertanyaan bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini adalah apakah kita masih memiliki cinta yang sejati? Apakah cinta kita tetap bersemi, meski berbagai rintangan dan tantangan menghadang kita?

Tentu saja tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Mengapa? Karena kita hidup di zaman yang penuh dengan godaan. Kita sering tergoda untuk meninggalkan komitmen yang telah kita buat. Kita tergoda untuk tidak peduli terhadap cinta dan kasih sesama terhadap kita.

Karena itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk memiliki cinta yang sejati. Dengan demikian, kita dapat mengalami hidup yang damai bersama Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


887

23 Januari 2012

Membangun Cinta yang Tulus

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda mengalami kesulitan dalam membangun kasih dengan sesama? Anda putus harapan? Atau Anda akan berusaha terus untuk merebut kasih itu?

Ada seorang gadis yang sangat merindukan kasih sayang seorang ayah. Selama ini ia merasa bahwa seorang lelaki yang ada di rumahnya hanyalah sosok yang mengerikan. Lelaki itu jarang menyapanya dengan penuh kasih. Ia merasa lelaki itu begitu jauh dari dirinya. Tidak ada ikatan batin yang begitu dekat dengan lelaki itu.

Karena itu, gadis itu tidak merasakan ada sentuhan kasih yang bermakna dari lelaki itu. Menurut ibunya, lelaki itu adalah ayah kandungnya. Lelaki itu pula membiayai seluruh hidupnya. Ia bisa pergi ke sekolah berkat kerja keras lelaki itu. Namun gadis itu merasa bahwa hubungan mereka begitu formal. Hubungan mereka begitu kaku bagai atasan dan bawahan.

“Benar bahwa ia membayar uang sekolahku. Ia juga membiayai kebutuhan hidupku. Tapi sebatas itukah yang disebut kasih sayang seorang ayah? Dia tak lebih daripada seseorang yang harus memenuhi sebuah tuntutan hukum untuk mendampingi diriku. Tetapi ia bukanlah ayahku. Setiap ongkos yang keluar untuk membayar uang sekolahku harus aku bayar dengan derai air mata dan isakan tangis. Harus aku bayar dengan mata yang membengkak. Inikah kasih sayang seorang bapak?” kata gadis itu.

Gadis itu hidup dalam malapetaka. Hatinya tidak tenang. Ia tidak mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya dari seorang ayah. Ia tidak menemukan kehangatan dari seorang ayah. Ia merasa kecewa terhadap hidupnya. Namun suatu hari ia berusaha untuk bangkit. Ia tidak mau menunggu terlalu lama ayahnya berubah. Ia memaksakan diri untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan ayahnya. Hasilnya? Relasi di antara mereka menjadi lebih baik. Mereka boleh bersenda gurau. Ia boleh merasakan kehangatan hati seorang ayah.

Sahabat, apa yang menjadi dasar hidup Anda? Mungkin orang yang mata duitan akan mengatakan bahwa dasar hidupnya adalah uang. Punya uang yang banyak akan menjadikan dirinya mudah untuk membangun masa depannya. Mungkin orang yang mengutamakan kehidupan bersama akan mengatakan bahwa dasar hidup itu adalah membangun kebaikan dalam relasi yang harmonis.

Bagi orang beriman, dasar hidup itu terletak pada cinta yang mendalam terhadap sesama. Hanya dengan mencintai sesama, hidup akan menjadi lebih baik. Orang akan mengalami damai dalam hidupnya di saat cinta akan sesama menjadi dasar hidup. Kisah gadis tadi menunjukkan bahwa ia ingin memiliki cinta yang tulus dari sang ayah. Ia tidak ingin relasi mereka hanya sekedar antara ayah dan anak. Ia ingin mendapatkan sapaan lembut dari seorang ayah.

Untuk itu, orang tidak bisa menunggu satu pihak saja untuk mengusahakan cinta yang tulus itu. Cinta yang tulus akan memiliki kemampuan yang luar biasa, kalau diusahakan bersama. Gadis tadi sungguh-sungguh berusaha untuk memiliki cinta yang tulus itu. Ia tidak tinggal diam. Ia berusaha untuk mendapatkan cinta yang tulus itu. Caranya adalah dengan lebih dahulu membangun cinta itu. Ia tidak hanya menunggu. Ia bergerak. Ia aktif untuk menciptakan cinta yang tulus itu.

Mari kita berusaha untuk menciptakan cinta yang tulus dalam hidup kita dengan berusaha aktif membangun hidup dalam cinta. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin damai dan indah. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


859

29 November 2011

Sukacita karena Cinta


Ada seorang wanita yang menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Ia menikah hanya menuruti keinginan orangtuanya. Suaminya menyuruhnya untuk bangun pukul lima pagi tiap hari, membuatkan sarapan untuknya dan menyajikannya tepat pukul enam. Sang suami mengharapkannya selalu siap melayaninya.

Hidup wanita itu menderita, karena hanya berusaha melayani setiap kebutuhan dan permintaan suaminya. Sampai suatu waktu suaminya meninggal dunia.

Beberapa tahun kemudian, wanita itu menikah kembali. Kali ini dengan seorang pria yang sangat dicintainya. Suatu hari, ketika sedang membereskan dan membersihkan kertas-kertas kuno, dia menemukan selembar kertas berisi peraturan yang harus dilakukan sebagai istri. Peraturan itu dibuat oleh mendiang suaminya.

Dengan hati-hati, dia membaca peraturan itu. “Bangun pukul lima. Hidangkan pada pukul enam tepat.” Dia terus membaca dan tiba-tiba berhenti serta merenung.

“Lho, bukankah apa yang saya lakukan sekarang pun persis dengan apa yang saya lakukan dulu? Mengapa sekarang saya bisa melakukannya dengan sukacita, tanpa merasa terpaksa?” katanya.

Ia tersenyum geli setelah menyadari perjalanan hidupnya. Lantas ia menjawab dalam hatinya, ”Ini karena cinta. Saya lakukan semua ini karena cinta. Saya merasakan sukacita atas apa yang aku lakukan ini.”

Sahabat, pernahkah Anda merasa melakukan sesuatu karena terpaksa? Apa hasil yang Anda peroleh? Tentu saja Anda tidak akan mengalami sukacita. Anda tidak merasa bahagia setelah melakukan semua hal yang baik itu. Anda justru merasa tertekan. Anda merasa apa yang telah Anda lakukan itu tidak membuahkan sesuatu bagi hidup Anda.

Sebaliknya, kalau Anda melakukan sesuatu dengan semangat yang dilandasi oleh cinta, Anda akan lakukan apa saja demi cinta itu. Tidak perlu diminta, Anda akan lakukan sesuatu untuk orang-orang yang Anda cintai itu. Meski berat pekerjaan itu, Anda akan merasa ringan karena menyenangkan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita lakukan demi cinta akan membahagiakan hidup kita. Untuk itu, kita mesti senantiasa menimba kasih dari Tuhan yang adalah sumber cinta. Tuhan memberi tanpa menarik kembali. Tuhan memberi tanpa meminta kita untuk membalasnya. Yang diinginkan Tuhan dari kita adalah kita mencintai sesama kita dengan setulus hati. Bukan dengan terpaksa. Mari kita mengandalkan kasih dalam hidup ini. Dengan demikian, kita mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



832

28 Juli 2011

Tumbuhkan Cinta dalam Hidup


Ada seorang ibu yang mesti memelihara anaknya sendirian selama empat puluh tahun. Suaminya meninggal dalam suatu kecelakaan. Sedangkan satu dari tiga orang anaknya mengalami cacat fisik sejak kecelakaan bersama ayahnya. Sejak bangun pagi hingga beranjak ke tempat tidurnya, ibu itu selalu punya perhatian terhadap anaknya. Apalagi sang anak tidak bisa berjalan sendiri. Ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Kaki dan tangannya lumpuh.

Suatu hari seorang teman kelasnya dulu datang mengunjungi ibu itu beserta anaknya. Temannya itu merasa tersentuh oleh situasi hidup ibu itu. Ia berkata, “Kamu pasti merasa capek. Kamu pasti merasa terbebani dengan kondisi anakmu.”

Ibu itu tersenyum mendengar kata-kata teman lamanya itu. Ia berkata kepadanya, “Saya tidak pernah merasa terbebani oleh kondisi anak saya. Sudah empat puluh tahun saya lakukan semua hal untuk dia. Saya merasa bahagia. Saya merasakan begitu besar cinta Tuhan terhadap saya. Tuhan telah memberi tanggung jawab ini kepada saya.”

Temannya terkejut mendengar kata-kata bijak ibu itu. Ia heran, mengapa kondisi seperti itu tidak sedikit pun membuat ia terbebani. Ia berdecak kagum mendengar kata-kata ibu itu. Ia bahkan merasa malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa gagal dalam mendidik anak-anaknya. Dua anaknya tidak berhasil dalam hidup mereka. Mereka menjadi orang-orang yang sering menyusahkan dirinya.

Sahabat, cinta yang begitu besar telah mendorong seorang ibu menerima kehadiran anaknya yang cacat. Tampak cacat fisik yang dimiliki anaknya itu membuat ibu itu mengambil tindakan kasih yang nyata. Ia merawatnya dengan penuh perhatian. Ia tidak mau membiarkan sang anak menderita dalam kondisinya seperti itu.

Banyak orang sering merasa bahwa suatu perbuatan baik bagi sesama itu menjadi suatu beban. Melakukan suatu kebaikan itu memberikan beban terhadap hidupnya. Karena itu, orang enggan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi orang lain. Orang merasa bahwa melakukan hal-hal baik bagi orang lain itu membuang-buang waktu saja. Lebih baik melakukan sesuatu untuk diri sendiri saja.

Orang yang berpandangan seperti ini biasanya orang-orang yang kurang punya kasih. Cinta mereka terhadap sesama dibatasi oleh egoisme yang begitu besar. Orang hanya ingin mencari kepuasan bagi dirinya sendiri saja. Orang seperti ini lebih memperhitungkan untung rugi bagi dirinya sendiri saja. Karena itu, orang seperti ini lebih sering mengeluh ketika mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. Orang seperti ini lebih mudah sewot ketika terjadi jalan buntu dalam hidupnya.

Kisah ibu tadi memberi inspirasi bagi kita untuk memiliki cinta yang kuat terhadap sesama. Cinta yang kuat itu dilatih dalam pergulatan kehidupan. Cinta yang kuat itu dapat bertumbuh dan berkembang dalam perbuatan baik bagi sesama. Untuk itu, orang mesti terus-menerus menumbuhkembangkannya dalam hidupnya. Orang mesti yakin bahwa hanya dengan melakukan hal-hal baik bagi sesama, orang dapat mengalami cinta yang besar pula dalam hidupnya.

Mari kita bertumbuh dan berkembang dalam cinta kasih terhadap sesama. Kita berusaha untuk terus-menerus mengasihi sesama dengan segenap hati. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

740

03 April 2011

Cinta Mendekatkan Hati


Suatu hari seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berteriak?”

Setelah berpikir beberapa saat, seorang murid menjawab, “Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran. Karena itu, ia berteriak.”

Guru itu berkata lagi, “Tapi lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah tidak bicara pelan-pelan dan halus saja?”

Hampir semua murid di kelas itu memberikan sejumlah alasan yang menurut mereka benar. Namun tidak satu pun jawaban mereka memuaskan.

Lantas guru itu berkata, “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi sangat jauh. Walaupun secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin mereka menjadi marah. Dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu, mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sambil melempar senyum, para murid mengangguk-anggukan kepala tanda setuju. Lantas guru itu melanjutkan penjelasannya, “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tidak berteriak. Ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun suara mereka, keduanya bisa mendengarkan dengan begitu jelas.”

Sahabat, cinta itu mendekatkan hati manusia. Hati yang dekat satu sama lain itu mampu memahami keinginan dan kebutuhan sesama. Bahkan dalam hidup suasana cinta yang mendalam kata-kata menjadi tidak sangat berarti. Orang mampu berkomunikasi dengan tanda-tanda yang membangkitkan semangat untuk semakin mendekatkan diri satu sama lain.

Sebaliknya, ketika orang dikuasi emosi dan kemarahan yang meledak-ledak, hati orang menjadi semakin jauh. Tidak ada kata-kata indah yang muncul dari mulut seseorang. Yang muncul adalah kata-kata yang membuat hati seseorang sakit. Dalam kondisi seperti itu, jarak antarhati semakin jauh dan jauh. Mengapa? Karena tidak ada cinta yang mampu mendekatkan dan menyatukan dua hati.

Karena itu, ketika orang sedang dilanda kemarahan semestinya orang tidak perlu meneriakkan kata-kata kasar. Orang mesti mampu meredamnya dengan kata-kata yang menyejukkan hati. Dengan demikian, hati orang semakin dekat. Yang terjadi adalah orang mampu menguasai emosi dan kemarahannya. Orang berusaha memberikan yang terbaik bagi sesamanya dengan kata-kata yang lembut. Tentu saja hal ini tidak muncul begitu saja. Orang mesti berani memulai dan belajar untuk mengungkapkan kata-kata yang lembut di saat kemarahan melandanya.

Orang beriman mesti mengutamakan cinta daripada kemarahan. Hanya dengan begitu, orang beriman mampu menciptakan suatu dunia yang penuh sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Tabloid KOMUNIO


647

31 Maret 2011

Membangun Rasa Cinta terhadap Pekerjaan


Ada seorang karyawan yang selalu mengeluh tentang pekerjaannya. Berbagai alasan ia lontarkan terhadap pekerjaan itu. Ia tidak peduli terhadap waktu yang telah ditentukan oleh pimpinannya untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Akibatnya, penyelesaiaan pekerjaannya itu selalu tertunda-tunda. Ia selalu mengelak dengan berbagai alasan tentang tertundanya pekerjaannya itu.

Pimpinannya menjadi tidak senang terhadap karyawan tersebut. Ia memberinya peringatan keras terhadapnya. Menyadari peringatan itu, karyawan tersebut mencari teman yang dapat ia ajak untuk menyelesaikan persoalannya. Temannya itu memintanya untuk bertanya diri, apakah sesungguhnya ia mencintai pekerjaannya.

Setelah beberapa waktu merefleksikan pertanyaan itu, karyawan itu memutuskan untuk berhenti bekerja. Alasannya adalah ia tidak menyukai pekerjaan itu. Ia merasa terpaksa dalam melaksanakan pekerjaannya itu. Karena itu, lebih baik ia berhenti bekerja daripada tidak menemukan kebahagiaan di dalam pekerjaan itu. Beberapa waktu kemudian ia menemukan pekerjaan yang ia sukai. Ia mengalami sukacita dan bahagia melaksanakan pekerjaan itu. Melalui pekerjaan itu, ia dapat menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.

Sahabat, suatu pekerjaan itu bukan saja asal dikerjakan. Orang membutuhkan suatu cinta yang mendalam terhadap pekerjaan itu. Orang yang tidak memiliki cinta yang mendalam terhadap pekerjaan itu akan selalu menggerutu ketika mengerjakan sesuatu. Orang akan merasa bahwa apa yang sedang dikerjakan bukanlah panggilan hidupnya. Karena itu, orang ingin segera meninggalkan pekerjaannya dengan berbagai alasan.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa seorang karyawan tidak asal menyelesaikan tugasnya. Ia mesti sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaannya. Karyawan itu berhasil keluar dari pekerjaan yang tidak dicintainya itu karena ia mampu merefleksikan kembali makna kerja bagi hidupnya. Setelah ia menemukan pekerjaan yang sungguh-sungguh ia cintai barulah ia dapat sungguh-sungguh menemukan jati dirinya.

Yang sering dilupakan orang dalam mengerjakan suatu pekerjaan adalah semangat yang mesti menjadi bagian dari hidupnya. Semangat untuk belajar terus-menerus menjadi suatu dasar bagi seseorang untuk semakin mencintai pekerjaannya. Untuk itu, orang mesti membangun semangat itu dari dalam dirinya sendiri. Orang mesti mampu berefleksi atas pilihan pekerjaannya. Dengan demikian, orang dapat memiliki rasa cinta yang mendalam terhadap pekerjaannya.

Di dalam pekerjaan orang dapat menemukan Tuhan yang baik yang senantiasa membimbing seseorang untuk mencintai pekerjaannya. Karena itu, orang mesti sadar bahwa apa yang dilakukannya bukan sekedar melakukan suatu pekerjaan. Orang mesti memiliki rasa cinta yang mendalam terhadap pekerjaannya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

645

27 Maret 2011

Membangun Cinta yang Universal



Suatu hari seorang gadis merasa kesepian. Pasalnya, ia baru saja putus cinta dengan seorang pemuda. Ia merasa lemas. Sekujur tubuhnya yang dulu kuat, kini menjadi lemas. Tidak ada tenaga. Tidak ada kekuatan sama sekali. Kekuatan cinta yang dulu begitu menggebu-gebu, kini lunglai. Bagai bunga di musim kering yang tak disirami air. Tidak ada gairah untuk hidup lagi.

Namun gadis itu tidak ingin mengakhiri hidupnya. Ia membiarkan semua peristiwa pahit itu berlalu dari hatinya. Ia berusaha untuk membangun kembali kekuatan cintanya dari puing-puing cintanya yang tersisa. Dalam hati ia berkata, “Saya mesti kuat. Saya masih punya kemampuan. Saya masih punya kekuatan meski sedikit. Saya akan bangun kembali cinta saya yang hilang itu.”

Benar. Tidak terlalu lama tenggelam dalam kepedihan, gadis itu merangkai kembali kekuatan cintanya. Kali ini ia ingin miliki sendiri dulu cinta itu. Ia tidak mau memberikannya kepada orang lain dulu. Ia ingin memberi dasar-dasar yang kokoh bagi cintanya. Apalagi ia membangun cinta itu dari puing-puing cinta yang ia rangkai kembali bagai mengurai benang kusut.

Gadis itu sadar, semua itu tidak ia lakukan sendirian. Ada orang-orang lain yang ikut membantunya membangun kembali cintanya. Ada teman-teman yang memberinya semangat untuk tidak tenggelam dalam derita karena cinta yang hilang. Ia juga sadar bahwa dalam usaha-usahanya ia selalu mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Ia pasrahkan seluruh jiwa raganya kepada Tuhan yang memberi jaminan bagi hidupnya. Karena itu, ia berhasil. Ia menemukan kembali cintanya bagi dirinya dan sesama di sekitarnya.

Sahabat, cinta yang berkobar-kobar sulit untuk dipadamkan. Ia menyala bagai api. Namun cinta yang suci biasanya tidak membakar sampai hangus. Cinta yang kudus itu menjilat-jilat, namun menumbuhkan kehidupan. Cinta yang sejati biasanya tidak merusak tatanan kehidupan. Hanya cinta yang egois yang mampu menghancurkan kehidupan bersama.

Kisah gadis kehilangan cinta tadi memberi inspirasi bagi kita tentang bagaimana kita mesti menghidupi cinta yang kudus dalam hidup ini. Ada kalanya orang mengalami kehilangan cinta. Ada kalanya orang terpuruk karena cinta. Tentu saja situasi seperti ini biasanya disebabkan oleh cinta yang egois yang mau menang sendiri. Cinta yang tidak mampu dibagikan kepada orang lain. Cinta seperti ini cinta yang hanya diperuntukan bagi keuntungan diri sendiri, bukan bagi kepentingan bersama.

Orang beriman mesti memiliki cinta yang universal. Suatu cinta yang mampu membangun persaudaraan dalam hidup bersama. Suatu cinta yang sehat yang tidak meminggirkan orang lain.

Mampukah orang beriman memiliki cinta yang demikian? Tentu saja orang beriman mampu memiliki cinta yang demikian. Mengapa? Karena orang beriman hidup bukan bagi dirinya sendiri. Orang beriman dilahirkan untuk sesama. Dalam kebersamaan hidup itu orang beriman menemukan hidup begitu baik dan indah. Hidup ini memiliki makna yang mendalam. Mari kita membangun cinta universal. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin damai dan baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


642

06 Maret 2011

Cinta Yang Sejati Itu Memberi Hidup

Sudah bertahun-tahun seorang gadis jatuh hati terhadap seorang pemuda di kampungnya. Namun tampaknya ia hanya bertepuk sebelah tangan. Pemuda itu tidak menanggapi cinta gadis itu. Hal itu membuat gadis itu patah semangat.

Setiap kali ada pemuda lain yang mendekatinya, ia selalu menolak. Ia berkata kepada mereka, “Saya sudah ada yang punya.”

Padahal ia masih tetap menaruh hati pada pemuda yang tidak mencintainya itu. Ia masih tetap mencintai pemuda itu bahkan pemuda itu telah menikahi seorang gadis dari kampung yang lain. Tentang hal ini ia berkata, “Saya memiliki cinta yang sejati yang tidak akan padam. Cinta yang sejati tidak akan berhenti saat menghadapi rintangan demi rintangan.”

Namun suatu hari gadis itu pun sadar bahwa ia tidak bisa mencintai orang yang tidak mencintainya. Cinta yang ia miliki itu hanyalah cinta semu. Sebuah cinta yang tidak berbuah apa-apa, karena orang yang dia cintai itu sama sekali tidak mencintainya. Kesadaran itu membuat ia membuka hatinya untuk cinta seorang pemuda dari kampung tetangganya. Cinta mereka saling bersahut-sahutan. Mereka merajut cinta itu. Ternyata itulah cinta sejati yang dia miliki.

Ia pun mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Ia pun boleh mengekspresikan daya cinta yang dimilikinya untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia. Anak-anak yang lahir dari perkawinannya itu merupakan buah dari cinta yang sejati itu.

Sahabat, banyak orang merasa bahwa mereka memiliki cinta yang sejati dalam hidup ini. Banyak orang bertindak seolah-olah cinta yang mereka berikan itu cinta yang tulus dan murni. Namun kalau orang sungguh-sungguh menukik ke dalam batinnya, orang akan menemukan bahwa sebenarnya cinta mereka hanyalah semu. Cinta yang tidak berbuah, karena lengketnya egoisme dalam cinta itu.

Orang mencintai sesamanya untuk memilikinya. Bukan demi kebahagiaan orang yang dicintainya itu. Atau ada orang yang merasa putus asa dalam hidupnya, karena cintanya tidak bergema. Ia berkata, “Saya tidak menemukan cinta dalam hidup ini. Untuk apa saya hidup, kalau tidak ada cinta?”

Karena itu, orang yang memiliki cinta yang sejati itu tidak mengunci cinta dalam hidupnya. Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberinya. Sebaliknya, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya seerat-eratnya untuk diri sendiri. Orang yang mencintai itu orang yang berani berkorban bagi sesamanya. Orang yang berani membuka hidupnya untuk sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita mesti berani membuka hati kita untuk sesama kita. Artinya, kita mau memberikan hidup kita untuk digunakan oleh orang lain. Kita tidak ingin hidup ini menjadi milik kita sendiri. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk bersukacita, karena kita memiliki cinta yang sejati. Hidup ini memiliki makna yang mendalam bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


626



Juga dapat dibaca di:

http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/

http://forumm.wgaul.com/showthread.php?t=85079&page=100

http://www.facebook.com/katolik.webgaul.net

18 Februari 2011

Memaknai Simbol-simbol dalam Hidup



Suatu hari seorang ibu kehilangan cincin perkawinannya. Siang harinya ia diajak oleh seorang perempuan yang tidak dikenal untuk pergi ke suatu tempat di kota itu. Ia ikut saja semua yang dikatakan oleh perempuan itu. Ketika perempuan itu memintanya untuk melepaskan cincin perkawinannya, ia ikut saja. Ketika diminta untuk memberikann cincin itu kepadanya, ibu itu pun menyerahkan benda yang sangat berharga itu.

Ibu itu baru sadar ketika perempuan muda itu meninggalkannya. Ia menangis. Ia berteriak histeris. Namun cincin kesetiaan itu telah lenyap. Nasi sudah menjadi bubur. Apalagi wajah perempuan muda itu pun tidak ia ingat lagi. Rupanya ia kena hipnotis. Beberapa saat kemudian ia pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari tempat kejadian. Ia menumpahkan kepedihan hatinya dengan menangis dan menangis.

Sang suami heran menyaksikan kondisi istrinya. Ia berusaha untuk membujuk istrinya, agar berhenti menangis. Namun sang istri tidak mau berhenti juga. Malam harinya baru ia tahu kalau sang istri menangis karena cincinnya telah lenyap. Suaminya berkata, ”Tidak usah terlalu bersedih hati. Saya yakin, kesetiaanmu tetap tinggi padaku. Kamu masih mencintai saya dan saya masih mencintaimu.”

Dengan wajah yang masih sedih, sang istri menjawab, ”Cinta saya kepadamu tidak akan hilang. Namun cincin perkawinan itu sangat berharga bagi saya. Itulah tanda ikatan perkawinan kita. Itulah tanda kesetiaan saya kepadamu. Ketika engkau melihat cincin yang saya kenakan, engkau yakin saya tetap mencintaimu.”

Sahabat, manusia itu hidup dengan tanda-tanda atau simbol-simbol. Cincin yang dikenakan suami istri menandakan cinta yang tak pernah lekang. Cinta yang terus-menerus hadir dalam hidup perkawinan. Cinta yang tetap membara, meski usia sudah uzur.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ibu yang kehilangan cincin itu ingin tetap mempertahankan bahtera perkawinannya. Ia ingin mengatakan kepada suaminya bahwa cintanya masih tetap membara. Ia ingin mengatakan bahwa kehadiran cincin di jarinya itu menandakan cintanya yang tulus kepada sang suami.

Manusia dapat tetap bertahan dalam hidup, karena cinta. Tentu saja cinta yang sejati yang senantiasa menjadi andalan hidup manusia. Cinta sejati itu tumbuh dan berkembang dalam keseharian hidup manusia. Cinta sejati itu bukan cinta yang dibuat-buat. Tetapi cinta yang ditumbuhkan dari kesahajaan hidup.

Karena itu, ketika cinta yang sejati itu hilang orang akan mengalami kegalauan dalam hidupnya. Orang akan mengalami hidup ini menjadi hambar tak bermakna. Orang menjadi linglung dan tidak tahu mau ke mana hidup ini diarahkan. Orang hidup bagai layang-layang putus.

Untuk itu, cinta yang sejati mesti selalu dipupuk. Cinta yang sejati mesti selalu dibangkitkan, agar memiliki buah-buah yang baik bagi kehidupan. Hidup ini memiliki makna yang mendalam bagi hidup. Dengan demikian, orang mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

618

15 Februari 2011

Kesetiaan Itu Kunci Melestarikan Cinta


Pada jaman dahulu hiduplah dua orang jendral besar, yaitu Cyrus dan Cagular. Cyrus adalah raja Persia yang terkenal. Sedangkan Cagular adalah kepala suku yang tersu-menerus melakukan perlawanan terhadap serbuan pasukan Cyrus, yang bertekad menguasai Persia.

Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia. Hal itu membuat marah Cyrus yang punya ambisi untuk menguasai perbatasan daerah selatan menjadi gagal. Akhirnya, Cyrus mengumpulkan seluruh kekuatan pasukannya. Ia mengepung daerah kekuasaan Cagular dan berhasil menangkap Cagular beserta keluarganya. Mereka lalu dibawa ke ibukota kerjaaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.

Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke sebuah ruangan pengadilan. Kepala suku itu berdiri menghadapi singgasana, tempat Cyrus duduk dengan perkasa. Cyrus tampak terkesan dengan Cagular. Ia telah mendengar kegigihan Cagular mempertahankan wilayahnya.

Sambil memandang Cagular, Cyrus bertanya, “Apa yang akan kaulakukan bila aku menyelamatkan hidupmu?”

“Kalau yang mulia menyelamatkan hidup istri hamba, hamba bersedia mati untuk yang mulia.”

Ia segera dibebaskan. Namun hati istrinya sangat terpukul. Ketika dalam perjalanan, sang istri sangat marah terhadap suaminya. Istrinya berkata dengan penuh kecewa, “Aku hanya mau melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku. Bukan demi Cyrus.”

Sahabat, masihkah kita butuh kesetiaan dalam hidup ini? Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita menyaksikan terjadi berbagai ketidaksetiaan. Ada pasangan suami istri yang mengingkari kasih setia mereka. Terjadi perselingkuhan di antara mereka. Seorang yang tenar seperti Tiger Woods ternyata mengingkari kasih setianya kepada sang istrinya. Ia tega berselingkuh dengan wanita-wanita lain.

Kisah sewot istri Cagular tadi mau mengatakan kepada kita bahwa dalam suatu perkawinan, kesetiaan menjadi tolok ukur kelangsungan perkawinan itu. Kalau pasangan suami istri tidak saling setia dan bersedia berkorban bagi yang lain, cinta mereka menjadi hambar. Cepat atau lambat, mereka tergerus oleh perceraian. Hal ini terjadi kalau masing-masing orang hanya mau menang sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau berkorban bagi cinta yang sejati.

Karena itu, orang beriman mesti berani berkorban bagi cinta yang lebih besar. Orang beriman mesti berani mendengarkan pasangannya. Orang beriman mesti berani mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan dirinya sendiri. Untuk itu, cinta itu mesti terus-menerus dipupuk dengan keutamaan-keutamaan seperti saling mengampuni dan menghormati. Dengan demikian, bahtera perkawinan itu tetap bertahan sampai akhir hayat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

615

06 Februari 2011

Tuhan selalu Punya Cara untuk Mencintai Kita

Ada seorang bapak yang mengalami kecelakaan yang hebat. Mobil yang ia kendarai menabrak sebuah tronton yang sedang melaju. Tangan dan kakinya patah. Beberapa waktu lamanya ia terbaring tak berdaya di rumah sakit. Setelah beberapa bulan dirawat, ia sembuh. Namun ia tetap lumpuh. Ia mesti menggunakan kursi roda untuk melakukan aktivitasnya.

Ketika masih dirawat di rumah sakit, ia begitu gelisah. Ia tidak mau menerima kenyataan pahit itu. Ia berkata kepada istrinya, ”Sudah berkali-kali saya berdoa kepada Tuhan. Tetapi rupanya Tuhan tidak mau mendengarkan doa-doa saya. Apakah Tuhan sudah tuli? Di mana Tuhan sekarang?”

Mendengar pernyataan-pernyataan itu, istrinya tersenyum. Lantas ia berkata, ”Mengapa bapak kecewa terhadap Tuhan? Bukankah Tuhan selalu mencintaimu? Pernahkah Tuhan mencobai dan menyakiti bapak? Tuhan masih hadir menemani bapak sampai sekarang. Lihatlah anak-anakmu yang setia menjagamu. Mereka memberikan perhatian yang luar biasa terhadapmu. Ini tanda Tuhan masih mencintaimu.”

Bapak itu tidak bisa menjawab. Air matanya meleleh dan jatuh membasahi pipinya. Ia sadar, ia masih merasakan kebaikan Tuhan yang hadir dalam diri istri dan anak-anaknya. Mereka tidak meninggalkan dia terbaring sendirian. Ketika ia menjerit kesakitan, mereka selalu berusaha untuk meringankan beban penderitaannya.

Sahabat, banyak orang mempertanyakan peranan Tuhan dalam hidup mereka, ketika mereka mengalami kegetiran hidup. Mereka merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli terhadap penderitaan yang sedang mereka alami. Mereka bahkan menuduh Tuhan tidak peduli terhadap hidup mereka. Akibatnya tumbuh sikap pesimis terhadap Tuhan. Tumbuh sikap kurang percaya kepada Tuhan.

Benarkah Tuhan tidak peduli terhadap hidup manusia? Benarkah ketika manusia mengalami penderitaan Tuhan menghilang? Benarkah Tuhan membiarkan manusia berjuang sendirian dalam suasana yang kurang menyenangkan?

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa cinta Tuhan selalu hadir dalam hidup manusia. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendirian. Tuhan tetap berperan menyembuhkan penderitaan manusia melalui kehadiran orang-orang di sekitar kita. Tuhan menghadirkan diri dalam cinta dan perhatian yang begitu besar yang ditunjukkan oleh kesetiaan sesama kita.

Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk menuduh Tuhan tidak peduli terhadap hidup ini. Tuduhan dilakukan oleh mereka yang kurang percaya kepada Tuhan. Orang-orang yang kurang percaya biasanya mempertanyakan kebaikan, cinta dan peranan Tuhan dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita mesti yakin bahwa Tuhan tetap peduli terhadap hidup kita melalui berbagai cara. Tuhan tidak kehabisan cara untuk mencintai kita. Mari kita menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam kuasa Tuhan. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai bersama Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


608

18 Mei 2010

Cinta Mengatasi Segalanya



Di suatu jalan yang ramai terjadi tabrakan antara dua mobil. Kerusakan tidak parah. Hanya lecet-lecet pada bemper masing-masing. Namun bagi salah seorang pengendara, seorang perempuan, tabrakan kecil itu menyimpan rasa cemas luar biasa dalam hatinya. Bukan karena ia yang salah dalam peristiwa itu. Tetapi mobil yang dia kendarai itu mobil baru. Tiga hari yang lalu suaminya baru membeli mobil itu. Baru keluar dari showroom.

Akibatnya, perempuan itu menjadi panik. Setelah kedua mobil itu minggir, perempuan itu keluar dari mobilnya. Ia mendekati pengendara mobil yang lain yang duduk tenang-tenang di dalam mobilnya. “Bagaimana, pak? Apa yang harus segera kita lakukan?” tanya perempuan itu.

Lelaki yang ada di belakang kemudi itu bertanya, “Ibu mau apa? Yang jelas, ibu yang salah. Ibu yang menabrak mobil saya. Ibu mau ke polisi?”

Dalam kebingunan, perempuan itu menjawab, “Kita damai saja. Saya harus menanggung biaya perbaikan mobil bapak.”

Dengan sigap, lelaki itu berusaha menenangkan perempuan itu. Ia sadar, mobilnya tidak perlu perbaikan. Paling, lecet sedikit saja. Lelaki itu berkata, “Ibu, kenapa ibu begitu panik? Mobil saya tidak apa-apa.”

“Tetapi.... suami saya...” kata perempuan itu.

Lelaki itu tersenyum. Dalam hatinya ia berpikir bahwa perempuan itu seorang yang taat kepada suaminya. Lalu ia berkata, “Ibu, lebih baik ibu kembali ke mobil. Coba lihat surat-surat ibu. Jangan-jangan ibu tidak punya SIM.”

Perempuan itu kembali ke mobilnya. Ia membuka laci mobilnya dan menemukan sepucuk surat dari suaminya. Tulisan tangan suaminya tertulis jelas, “Kalau suatu saat terjadi kecelakaan, ingatlah sayang, engkaulah yang lebih kucintai, bukan mobil ini.”

Perempuan itu menjadi lega. Cinta suaminya atas dirinya mengatasi segalanya. Sesaat kemudian perempuan itu meninggalkan tempat itu. Ternyata suaminya lebih menaruh cintanya kepadanya daripada pada mobil yang baru ia beli tiga hari yang lalu.

Dalam kehidupan sehari-hari cinta personal sering kali dikaburkan oleh hadirnya hal-hal lain dalam hidup. Cinta sejati itu dilunturkan oleh pandangan mengenai hal-hal sekunder dalam hidup ini. Harta kekayaan, misalnya, sering menjadi pemicu hancurnya cinta kasih dua insan yang telah membina hidup berkeluarga bertahun-tahun.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa harta kekayaan bukanlah segala-galanya. Harta itu hanyalah hal sekunder dalam hidup ini. Yang utama dalam hidup ini adalah jalinan cinta kasih yang mesti dipelihara terus-menerus oleh manusia yang saling mencintai.

Setiap hari ini merajut cinta kasih di antara kita dengan berbagai cara. Yang diharapkan adalah kita mau memelihara cinta kasih itu bagi hidup kita dan sesama yangg ada di sekitar kita. Dengan demikian, tercipta suatu dunia yang baik, aman, damai dan sejahtera.

Karena itu, mari kita bawa seluruh pengalaman cinta kita dalam hidup kita sehari-hari. Jangan biarkan cinta sejati itu dikaburkan oleh hal-hal yang sekunder. Untuk itu, kita mohon agar Tuhan yang mahacinta menguatkan dan menyempurnakan cinta kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

381
Bagikan

08 Oktober 2009

Menumbuhkan Kepercayaan dalam Hidup Berkeluarga

Ada seorang ibu yang punya dua orang anak. Setiap hari ia mengantar dan menjemput kedua anak ke sekolah. Sementara suaminya hingga kini tidak pernah peduli terhadap sekolah anak-anaknya. Dia lebih sibuk dengan pekerjaannya untuk menghidupi keluarga. Namun sering kali dia mengomeli ibu itu, kalau ia pulang terlambat setelah mengantar atau menjemput anak-anak.

Sang suami berkata, “Wah, kunjungi pacar lama, ya?” Kata-kata seperti itu sudah sering ia ucapkan kepada istrinya. Istrinya merasa tersinggung setiap kali mendengar kata-kata seperti itu. Ia bertanya dalam hatinya, “Bagaimana mungkin saya masih mau main selingkuh dengan lelaki lain? Saya kan sudah punya anak dan suami? Tidak ada niat sedikit pun kembali ke pacar lama yang juga tinggal di kota ini. Saya sudah menambatkan hati pada suami saya untuk selama hidup. Jadi saya tidak tahu mau buat apa. Sudah capek mengantar dan menjemput anak-anak malah masih dicurigai suami seperti itu.”

Ibu itu sering hilang akal kalau mendengar kata-kata suaminya. Ia juga punya perasaan. Ia tidak ingin hubungannya dengan suaminya menjadi retak. Ia sangat mencintai anak-anaknya. Ia ingin tetap membangun keluarga yang baik. Ia hanya berharap, agar suaminya berubah pikiran. Tidak memikirkan yang bukan-bukan tentang dirinya.

Kurangnya perhatian dari seseorang terhadap orang lain dapat menimbulkan persoalan-persoalan dalam hidup bersama. Apalagi dalam hidup berkeluarga. Sering muncul kecemburuan dalam membangun hidup berkeluarga. Kisah tadi menjadi salah satu contoh betapa kecemburuan itu bisa merenggangkan hubungan suami istri. Kecurigaan bisa terjadi dalam hidup berkeluarga, karena hal-hal yang sepele.

Karena itu, orang mesti mampu berefleksi diri. Artinya, orang mesti berani bertanya diri, ada apa dengan pasangannya. Lantas bagaimana dengan diri sendiri? Mengapa sang suami atau istri sampai tega melemparkan kata-kata yang menusuk perasaan? Mungkinkah ada ketidakjujuran dalam membangun relasi dalam hidup perkawinan?

Sebuah perkawinan yang harmonis itu menuntut pengertian yang mendalam dari kedua belah pihak. Perkawinan yang bahagia itu biasanya ditandai dengan adanya rasa percaya terhadap pasangan. Kepercayaan yang mulai luntur di antara pasangan suami istri sering menjadi pemicu hancurnya sebuah keluarga.

Untuk itu, keluarga-keluarga mesti memperhatikan hal ini. Kepercayaan satu terhadap yang lain mesti dibangun sejak awal. Kepercayaan itu bukan hanya janji-janji hampa di bibir saja. Kepercayaan itu mesti ditunjukkan dalam hidup nyata. Suatu kepercayaan yang tampak dalam tindakan nyata. Mungkinkah dapat terjadi?

Sebagai orang beriman, setiap pasangan suami istri mesti berani membangun kepercayaan di antara mereka. Untuk itu, mereka mesti memiliki cinta yang utuh dalam hidup perkawinan. Cinta mereka tidak bisa sepotong-sepotong. Kalau ini yang terjadi, bukan keharmonisan yang terjadi. Tetapi justru yang terjadi adalah kehancuran dalam hidup berkeluarga. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


191

07 Oktober 2009

Mempertahankan Bahtera Perkawinan

Ada seorang ibu mengeluh bahwa suaminya yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya ternyata tidak setia. Suaminya punya gandengan lain yang lebih cantik dan muda. Ia mengaku, sejak awal perkawinan itu suaminya tidak pernah memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Anehnya, mereka sudah punya dua orang anak yang manis-manis.

Ibu itu juga tidak mengerti mengapa situasi seperti itu bisa terjadi. Yang pasti baginya sekarang adalah suaminya lebih memperhatikan gandengan barunya itu. Bahkan suaminya cuek saja, ketika ia mempersoalkan hal ini. Ia menuntut agar suaminya kembali hidup bersama dengannya. Ia meminta agar suaminya meninggalkan perempuan simpanannya.

Namun suaminya tidak bergeming. Ia semakin mesra dengan cewek selingkuhannya. Sang istri tambah sewot. Apalagi ia mesti menanggung hidup dirinya dan kedua anaknya sendirian. Suatu hari, sang suami itu akhirnya sungguh-sungguh meninggalkan rumah. Ia hidup bersama cewek simpanannya itu.

Kisah seperti ini biasa kita dengar. Ada ketidaksetiaan di antara suami istri, meski mereka sudah lama menjalin hubungan perkawinan. Pertanyaannya, mengapa hal ini mesti terjadi? Ada banyak sebab terciptanya situasi seperti ini. Mungkin saja pasangan itu sejak awal tidak sungguh-sungguh saling mencintai. Mereka menikah karena terpaksa. Bangunan cinta mereka belum sungguh-sungguh kokoh. Dengan demikian, ketika terjadi goncangan terhadap bahtera perkawinan mereka, perkawinan itu pun mudah goyah.

Jalan pintas yang dilakukan adalah perpisahan. Padahal perpisahan itu melukai banyak pihak. Selain suami istri yang mengalami perpisahan itu, anak-anak mereka juga akan mengalami luka batin yang mendalam. Mereka bertumbuh dalam suasana yang tidak seimbang. Tidak ada orang yang menjadi panutan bagi hidup mereka. Mereka bertumbuh dalam suasana ketidaksetiaan.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh sepasang suami istri untuk mempertahankan perkawinan mereka? Pertama, mereka mesti membangun cinta yang lebih mendalam. Meskipun awalnya cinta mereka kurang mendalam, mereka mesti bisa memulai suatu proses untuk semakin saling mencintai. Ini tidak mudah. Namun mereka mesti mencoba. Mereka tidak boleh putus asa.

Kedua, mempertahankan perkawinan meski digoyang oleh gelombang itu untuk sesuatu yang mulia. Yaitu untuk kelangsungan cinta mereka sendiri dan cinta akan anak-anak yang lahir dari cinta mereka. Untuk itu, pasangan suami istri mesti tetap setia pada komitmen yang telah mereka buat ketika menikah. Bertahan dalam cinta itu lebih indah daripada menyerah kalah karena tantangan yang menghadang.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar pasangan suami istri tetap setia seumur hidup dalam hidup perkawinan mereka. Karena itu, mereka mesti menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan akan senantiasa melindungi setiap suami istri yang penuh iman mempertahankan bahtera perkawinan mereka. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


190

30 Agustus 2009

Cinta yang Mengubah Hidup Manusia




Pepatah mengatakan, cinta bisa mengalahkan segalanya. Hal tersebut sepertinya dihayati benar oleh Antonio Cassano yang mengaku dirinya kini telah berubah dan tak lagi bengal, gara-gara cinta.

Terkenal sebagai salah satu pesepakbola paling bengal di Italia, Cassano menunjukkan prilaku di luar dugaan banyak orang selama Piala Eropa lalu. Nyaris tak terdengar berita negatif seputar tindak-tanduk striker Sampdoria itu selama di Austria-Swiss.

Soal sikap santun yang belakangan ditunjukkan, Cassano mengaku dirinya sudah berubah. Kalau dulu sanksi dari klub dan hukuman berupa denda tak membuatnya jera, kunci untuk menjinakkan Cassano ternyata ada pada Carolina Marcialis, wanita yang dipacarinya dalam beberapa bulan terakhir.

Tentang hal ini, ia berkata, “Carolina Marcialis telah mengubah hidup saya. Saya mencintai malaikat ini. Karena dialah saya tak lagi bersikap seperti yang sudah-sudah karena saya tak ingin mengecewakan dia.”

Pada awalnya kisah cinta dua insan ini sempat mengalami hambatan. Karena status Cassano yang cuma pinjaman dari Real Madrid, kepulangan sang pemain ke Spanyol akan membuat hubungan mereka kandas.

Ia berkata, “Saya sangat bahagia. Jika saya tidak bertahan di Genoa saya pikir kisah cinta ini bisa bertahan, saya katakan ini dengan sangat hormat pada Carolina. Saya sangat takut kalau saya harus kembali ke Madrid, jadi saya menunggu mencoba menikmatinya. Sekarang saya dipastikan bertahan, saya tak bisa berbicara tentang wanita lain di kehidupan saya.”

Cinta itu kuat laksana air yang deras yang menguasai hidup manusia. Orang yang mengandalkan cinta di atas segala-galanya akan dikuasai oleh cinta itu. Namun yang dibutuhkan adalah cinta yang tulus dan murni. Bukan cinta yang egois yang hanya mementingkan diri sendiri.

Cinta yang murni itu biasanya cinta yang menumbuhkan harapan. Orang memiliki harapan yang besar untuk senantiasa bertahan dalam cinta yang murni itu. Orang juga memiliki kepastian dalam hidup ini, karena orang yang dicintai itu tidak bermain-main dengann cinta.

Cinta yang murni itu biasanya membahagiakan. Orang mengalami kebahagiaan dalam hidupnya, karena ia mendapatkan cinta dari sesamanya. Tetapi kebahagiaan itu terjadi dalam hidup seseorang, karena ia juga mampu mencintai sesamanya dengan cinta yang tulus pula.

Kisah Antonio Casano menjadi contoh bagi kita bahwa cinta itu mesti dapat mengubah hidup manusia. Cinta yang tulus dan murni itu membawa perubahan dalam hidup manusia dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Untuk itu, orang beriman mesti selalu membuka hatinya kepada Tuhan untuk diisi oleh rahmat dan cinta Tuhan. Mari kita bertumbuh dalam cinta yang murni, agar hidup kita dapat berubah ke arah yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.151

26 Juli 2009

Menjadikan Cinta Berbuah




Aktris Hollywood Kate Hudson mengakui dirinya sangat benci dengan tipe orang yang membosankan. Boleh berbuat apa saja asal jangan bersikap membosankan di depannya.

Kata Hudson, ”Saya pernah langsung meninggalkan kencan saya bahkan sebelum kami memesan makanan gara-gara orang itu pasang wajah yang membosankan. Itu seperti menyuruh saya cepat pergi.”

Menurut aktris ini, jika seseorang ingin menjalin hubungan serius, buatlah kesan yang baik bagi orang lain dan jangan sampai terlihat bosan.

”Kalau saya, tipe orang yang sangat menghargai sesuatu yang lucu atau sesuatu yang berbeda,” kata aktris yang membintangi film komedi My Best Friend’s Girl ini.

Kata perempuan kelahiran 19 April 1979 di Los Angeles, California, AS, ini, “Jika ada kebosanan melanda, tempat memulihkannya justru dengan pulang ke rumah. Bertemu keluarga, anak dan teman-teman. Hal seperti itu membuat saya nyaman dan hidup saya terasa seimbang.”

Menghargai sesama merupakan tugas kita semua. Mengapa? Karena setiap orang memiliki keinginan yang sama, yaitu diterima dan dihargai. Kalau seseorang merasa diterima dan dihargai, ia akan merasa betah untuk tinggal. Ia tidak perlu melarikan diri ke tempat yang membahayakan dirinya.

Kalau dalam sebuah keluarga pasangan suami istri saling menerima dan menghargai, keluarga itu akan harmonis. Tidak ada yang merasa disingkirkan. Tidak ada yang merasa tidak berarti dalam hidup berkeluarga. Ada suasana sehati dan sejiwa.

Orang yang kurang peduli terhadap sesamanya itu sebenarnya orang yang kurang rendah hati. Orang yang selalu mendasarkan dirinya pada egoismenya. Orang yang egois itu orang yang mau menarik perhatian hanya untuk dirinya sendiri. Banyak tuntutan yang diberikan kepada orang lain. Tetapi terhadap dirinya sendiri ia tidak mau dituntut.

Orang yang egois itu biasanya orang yang kurang mau berkorban bagi hidup orang lain. Orang seperti ini biasanya kurang mencintai dan menyayangi sesamanya. Cinta itu hanya ia arahkan untuk dirinya sendiri. Cinta seperti ini biasanya cinta yang mandul. Cinta yang tidak berbuah banyak bagi kehidupan banyak orang.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita ingin memiliki sikap menerima dan menghargai sesama. Hanya dengan cara ini kita mampu mengungkapkan cinta dan kasih sayang kita kepada orang lain. Cinta kita akan berbuah berlimpah bagi kehidupan banyak orang.

Mari kita berusaha untuk selalu menciptakan suasana yang baik untuk bertumbuh dan berbuahnya cinta kasih dalam hidup kita. Dengan demikian kita dapat menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (100)