Pages

27 Maret 2011

Membangun Cinta yang Universal



Suatu hari seorang gadis merasa kesepian. Pasalnya, ia baru saja putus cinta dengan seorang pemuda. Ia merasa lemas. Sekujur tubuhnya yang dulu kuat, kini menjadi lemas. Tidak ada tenaga. Tidak ada kekuatan sama sekali. Kekuatan cinta yang dulu begitu menggebu-gebu, kini lunglai. Bagai bunga di musim kering yang tak disirami air. Tidak ada gairah untuk hidup lagi.

Namun gadis itu tidak ingin mengakhiri hidupnya. Ia membiarkan semua peristiwa pahit itu berlalu dari hatinya. Ia berusaha untuk membangun kembali kekuatan cintanya dari puing-puing cintanya yang tersisa. Dalam hati ia berkata, “Saya mesti kuat. Saya masih punya kemampuan. Saya masih punya kekuatan meski sedikit. Saya akan bangun kembali cinta saya yang hilang itu.”

Benar. Tidak terlalu lama tenggelam dalam kepedihan, gadis itu merangkai kembali kekuatan cintanya. Kali ini ia ingin miliki sendiri dulu cinta itu. Ia tidak mau memberikannya kepada orang lain dulu. Ia ingin memberi dasar-dasar yang kokoh bagi cintanya. Apalagi ia membangun cinta itu dari puing-puing cinta yang ia rangkai kembali bagai mengurai benang kusut.

Gadis itu sadar, semua itu tidak ia lakukan sendirian. Ada orang-orang lain yang ikut membantunya membangun kembali cintanya. Ada teman-teman yang memberinya semangat untuk tidak tenggelam dalam derita karena cinta yang hilang. Ia juga sadar bahwa dalam usaha-usahanya ia selalu mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Ia pasrahkan seluruh jiwa raganya kepada Tuhan yang memberi jaminan bagi hidupnya. Karena itu, ia berhasil. Ia menemukan kembali cintanya bagi dirinya dan sesama di sekitarnya.

Sahabat, cinta yang berkobar-kobar sulit untuk dipadamkan. Ia menyala bagai api. Namun cinta yang suci biasanya tidak membakar sampai hangus. Cinta yang kudus itu menjilat-jilat, namun menumbuhkan kehidupan. Cinta yang sejati biasanya tidak merusak tatanan kehidupan. Hanya cinta yang egois yang mampu menghancurkan kehidupan bersama.

Kisah gadis kehilangan cinta tadi memberi inspirasi bagi kita tentang bagaimana kita mesti menghidupi cinta yang kudus dalam hidup ini. Ada kalanya orang mengalami kehilangan cinta. Ada kalanya orang terpuruk karena cinta. Tentu saja situasi seperti ini biasanya disebabkan oleh cinta yang egois yang mau menang sendiri. Cinta yang tidak mampu dibagikan kepada orang lain. Cinta seperti ini cinta yang hanya diperuntukan bagi keuntungan diri sendiri, bukan bagi kepentingan bersama.

Orang beriman mesti memiliki cinta yang universal. Suatu cinta yang mampu membangun persaudaraan dalam hidup bersama. Suatu cinta yang sehat yang tidak meminggirkan orang lain.

Mampukah orang beriman memiliki cinta yang demikian? Tentu saja orang beriman mampu memiliki cinta yang demikian. Mengapa? Karena orang beriman hidup bukan bagi dirinya sendiri. Orang beriman dilahirkan untuk sesama. Dalam kebersamaan hidup itu orang beriman menemukan hidup begitu baik dan indah. Hidup ini memiliki makna yang mendalam. Mari kita membangun cinta universal. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin damai dan baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


642

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.