Pages

Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan

30 Januari 2013

Tuhan Bekerja dalam Peristiwa-peristiwa Hidup Kita

Bagaimana sikap Anda ketika berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang biasa dalam hidup Anda? Anda merasa bosan, karena hidup ini seolah-olah datar saja? Atau Anda mensyukurinya, karena Tuhan tetap bekerja dalam peristiwa-peristiwa biasa itu?

Suatu hati seorang ibu tua mendatangi saya. Berulang kali ia mengucapkan terima kasih atas doa saya bagi cucunya yang sakit. Beberapa hari sebelumnya saya mendoakan cucunya yang terbaring lemah di rumahnya. Cucunya itu sulit menggerakkan tubuhnya. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Entah penyakit apa yang dideritanya, saya tidak begitu tahu pasti.

Saya sendiri merasa bahwa doa saya yang sederhana itu tidak punya pengaruh apa-apa. Apalagi doa saya itu menimbulkan mukjizat yang besar. Karena itu, saya tidak terlalu menggubris nenek itu. Tetapi nenek itu ngotot. Ia mengatakan bahwa berkat doa saya itu, sang cucu kini sudah bisa duduk. Ia juga sudah bisa mengenali orang-orang yang ada di sekitarnya.

Saya tidak percaya akan hal itu. Saya tersenyum sinis mendengar cerita nenek itu. Melihat saya tidak begitu menanggapi kata-katanya, nenek itu sewot. Ia marah terhadap saya. Ia mengatakan bahwa saya orang yang tidak mau percaya akan kebaikan Tuhan.

Ia berkata, “Bukankah Tuhan telah begitu baik kepada cucu saya melalui doa-doa romo? Mengapa romo tidak mau percaya? Saya harap, kali ini romo mau percaya akan kata-kata saya.”

Saya tetap skeptis terhadap kata-katanya. Karena itu, sore harinya saya mendatangi rumahnya. Benar! Saya menyaksikan sendiri cucunya bisa duduk dan makan. Lantas begitu melihat saya masuk ke dalam rumah, ia pun tersenyum lebar menyambut kehadiran saya. Saya membalas senyumnya untuk memberikan semangat hidup kepadanya.

Sahabat, banyak orang ingin melihat hal-hal ajaib terjadi dalam hidupnya. Hal-hal yang kecil disepelekan. Tidak digubris. Seolah-olah hal-hal kecil itu tidak punya pengaruh sama sekali dalam kehidupan ini. Akibatnya, banyak orang cenderung mencari dan menemukan hal-hal spektakuler dalam hidup ini.

Kisah pengalaman saya di atas mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan pun bekerja melalui hal-hal yang tampak senderhana. Tuhan masuk ke dalam hidup manusia melalui peristiwa-peristiwa hidup kita yang biasa-biasa. Sebuah doa yang sederhana bisa menjadi cara Tuhan hadir dalam kehidupan kita. Ucapan syukur kita yang kita anggap kurang berarti menjadi kesempatan bagi Tuhan untuk mengalirkan rahmatNya bagi hidup kita.

Kita ambil contoh udara yang kita hirup setiap hari. Sering kita tidak peduli akan pentingnya udara bagi kelangsungan hidup kita. Apalagi udara itu tidak bisa kita lihat atau kita pegang. Karena itu, kita sering merasa cuek saja terhadap kehadiran udara. Apalagi tanpa kita pikirkan atau usahakan pun udara akan ada terus-menerus selama dunia ini masih ada.

Tetapi kalau kita sadar sungguh-sungguh kehadiran udara itu, kita mesti bersyukur atas kebaikan Tuhan. Dengan udara yang tidak bisa dilihat itu, kita boleh mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini. Kita bisa menjalani hidup ini dengan baik dan normal. Bukankah ini suatu mukjizat yang datang dari Tuhan?

Karena itu, mari kita hargai pemberian Tuhan bagi hidup kita, seberapa kecil pun pemberian itu. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan. Seorang bijaksana berkata, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN. Tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi” (Rat 3:22-23). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


939

27 Maret 2012

Menghadapi Masalah Hidup Bersama Tuhan

Apa yang menjadi penghalang bagi Anda untuk maju? Ketika Anda menghadapi persoalan hidup, apa yang akan Anda lakukan? Anda terpuruk dalam persoalan itu? Atau Anda bangkit untuk menghadapinya bersama Tuhan?

Namanya adalah Roger Crawford. Ia bekerja sebagai konsultan dan pembicara motivator bagi banyak perusahaan fortune 500 di penjuru Amerika. Ketika masih di universitas, ia adalah pemain tenis untuk Marymount Layola University dan menjadi pemain tenis profesional.

Roger dilahirkan dengan kondisi yang disebut ectrodactylism. Ketika masih dalam kandungan, dokter hanya melihat seperti ada jari jempol keluar dari lengan kanannya dan jari-jari tumbuh di lengan kirinya. Namun ia tidak memiliki telapak tangan. Kaki kirinya terus menyusut hanya memiliki tiga jari. Kaki ini diamputasi saat ia berumur lima tahun. Orangtuanya diberitahu bahwa Roger tidak akan pernah memiliki kehidupan yang normal

Namun orangtua Roger tidak menyerah. Mereka membentuk Roger menjadi manusia normal dan mengajarinya hidup mandiri. Ketika Roger telah siap, ia disekolahkan di sekolah umum. Mereka mengajarinya berpikir positif. Jadilah Roger seorang pribadi yang positif.

Roger tidak membiarkan kekurangannya menghambatnya untuk berhasil. Ia menjalani hidupnya dengan maksimal, karena ia mempercayai bahwa Tuhan memberikan kelebihan unik dalam dirinya di balik semua kekurangan yang ada dalam dirinya.

Sahabat, banyak orang sering merasa ada berbagai penghalang yang menghambat hidup mereka. Karena itu, begitu ada tantangan yang menghadang, hati mereka menciut. Mereka tidak berani menghadapi tantangan hidup itu. Yang mereka inginkan adalah hidup yang mulus tanpa kesulitan.

Kisah Roger tadi memberi kita suatu inspirasi bahwa cacat bukanlah akhir dari segala-galanya. Ketika kita mengalami kesulitan dalam hidup, yang mesti kita lakukan adalah berani menghadapi kesulitan itu. Dengan berani menghadapinya, kita mampu menemukan solusi atas kesulitan-kesulitan itu. Ketika kita tidak berani menghadapi kesulitan hidup, kita akan tumbuh menjadi orang yang tidak kreatif. Kita tidak punya strategi yang baik untuk mengatasi kesulitan hidup kita.

Tentu saja kita juga mesti memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. Iman itu memberi kita motivasi untuk menghadapi berbagai kesulitan yang kita hadapi. Iman itu menjadi cahaya bagi kita dalam kegelapan. Beriman berarti menyerahkan hidup kepada Tuhan. Beriman berarti membiarkan Tuhan masuk ke dalam hidup kita. Dengan demikian, kita mampu menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita sesuai dengan kehendak Tuhan.

Mari kita tetap berani memperjuangkan hidup ini dalam situasi apa pun. Bagi kita, hidup ini sangat berharga. Hidup ini menjadi kekuatan yang membawa damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

882

25 Januari 2012

Mempertanggunjawabkan Pemberian Tuhan bagi Hidup

Apa yang menyusahkan Anda hari ini? Apakah hati Anda berbeban, karena sejumlah masalah yang mengancam Anda? Apakah Anda dipenuhi oleh kegelisahan dan kekuatiran? Mengapa Anda kuatir atau cemas? Bukankah Tuhan begitu baik terhadap Anda? Bukankah Tuhan telah mengabulkan permohonan Anda hari ini?

Suatu hari, seorang anak datang kepada ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk membelikan mainan mobil untuk dirinya. Ia ingin sekali bermain mobil-mobilan untuk menumbuhkan semangat dalam hidupnya. Ia yakin, ayahnya akan mengabulkan permohonannya.

“Ayah, satu permintaan ini saja yang saya ajukan kepada ayah. Tolong belikan saya mobil-mobilan,” kata anak itu.

Ayahnya tersenyum mendengar permintaan anaknya. Ia menganggukkan kepala tanda setuju. Lantas ia mengusap-usap kepala anaknya. “Nak, apa saja yang kamu minta akan ayah kabulkan. Yang penting adalah kamu pertanggungjawabkan apa yang ayah berikan kepadamu,” kata ayah itu.

Anak itu menganggukkan kepala. Ia mau bertanggungjawab atas pemberian ayahnya itu. Karena itu, ketika ayahnya memberi dia sebuah mobil-mobilan yang cantik, ia menggenggamnya erat-erat. Ia menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Ia yakin, hanya dengan memelihara mobil-mobilan itu, ia dapat mempertanggungjawabkan pemberian ayahnya itu.

Sahabat, kepada kita semua telah diberi berbagai hal oleh Tuhan. Kita diberi bakat-bakat yang mesti kita kembangkan dengan sebaik-baiknya. Kita diberi kesempatan untuk hidup dalam dunia ini. Ketika kita meminta pertolongan dari Tuhan, kita diberi berbagai hal. Tuhan begitu baik kepada kita.

Kisah tadi mencerminkan Tuhan yang baik itu. Tuhan yang baik itu hadir dalam diri sang ayah yang mengabulkan permohonan anaknya. Tuhan yang baik itu juga mengharapkan pertanggungjawaban atas kebaikan yang telah diberikanNya itu. Karena itu, kita mesti memelihara pemberian Tuhan itu dengan baik dan benar.

Namun dalam hidup ini ada orang yang rakus. Ada orang yang selalu merasa tidak cukup atas pemberian dari Tuhan itu. Orang seperti ini ingin selalu memiliki banyak hal bagi darinya. Orang ingin menumpuk banyak hal bagi dirinya. Padahal Tuhan mengharapkan agar pemberian-Nya itu digunakan untuk kebaikan. Pertanggungjawaban atas pemberian Tuhan itu mesti ditunjukkan dengan melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama.

Orang yang menyalahgunakan pemberian Tuhan biasanya mengalami kegalauan dalam hidupnya. Orang seperti ini biasanya tidak mengalami sukacita dan damai. Karena itu, orang diharapkan untuk sungguh-sungguh mempertanggungjawabkan pemberian Tuhan itu. Caranya adalah dengan berbuat amal baik bagi sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diundang untuk terus-menerus melakukan hal-hal yang baik dan benar bagi sesama. Dengan cara itu, kita mempertanggungjawabkan kasih karunia Tuhan kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

06 Februari 2011

Tuhan selalu Punya Cara untuk Mencintai Kita

Ada seorang bapak yang mengalami kecelakaan yang hebat. Mobil yang ia kendarai menabrak sebuah tronton yang sedang melaju. Tangan dan kakinya patah. Beberapa waktu lamanya ia terbaring tak berdaya di rumah sakit. Setelah beberapa bulan dirawat, ia sembuh. Namun ia tetap lumpuh. Ia mesti menggunakan kursi roda untuk melakukan aktivitasnya.

Ketika masih dirawat di rumah sakit, ia begitu gelisah. Ia tidak mau menerima kenyataan pahit itu. Ia berkata kepada istrinya, ”Sudah berkali-kali saya berdoa kepada Tuhan. Tetapi rupanya Tuhan tidak mau mendengarkan doa-doa saya. Apakah Tuhan sudah tuli? Di mana Tuhan sekarang?”

Mendengar pernyataan-pernyataan itu, istrinya tersenyum. Lantas ia berkata, ”Mengapa bapak kecewa terhadap Tuhan? Bukankah Tuhan selalu mencintaimu? Pernahkah Tuhan mencobai dan menyakiti bapak? Tuhan masih hadir menemani bapak sampai sekarang. Lihatlah anak-anakmu yang setia menjagamu. Mereka memberikan perhatian yang luar biasa terhadapmu. Ini tanda Tuhan masih mencintaimu.”

Bapak itu tidak bisa menjawab. Air matanya meleleh dan jatuh membasahi pipinya. Ia sadar, ia masih merasakan kebaikan Tuhan yang hadir dalam diri istri dan anak-anaknya. Mereka tidak meninggalkan dia terbaring sendirian. Ketika ia menjerit kesakitan, mereka selalu berusaha untuk meringankan beban penderitaannya.

Sahabat, banyak orang mempertanyakan peranan Tuhan dalam hidup mereka, ketika mereka mengalami kegetiran hidup. Mereka merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli terhadap penderitaan yang sedang mereka alami. Mereka bahkan menuduh Tuhan tidak peduli terhadap hidup mereka. Akibatnya tumbuh sikap pesimis terhadap Tuhan. Tumbuh sikap kurang percaya kepada Tuhan.

Benarkah Tuhan tidak peduli terhadap hidup manusia? Benarkah ketika manusia mengalami penderitaan Tuhan menghilang? Benarkah Tuhan membiarkan manusia berjuang sendirian dalam suasana yang kurang menyenangkan?

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa cinta Tuhan selalu hadir dalam hidup manusia. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendirian. Tuhan tetap berperan menyembuhkan penderitaan manusia melalui kehadiran orang-orang di sekitar kita. Tuhan menghadirkan diri dalam cinta dan perhatian yang begitu besar yang ditunjukkan oleh kesetiaan sesama kita.

Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk menuduh Tuhan tidak peduli terhadap hidup ini. Tuduhan dilakukan oleh mereka yang kurang percaya kepada Tuhan. Orang-orang yang kurang percaya biasanya mempertanyakan kebaikan, cinta dan peranan Tuhan dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita mesti yakin bahwa Tuhan tetap peduli terhadap hidup kita melalui berbagai cara. Tuhan tidak kehabisan cara untuk mencintai kita. Mari kita menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam kuasa Tuhan. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai bersama Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


608

22 Februari 2010

Tuhan, Sumber Air Hidup




Ketika saya berusia sebelas tahun, saya pergi ke sungai yang berjarak kira-kira lima kilometer dari rumah. Waktu itu, saya pergi bersama ibu saya. Biasanya di sungai itu kami mandi, mencuci pakaian dan mengambil air untuk kebutuhan dapur. Air sungai ini sangat jernih. Air yang kami bawa pulang biasanya kami isi di dalam bambu sepanjang tiga atau empat ruas. Dengan cara itu, kami mudah untuk memikulnya.

Panas matahari yang menyengat ketika perjalanan pulang itu sangat menguras tenaga saya. Dalam perjalanan pulang itu, saya merasa sangat haus. Namun saya tidak bisa minum air yang ada di dalam bambu yang saya pikul. Air yang ada itu sangat berbahaya bagi perut saya.

Saya minta ijin kepada ibu saya untuk minum air yang belum direbus itu. Tetapi ibu saya tidak mengijinkan. Saya menangis tersedu-sedu, karena dahaga tak tertahankan lagi. Saya sangat membutuhkan air yang menyegarkan dahaga saya. Setitik air saja akan sangat menolong lidah saya terlepas dari dahaga.

Saya yakin kita semua merasakan haus. Haus itu suatu pengalaman yang sangat manusiawi. Ketika kita haus, naluri kita mendorong kita untuk mengambil segelas air untuk diteguk. Namun jika kita tidak minum, kita akan mengalami sakit kepala atau dapat juga mati karena kekurangan air atau dehidrasi. Tanaman-tanaman akan cepat layu dan bahkan akan mati, kalau dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka membutuhkan air untuk dapat bertahan hidup.

Namun pengalaman manusiawi akan haus tidak hanya terjadi secara fisik. Manusia dapat mengalami haus dalam hidup rohani. Hal ini dapat membawa manusia kepada kehampaan dalam hidup. Orang yang mengalami kekeringan rohani itu merasa hidupnya tidak bermakna. Hidupnya itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang menonjol.

Di dunia sekarang ini banyak orang haus akan kasih, perhatian, harapan dan iman. Mereka membutuhkan air kehidupan yang diberikan dengan kasih, karena hati mereka sedang dilanda kekeringan. Mereka selalu butuh untuk membangun hubungan dengan mereka yang dapat membersihkan ‘padang gurun’ dari hati mereka dan memberi keteguhan iman kepada mereka. Mereka mengharapkan tangan-tangan kuat yang dapat menuntun mereka kepada kehidupan yang lebih baik.

Bagi orang beriman, Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Tuhan itu bagai air yang terus-menerus mengalir dan memberi kehidupan bagi kita. Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti senantiasa datang kepada Tuhan. Kita ingin menimba air hidup yang mengalir dari Tuhan sendiri. Untuk itu, dibutuhkan suatu keyakinan dalam diri kita bahwa hanya Tuhan yang mampu memberi kita kehidupan yang abadi. Dalam kehidupan yang abadi itu tidak ada lagi dahaga. Tidak ada lagi rasa haus.

Kekeringan rohani yang kita alami dalam perjalanan hidup kita dapat diatasi apabila kita selalu menyerahkan hidup kepada Tuhan. Kita berharap bahwa Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu dapat menjadi sumber air yang menyegarkan jiwa kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

328
Bagikan

01 Oktober 2009

Menjalin Relasi yang Baik dengan Tuhan


Seorang ayah mengajari anaknya yang berusia 5 tahun tentang doa dan kuasa Tuhan yang dapat menjawab setiap permohonan doa orang yang percaya kepadaNya. Anak itu menerima semua pengajaran ayahnya dengan hati yang sangat terbuka. Tetapi ia agak bingung karena belum tahu bagaimana caranya mengeluarkan kata-kata yang tepat untuk berdoa.

Pada waktu itu, ia sedang bermain-main dengan huruf-huruf alfabet A-B-C-D yang terbuat dari plastik. Tiba-tiba timbul ide dalam diri anak tersebut. Ia berpikir bahwa Tuhan itu Mahakuasa, jadi Ia dapat melakukan apa saja yang mustahil bagi manusia.

Maka dengan tangannya ia mencampuradukkan mainan huruf-huruf plastik A-B-C itu seraya berkata, “Tuhan, aku tidak tahu bagaimana caranya berdoa, sebab aku masih kecil. Tetapi ayahku berkata bahwa Engkau Mahakuasa dan aku percaya akan hal itu. Maka kini aku mencampuraduk huruf-huruf ini, biar Engkau ya Tuhan yang menyusunnya menjadi kata-kata doa bagiku.”

Anak ini sangat polos dan tulus. Ia sadar, ia tidak tahu kata-kata yang indah yang ia panjatkan kepada Tuhan dalam doa-doanya. Karena itu, kita yakin, Tuhan mendengarkan doanya. Anak ini ingin berhubungan langsung dengan Tuhan. Ia merasa bahwa Tuhan itu seperti ayahnya sendiri. Karena itu, ia meminta Tuhan menyusun huruf-huruf permainannya menjadi kata-kata doa baginya.

Doa merupakan sumber energi paling kuat yang dikenal oleh manusia. Doa menawarkan sebuah hubungan langsung dengan Tuhan. Doa itu seperti berkas sinar yang tak henti-hentinya tercurah dari hati dan pikiran seorang pendoa.

Doa membuka hati kita untuk menerima bantuan dari Tuhan yang selalu mengelilingi dan menyertai kita. Tuhan menunggu kita untuk memanjatkan doa-doa kita kepadaNya. Tuhan ingin agar kita membangun relasi yang baik denganNya. Caranya adalah dengan berdoa kepadaNya. Artinya, orang beriman menyerahkan seluruh keluh kesahnya kepada Tuhan. Dan membiarkan Tuhan menjawab keluh kesah itu dengan penuh kasih.

Sebagai orang beriman, kita tentu ingin agar setiap persoalan hidup kita didengarkan oleh Tuhan. Kita ingin agar Tuhan mengabulkan setiap permohonan kita. Karena itu, mari kita berdoa dengan penuh iman kepadaNya. Kita biarkan Tuhan menguasai diri kita dengan kuasaNya. Dengan demikian kita menjadi orang-orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.