Pages

Tampilkan postingan dengan label tanggung jawab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanggung jawab. Tampilkan semua postingan

11 Oktober 2015

Setia Melaksanakan Tanggung Jawab

 


Setiap orang diberi tanggung jawab oleh Tuhan untuk melakukan hal-hal baik bagi dirinya dan sesamanya. Namun sering orang lari dari tanggung jawab. Orang merasa tidak percaya diri saat mendapatkan tanggung jawab yang berat.

Ada seorang ibu merasa hidupnya kurang begitu bermakna. Pasalnya, anak yang dilahirkannya mengalami cacat. Mata anak itu buta. Tidak bisa melihat apa-apa. Ia sudah berusaha untuk memeriksakan mata anaknya kepada para dokter yang ahli dalam bidang mata. Hasilnya, nihil. Tidak ada perubahan. Anaknya tetap buta.

Ibu itu menjadi putus harapan. Ia menyerah kalah. Ia memutuskan untuk meninggalkan imannya. Ia mau berjuang sendiri. Tentang hal ini, ia berkata, “Sudah lama saya mengikuti Tuhan, kok hidup saya belum juga diberkati?”

Ketika ia mulai berjuang sendirian, banyak halangan menghadang dirinya. Ada saja persoalan yang dia hadapi. Akibatnya, ia tidak mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Padahal anaknya yang buta itu membutuhkan suasana penuh sukacita. Dengan demikian, ia dapat menjalani hidupnya penuh damai.

Ibu itu kemudian menyadari bahwa berjuang sendirian tidak akan menghasilkan apa-apa dalam kehidupan ini. Ia berbalik kepada Tuhan yang ia imani. Ia bersujud syukur di hadapan Tuhan bahwa ia dipercaya oleh Tuhan untuk memelihara anak yang cacat itu. Ia berterima kasih atas kebaikan Tuhan bahwa ia boleh memiliki cinta yang lebih besar.


Kita Dipanggil untuk Setia

Setiap orang diberi tanggung jawab oleh Tuhan. Tentu saja tanggung jawab itu tidak sama. Ada yang diberi tanggung jawab yang besar. Namun ada pula yang diberi tanggung jawab yang kecil. Semua tanggung jawab yang diberikan Tuhan itu mesti diterima dan dilaksanakan dengan setia.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tidak begitu saja menolak tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan pasti telah memberikan rahmat dan kemampuan yang sesuai dengan tanggung jawab itu. Karena itu, kita tidak perlu kuatir dalam melaksanakan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita.

Justru tanggung jawab, meski kecil, kalau dilakukan dengan setia akan menghasilkan buah yang berlimpah-limpah bagi kehidupan bersama. Memang, tidak gampang orang setia pada tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepadanya. Ada saja godaan-godaan untuk tidak setia terhadap tanggung jawab itu.

Untuk itu, orang mesti berani meminta rahmat dari Tuhan untuk menguatkan dirinya, agar tetap setia kepada Tuhan. Orang tidak perlu mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Orang mesti menyerahkan seluruh hidupnya kepada penyelenggaraan Tuhan. Hanya Tuhan semata menjadi andalan dalam melaksanakan tanggung jawab yang diserahkan Tuhan kepada kita.

Mari kita melakukan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita dengan penuh kesetiaan. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk melakukan hal-hal baik bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO dan Majalah FIAT

Palembang – (masih) Kota Asap

1169

21 Desember 2013

Berani Bertanggung Jawab




Beranikah Anda bertanggung jawab atas apa yang Anda lakukan dalam hidup ini? Kalau Anda tidak berani, lalu siapa yang mesti bertanggungjawab atas perbuatan Anda?

Ada seorang ibu yang punya dua orang anak. Keduanya anak-anak yang rajin dan taat kepada orangtua mereka. Biasanya sang ibu memberi tugas kepada mereka untuk membeli minyak. Mereka selalu bergantian membeli minyak. Suatu hari, anak yang pertama terjatuh sambil membawa sebuah cerigen berisi minyak. Tumpah setengahnya.

Sampai di rumah, ia melapor, ”Bu, tadi saya terjatuh. Kaki saya terantuk. Akibatnya, minyak yang saya bawa tumpah. Setengahnya, bu.”

Seminggu kemudian, kejadian yang sama menimpa adiknya. Kali ini, ada sebuah motor yang menyenggol cerigen minyak yang dibawanya. Ia terjatuh bersama cerigen penuh minyak itu. Akibatnya, setengah dari minyak itu tumpah sia-sia. Ia merasa sangat sedih. Ia menangisi minyak yang hilang itu. Tapi apa mau dikata. Ia hanya bisa membawa pulang setengah cerigen minyak itu ke rumahnya.

Sampai di rumah, ia melapor, ”Ibu, saya minta maaf. Saya harus bertanggungjawab atas kesalahan yang telah saya lakukan.”

Ibunya bingung mendengar kata-kata anaknya. Lantas ia bertanya, ”Kesalahan apa, nak?”

Anak itu berkata, ”Saya tidak bisa menyelamatkan cerigen berisi minyak. Begitu saya disenggol motor, minyak itu tertumpah sebagian. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan seluruh minyak itu, tetapi saya tidak mampu. Saya siap menerima hukuman.”

Sahabat, dua peristiwa yang sama, tetapi ditanggapi secara berbeda. Anak pertama memandang peristiwa itu dari sudut yang negatif. Kalau sudah jatuh, ya sudah. Tidak perlu ada usaha untuk menyelamatkannya. Ia hanya menjalankan tugasnya. Yang penting ia sudah berhasil membawa minyak itu sampai ke rumahnya. Itu sudah cukup. Tentu hal ini bukan suatu keutamaan dalam hidup beriman.

Sedangkan anak yang kedua telah berusaha mati-matian untuk menyelamatkan minyaknya. Ia merasa bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepadanya. Karena itu, ia siap menerima hukuman atas keteledorannya.

Mochtar Lubis, seorang sastrawan dan penulis terkenal Indonesia, mengatakan bahwa ciri pertama orang Indonesia adalah tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya. Orang melempar tanggung jawab. Orang tidak berani mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Hal ini tampak dalam hidup sehari-hari. Misalnya, orang yang tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya biasanya mengalihkan tanggung jawab itu kepada orang lain. Ia akan bilang, “Ini bukan saya. Orang lain yang melakukannya.”

Sebagai orang beriman, tentu kita tidak ingin hal seperti ini terjadi atas diri kita. Orang beriman itu selalu berani mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukannya. Orang yang dewasa dalam imannya adalah orang yang sungguh-sungguh mampu mempertanggungjawabkan imannya di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, ia dapat menjadi kuat dalam imannya. Ia tidak mudah goyah oleh berbagai godaan yang datang kepadanya. Mari kita berusaha untuk bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1015

27 Februari 2012

Tumbuhkan Tanggung Jawab dalam Hidup Bersama


Kita hidup dalam zaman yang bertumbuh terus-menerus. Ada banyak tantangan yang mesti kita hadapi. Mampukah kita hadapi semua tantangan itu?

Ketika masih kecil, saya merasakan betapa hidup di desa merupakan hidup dalam kekurangan. Tidak ada listrik. Tidak ada air ledeng. Kami harus mandi di sungai dan mengambil air dari sungai yang cukup jauh dari rumah. Lebih banyak kesempatan kami minum air hujan yang ditampung di dalam bambu-bambu. Kadang-kadang kami minum air dari akar pohon tertentu yang mengeluarkan air. Atau kami mengorek batang pohon pisang untuk mendapatkan air.

Namun hidup dalam kondisi seperti itu terasa nyaman-nyaman saja. Saya merasakan hidup yang sehat. Jarang sekali terserang penyakit yang meresahkan hidup. Saya merasa tidak ada masalah hidup dalam kondisi seperti ini. Hidup terasa damai dan tenteram, meski dalam banyak kekurangan.

Di zaman sekarang, di banyak tempat apalagi di kota, ada banyak kemudahan untuk hidup. Ada listrik yang nyala setiap saat. Ada air ledeng yang bersih. Ada fasilitas-fasilitas yang mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia. Ada tempat-tempat rekreasi yang memberikan kesegaran bagi hidup manusia.

Namun persoalan yang dihadapi adalah mengapa semua itu masih dirasakan kurang memuaskan hidup manusia? Mengapa manusia masih merasa tidak nyaman hidup dalam situasi seperti itu? Manusia masih merasa ada banyak halangan untuk membangun hidup yang damai dan sejahtera. Pertanyaannya, mengapa semua ini bisa terjadi? Mengapa masih saja ada orang yang kurang puas dengan hidupnya? Sampai kondisi seperti apa yang menjadikan hidup lebih damai dan tenteram?

Sahabat, minggu-minggu terakhir April 2011 lalu kita dihadapkan pada polemik pembangunan gedung DPR RI yang menelan biaya hingga satu triliun rupiah lebih. Para anggota DPR kita merasa bahwa gedung yang sekarang tidak memadai lagi dengan kebutuhan mereka. Mungkin gedung itu sudah tua, sehingga tidak lagi menampilkan gengsi yang tinggi sebagai simbol wakil rakyat.

Bagi rakyat biasa, saya merasa tidak ada urgensinya membangun sebuah gedung yang mewah. Persoalannya adalah apakah hadirnya gedung itu mampu meningkatkan kinerja para wakil rakyat itu. Apa yang sesungguhnya diperjuangkan oleh para wakil rakyat itu, kalau hidup jutaan rakyat Indonesia masih berada di bawah standar?

Tidak banyak disangkal bahwa hadirnya sebuah gedung menjadi simbol kejayaan sebuah bangsa. Hadirnya gedung baru DPR dalam konteks ini menjadi sebuah simbol gengsi dari sekelompok orang tertentu. Tujuannya agar orang memiliki kesan bahwa para wakil rakyat itu sungguh-sungguh memperjuangkan kehidupan rakyat.

Kita mesti sadar bahwa hingga saat ini banyak anggota masyarakat yang berjuang untuk kehidupan mereka sendiri. Dalam situasi krisis global menimpa dunia, justru tumbuh kreativitas-kreativitas dari masyarakat yang berusaha untuk mengatasi krisis itu. Ada anggota masyarakat yang gigih berusaha untuk keluar dari kungkungan kemiskinan. Apa peranan DPR dalam hal seperti ini? Apakah para anggota DPR peduli terhadap usaha-usaha rakyat kecil untuk keluar dari kungkungan kemiskinan mereka?

Nah, urgensi hadirnya sebuah gedung DPR baru dengan biaya yang mahal itu mesti dipikirkan lagi secara matang. Jangan-jangan hal ini hanyalah ambisi sejumlah orang tertentu dengan kepentingan pribadi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


877

25 Januari 2012

Mempertanggunjawabkan Pemberian Tuhan bagi Hidup

Apa yang menyusahkan Anda hari ini? Apakah hati Anda berbeban, karena sejumlah masalah yang mengancam Anda? Apakah Anda dipenuhi oleh kegelisahan dan kekuatiran? Mengapa Anda kuatir atau cemas? Bukankah Tuhan begitu baik terhadap Anda? Bukankah Tuhan telah mengabulkan permohonan Anda hari ini?

Suatu hari, seorang anak datang kepada ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk membelikan mainan mobil untuk dirinya. Ia ingin sekali bermain mobil-mobilan untuk menumbuhkan semangat dalam hidupnya. Ia yakin, ayahnya akan mengabulkan permohonannya.

“Ayah, satu permintaan ini saja yang saya ajukan kepada ayah. Tolong belikan saya mobil-mobilan,” kata anak itu.

Ayahnya tersenyum mendengar permintaan anaknya. Ia menganggukkan kepala tanda setuju. Lantas ia mengusap-usap kepala anaknya. “Nak, apa saja yang kamu minta akan ayah kabulkan. Yang penting adalah kamu pertanggungjawabkan apa yang ayah berikan kepadamu,” kata ayah itu.

Anak itu menganggukkan kepala. Ia mau bertanggungjawab atas pemberian ayahnya itu. Karena itu, ketika ayahnya memberi dia sebuah mobil-mobilan yang cantik, ia menggenggamnya erat-erat. Ia menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Ia yakin, hanya dengan memelihara mobil-mobilan itu, ia dapat mempertanggungjawabkan pemberian ayahnya itu.

Sahabat, kepada kita semua telah diberi berbagai hal oleh Tuhan. Kita diberi bakat-bakat yang mesti kita kembangkan dengan sebaik-baiknya. Kita diberi kesempatan untuk hidup dalam dunia ini. Ketika kita meminta pertolongan dari Tuhan, kita diberi berbagai hal. Tuhan begitu baik kepada kita.

Kisah tadi mencerminkan Tuhan yang baik itu. Tuhan yang baik itu hadir dalam diri sang ayah yang mengabulkan permohonan anaknya. Tuhan yang baik itu juga mengharapkan pertanggungjawaban atas kebaikan yang telah diberikanNya itu. Karena itu, kita mesti memelihara pemberian Tuhan itu dengan baik dan benar.

Namun dalam hidup ini ada orang yang rakus. Ada orang yang selalu merasa tidak cukup atas pemberian dari Tuhan itu. Orang seperti ini ingin selalu memiliki banyak hal bagi darinya. Orang ingin menumpuk banyak hal bagi dirinya. Padahal Tuhan mengharapkan agar pemberian-Nya itu digunakan untuk kebaikan. Pertanggungjawaban atas pemberian Tuhan itu mesti ditunjukkan dengan melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama.

Orang yang menyalahgunakan pemberian Tuhan biasanya mengalami kegalauan dalam hidupnya. Orang seperti ini biasanya tidak mengalami sukacita dan damai. Karena itu, orang diharapkan untuk sungguh-sungguh mempertanggungjawabkan pemberian Tuhan itu. Caranya adalah dengan berbuat amal baik bagi sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diundang untuk terus-menerus melakukan hal-hal yang baik dan benar bagi sesama. Dengan cara itu, kita mempertanggungjawabkan kasih karunia Tuhan kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

12 September 2011

Menumbuhkan Tanggung Jawab dengan Cinta Mendalam


Ada seorang tukang cukur yang sangat berpengalaman. Setiap hari ia mendapatkan pelanggan sekitar dua puluh orang. Ia sangat sibuk dengan pekerjaan itu. Namun ia melakukan pekerjaan itu dengan sangat bersukacita. Ia melakukannya bukan karena terpaksa. Ia melakukannya demi orang-orang yang ia cintai.

Suatu hari ia mendapat pelanggan seorang yang terpandang di kotanya. Orang itu sangat terkenal. Tidak ada orang yang tidak mengenalnya. Dengan penuh semangat ia memotong rambut orang terkenal dan terpandang itu. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi orang terpandang itu. Ia ingin agar orang terpandang tampil semakin anggun dan berwibawa. Ia tidak ingin memalukan orang terkenal itu.

Sambil memotong rambut orang itu, ia berkata, “Bapak, saya tidak tahu mengapa bapak datang ke tempat saya hari ini. Tetapi saya sangat bersukacita. Bapak mau menaruh kepercayaan kepada saya. Saya tidak akan sia-siakan kepercayaan bapak.”

Orang terpandang itu tersenyum mendengar kata-kata tukang cukur itu. Lalu ia berkata, “Bapak, saya bisa saja pergi ke salon yang lebih canggih untuk memotong rambut saya. Namun saya memilih bapak untuk memotong rambut saya. Saya datang ke tempat bapak bukan karena bayarannya lebih murah. Tidak! Saya yakin, bapak tidak akan membuat saya malu. Bapak akan mengerjakannya dengan penuh tanggung jawab.”

Tukang cukur itu sangat bersyukur atas kepercayaan yang diberikan orang terpandang itu. Ia memotong rambut orang terpandang itu dengan sangat rapih dan baik sekali. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi orang terpandang itu.

Sahabat, seseorang yang dipercaya untuk melakukan hal-hal besar akan mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Ia ingin membuktikan diri sebagai orang yang dapat dipercaya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang dapat diandalkan untuk melakukan sesuatu yang besar. Ia ingin mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Namun kepercayaan itu mesti didasari oleh kasih. Orang tidak hanya mengerjakan suatu pekerjaan demi pekerjaan itu. Namun orang mesti disemangati oleh kasih yang mendalam kepada sesamanya. Tukang cukur dalam kisah tadi tidak mengerjakan pekerjaan itu untuk pekerjaan itu. Ia mengerjakannya karena ada kasih yang mendalam kepada sesamanya. Kasih itu mendorong dirinya untuk melakukan pekerjaan itu. Ia menjadi bahagia.

Pertanyaan bagi kita adalah apakah apa yang kita lakukan itu didasarkan pada kasih yang mendalam kepada sesama kita? Atau kita melakukan suatu pekerjaan hanya karena kewajiban saja? Banyak orang melakukan suatu pekerjaan karena kewajiban. Orang merasa wajib melakukan suatu pekerjaan karena ia mesti bertanggung jawab atas sesamanya. Atau ada orang yang melakukan suatu pekerjaan karena merasa malu kalau dikatakan tidak punya pekerjaan.

Sebagai orang beriman, tentu kita tidak demikian. Kita ingin melakukan suatu pekerjaan, karena didorong oleh kasih yang berkobar-kobar kepada sesama. Dengan demikian, kita bekerja dengan lepas bebas. Tidak terbebani oleh kewajiban-kewajiban tertentu. Kita memiliki daya dorong yang kuat dari kasih yang besar kepada sesama. Mari kita lakukan suatu pekerjaan karena cinta kasih kita kepada sesama. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

779