Pages

25 Januari 2012

Mempertanggunjawabkan Pemberian Tuhan bagi Hidup

Apa yang menyusahkan Anda hari ini? Apakah hati Anda berbeban, karena sejumlah masalah yang mengancam Anda? Apakah Anda dipenuhi oleh kegelisahan dan kekuatiran? Mengapa Anda kuatir atau cemas? Bukankah Tuhan begitu baik terhadap Anda? Bukankah Tuhan telah mengabulkan permohonan Anda hari ini?

Suatu hari, seorang anak datang kepada ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk membelikan mainan mobil untuk dirinya. Ia ingin sekali bermain mobil-mobilan untuk menumbuhkan semangat dalam hidupnya. Ia yakin, ayahnya akan mengabulkan permohonannya.

“Ayah, satu permintaan ini saja yang saya ajukan kepada ayah. Tolong belikan saya mobil-mobilan,” kata anak itu.

Ayahnya tersenyum mendengar permintaan anaknya. Ia menganggukkan kepala tanda setuju. Lantas ia mengusap-usap kepala anaknya. “Nak, apa saja yang kamu minta akan ayah kabulkan. Yang penting adalah kamu pertanggungjawabkan apa yang ayah berikan kepadamu,” kata ayah itu.

Anak itu menganggukkan kepala. Ia mau bertanggungjawab atas pemberian ayahnya itu. Karena itu, ketika ayahnya memberi dia sebuah mobil-mobilan yang cantik, ia menggenggamnya erat-erat. Ia menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Ia yakin, hanya dengan memelihara mobil-mobilan itu, ia dapat mempertanggungjawabkan pemberian ayahnya itu.

Sahabat, kepada kita semua telah diberi berbagai hal oleh Tuhan. Kita diberi bakat-bakat yang mesti kita kembangkan dengan sebaik-baiknya. Kita diberi kesempatan untuk hidup dalam dunia ini. Ketika kita meminta pertolongan dari Tuhan, kita diberi berbagai hal. Tuhan begitu baik kepada kita.

Kisah tadi mencerminkan Tuhan yang baik itu. Tuhan yang baik itu hadir dalam diri sang ayah yang mengabulkan permohonan anaknya. Tuhan yang baik itu juga mengharapkan pertanggungjawaban atas kebaikan yang telah diberikanNya itu. Karena itu, kita mesti memelihara pemberian Tuhan itu dengan baik dan benar.

Namun dalam hidup ini ada orang yang rakus. Ada orang yang selalu merasa tidak cukup atas pemberian dari Tuhan itu. Orang seperti ini ingin selalu memiliki banyak hal bagi darinya. Orang ingin menumpuk banyak hal bagi dirinya. Padahal Tuhan mengharapkan agar pemberian-Nya itu digunakan untuk kebaikan. Pertanggungjawaban atas pemberian Tuhan itu mesti ditunjukkan dengan melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama.

Orang yang menyalahgunakan pemberian Tuhan biasanya mengalami kegalauan dalam hidupnya. Orang seperti ini biasanya tidak mengalami sukacita dan damai. Karena itu, orang diharapkan untuk sungguh-sungguh mempertanggungjawabkan pemberian Tuhan itu. Caranya adalah dengan berbuat amal baik bagi sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diundang untuk terus-menerus melakukan hal-hal yang baik dan benar bagi sesama. Dengan cara itu, kita mempertanggungjawabkan kasih karunia Tuhan kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.