Pages

09 Januari 2012

Terus-menerus Mempromosikan Damai


Ada begitu banyak sesama kita yang mengalami penderitaan karena perang. Beberapa waktu lali di Libya terjadi perang yang melibatkan pemimpin negeri itu dengan rakyatnya yang dibantu oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Apa reaksi Anda? Anda diam saja? Atau Anda mau mempromosikan damai?

Yusup Kusnadi dan Kartini adalah TKI pasangan suami-istri asal Indonesia yang berada di Libya pada saat negara tersebut dilanda peperangan. Keduanya pun terpaksa tidur di ruangan bawah tanah untuk menjaga keselamatan diri mereka.

Yusup dan Kartini bekerja untuk seorang pengusaha Libya bernama Dr Hasan Husein Agil, yang memiliki hubungan dekat dengan anak pemimpin Libya, Saiful Islam Kadhafi. Keduanya digaji US$ 500 per bulan secara rutin dan diperlakukan secara baik oleh sang majikan.

Sejak berlakunya no-fly zone dan makin gencarnya serangan pasukan koalisi, kondisi negara pimpinan Muammar Khadafi itu makin mencekam. Akibatnya, kedua TKI asal Cianjur, Jawa Barat, ini terpaksa tidur di ruang bawah tanah bersama keluarga majikan.

Salah seorang staf KBRI Tunis, Muhammad Yazid, berkata, ”Mereka berdua beserta Hasan Husein Agil dan keluarganya tidur di ruang bawah tanah demi menjaga keselamatan akibat peperangan yang terjadi antara tentara pro-Kadhafi melawan pasukan koalisi.”

Menurut Yazid, Yusup dan Kartini telah berhasil dievakuasi oleh KBRI Tripoli yang terus melacak WNI yang masih tertinggal di Libya. Keduanya tiba di ibu kota Tunis dan disambut di Wisma Duta RI pada Kamis (31/3/) malam lalu.

”Evakuasi keduanya dari Libya menuju Tunisia berjalan lancar, meski melewati puluhan check-point sebelum sampai di perbatasan. Pemeriksaan di beberapa check-point cukup ketat, terutama jika pemeriksaan dilakukan oleh tentara pro-Kadhafi,” kata Yazid.

Agar lolos dari pasukan Khadafi, lanjutnya, sopir yang membawa kedua TKI tersebut juga harus menyebutkan nama majikan Yusup dan Kartini. Beruntung, majikan mereka adalah pengusaha terkenal di Libya. Dengan demikian, mobil mereka bisa masuk ke Tunisia dengan selamat melalui pintu perbatasan Ras Jedir.

Sahabat, perang, apa pun bentuknya selalu meninggalkan duka derita bagi kehidupan. Ada begitu banyak korban jiwa. Padahal mereka yang meninggal itu belum tahu tentang persoalan yang sebenarnya. Mereka menjadi korban suatu sistem kekuasaan yang arogan. Suatu sistem kekuasaan yang tidak menghormati kehidupan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa penderitaan karena perang sangat menusuk hati manusia. Orang tidak bisa hidup secara normal lagi. Orang mesti bersembunyi dari ancaman atas kehidupan mereka.

Sebagai manusia beriman, tentu saja kita menolak setiap bentuk perang yang ditawarkan oleh para penguasa. Mengapa demikian? Karena perang menimbulkan jiwa yang pilu. Perang meninggalkan berbagai bentuk kekacauan dalam hidup manusia. Ada manusia tak berdosa yang mesti meninggal sia-sia.

Untuk itu, kita diajak untuk senantiasa berusaha menciptakan damai dalam hidup. Hanya dalam damai, kita mampu membangun hidup yang lebih baik. Hanya melalui damai kita dapat mewujudkan hidup yang lebih baik dalam dunia ini. Mari kita terus-menerus mempromosikan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

850

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.