Pages

Tampilkan postingan dengan label setia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setia. Tampilkan semua postingan

11 Oktober 2015

Setia Melaksanakan Tanggung Jawab

 


Setiap orang diberi tanggung jawab oleh Tuhan untuk melakukan hal-hal baik bagi dirinya dan sesamanya. Namun sering orang lari dari tanggung jawab. Orang merasa tidak percaya diri saat mendapatkan tanggung jawab yang berat.

Ada seorang ibu merasa hidupnya kurang begitu bermakna. Pasalnya, anak yang dilahirkannya mengalami cacat. Mata anak itu buta. Tidak bisa melihat apa-apa. Ia sudah berusaha untuk memeriksakan mata anaknya kepada para dokter yang ahli dalam bidang mata. Hasilnya, nihil. Tidak ada perubahan. Anaknya tetap buta.

Ibu itu menjadi putus harapan. Ia menyerah kalah. Ia memutuskan untuk meninggalkan imannya. Ia mau berjuang sendiri. Tentang hal ini, ia berkata, “Sudah lama saya mengikuti Tuhan, kok hidup saya belum juga diberkati?”

Ketika ia mulai berjuang sendirian, banyak halangan menghadang dirinya. Ada saja persoalan yang dia hadapi. Akibatnya, ia tidak mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Padahal anaknya yang buta itu membutuhkan suasana penuh sukacita. Dengan demikian, ia dapat menjalani hidupnya penuh damai.

Ibu itu kemudian menyadari bahwa berjuang sendirian tidak akan menghasilkan apa-apa dalam kehidupan ini. Ia berbalik kepada Tuhan yang ia imani. Ia bersujud syukur di hadapan Tuhan bahwa ia dipercaya oleh Tuhan untuk memelihara anak yang cacat itu. Ia berterima kasih atas kebaikan Tuhan bahwa ia boleh memiliki cinta yang lebih besar.


Kita Dipanggil untuk Setia

Setiap orang diberi tanggung jawab oleh Tuhan. Tentu saja tanggung jawab itu tidak sama. Ada yang diberi tanggung jawab yang besar. Namun ada pula yang diberi tanggung jawab yang kecil. Semua tanggung jawab yang diberikan Tuhan itu mesti diterima dan dilaksanakan dengan setia.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tidak begitu saja menolak tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan pasti telah memberikan rahmat dan kemampuan yang sesuai dengan tanggung jawab itu. Karena itu, kita tidak perlu kuatir dalam melaksanakan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita.

Justru tanggung jawab, meski kecil, kalau dilakukan dengan setia akan menghasilkan buah yang berlimpah-limpah bagi kehidupan bersama. Memang, tidak gampang orang setia pada tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepadanya. Ada saja godaan-godaan untuk tidak setia terhadap tanggung jawab itu.

Untuk itu, orang mesti berani meminta rahmat dari Tuhan untuk menguatkan dirinya, agar tetap setia kepada Tuhan. Orang tidak perlu mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Orang mesti menyerahkan seluruh hidupnya kepada penyelenggaraan Tuhan. Hanya Tuhan semata menjadi andalan dalam melaksanakan tanggung jawab yang diserahkan Tuhan kepada kita.

Mari kita melakukan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita dengan penuh kesetiaan. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk melakukan hal-hal baik bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO dan Majalah FIAT

Palembang – (masih) Kota Asap

1169

09 Oktober 2015

Banyak Persoalan, Tetap Setia kepada Tuhan

 
Apa yang Anda lakukan ketika duka nestapa mendera hidup Anda? Anda melarikan diri? Anda menyumpahi Tuhan? Anda menyalahkan orang lain?.

Suatu hari, seorang teman mengalami suatu masalah yang menurutnya berat. Ketika berada dalam situasi tersebut, imannya goyah. Ia mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan dalam hidupnya. Ia merasa Tuhan tidak hadir dalam hidupnya. Bahkan Tuhan menjauhi dirinya.

Apa yang ia lakukan kemudian adalah ia merasa marah. Ia merasa jengkel, mengapa Tuhan yang ia yakini selalu hadir dalam dirinya itu ternyata tidak buat apa-apa bagi dirinya. Ia bertanya dalam hatinya, “Mengapa Tuhan menjadi jauh? Apa salah saya?”

Namun kemudian ia sadar bahwa sebenarnya Tuhan selalu hadir dalam setiap peristiwa hidupnya. Tuhan hadir melalui orang-orang di sekitarnya. Ia pun menyesali apa yang telah ia lakukan terhadap Tuhan.

Ia berkata, “Fokus saya terhadap masalah yang sedang saya hadapi membiaskan kasih karunia yang sebenarnya telah Tuhan berikan dalam kehidupan saya. Begitulah yang saat ini sedang terjadi dalam hidup saya. Saya tidak dapat melihat segala hal yang baik dari peristiwa yang menurut saya buruk."

Jangan Panik

Sering orang menjadi panik saat menghadapi persoalan-persoalan hidup. Orang kemudian merasa tidak kuat dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya. Orang pun mempertanyakan tentang kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Bukan hanya mempertanyakan, tetapi lebih dari itu orang menyangkal kehadiran Tuhan.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap setia kepada Tuhan, meski persoalan demi persoalan kita hadapi dalam hidup ini. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendirian. Tuhan selalu bekerja melalui rohNya dalam diri kita. Bahkan ketika kita tidak menyadarinya, Tuhan memberikan rahmat demi rahmat bagi kehidupan kita.

Memang, kurangnya iman sering membuat orang meragukan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Penderitaan yang dialami dapat membuat orang menolak kehadiran Tuhan. Namun yang mesti disadari adalah Tuhan hadir juga dalam penderitaan manusia. Dalam situasi seperti itu, Tuhan ingin memberikan penghiburan bagi manusia. Tuhan ingin menguatkan manusia.

Karena itu, orang beriman mesti tetap membangun kesetiaan kepada Tuhan dalam hidup ini. Orang mesti tetap yakin bahwa dalam situasi apa pun Tuhan selalu hadir. Tuhan yang hadir itu ingin memberikan yang terbaik bagi hidup ini. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah sikap hati yang terbuka lebar-lebar kepada Tuhan.

Sering saat persoalan atau penderitaan datang, manusia menutup hatinya bagi Tuhan. Manusia merasa bahwa kehadiran Tuhan justru membawa derita. Tentu saja pandangan seperti ini keliru. Mari kita selalu membangun pengharapan kepada Tuhan, karena Tuhan itu pengasih dan penyayang. Dengan demikian, kita boleh mengalami sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ
Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT
Palembang – Kota Asap


1167

29 Maret 2014

Tetap Setia kendati Banyak Tantangan



Masihkah Anda setia terhadap sesama yang hidup bersama Anda? Sejauh mana kesetiaan itu Anda pertanggungjawabkan?

Hachiko adalah seekor anjing peliharaan Profesor Ueno, seorang guru besar Universitas Kekaisaran di Tokyo, Jepang. Hachiko hidup dari tahun 1923 hingga 1935. Selama masa hidupnya yang dua belas tahun itu, Hachiko menunjukkan kesetiaannya yang luar biasa. Ia setia kepada tuannya dengan seluruh dirinya.

Setiap hari Hachiko mengantar tuannya ke stasiun kereta api. Setelah tuannya naik kereta api, Hachiko mencari tempat yang aman di stasiun kereta api kota itu. Ia menunggu tuannya pulang dari universitas. Lapar dan haus mesti ia tahan demi tuannya pulang dalam keadaan selamat.

Suatu sore, tuannya tidak pulang-pulang ke stasiun kereta api itu. Ternyata tuannya mengalami serangan jantung. Tuannya telah menghembuskan nafas terakhirnya di universitas. Namun Hachiko tetap setia menunggu tuannya pulang. Ia tidak mau ikut orang lain untuk pulang ke rumahnya. Ia tetap bertahan di stasiun kereta api itu. Suatu hari Hachiko mati di stasiun itu. Kematiannya menunjukkan kesetiaan seekor anjing terhadap tuannya. Ia mati dalam penantian.

Sahabat, setia itu tidak mudah. Namun kesetiaan itu bisa dilatih, dipelajari dan dibiasakan. Kesetiaan bisa dilatih dari hal-hal yang kecil. Seorang bijaksana berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Kisah Hachiko si anjing setia memberikan suatu inspirasi kepada kita untuk berusaha setia kepada Tuhan dan sesama dalam hidup kita. Kesetiaan Hachiko terhadap tuannya tanpa batas. Berbagai tantangan mesti ia hadapi. Yang ada dalam instingnya hanyalah keselamatan tuannya.

Sebagai makhluk sosial, manusia juga dituntut untuk memiliki kesetiaan yang besar terhadap orang-orang sekitarnya. Seorang suami mesti selalu setia terhadap istrinya apa pun situasi hidup yang dihadapi. Sebaliknya seorang istri mesti selalu setia terhadap suaminya, meski kadang-kadang hidup ini kurang menyenangkan.

Memang, kesetiaan selalu menghadapi tantangan. Sepasang suami istri yang bahagia selalu ingin tetap bertahan dalam kesetiaan satu sama lain. Namun godaan sering datang menghadang kehidupan bersama. Godaan bisa saja membuat komitmen yang telah dibuat oleh mereka berantakan.

Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi ketika orang hanya mementingkan terpenuhinya keinginan-keinginannya. Ketika orang hanya mengikuti keinginan-keinginannya, orang akan membahayakan kesetiaannya terhadap sesamanya. Sehebat-hebatnya orang, orang tidak bisa memenuhi keinginannya. Mengapa? Karena keinginan manusia itu bermacam ragam dan bentuknya.

Untuk itu, orang mesti mengadakan suatu penegasan antara keinginan dan kebutuhan. Setiap keinginan tidak mesti dipenuhi. Namun setiap kebutuhan tentu saja berguna bagi perjalanan hidup bersama. Kebutuhan itu yang mesti dipenuhi, agar hidup orang menjadi semakin lebih baik.

Sebagai orang beriman, kita ingin tetap setia satu sama lain. Mari kita berusaha setia dengan memilah mana keingnan dan kebutuhan yang mesti kita penuhi. Tuhan memberkati.**



Frans de Sales SCJ

SIGNIS INDONESIA/Tabloid KOMUNIO


1085

08 Januari 2014

Memiliki Semangat untuk Setia


Tidak mudah untuk melaksanakan sesuatu yang tidak kita sukai. Banyak orang kemudian melanggar aturan-aturan umum yang berlaku. Mereka berpikir bahwa dengan melanggar aturan-aturan itu, hidup mereka akan bahagia.

Suatu hari, seorang pengendara motor melanggar (menerobos) lampu merah. Seharusnya ia berhenti, tetapi ia malah memacu motornya kecencang-kencangnya. Melihat kejadian itu, polisi langsung menghadangnya. Polisi membunyikan peluitnya lantas menyuruhnya minggir di pos polisi.

Namun orang itu tidak mau minggir. Dengan angkuh dan membunyikan motor keras-keras, ia melanjutkan aksinya dengan ngebut sekencang-kencangnya. Polisi mencatat nomor motor tersebut, lantas ia segera mengambil motornya dan mengejar pengendara itu. Sementara temannya yang lain mengontak pos polisi terdekat.

Setelah kejar-kejaran beberapa saat, polisi menangkap pengendara motor itu dengan bantuan polisi di pos terdekat yang sudah menghadang. Pengendara motor itu diperiksa oleh serombongan polisi. Ketika ditanya oleh polisi, pengendara itu menjawab, ”Peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Kalau tidak ada pelanggaran, tidak perlu ada peraturan dan polisi. Jadi saya melakukannya dengan kesadaran penuh.”

Jawaban pengendara motor itu sangat menyakitkan hati polisi. Orang itu begitu angkuh. Ia terlalu permisif. Polisi pun mengganjarnya dengan hukuman yang berat. Satu minggu pengendara itu dimasukkan ke dalam sel. Di sana ia diberi pelajaran tentang tatakrama dalam berkendaraan di jalan umum.

Sahabat, berhadapan dengan kisah di atas kita boleh bertanya, masih perlukah orang taat di zaman sekarang ini? Kita hidup di zaman yang memberikan peluang yang sangat besar kepada kebebasan pribadi. Karena itu, ketaatan sering dianggap berlawanan dengan kebebasan. Ketaatan membuat orang tidak bebas dalam mengekspresikan diri. Untuk itu, ada upaya untuk melakukan deregulasi. Artinya, ada upaya untuk mengurangi sebanyak mungkin aturan-aturan yang ada.

Kisah di di atas mau mengatakan kepada kita bahwa orang merasa terbelenggu oleh aturan-aturan yang ada. Padahal aturan itu dibuat untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia, baik pribadi maupun bersama. Bayangkan kalau pengendara itu menabrak orang yang sedang melintasi perempatan jalan? Apa yang akan terjadi? Kecelakaan besar akan menimba hidup manusia. Tidak hanya hidup pengendara motor itu saja. Tetapi mungkin banyak orang akan mengalami celaka sebagai akibat dari ulahnya itu.

Sebagai orang beriman, kita ingin taat pada aturan-aturan yang ada dengan suatu kesadaran penuh. Kita taat pada aturan-aturan yang telah dibuat itu, karena memiliki nilai yang tinggi bagi kehidupan bersama. Keharmonisan dapat terjadi melalui ketaatan terhadap aturan-aturan yang ada.

Dalam hidup sehari-hari orang beriman tidak hanya taat pada aturan-aturan yang ada. Namun orang beriman juga berusaha taat kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Orang beriman taat kepada Tuhan bukan karena takut dihukum ketika tidak taat.

Namun orang beriman taat kepada Tuhan, karena Tuhan memberikan jalan yang terbaik bagi hidup manusia. Tuhan selalu peduli terhadap hidup manusia. Karena itu, mari kita memupuk ketaatan dalam hidup kita. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1017

26 November 2013

Berusaha Setia Kendati Lemah

 
Sejauh mana kesetiaan Anda kepada orang-orang yang sangat dekat dengan Anda? Ketika Anda merasa dikhianati, apakah Anda masih setia?

Ada seorang anak yang dijanjikan oleh ayahnya untuk jalan-jalan ke pantai dan berenang pada hari Minggu. Itulah hadiah baginya atas prestasi menjadi juara satu di kelasnya, bahkan di sekolahnya. Sudah sering ia meraih prestasi seperti itu, namun baru kali ini ia mendapat hadiah dari sang ayah. Sungguh, suatu kesempatan yang sangat indah baginya bisa jalan-jalan dan berenang.

Ayahnya berjanji akan menepati acara jalan-jalan dan berenang itu. Mendengar janji itu, betapa senang hati anak tersebut. Hatinya berbunga-bunga. Sudah satu minggu, ia tidak bisa tidur hanya karena akan bersenang-senang bersama ayahnya. Anak itu sudah membayangkan bagaimana main-main dengan air, berenang kemudian bakar ikan di pantai.

Tetapi pada hari Minggu pagi, sang ayah mendapatkan telpon dari bos-nya untuk menemaninya keluar kota. Ini masalah pekerjaan, sehingga ia tidak bisa menolak. Ia harus mengikuti perintah bosnya itu. Bosnya akan mengadakan perjalanan bisnis pada hari itu juga. Kalau ia tidak mengikuti perintah itu, bisa-bisa ia dipecat dari pekerjaannya.

Karena itu, dengan hati kecewa ia meminta maaf kepada sang anak yang sudah siap-siap dengan pakaian olahraganya untuk jalan-jalan ke pantai. Mendengar permintaan maaf itu, sanga anak terpana. Ia sangat kecewa. Hadiah yang terindah itu belum terwujud. Janji itu belum menjadi nyata. Air matanya meleleh. Tetapi kemudian ia mesti menganggukkan kepala demi pekerjaan sang ayah. Ia tidak boleh memaksa ayahnya.

Sahabat, banyak janji yang diucapkan dari bibir-bibir manusia. Banyak pasangan suami istri berjanji untuk saling setia saat mereka menikah. Tetapi kemudian janji-janji itu tinggal janji saat ada tantangan yang menghadang kelanggengan keluarga. Ketika ada yang tidak setia alias selingkuh, kesepakatan untuk hidup bersama pun berakhir. Begitu mudah orang mengkhianati cintanya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap setia pada janji-janji yang telah kita ucapkan. Apa pun tantangan yang menghadang, semestinya kita tetap setia pada janji yang telah kita buat. Ketika kita membuat suatu janji sebenarnya kita tidak hanya sekedar mengucapkannya. Janji itu mesti terwujud dalam keseharian hidup kita. Janji itu mesti menjadi nyata dalam perjalanan hidup kita.

Untuk itu, kita mesti bercermin dari kesetiaan Tuhan. Dalam perjalanan hidup ini, Tuhan selalu setia kepada manusia, ciptaanNya. Kesetiaan itu tampak dalam rahmat demi rahmat yang dicurahkan ke dalam diri kita. Tuhan tetap setia, meski kita sering tidak setia kepadaNya. Tuhan tetap mengasihi kita, meski kita sering menolak kasih-Nya dengan melakukan dosa dan kejahatan.

Kasih dan kesetiaan Tuhan itu juga tampak dalam memberikan matahari dan udara untuk manusia. Setiap hari kita boleh menghirup udara yang segar. Setiap hari kita boleh mendapatkan sinar matahari untuk kelanjutan hidup kita.

Karena itu, kita diajak untuk tetap setia kepada Tuhan melalui orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita mesti berusaha untuk tetap setia pada komitmen yang telah kita buat, meski kita ini manusia lemah. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk mewujudkan kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

24 Mei 2012

Dalam Susah dan Derita Tetap Setia kepada Tuhan

Apa yang akan Anda lakukan di saat susah dan derita menimpa hidup Anda? Anda melarikan diri dari Tuhan? Atau justru Anda memberikan seluruh hidup Anda kepada Tuhan?

Sebelas Maret lalu menjadi peristiwa kelabu bagi warga Jepang. Prefektur Miyagi hancur luluh oleh tsunami setinggi 14 meter setelah daerah tersebut dihentak gempa 9,8 skala richter. Daerah ini kini tampak seperti hamparan tanah lapang dengan tumpukan bangkai-bangkai besi, kayu, dan tubuh manusia.

Jalan-jalan di Sendai, Ibukota Miyagi, basah dengan genangan air laut dan lumpur. Beberapa warga terlihat berada di jalan, mencari sanak keluarganya yang hilang. Salah satunya adalah Masahira Kasamatsu (76), seorang petani dari luar kota Sendai. Masahira datang bersama istrinya Emiko untuk mencari harta miliknya yang paling berharga, Yoko Oosato, anak perempuannya yang tinggal di Sendai.

Masahira berkata, ”Saya sedang mencari anak saya. Namanya Yoko Oosato apakah anda melihatnya?”

Yoko Oosato telah tinggal di Sendai selama lebih dari 30 tahun. Ia bekerja di Bandara Sendai yang ikut hancur akibat luapan air laut dan gempa bumi. Bandara sendiri dipenuhi dengan puing-puing, lumpur, bangkai-bangkai mobil dan pesawat.

Masahira menceritakan, usai gempa dan tsunami pada 11 Maret 2011 lalu, bersama istrinya, dirinya berangkat menuju Sendai mengendarai mobil pribadi mereka. Tujuannya untuk mencari Yoko. Masahira menghubungi anaknya sejak tsunami menghantam Sendai. Sayang, panggilan telepon tersebut tidak membuahkan hasil.

Butuh waktu 3 hari untuk mencapai Sendai. Jalan-jalan menuju Bandara Sendai hampir tidak bisa dilewati. Di tengah jalan, bahan bakar kendaraan Masahira habis. Akibatnya, Masahira dan Emiko menghabiskan malam di mobil mereka, tanpa penghangat dan bahan bakar. Keesokan harinya, Masahira memutuskan untuk berjalan kaki guna mencapai bandara Sendai.

Masahira berkata, ”Saya tahu begitu banyak yang mati di dalam bandara. Saya tahu bahwa anak saya mungkin hanya satu, di antara begitu banyak yang mati. Tapi harapan saya yang paling dalam adalah bahwa dia masih hidup. Itulah satu-satunya doa saat ini.”

Sahabat, peristiwa alam yang ganas itu telah meninggalkan luka yang dalam bagi warga. Mereka kehilangan banyak hal termasuk nyawa orang-orang yang terdekat. Karena itu, peristiwa nahas itu tidak akan pernah dilupakan. Peristiwa itu menjadi kenangan yang mengerikan.

Kisah Masahira mencari sang anak menjadi suatu kesempatan untuk merefleksikan kekecilan hidup di hadapan Tuhan dan alam semesta. Manusia boleh memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menundukkan alam semesta. Namun manusia mesti juga sadar bahwa ia makhluk yang terbatas. Ia makhluk yang punya ketergantungan kepada Yang Mahakuasa.

Karena itu, yang dibutuhkan di saat-saat susah dan derita adalah tangan yang terbuka terhadap penyelenggaraan Tuhan. Namun manusia sering kurang peduli. Manusia lebih mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Manusia berpikir bahwa dengan demikian ia mampu mengatasi setiap persoalan yang dihadapi.

Penyerahan diri yang total kepada Tuhan menjadi satu-satunya cara untuk menjalani hidup ini dengan tenang dan damai. Masahira menyerahkan hidup putrinya kepada Tuhan melalui doa-doanya. Ia yakin, Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi putrinya. Mari kita serahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan dalam saat-saat susah dan duka hidup kita. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

21 Desember 2010

Ketekunan Menghasilkan Buah Berlimpah


James E Casey adalah penggagas United Parcel Service atau biasa disingkat dengan UPS. Perusahaan ini kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat dalam bidang jasa pengantaran barang-barang pos. Namun UPS bukan hanya berkembang di Amerika Serikat. Jasa ini pun menyebar ke penjuru dunia.

Tetapi tahukah Anda siapa James E Casey? Ketika ia berusia sebelas tahun, ia terpaksa berhenti dari sekolah. Ia lakukan itu karena ia harus membantu keluarganya mencari nafkah. Ayahnya tidak kuat lagi bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ayahnya sakit-sakitan.

Pekerjaan pertama yang diperoleh Casey adalah mengantar pembungkus ke sebuah gudang serba ada dengan gaji sebulannya sebesar dua setengah dollar. Selain itu, ia juga bekerja sebagai pengantar telegraf di sebuah perusahaan telegraf.

Ketika berusia 15 tahun, James Casey dan dua rekannya yang bekerja sebagai pengantar telegraf memulai usaha sendiri. Usaha mereka adalah usaha mengantar barang-barang pos. Usaha itu kemudian berhasil dengan baik. Mereka menamainya United Parcel Service. Mereka mengawalinya dengan berjalan kaki mendatangi rumah-rumah dan kantor-kantor untuk mengantar barang-barang dan surat-surat. Setelah punya modal, mereka membeli sepeda dan menggunakan sepeda. Ketika modal mereka semakin besar, mereka menggunakan motor. Akhirnya, mereka menggunakan truk untuk mengantar barang-barang dan surat-surat.

Saat ini, United Parcel Service mempunyai lebih dari 340.000 karyawan yang tersebar di seluruh dunia. Omset per tahunnya lebih dari 22 milyar dollar.

Sahabat, usaha yang dikerjakan dengan tekun dan sungguh-sungguh akan menghasilkan buah yang berlimpah. Meskipun kecil, usaha yang dijalankan dengan baik dan benar akan bertumbuh dan berkembang menjadi usaha yang besar. Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ketekunan dalam berusaha dapat menghasilkan sesuatu yang berguna untuk banyak orang.

Yang penting adalah orang dengan sungguh-sungguh mencurahkan hidupnya untuk usaha itu. Orang juga mesti memikirkan kepentingan banyak orang. Tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. James Casey dan kawan-kawannya tentu saja tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri. Usaha yang baik dan berhasil selalu memiliki dampak positif bagi kehidupan banyak orang.

Karena itu, orang mesti memiliki motivasi yang positif ketika memulai sebuah usaha. Orang mesti berani melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain. Keuntungan yang diperoleh dari usaha itu tidak melulu dihitung berdasarkan angka-angka yang kelihatan. Tetapi orang mesti berani menghitungnya dari kesejahteraan yang diperoleh orang lain dalam usaha itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk melakukan suatu usaha dengan tekun dan setia. Ketika kita setia dalam hal-hal kecil, kita akan diberi kepercayaan untuk mengelola sesuatu yang lebih besar. Mari kita berusaha terus-menerus untuk memberi makna yang lebih baik terhadap usaha-usaha kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

21 Mei 2010

Tetap Setia pada Iman



Seorang perempuan terjebak dalam badai yang menakutkan di tengah samudera. Ketika itu ia sedang melakukan suatu perjalanan. Ribuan penumpang ada di kapal itu. Dalam kondisi seperti itu, perempuan itu berusaha menghibur anak-anak yang berlayar bersamanya agar tidak panik. Caranya ialah ia menceritakan kepada mereka kisah-kisah yang menarik. Anak-anak itu begitu tertarik kepada cerita-ceritanya, sehingga mereka lupa bahwa mereka sedang dihantam badai yang hebat.

Setelah mereka selamat, kapten kapal itu mendekati perempuan itu. Rupanya selama di perjalanan ia memperhatikan perempuan bersama anak-anak itu.

Kapten itu bertanya, “bagaimana Anda dapat tetap tenang ketika semua orang takut kalau kapal ini akan tenggelam?”

Saat perempuan itu mengangkat wajahnya, kapten kapal itu menemukan kedamaian dan ketenangan di matanya. Perempuan itu telah mempertahankan hal itu sepanjang perjalanan di atas kapal itu.

“Saya punya dua putri. Seorang tinggal di Bali dan seorang lagi tinggal di surga. Di atas kapal itu saya tahu bahwa dalam waktu beberapa jam saya akan bertemu dengan salah seorang dari mereka. Siapa yang akan saya temui benar-benar tidak masalah bagi saya,” kata perempuan itu, menjelaskan.

Kapten itu terhenyak. Ia memandang penuh kagum terhadap perempuan itu. Ia sungguh-sungguh seorang yang beriman. Ia pasrah apapun yang akan terjadi atas dirinya. Adakah dalam dunia seperti sekarang ini kita temukan iman sebesar ini?

Dalam hidup ini orang sering kehilangan pegangan hidup. Orang merasa bahwa hidupnya terus-menerus dihantui oleh hal-hal yang tidak menyenangkan. Akibatnya, orang lari kepada hal-hal negatif seperti ke dunia perdukunan, perjudian, tahayul. Orang suka mencoba-coba hal-hal seperti itu. Kalau sudah tidak jalan lalu mereka frustrasi.

Mengapa semua ini mesti terjadi? Karena orang sudah kehilangan nilai-nilai luhur kehidupan. Orang menjalankan kehidupan agamanya hanya di permukaan saja. Orang tidak sampai pada transformasi nilai-nilai dan makna kehidupan yang telah diajarkan oleh agama yang dianut itu. Orang lebih suka mencari jalan pintas. Tidak peduli bahwa nilai-nilai yang diajarkan oleh agamanya membutuhkan suatu proses untuk mampu meresap ke dalam kehidupan seseorang.

Karena itu, orang beriman itu dituntut memiliki kesabaran, ketekunan, konsistensi dan keuletan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup ini. Kita perlu bertanya diri, apakah kita sudah memiliki keempat hal ini dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman? Apakah kita sabar ketika menghadapi berbagai persoalan dalam hidup? Apakah kita tekun menjalankan ibadah kita ketika begitu banyak tawaran yang menggiurkan atau godaan untuk meninggalkan ibadah kita? Apakah kita punya konsistensi dalam menghayati iman kepada Tuhan, ketika ada tawaran dari dunia perdukunan, perjudian dan bentuk-bentuk tahayul lainnya? Apakah kita ulet menghidupi iman dan amal perbuatan kita bagi sesama yang kekurangan di sekitar kita?

Setiap hari kita mengalami berbagai pergolakan hidup. Ada yang bertahan dalam pergolakan itu. Ada yang cemas dan ragu-ragu apakah mau terus atau berhenti di jalan. Ada yang terpuruk lemas, karena tidak tahu jalan benar yang mesti ia lewati. Karena itu, mari kita bawa ke hadapan Tuhan. Biar Tuhan yang akan memberikan kekuatan kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


384



Bagikan