Pages

Tampilkan postingan dengan label kesejahteraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesejahteraan. Tampilkan semua postingan

15 September 2012

Gunakan Kekuatan Pikiran untuk Kesejahteraan


Seorang bijak berkata, “Semuanya itu jelas bagi yang cerdas, lurus bagi yang berpengetahuan.” Dalam konteks ini, kita diajak untuk merefleksikan potensi-potensi yang ada dalam diri kita.

“Ada cukup energi atom dalam pikiran manusia untuk meledakkan kota New York,” kata Dr Norman Vincent Peale.

Menurut penulis buku laris The Power of Positive Thinking ini, pikiran manusia memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan pikiran itu mampu membuat manusia menguasai dunia. Kalau kekuatan pikiran manusia ini sepenuhnya digunakan oleh manusia, hal-hal yang luar biasa akan terjadi. Sampai saat ini, setiap orang hanya mampu menggunakan kekuatan pikirannya sebanyak 10 persen. Lalu ke mana 90 persen kekuatan pikiran manusia yang lain?

Ternyata manusia belum menggunakan kekuatan pikirannya seratus persen. Ada berbagai sebab. Namun satu hal yang pasti adalah manusia tidak menggunakan pikirannya untuk berpikir secara positif. Banyak orang menggunakan pikirannya untuk hal-hal negatif. Akibatnya, pikirannya terkungkung oleh hal-hal negatif yang tidak menumbuhkan dirinya. Hal-hal negatif itu justru mengerdilkan dirinya.

Ada data yang menarik, yaitu si jenius teori relativitas, Albert Einstein menggunakan hanya 15 persen potensi pikirannya. Pikiran manusia memiliki kuasa yang super dahsyat, namun manusia menyia-nyiakan 90 persen dari daya ini. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sahabat, manusia diciptakan Tuhan dengan potensi-potensi. Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan kosong. Tuhan tidak menciptakan manusia seperti kertas putih. Di dalam diri manusia yang masih lemah gemulai yang lahir dari seorang perempuan itu sudah tertera potensi-potensi dirinya. Hal ini termasuk potensi yang ada dalam pikirannya.

Sayang, potensi-potensi itu sering ditelantarkan oleh manusia. Manusia yang hidup dalam kungkungan budaya yang ketat akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan dirinya secara kreatif. Orang seperti ini cenderung merasa enggan untuk mengembangkan dirinya. Orang seperti ini lebih curiga terhadap kemajuan-kemajuan zaman. Orang seperti ini tidak percaya pada kreativitas dalam hidup. Prinsipnya adalah hidup biasa-biasa saja sudah cukup, kok mau bersusah-susah.

Sebaliknya, orang yang memiliki kesempatan untuk menumbuhkan potensi dirinya akan berusaha semaksimal mungkin menggunakan pikiran dan tenaganya untuk membangun hidup. Orang seperti ini akan kreatif dalam hidupnya. Ia terus-menerus melakukan invoasi-inovasi baru untuk meraih sukses dalam hidupnya. Orang seperti berusaha menggunakan pikirannya untuk hal-hal yang baik. Ia berusaha berpikir positif dalam hidupnya.

Bagi orang beriman, menggunakan kekuatan pikiran untuk kesejahteraan manusia menjadi suatu ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan. Tuhan telah memberikan potensi diri itu dengan cuma-cuma. Karena itu, manusia mesti menggunakannya dengan baik untuk kebahagiaan manusia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

KOMSOS KAPal

918

21 Desember 2010

Ketekunan Menghasilkan Buah Berlimpah


James E Casey adalah penggagas United Parcel Service atau biasa disingkat dengan UPS. Perusahaan ini kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat dalam bidang jasa pengantaran barang-barang pos. Namun UPS bukan hanya berkembang di Amerika Serikat. Jasa ini pun menyebar ke penjuru dunia.

Tetapi tahukah Anda siapa James E Casey? Ketika ia berusia sebelas tahun, ia terpaksa berhenti dari sekolah. Ia lakukan itu karena ia harus membantu keluarganya mencari nafkah. Ayahnya tidak kuat lagi bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ayahnya sakit-sakitan.

Pekerjaan pertama yang diperoleh Casey adalah mengantar pembungkus ke sebuah gudang serba ada dengan gaji sebulannya sebesar dua setengah dollar. Selain itu, ia juga bekerja sebagai pengantar telegraf di sebuah perusahaan telegraf.

Ketika berusia 15 tahun, James Casey dan dua rekannya yang bekerja sebagai pengantar telegraf memulai usaha sendiri. Usaha mereka adalah usaha mengantar barang-barang pos. Usaha itu kemudian berhasil dengan baik. Mereka menamainya United Parcel Service. Mereka mengawalinya dengan berjalan kaki mendatangi rumah-rumah dan kantor-kantor untuk mengantar barang-barang dan surat-surat. Setelah punya modal, mereka membeli sepeda dan menggunakan sepeda. Ketika modal mereka semakin besar, mereka menggunakan motor. Akhirnya, mereka menggunakan truk untuk mengantar barang-barang dan surat-surat.

Saat ini, United Parcel Service mempunyai lebih dari 340.000 karyawan yang tersebar di seluruh dunia. Omset per tahunnya lebih dari 22 milyar dollar.

Sahabat, usaha yang dikerjakan dengan tekun dan sungguh-sungguh akan menghasilkan buah yang berlimpah. Meskipun kecil, usaha yang dijalankan dengan baik dan benar akan bertumbuh dan berkembang menjadi usaha yang besar. Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ketekunan dalam berusaha dapat menghasilkan sesuatu yang berguna untuk banyak orang.

Yang penting adalah orang dengan sungguh-sungguh mencurahkan hidupnya untuk usaha itu. Orang juga mesti memikirkan kepentingan banyak orang. Tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. James Casey dan kawan-kawannya tentu saja tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri. Usaha yang baik dan berhasil selalu memiliki dampak positif bagi kehidupan banyak orang.

Karena itu, orang mesti memiliki motivasi yang positif ketika memulai sebuah usaha. Orang mesti berani melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain. Keuntungan yang diperoleh dari usaha itu tidak melulu dihitung berdasarkan angka-angka yang kelihatan. Tetapi orang mesti berani menghitungnya dari kesejahteraan yang diperoleh orang lain dalam usaha itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk melakukan suatu usaha dengan tekun dan setia. Ketika kita setia dalam hal-hal kecil, kita akan diberi kepercayaan untuk mengelola sesuatu yang lebih besar. Mari kita berusaha terus-menerus untuk memberi makna yang lebih baik terhadap usaha-usaha kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

09 November 2010

Menggunakan Kapasitas Pikiran untuk Kesejahteraan

Seorang gadis berusaha untuk tetap menutupi wajahnya. Dia tidak ingin dipandang oleh orang lain. Menurutnya, ia tidak memiliki wajah yang cantik, sehingga tidak banyak orang tertarik kepadanya. Ke mana-mana ia berusaha menutupi wajahnya dengan kain selendang yang dibawanya. Akibatnya, pikiran gadis ini menjadi sempit. Ia hanya berpikir tentang dirinya sendiri.

Suatu hari, setelah pulang dari belanja, gadis ini langsung menuju dapur. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Cuma tetes-tetes air mata jatuh satu-satu membasahi wajahnya. Ia tidak menghiraukan ibunya yang sedang memasak di dapur itu. Tidak berapa lama kemudian, ia berusaha merampas pisau tajam yang sedang dipegang ibunya. Sang ibu sangat kaget melihat tingkah putrinya itu. Ia berusaha untuk mempertahankan pisau itu.

Setelah sang ibu berteriak keras-keras beberapa saat kemudian muncul sang ayah. Ia langsung melerai dua orang yang sedang bergumul itu. Sang ayah heran, mengapa peristiwa itu mesti terjadi. Ia menanyakan alasannya kepada istrinya. Namun sang istri juga tidak tahu penyebabnya. Sementara sang anak sudah mengunci diri di kamar.

Selidik punya selidik, ternyata sang gadis hendak bunuh diri. Ia sewot, karena ada orang yang mengatakan bahwa ia sangat cantik. Ia tidak perlu menutupi wajahnya.

Sahabat, orang yang terkungkung pada pikirannya sendiri akan mengalami persoalan-persoalan dalam hidupnya. Orang seperti ini tidak terbuka terhadap dunia sekitarnya. Ia hanya berorientasi pada dirinya sendiri. Akibatnya, apa yang dipikirkannya menjadi standar atau pedoman bagi dirinya sendiri. Apa yang ada di dalam pikirannya itulah yang paling benar.

Padahal pikiran manusia itu tidak memiliki batas. Orang tidak perlu alat-alat bantu untuk menggunakan pikirannya. Cukup kalau orang memperluas wawasannya, orang akan menemukan betapa hidup ini begitu banyak kemungkinan. Pikiran yang jernih telah membantu manusia untuk menemukan berbagai hal untuk kebutuhan hidupnya. Coba kita perhatikan sekeliling kita. Kita perhatikan rumah, mobil, komputer, telephon, kulkas, jam yang kita pakai atau buku-buku yang sedang kita baca. Semua itu berasal dari pikiran manusia. Ternyata begitu banyak hal yang dapat dikerjakan oleh pikiran kita.

Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa manusia normal cuma menggunakan kurang dari lima persen kapasitas otaknya. Jadi masih begitu banyak yang belum kita gunakan dari pikiran kita untuk menemukan hal-hal yang berguna untuk kehidupan kita.

Karena itu, kita tidak boleh membatasi kemampuan otak kita dengan berdiam diri saja. Kita mesti gunakan kapasitas otak kita seluas-luasnya untuk kesejahteraan hidup kita. Kalau kita membuka pikiran kita seluas-luasnya, kita akan menemukan dan membuat berbagai hal untuk kehidupan kita.

Orang beriman itu mesti mampu menggunakan kapasitas pikirannya untuk menyejahterakan semakin banyak orang. Orang beriman tidak hanya cukup duduk-duduk di tempatnya lalu semua beres. Orang beriman mesti bergerak terus-menerus, agar kemampuan pikirannya semakin tajam dan berguna untuk kesejahteraan banyak orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 20.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

546

19 Juni 2010

Menaati Peraturan untuk Kesejahteraan Bersama


Menurut cerita, salah seorang kaisar Dinasti Ming di Tiongkok berkuasa dengan tangan besi. Setiap orang yang melanggar peraturan kekaisaran akan dihukum dengan berat. Bahkan ia tidak memandang hubungan kekerabatan. Setiap orang yang melakukan pelanggaran atas peraturan dan hukum, harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Banyak orang mengalami hal ini. Mereka yang melanggar peraturan dan hukum harus menderita.

Menurut banyak orang, peraturan dan hukum yang ketat yang ia berlakukan itu demi kepentingan dirinya sendiri. Tujuannya untuk mempertahankan kekuasaannya. Ia akan mengorbankan siapa pun, kalau ia merasa dirinya terancam. Siapa pun yang menentang kebijaksanaannya akan ia lenyapkan.

Meski berkuasa dengan tangan besi, rakyat Tiongkok waktu itu hidup makmur. Mereka dapat merasakan kesejahteraan dan damai. Mereka boleh membangun hidup yang lebih baik. Banyak orang heran terhadap situasi ini. Namun bagi kaisar, kesejahteraan dan langgengnya kekuasaan mesti diimbangi oleh suatu kekuasaan yang keras. Tidak ada kompromi terhadap setiap bentuk ketidaksetiaan.

Tentu saja hukum dan peraturan yang keras seperti ini tidak lagi kita temukan di dunia yang serba maju ini. Kalau toh ada, banyak orang akan menentangnya. Persoalannya adalah setiap produk hukum dan peraturan itu dibuat untuk kepentingan manusia. Bukan manusia untuk hukum dan peraturan yang ada. Namun tidak berarti orang hidup seenaknya saja.

Beberapa kasus narkoba yang terjadi di negeri ini berakhir dengan hukuman berat bagi pengedar, pengguna maupun bandar. Hal ini menunjukkan bahwa hukum itu mesti dibuat untuk kepentingan manusia. Mengapa dibutuhkan hukum dan peraturan? Karena manusia membutuhkan hal-hal yang dapat mengatur hidup manusia. Manusia mesti mengikutinya, agar kehidupan bersama dapat berjalan dengan baik.

Kita butuhkan peraturan dan hukum, agar kita dapat memiliki arah hidup yang jelas. Kalau orang tidak menuruti peraturan dan hukum, orang akan mendapatkan akibat negatifnya. Mengapa? Karena hukum dan peraturan itu mengatur tata hidup bersama. Tujuannya untuk kebaikan dan kesejahteraan bersama.

Karena itu, penyelewengan terhadap peraturan dan hukum hanya menyebabkan penderitaan bagi banyak orang. Kita menyaksikan begitu banyak orang yang menderita, karena korupsi yang dilakukan oleh para pejabat di negeri ini. Gizi buruk yang diderita oleh banyak anak-anak janganlah disalahkan pada orangtua mereka. Tetapi gizi buruk itu sebenarnya akibat dari program pemerintah yang indah-indah itu tidak dijalankan dengan baik. Pemberantasan kemiskinan yang didengung-dengungkan itu hanya suatu kamuflase dari oknum-oknum tertentu untuk kepentingan diri sendiri.

Sebagai orang beriman, kita mesti sadar bahwa ketika kita melaksanakan peraturan dan hukum dengan baik, kita membawa kehidupan yang sejahtera bagi banyak orang. Orang beriman itu tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Orang beriman selalu memikirkan kebaikan sesama. Orang beriman selalu bertanggungjawab terhadap kehidupan bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

413

Bagikan