Pages

Tampilkan postingan dengan label ketekunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketekunan. Tampilkan semua postingan

13 Desember 2011

Menumbuhkan Kualitas melalui Ketekunan

Sebelum tahun 2007, hanya sedikit orang yang mengenal Jon Favreau. Walaupun memiliki keahlian dalam menulis pidato semasa kuliah di College of Holy Cross di Massachusetts, Amerika Serikat, namanya justru meroket ketika ia masuk sebagai tim kampanye Barack Obama. Ia menjadi ketua tim perumus pidato-pidato Barack Obama. Usianya yang masih sekitar 20-an tahun ketika itu membawa Favs tercatat dalam sejarah Amerika Serikat sebagai penulis pidato pelantikan presiden AS termuda.

Jon Favreau menghabiskan waktu selama dua bulan, 16 jam sehari, untuk menyusun dan merangkai kata-kata pidato Obama. Tidaklah mengherankan apabila sang Presiden selalu memukau pada setiap penampilannya di hadapan jutaan bahkan ratusan juta rakyatnya. Semua tak lain dan tak bukan berkat buah kejeniusan anak muda ini.

Tentu saja pencapaian seperti ini tidak diraih Jon Favreau begitu saja. Ia mesti bekerja keras. Ia mesti mengorbankan saat-saat senggang untuk bersantai ria dengan sahabat-sahabatnya. Ia mengaku, banyak waktu istirahatnya ia gunakan untuk merancang pidato-pidato bagi presiden Amerika Serikat itu.

Sahabat, kualitas karya seseorang tidak dicapai dalam waktu yang singkat. Orang juga tidak melewatinya dengan santai-santai saja. Tetapi suatu kualitas karya diraih dengan banyak korban. Korban itu bisa waktu. Korban itu bisa tenaga yang begitu banyak dicurahkan untuk suatu karya yang spektakuler.

Untuk meraih kualitas yang baik dalam suatu karya orang membutuhkan ketekunan. Orang juga perlu kesabaran dalam membangun kualitas karya. Kalau orang tidak sabar, orang akan mudah putus asa saat menghadapi benturan demi benturan. Kalau orang tidak tekun, orang akan lari dari satu karya ke karya yang lain saat menghadapi tantangan dan rintangan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kita punya kesempatan yang sama untuk meraih kualitas karya-karya kita. Yang penting adalah kita tekun dan sabar dalam usaha-usaha kita untuk mengasah karya-karya kita. Ketekunan telah membawa Jon Favreau dikenal banyak orang. Kualitas karyanya memukau jutaan orang. Ia tidak bekerja asal-asalan. Ia bekerja dengan penuh kesungguhan hati.

Sering banyak orang mudah menyerah begitu ada tantangan yang menghadang usaha-usaha mereka. Atau mereka lari dari satu karya ke karya yang lain. Akibatnya, mereka kurang fokus. Mereka memulai suatu karya dari awal lagi. Akibatnya, karya-karya mereka kurang punya kualitas.

Emas murni yang berkualitas tinggi diperoleh melalui proses yang butuh ketekunan dan kesabaran. Orang yang mau cepat-cepat menciptakan emas yang murni biasanya akan kecewa. Orang tidak akan memiliki kualitas sempurna dari emas yang diinginkannya.
Orang beriman mesti membangun ketekunan dan kesabaran untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik. Untuk itu, orang mesti berani mempertaruhkan hidupnya. Orang mesti fokus pada karya yang sedang dilakukannya. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin baik. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

842

21 Desember 2010

Ketekunan Menghasilkan Buah Berlimpah


James E Casey adalah penggagas United Parcel Service atau biasa disingkat dengan UPS. Perusahaan ini kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat dalam bidang jasa pengantaran barang-barang pos. Namun UPS bukan hanya berkembang di Amerika Serikat. Jasa ini pun menyebar ke penjuru dunia.

Tetapi tahukah Anda siapa James E Casey? Ketika ia berusia sebelas tahun, ia terpaksa berhenti dari sekolah. Ia lakukan itu karena ia harus membantu keluarganya mencari nafkah. Ayahnya tidak kuat lagi bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ayahnya sakit-sakitan.

Pekerjaan pertama yang diperoleh Casey adalah mengantar pembungkus ke sebuah gudang serba ada dengan gaji sebulannya sebesar dua setengah dollar. Selain itu, ia juga bekerja sebagai pengantar telegraf di sebuah perusahaan telegraf.

Ketika berusia 15 tahun, James Casey dan dua rekannya yang bekerja sebagai pengantar telegraf memulai usaha sendiri. Usaha mereka adalah usaha mengantar barang-barang pos. Usaha itu kemudian berhasil dengan baik. Mereka menamainya United Parcel Service. Mereka mengawalinya dengan berjalan kaki mendatangi rumah-rumah dan kantor-kantor untuk mengantar barang-barang dan surat-surat. Setelah punya modal, mereka membeli sepeda dan menggunakan sepeda. Ketika modal mereka semakin besar, mereka menggunakan motor. Akhirnya, mereka menggunakan truk untuk mengantar barang-barang dan surat-surat.

Saat ini, United Parcel Service mempunyai lebih dari 340.000 karyawan yang tersebar di seluruh dunia. Omset per tahunnya lebih dari 22 milyar dollar.

Sahabat, usaha yang dikerjakan dengan tekun dan sungguh-sungguh akan menghasilkan buah yang berlimpah. Meskipun kecil, usaha yang dijalankan dengan baik dan benar akan bertumbuh dan berkembang menjadi usaha yang besar. Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ketekunan dalam berusaha dapat menghasilkan sesuatu yang berguna untuk banyak orang.

Yang penting adalah orang dengan sungguh-sungguh mencurahkan hidupnya untuk usaha itu. Orang juga mesti memikirkan kepentingan banyak orang. Tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. James Casey dan kawan-kawannya tentu saja tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri. Usaha yang baik dan berhasil selalu memiliki dampak positif bagi kehidupan banyak orang.

Karena itu, orang mesti memiliki motivasi yang positif ketika memulai sebuah usaha. Orang mesti berani melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain. Keuntungan yang diperoleh dari usaha itu tidak melulu dihitung berdasarkan angka-angka yang kelihatan. Tetapi orang mesti berani menghitungnya dari kesejahteraan yang diperoleh orang lain dalam usaha itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk melakukan suatu usaha dengan tekun dan setia. Ketika kita setia dalam hal-hal kecil, kita akan diberi kepercayaan untuk mengelola sesuatu yang lebih besar. Mari kita berusaha terus-menerus untuk memberi makna yang lebih baik terhadap usaha-usaha kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

17 Agustus 2010

Menjadikan Ketekunan sebagai Kekuatan Diri



Seorang pengelana mengembara ke berbagai tempat di pulaunya. Ribuan kilometer sudah ia jelajahi. Ia tidak pernah merasa capek. Bahkan ia merasa memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada sebelumnya. Karena itu, ia tidak mau berhenti untuk berkelana.

Ketika ditanya tentang kebiasaannya itu, ia mengatakan bahwa ia lakukan semua itu untuk menemukan pengalaman hidup. Pengalaman hidup itu mesti dicari dan dikejar. Orang tidak bisa diam saja di tempat lalu mendapatkan pengalaman hidup sebanyak-banyaknya.

Suatu hari seorang temannya bertanya, ”Bagaimana Anda mulai dengan ide berkelana itu?”

Pengelana itu menjawab, ”Sederhana saja. Yang dibutuhkan dari Anda adalah melangkahkan kaki Anda. Langkah pertama itu sangat menentukan keberhasilan Anda dalam upaya untuk berkelana.”

Temannya itu terkagum-kagum mendengarkan penjelasan pengelana itu. Lantas pengelana itu melanjutkan, ”Ribuan kilometer yang saya capai sekarang itu dimulai dengan satu langkah. Sebuah langkah besar sebenarnya terdiri dari banyak langkah-langkah kecil.”

Banyak orang takut untuk membuat langkah-langkah besar dalam hidup mereka. Misalnya, melakukan sesuatu yang spektakuler. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka tidak pernah berani melangkahkan kaki mereka. Mereka takut salah untuk melangkah. Mereka punya nyali yang kecil. Padahal yang dibutuhkan hanyalah sebuah langkah awal yang pasti. Langkah-langkah berikutnya adalah kesuksesan hidup yang luar biasa.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa orang yang ingin sukses dalam hidup adalah orang yang mau bekerja dengan penuh ketekunan. Ketekunan itu menjadi kekuatan seseorang dalam meraih sukses. Keberhasilan tidak akan tercapai kalau orang tidak pernah mengerjakan sesuatu dengan tekun. Orang tidak bisa loncat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Orang mesti berani mempertaruhkan hidupnya untuk pekerjaannya itu. Dengan demikian, ia akan menemukan keahliannya.

Karena itu, orang mesti berani untuk mengambil keputusan bagi hidupnya. Orang mesti berani mengambil langkah pertama yang penuh kepastian. Memang, mesti diakui bahwa ada banyak tantangan dan rintangan yang siap menghadang langkah-langkah kita. Tetapi kalau kita tetap punya keyakinan, kita akan sukses dalam perjalanan hidup kita.

Sebagai orang beriman, langkah-langkah kaki kita mesti disertai oleh Tuhan. Kita tidak bekerja sendirian. Kita mesti menyertakan Tuhan dalam perjalanan hidup ini. Hanya dengan menyertakan Tuhan, kita akan menemukan sukacita dan damai dalam perjalanan hidup kita. Orang yang berlangkah bersama Tuhan itu biasanya mendapatkan berkat dan perlindungan. Setiap rintangan akan dilalui dengan baik. Mari kita terus berlangkah bersama Tuhan yang kita imani. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

473