12 Februari 2014
Tuhan Tahu Kekuatan Kita
25 Februari 2013
Tuhan adalah Kekuatan dalam Hidup
15 September 2012
Gunakan Kekuatan Pikiran untuk Kesejahteraan
Seorang bijak berkata, “Semuanya itu jelas bagi yang cerdas, lurus bagi yang berpengetahuan.” Dalam konteks ini, kita diajak untuk merefleksikan potensi-potensi yang ada dalam diri kita.
“Ada cukup energi atom dalam pikiran manusia untuk meledakkan kota New York,” kata Dr Norman Vincent Peale.
Menurut penulis buku laris The Power of Positive Thinking ini, pikiran manusia memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan pikiran itu mampu membuat manusia menguasai dunia. Kalau kekuatan pikiran manusia ini sepenuhnya digunakan oleh manusia, hal-hal yang luar biasa akan terjadi. Sampai saat ini, setiap orang hanya mampu menggunakan kekuatan pikirannya sebanyak 10 persen. Lalu ke mana 90 persen kekuatan pikiran manusia yang lain?
Ternyata manusia belum menggunakan kekuatan pikirannya seratus persen. Ada berbagai sebab. Namun satu hal yang pasti adalah manusia tidak menggunakan pikirannya untuk berpikir secara positif. Banyak orang menggunakan pikirannya untuk hal-hal negatif. Akibatnya, pikirannya terkungkung oleh hal-hal negatif yang tidak menumbuhkan dirinya. Hal-hal negatif itu justru mengerdilkan dirinya.
Ada data yang menarik, yaitu si jenius teori relativitas, Albert Einstein menggunakan hanya 15 persen potensi pikirannya. Pikiran manusia memiliki kuasa yang super dahsyat, namun manusia menyia-nyiakan 90 persen dari daya ini. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Sahabat, manusia diciptakan Tuhan dengan potensi-potensi. Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan kosong. Tuhan tidak menciptakan manusia seperti kertas putih. Di dalam diri manusia yang masih lemah gemulai yang lahir dari seorang perempuan itu sudah tertera potensi-potensi dirinya. Hal ini termasuk potensi yang ada dalam pikirannya.
Sayang, potensi-potensi itu sering ditelantarkan oleh manusia. Manusia yang hidup dalam kungkungan budaya yang ketat akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan dirinya secara kreatif. Orang seperti ini cenderung merasa enggan untuk mengembangkan dirinya. Orang seperti ini lebih curiga terhadap kemajuan-kemajuan zaman. Orang seperti ini tidak percaya pada kreativitas dalam hidup. Prinsipnya adalah hidup biasa-biasa saja sudah cukup, kok mau bersusah-susah.
Sebaliknya, orang yang memiliki kesempatan untuk menumbuhkan potensi dirinya akan berusaha semaksimal mungkin menggunakan pikiran dan tenaganya untuk membangun hidup. Orang seperti ini akan kreatif dalam hidupnya. Ia terus-menerus melakukan invoasi-inovasi baru untuk meraih sukses dalam hidupnya. Orang seperti berusaha menggunakan pikirannya untuk hal-hal yang baik. Ia berusaha berpikir positif dalam hidupnya.
Bagi orang beriman, menggunakan kekuatan pikiran untuk kesejahteraan manusia menjadi suatu ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan. Tuhan telah memberikan potensi diri itu dengan cuma-cuma. Karena itu, manusia mesti menggunakannya dengan baik untuk kebahagiaan manusia. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
KOMSOS KAPal
918
" Bagikan
20 Februari 2011
Pengampunan Itu Kekuatan yang Menyembuhkan
Seorang anak mudah sekali sakit. Capek sedikit saja ia akan batuk-batuk lalu demam dan sakit. Ia harus beristirahat satu atau dua hari agar tubuhnya kembali sehat. Ibunya sering cemas menyaksikan kondisi anaknya seperti itu. Ia sudah berusaha untuk mengatasi kondisi anaknya. Namun namanya saja anak kecil. Tidak gampang mengarahkan anaknya itu untuk mengikuti setiap nasihatnya.
Suatu hari anak itu jatuh sakit. Soalnya sebenarnya sepele saja. Waktu hujan deras menerpa kota, anak itu bermain hujan-hujanan. Ia lari ke sana ke mari. Ayahnya sudah memperingatkannya, namun ia tidak mau berhenti juga. Bahkan ayahnya mengancamnya, ia tidak mau patuh juga. Akibatnya, ia menggigil di waktu malam. Badannya panas. Ia tidak bisa tidur. Keesokan harinya ia tidak bisa pergi ke sekolah.
Hari itu juga ibunya membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata ia harus menjalani rawat inap. Anak itu merasa takut terhadap ayahnya, karena ia tidak patuh terhadap ayahnya. Ketika ayahnya datang berkunjung, ia semakin takut. Hatinya berdebar kencang. Dalam kondisi seperti itu, tubuhnya semakin sakit. Demamnya semakin meninggi. Ia menggigil.
Ia takut dimarahi. Ia takut kalau-kalau ayahnya akan memukulnya. Dalam hati ia berdoa, “Tuhan, bantulah aku. Tahanlah tangan ayah saya, agar dia tidak memukul saya.” Sementara itu, sakitnya bertambah parah.
Tetapi yang dipikirkannya itu tidak terjadi. Justru ayahnya tersenyum kepadanya. Ayahnya mengelus-elus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Lantas ayahnya berkata, “Nak, papa tidak memarahimu. Papa memaafkanmu.”
Kata-kata itu membangkit semangat dalam diri anak itu. Tidak lama kemudian ia sembuh. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Panas tubuhnya pun turun menjadi normal. Ia memeluk ayahnya erat-erat. Ia berkata, “Ayah, mari kita pulang. Saya sudah sembuh.”
Sahabat, pengampunan ternyata menjadi obat yang mujarab bagi mereka yang sakit. Kata-kata pengampunan itu memberikan makna yang terdalam bagi hidup manusia. Manusia menemukan kembali jati dirinya sebagai orang yang pantas dikasihi. Kemarahan hanya membuat orang terkungkung dalam penderitaan.
Karena itu, orang yang sakit mesti diberi suntikan pengampunan. Pengampunan itu bersumber dari kasih yang memberi hidup. Kasih yang senantiasa memberi semangat untuk menemukan hidup ini semakin baik dan indah. Hidup yang demikian adalah hidup yang dikehendaki oleh Tuhan.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memberikan semangat hidup kepada sesama yang berada dalam kondisi lemah dan sakit. Kita memberi hiburan dan kekuatan yang mampu membantu mereka yang sedang sakit dapat segera sembuh kembali. Dengan demikian, mereka mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
620
" Bagikan
02 Desember 2009
Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita
Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita
Seorang ibu menderita kanker indung telur stadium empat. Tiga setengah tahun lalu dokter mengatakan bahwa ia hanya punya waktu empat bulan lagi untuk hidup. Dokter tidak berani mengadakan operasi pengangkatan rahim. Untuk sembuh kembali, ia mesti menjalani kemoterapi. Setelah menjalani kemoterapi sebanyak enam kali, kanker itu hilang. Kini ia masih hidup.
Hal yang sangat ajaib bagi ibu itu adalah saat-saat menghadapi perjalanan hidup yang tidak menentu itu. Kadang-kadang ia merasa begitu kuat untuk menghadapi penyakitnya itu. Namun kadang-kadang pula ia merasa tidak memiliki kekuatan. Ia merasa lemas, ketika mendengar sesama temannya yang menjalani kemoteraspi satu per satu meninggal dunia.
Ia berkata, “Saya tidak bisa mengerti mengapa saya masih hidup. Padahal banyak teman-teman saya yang menjalani kemo dengan saya meninggal dunia. Tetapi satu hal yang pasti adalah saya selalu berdoa kepada Tuhan. Saya yakin kekuatan doa itu telah memberi semangat kepada saya.”
Selama menjalani proses penyembuhan atas penyakitnya, ibu ini selalu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia pasrah kepada Tuhan. Apa pun yang akan terjadi atas dirinya, ia serahkan seluruhnya kepada Tuhan. Baginya, hanya Tuhan yang dapat mengatasi penyakitnya.
Ia berkata, “Saya yakin, Tuhan masih mencintai saya. Tuhan tidak pernah meninggalkan saya berjuang sendirian menghadapi penyakit ini. Terlalu berat kalau saya hanya menghadapinya sendiri.” Berkat keyakinannya itu, ia sembuh total dari kanker ganas itu.
Kisah seperti ini bagai suatu kisah khayalan. Namun ini sungguh-sungguh terjadi dalam hidup manusia. Ternyata Tuhan mau intervensi ke dalam perjalanan hidup manusia. Tuhan tidak membiarkan manusia menderita seorang diri. Tuhan mau melibatkan diri dalam suka dan duka hidup manusia.
Kesadaran akan hal ini sering kali kurang. Orang lebih mendahulukan kemampuannya, kekuatannya. Setelah orang mengalami jalan buntu, baru mereka berseru-seru kepada Tuhan. Pantaskah sikap demikian sebagai orang-orang yang mengimani Tuhan?
Untuk itu, sebagai orang beriman kita diajak untuk senantiasa melibatkan Tuhan dalam hidup kita sejak dini. Janganlah ketika kita mengalami kesulitan baru kita berseru minta tolong kepada Tuhan. Sejak awal kita mesti berusaha untuk selalu hidup bersama Tuhan. Sebenarnya Tuhan tidak jauh dari hidup kita. Ia ada di dalam hati kita. Ia ada di dalam saku kita. Ia ada di dalam dompet kita. Bukankah kita percaya bahwa Tuhan itu ada di mana-mana?
Mari kita berserah diri kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Dia selalu menjadi bagian dalam perjuangan hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
248
Bagikan
" Bagikan
14 September 2009
Cacat Bukanlah Halangan untuk Maju
Rachmita Harahap adalah anak keempat dari enam bersaudara, anak Ali Harahap dan Masniarti Siregar. Fisik ayah dan ibunya sempurna, tetapi empat di antara anak mereka, termasuk Mita cacat pendengaran. Saat kecil, Mita tidak menyadari cacatnya. Ia baru tahu saat duduk di bangku SD. Tetapi hal itu tidak membuatnya minder. Ia bersekolah di SD Fransiskus Bukittinggi, Sumatera Barat. Awalnya, semua berjalan lancar, tetapi di kelas 4, ia tidak naik kelas, karena gangguan pendengaran yang dialaminya.
Sejak itu, Mita memakai alat bantu dengar dan sekolah di SLB. Juga setelah keluarga mereka pindah ke Surabaya, ia kembali sekolah di SLB Karya Mulia. Namun, ia tidak kerasan karena merasa pelajaran di SLB tertinggal dari sekolah umum. Ia hanya tahan satu tahun di SLB. Ketika kelas 6, ia pindah ke SD umum. Namun, karena cacatnya, ia sering diolok-olok teman-temannya, tetapi ia tidak peduli. Selain itu, karena menyadari cacat pendengaran, ia memilih duduk di depan. Namun, karena posturnya tinggi, ia menghalangi anak-anak yang duduk di belakangnya. Hal itu membuat teman-temannya kesal, tetapi ia pura-pura tidak tahu. Ia lulus SD dengan menduduki ranking ke-20.
Di SMP dan SMA, ia juga masuk sekolah umum dan selalu masuk ranking sepuluh besar. Hal itu membuatnya bertekad untuk melanjutkan sekolah ke universitas. Ia mendaftarkan diri ke jurusan arsitektur Universitas Mercu Buana, Jakarta. Ternyata pilihannya tidak salah. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam tempo empat setengah tahun dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik.
September 1997, Mita masuk S2 teknik desain interior ITB dan ia kembali menunjukkan kemampuannya bersaing dengan mahasiswa normal. Dalam waktu dua setengah tahun kuliahnya selesai. Saat ini, ia menjadi dosen di UMB. Meskipun awalnya sempat mengalami banyak tantangan, ia berhasil melewati semuanya.
Kisah Mita memberikan suatu semangat kepada para penderita cacat. Mereka yang mengalami cacat fisik tidak mesti putus asa dalam hidup ini. Ada banyak kesempatan yang dapat mereka lakukan, kalau mereka punya kemauan dan tekad baja untuk sukses dalam hidup ini.
Memang, mesti diakui bahwa cacat fisik sering kali membuat seseorang minder dan patah semangat. Namun Mita tidak mau menyerah, ketika menyadari cacat pendengarannya. Ia maju terus menghadapi berbagai tantangan. Ia membuktikan bahwa ia tidak kalah dengan orang yang normal. Cacat tidak perlu menghalangi prestasi seseorang.
Sebagai orang beriman, kita mesti sadar bahwa hidup kita selalu berada dalam naungan Tuhan. Dia akan membantu kita dengan memberikan kekuatan-Nya. Dia dapat membantu orang yang mengalami cacat fisiknya untuk terus-menerus berusaha dan maju. Namun Tuhan juga menuntut bahwa orang yang punya kekurangan dalam hidupnya itu mesti terus-menerus berjuang. Orang tidak boleh terpuruk dalam kekurangannya itu.
Kekurangan yang ada dalam diri kita mesti menjadi pemacu semangat untuk berusaha meraih sukses dalam hidup kita. Mari kita singkirkan semua penghalang dalam diri kita. Kita terus memiliki semangat untuk tetap maju dan berkembang dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
166