Pages

Tampilkan postingan dengan label kekuatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kekuatan. Tampilkan semua postingan

12 Februari 2014

Tuhan Tahu Kekuatan Kita



Tuhan senantiasa menyayangi umat manusia. Paling tidak ini yang senantiasa menghiasi hidup orang beriman. Tetapi sering hal ini kita lupakan. Di saat kita mengalami derita, kita malahan berjuang sendiri. Lantas kita merasa bahwa Tuhan tidak peduli terhadap hidup kita lagi.

Awal tahun ajaran baru, seorang ibu dibuat pusing tujuh keliling. Pasalnya, ia mesti membayar uang pembangunan untuk tiga orang anaknya yang baru masuk sekolah. Suaminya tidak bisa membantunya lagi, karena sang suami telah meninggalkan ia sendirian. Ibu itu sangat panik. Dari mana ia mendapatkan uang untuk membiayai sekolah anak-anaknya?

Dalam kondisi seperti itu, ia berdoa, "Tuhan, awal tahun ajaran ini saya harus melunasi biaya sekolah anak-anak saya. Bantu saya, Tuhan."

Ia lalu duduk di kursi. Air matanya turun satu satu membasahi wajahnya. Ia juga menahan sakit kepala yang sudah dua minggu dia alami. Ibu ini begitu tertekan oleh situasi hidup keluarganya. Ia tidak ingin ketiga anaknya putus sekolah. Ia ingin mereka meraih sukses dalam hidup dengan memiliki pendidikan yang lebih baik.

Meski mengalami stress, ibu itu tidak putus asa. Ia mau bangkit. Ia mendatangi kakaknya yang seorang pengusaha sukses. Ia menceritakan semua kondisi hidup keluarganya. Sang kakak terharu oleh kisah-kisahnya. Serta merta ia membantu biaya sekolah ketiga keponakannya itu. Tidak hanya itu. Ia juga membantu adiknya dengan modal untuk berjualan di rumah.

“Adik, saya tahu kamu sangat menderita. Kamu mesti menghidupi keluargamu sendirian. Tetapi Tuhan tahu kekuatanmu. Serahkan hidupmu kepada Tuhan,” kata sang kakak.

Ibu itu merasa tenang. Ia tidak perlu panik lagi. Ia boleh mendapatkan bantuan dari Tuhan melalui sang kakak yang baik hati itu. Ia mensyukuri kebaikan Tuhan itu dengan memulai usaha berjualan di rumah. Tahun-tahun pun berlalu. Ibu itu berhasil dalam usahanya. Ketiga anaknya dapat ia sekolahkan dengan baik.

Sahabat, banyak orang begitu mudah kehilangan iman di saat mereka dilanda persoalan-persoalan hidup. Mereka merasa bahwa mereka tidak punya kemampuan untuk bangkit dari persoalan-persoalan hidup. Mereka mudah menyerah pada kenyataan hidup yang runyam. Atau mereka mencari hal-hal gaib lain dengan meninggalkan Tuhan yang mereka imani.

Kisah di atas memberi kita inspirasi bahwa Tuhan senantiasa bekerja dalam kehidupan kita. Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu tidak meninggalkan kita terpuruk dalam susah dan derita hidup kita. Justru melalui berbagai cara Tuhan ingin senantiasa membantu kita. Yang penting adalah kita tetap membuka hati kita bagi bantuan Tuhan atas diri kita.

Memang, tidak gampang kita berserah diri kepada Tuhan. Ada saja berbagai godaan yang membawa kita untuk mengambil jalan pintas dalam hidup ini. Tetapi kita mesti ingat bahwa Tuhan tetap menyayangi kita. Bukankah kita adalah ciptaan-Nya yang paling berharga? Bukankah Tuhan telah menempatkan kita di dunia ini sesuai dengan rencana-Nya sendiri?

Untuk itu, kita mesti yakin bahwa hanya Tuhan yang mampu memberi kita jalan yang terbaik untuk meraih kebahagiaan. Tuhan tahu kekuatan kita. Dia akan turun tangan, ketika kita terjebak dalam persoalan-persoalan hidup. Mari kita serahkan hidup kita kepada Tuhan yang selalu menyayangi kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk memuliakan nama Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1047

25 Februari 2013

Tuhan adalah Kekuatan dalam Hidup

 
Apa yang akan Anda lakukan saat Anda berada dalam masa-masa yang sulit? Anda putus asa? Anda mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidup Anda?

Beberapa waktu lalu terbetik berita seorang ibu menggantung anak kandungnya sendiri. Situasi ekonomi yang sulit menjadi penyebab perbuatan nekad ibu tersebut. Hidup ini seolah-olah tidak punya arti apa-apa lagi. Ia putus asa menghadapi hidup yang tidak menentu ini.

Tekanan hidup yang begitu besar membuat ia mengambil jalan pintas. Seutas tali menjadi keputusan untuk mengakhiri nyawa anaknya. Tentu saja tindakan ini bukan tindakan yang terpuji. Tindakan mengenyahkan nyawa orang lain merupakan tindakan melawan kehendak Tuhan. Yang dikehendaki Tuhan adalah manusia hidup damai dan bahagia. Yang dikehendaki Tuhan adalah manusia memelihara hidup dirinya dan sesamanya.

Sahabat, di masa-masa sukar seperti sekarang ini banyak orang mengalami tekanan hidup yang sangat berat. Banyak dari mereka yang mengalami frustrasi, kecewa dan putus asa. Akibatnya, orang mengambil tindakan bodoh mendahului tindakan Tuhan.

Orang kemudian tidak bisa mengandalkan Tuhan. Mereka lari meninggalkan Tuhan. Bahkan mereka menuduh Tuhan tidak peduli terhadap hidup mereka. Tentu saja hal ini tidak mencerminkan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan. Bukankah Tuhan tetap memberikan perlindungan bagi hidup manusia? Bukankah Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendirian?

Kondisi terpuruk karena frustrasi, kecewa dan putus asa memudahkan orang untuk mengambil jalan pintas. Orang mengikuti bisikan si jahat untuk mengambil jalan pintas itu. Kehidupan yang damai hilang dari kehidupan ini. Orang tidak peduli lagi terhadap nilai-nilai kehidupan yang semestinya diperjuangkan terus-menerus. Akibatnya, mata orang menjadi gelap. Tidak ada lagi jalan untuk menyelamatkan kehidupan.

Tentu saja orang beriman adalah orang yang tegar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Mengapa orang beriman mesti tegar? Karena orang beriman memiliki Tuhan yang selalu menyertai perjalanan hidupnya. Seorang kudus mengatakan bahwa segala perkara dapat ia tanggung di dalam Tuhan yang memberi kekuatan kepadanya.

Inilah iman yang benar. Orang yang punya iman yang benar selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Tuhan menjadi benteng hidupnya. Tuhan menjadi kekuatan bagi hidupnya. Tidak ada kekuatan lain yang dapat mengalahkannya, karena kuasa Tuhan tak tertandingi. Inilah iman yang mesti selalu dipegang teguh oleh orang beriman.

Karena itu, berserah diri menjadi satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari rasa frustrasi, kecewa dan putus asa. Mari kita tingkatkan hidup iman kita kepada Tuhan. Kita move on dan move up untuk meninggalkan kesulitan-kesulitan hidup di belakang kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

949

15 September 2012

Gunakan Kekuatan Pikiran untuk Kesejahteraan


Seorang bijak berkata, “Semuanya itu jelas bagi yang cerdas, lurus bagi yang berpengetahuan.” Dalam konteks ini, kita diajak untuk merefleksikan potensi-potensi yang ada dalam diri kita.

“Ada cukup energi atom dalam pikiran manusia untuk meledakkan kota New York,” kata Dr Norman Vincent Peale.

Menurut penulis buku laris The Power of Positive Thinking ini, pikiran manusia memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan pikiran itu mampu membuat manusia menguasai dunia. Kalau kekuatan pikiran manusia ini sepenuhnya digunakan oleh manusia, hal-hal yang luar biasa akan terjadi. Sampai saat ini, setiap orang hanya mampu menggunakan kekuatan pikirannya sebanyak 10 persen. Lalu ke mana 90 persen kekuatan pikiran manusia yang lain?

Ternyata manusia belum menggunakan kekuatan pikirannya seratus persen. Ada berbagai sebab. Namun satu hal yang pasti adalah manusia tidak menggunakan pikirannya untuk berpikir secara positif. Banyak orang menggunakan pikirannya untuk hal-hal negatif. Akibatnya, pikirannya terkungkung oleh hal-hal negatif yang tidak menumbuhkan dirinya. Hal-hal negatif itu justru mengerdilkan dirinya.

Ada data yang menarik, yaitu si jenius teori relativitas, Albert Einstein menggunakan hanya 15 persen potensi pikirannya. Pikiran manusia memiliki kuasa yang super dahsyat, namun manusia menyia-nyiakan 90 persen dari daya ini. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sahabat, manusia diciptakan Tuhan dengan potensi-potensi. Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan kosong. Tuhan tidak menciptakan manusia seperti kertas putih. Di dalam diri manusia yang masih lemah gemulai yang lahir dari seorang perempuan itu sudah tertera potensi-potensi dirinya. Hal ini termasuk potensi yang ada dalam pikirannya.

Sayang, potensi-potensi itu sering ditelantarkan oleh manusia. Manusia yang hidup dalam kungkungan budaya yang ketat akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan dirinya secara kreatif. Orang seperti ini cenderung merasa enggan untuk mengembangkan dirinya. Orang seperti ini lebih curiga terhadap kemajuan-kemajuan zaman. Orang seperti ini tidak percaya pada kreativitas dalam hidup. Prinsipnya adalah hidup biasa-biasa saja sudah cukup, kok mau bersusah-susah.

Sebaliknya, orang yang memiliki kesempatan untuk menumbuhkan potensi dirinya akan berusaha semaksimal mungkin menggunakan pikiran dan tenaganya untuk membangun hidup. Orang seperti ini akan kreatif dalam hidupnya. Ia terus-menerus melakukan invoasi-inovasi baru untuk meraih sukses dalam hidupnya. Orang seperti berusaha menggunakan pikirannya untuk hal-hal yang baik. Ia berusaha berpikir positif dalam hidupnya.

Bagi orang beriman, menggunakan kekuatan pikiran untuk kesejahteraan manusia menjadi suatu ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan. Tuhan telah memberikan potensi diri itu dengan cuma-cuma. Karena itu, manusia mesti menggunakannya dengan baik untuk kebahagiaan manusia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

KOMSOS KAPal

918

20 Februari 2011

Pengampunan Itu Kekuatan yang Menyembuhkan


Seorang anak mudah sekali sakit. Capek sedikit saja ia akan batuk-batuk lalu demam dan sakit. Ia harus beristirahat satu atau dua hari agar tubuhnya kembali sehat. Ibunya sering cemas menyaksikan kondisi anaknya seperti itu. Ia sudah berusaha untuk mengatasi kondisi anaknya. Namun namanya saja anak kecil. Tidak gampang mengarahkan anaknya itu untuk mengikuti setiap nasihatnya.

Suatu hari anak itu jatuh sakit. Soalnya sebenarnya sepele saja. Waktu hujan deras menerpa kota, anak itu bermain hujan-hujanan. Ia lari ke sana ke mari. Ayahnya sudah memperingatkannya, namun ia tidak mau berhenti juga. Bahkan ayahnya mengancamnya, ia tidak mau patuh juga. Akibatnya, ia menggigil di waktu malam. Badannya panas. Ia tidak bisa tidur. Keesokan harinya ia tidak bisa pergi ke sekolah.

Hari itu juga ibunya membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata ia harus menjalani rawat inap. Anak itu merasa takut terhadap ayahnya, karena ia tidak patuh terhadap ayahnya. Ketika ayahnya datang berkunjung, ia semakin takut. Hatinya berdebar kencang. Dalam kondisi seperti itu, tubuhnya semakin sakit. Demamnya semakin meninggi. Ia menggigil.

Ia takut dimarahi. Ia takut kalau-kalau ayahnya akan memukulnya. Dalam hati ia berdoa, “Tuhan, bantulah aku. Tahanlah tangan ayah saya, agar dia tidak memukul saya.” Sementara itu, sakitnya bertambah parah.

Tetapi yang dipikirkannya itu tidak terjadi. Justru ayahnya tersenyum kepadanya. Ayahnya mengelus-elus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Lantas ayahnya berkata, “Nak, papa tidak memarahimu. Papa memaafkanmu.”

Kata-kata itu membangkit semangat dalam diri anak itu. Tidak lama kemudian ia sembuh. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Panas tubuhnya pun turun menjadi normal. Ia memeluk ayahnya erat-erat. Ia berkata, “Ayah, mari kita pulang. Saya sudah sembuh.”

Sahabat, pengampunan ternyata menjadi obat yang mujarab bagi mereka yang sakit. Kata-kata pengampunan itu memberikan makna yang terdalam bagi hidup manusia. Manusia menemukan kembali jati dirinya sebagai orang yang pantas dikasihi. Kemarahan hanya membuat orang terkungkung dalam penderitaan.

Karena itu, orang yang sakit mesti diberi suntikan pengampunan. Pengampunan itu bersumber dari kasih yang memberi hidup. Kasih yang senantiasa memberi semangat untuk menemukan hidup ini semakin baik dan indah. Hidup yang demikian adalah hidup yang dikehendaki oleh Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memberikan semangat hidup kepada sesama yang berada dalam kondisi lemah dan sakit. Kita memberi hiburan dan kekuatan yang mampu membantu mereka yang sedang sakit dapat segera sembuh kembali. Dengan demikian, mereka mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

620

02 Desember 2009

Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita

Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita

Seorang ibu menderita kanker indung telur stadium empat. Tiga setengah tahun lalu dokter mengatakan bahwa ia hanya punya waktu empat bulan lagi untuk hidup. Dokter tidak berani mengadakan operasi pengangkatan rahim. Untuk sembuh kembali, ia mesti menjalani kemoterapi. Setelah menjalani kemoterapi sebanyak enam kali, kanker itu hilang. Kini ia masih hidup.


Hal yang sangat ajaib bagi ibu itu adalah saat-saat menghadapi perjalanan hidup yang tidak menentu itu. Kadang-kadang ia merasa begitu kuat untuk menghadapi penyakitnya itu. Namun kadang-kadang pula ia merasa tidak memiliki kekuatan. Ia merasa lemas, ketika mendengar sesama temannya yang menjalani kemoteraspi satu per satu meninggal dunia.


Ia berkata, “Saya tidak bisa mengerti mengapa saya masih hidup. Padahal banyak teman-teman saya yang menjalani kemo dengan saya meninggal dunia. Tetapi satu hal yang pasti adalah saya selalu berdoa kepada Tuhan. Saya yakin kekuatan doa itu telah memberi semangat kepada saya.”


Selama menjalani proses penyembuhan atas penyakitnya, ibu ini selalu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia pasrah kepada Tuhan. Apa pun yang akan terjadi atas dirinya, ia serahkan seluruhnya kepada Tuhan. Baginya, hanya Tuhan yang dapat mengatasi penyakitnya.


Ia berkata, “Saya yakin, Tuhan masih mencintai saya. Tuhan tidak pernah meninggalkan saya berjuang sendirian menghadapi penyakit ini. Terlalu berat kalau saya hanya menghadapinya sendiri.” Berkat keyakinannya itu, ia sembuh total dari kanker ganas itu.


Kisah seperti ini bagai suatu kisah khayalan. Namun ini sungguh-sungguh terjadi dalam hidup manusia. Ternyata Tuhan mau intervensi ke dalam perjalanan hidup manusia. Tuhan tidak membiarkan manusia menderita seorang diri. Tuhan mau melibatkan diri dalam suka dan duka hidup manusia.


Kesadaran akan hal ini sering kali kurang. Orang lebih mendahulukan kemampuannya, kekuatannya. Setelah orang mengalami jalan buntu, baru mereka berseru-seru kepada Tuhan. Pantaskah sikap demikian sebagai orang-orang yang mengimani Tuhan?


Untuk itu, sebagai orang beriman kita diajak untuk senantiasa melibatkan Tuhan dalam hidup kita sejak dini. Janganlah ketika kita mengalami kesulitan baru kita berseru minta tolong kepada Tuhan. Sejak awal kita mesti berusaha untuk selalu hidup bersama Tuhan. Sebenarnya Tuhan tidak jauh dari hidup kita. Ia ada di dalam hati kita. Ia ada di dalam saku kita. Ia ada di dalam dompet kita. Bukankah kita percaya bahwa Tuhan itu ada di mana-mana?


Mari kita berserah diri kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Dia selalu menjadi bagian dalam perjuangan hidup kita. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

14 September 2009

Cacat Bukanlah Halangan untuk Maju





Rachmita Harahap adalah anak keempat dari enam bersaudara, anak Ali Harahap dan Masniarti Siregar. Fisik ayah dan ibunya sempurna, tetapi empat di antara anak mereka, termasuk Mita cacat pendengaran. Saat kecil, Mita tidak menyadari cacatnya. Ia baru tahu saat duduk di bangku SD. Tetapi hal itu tidak membuatnya minder. Ia bersekolah di SD Fransiskus Bukittinggi, Sumatera Barat. Awalnya, semua berjalan lancar, tetapi di kelas 4, ia tidak naik kelas, karena gangguan pendengaran yang dialaminya.

Sejak itu, Mita memakai alat bantu dengar dan sekolah di SLB. Juga setelah keluarga mereka pindah ke Surabaya, ia kembali sekolah di SLB Karya Mulia. Namun, ia tidak kerasan karena merasa pelajaran di SLB tertinggal dari sekolah umum. Ia hanya tahan satu tahun di SLB. Ketika kelas 6, ia pindah ke SD umum. Namun, karena cacatnya, ia sering diolok-olok teman-temannya, tetapi ia tidak peduli. Selain itu, karena menyadari cacat pendengaran, ia memilih duduk di depan. Namun, karena posturnya tinggi, ia menghalangi anak-anak yang duduk di belakangnya. Hal itu membuat teman-temannya kesal, tetapi ia pura-pura tidak tahu. Ia lulus SD dengan menduduki ranking ke-20.

Di SMP dan SMA, ia juga masuk sekolah umum dan selalu masuk ranking sepuluh besar. Hal itu membuatnya bertekad untuk melanjutkan sekolah ke universitas. Ia mendaftarkan diri ke jurusan arsitektur Universitas Mercu Buana, Jakarta. Ternyata pilihannya tidak salah. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam tempo empat setengah tahun dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik.

September 1997, Mita masuk S2 teknik desain interior ITB dan ia kembali menunjukkan kemampuannya bersaing dengan mahasiswa normal. Dalam waktu dua setengah tahun kuliahnya selesai. Saat ini, ia menjadi dosen di UMB. Meskipun awalnya sempat mengalami banyak tantangan, ia berhasil melewati semuanya.

Kisah Mita memberikan suatu semangat kepada para penderita cacat. Mereka yang mengalami cacat fisik tidak mesti putus asa dalam hidup ini. Ada banyak kesempatan yang dapat mereka lakukan, kalau mereka punya kemauan dan tekad baja untuk sukses dalam hidup ini.

Memang, mesti diakui bahwa cacat fisik sering kali membuat seseorang minder dan patah semangat. Namun Mita tidak mau menyerah, ketika menyadari cacat pendengarannya. Ia maju terus menghadapi berbagai tantangan. Ia membuktikan bahwa ia tidak kalah dengan orang yang normal. Cacat tidak perlu menghalangi prestasi seseorang.

Sebagai orang beriman, kita mesti sadar bahwa hidup kita selalu berada dalam naungan Tuhan. Dia akan membantu kita dengan memberikan kekuatan-Nya. Dia dapat membantu orang yang mengalami cacat fisiknya untuk terus-menerus berusaha dan maju. Namun Tuhan juga menuntut bahwa orang yang punya kekurangan dalam hidupnya itu mesti terus-menerus berjuang. Orang tidak boleh terpuruk dalam kekurangannya itu.

Kekurangan yang ada dalam diri kita mesti menjadi pemacu semangat untuk berusaha meraih sukses dalam hidup kita. Mari kita singkirkan semua penghalang dalam diri kita. Kita terus memiliki semangat untuk tetap maju dan berkembang dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



166