02 Februari 2013
Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita
" Bagikan
11 Januari 2010
Membiarkan Tuhan Terlibat dalam Hidup Kita
Benyamin Langham tidak beda dengan balita lainnya. Tetapi ia lahir dari keluarga yang sebelumnya dinyatakan tidak mungkin bisa mendapatkan keturunan. Ayah kandung Benyamin lumpuh total. Namun keajaiban terjadi.
Orangtua Benyamin mengikuti suatu pilot project yang dijalankan di sebuah klinik kesuburan terkenal di London. Pelopor pengobatan baru yang memungkinkan jutaan pasangan tak subur lainnya memiliki keturunan. Di Inggris, setiap tahun tercatat 400 pria muda mengalami kecelakaan fatal yang membuat mereka lumpuh dari pinggang ke bawah. Secara teoritis, kecelakaan seperti itu membuat mereka tidak mungkin bisa membuahi atau mempunyai anak.
Melalui pilot project di London itu, ayah Benyamin dapat mengikuti berbagai program. Akhirnya, ia dapat mempunyai anak. Benyamin lahir dari pilot project itu. Ia lahir sebagai anak yang istimewa, karena secara normal sebenarnya ayahnya sudah tidak mampu lagi mempunyai anak.
Kisah seperti di atas juga kadang-kadang terjadi di sekitar kita. Ada keluarga yang sudah lama menikah, tetapi belum dikaruniai anak. Banyak dari mereka yang terus-menerus berusaha untuk memiliki anak kandung sendiri. Berkat kerja keras dari pasangan seperti ini suatu ketika Tuhan mengaruniakan kepada mereka buah hati yang mereka dambakan. Tentu saja mereka akan sangat mensyukuri hal ini.
Sebagai orang beriman, hal ini mesti dilihat dari terang iman. Artinya, ada campur tangan Tuhan dalam proses-proses yang terjadi secara ajaib seperti ini. Kalau Tuhan tidak ikut campur tangan dalam hal-hal seperti ini, maka apa pun usaha manusia akan sia-sia belaka.
Seorang yang memiliki maksud baik untuk kelangsungan generasinya tentu tidak akan memalingkan diri begitu saja dari penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Baginya, Tuhan mesti mendapat tempat utama dalam hidupnya. Tuhan mesti menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Hidup yang ia jalani ini berkat kasih karunia Tuhan atas dirinya.
Ada orang yang membanggakan semua maksud baiknya dan keberhasilan dalam hidupnya sebagai usaha-usahanya sendiri. Ini baik. Tetapi ia juga mesti sadar bahwa ia selalu bersama orang lain dan Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Karena itu, suatu kesombongan hanya akan membawa orang seperti ini ke dalam jurang kebinasaan.
Karena itu, sebagai orang beriman kita ingin agar hidup dan karya kita senantiasa berjalan di bawah bimbingan Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang. Orang yang berada di bawah naungan Tuhan akan selalu mengalami kebahagiaan. Ia tidak merasa hidup ini sebagai suatu keterpaksaan. Justru ia akan mengalami suatu sikap bebas dalam mengekspresikan dirinya. Syaratnya adalah orang mau menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Orang membiarkan Tuhan terlibat dalam hidupnya.
Mari kita berusaha untuk hidup di bawah naungan Tuhan. Kita menciptakan suasana, agar Tuhan mau terlibat dalam persoalan-persoalan hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
293
Bagikan
" Bagikan
02 Desember 2009
Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita
Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita
Seorang ibu menderita kanker indung telur stadium empat. Tiga setengah tahun lalu dokter mengatakan bahwa ia hanya punya waktu empat bulan lagi untuk hidup. Dokter tidak berani mengadakan operasi pengangkatan rahim. Untuk sembuh kembali, ia mesti menjalani kemoterapi. Setelah menjalani kemoterapi sebanyak enam kali, kanker itu hilang. Kini ia masih hidup.
Hal yang sangat ajaib bagi ibu itu adalah saat-saat menghadapi perjalanan hidup yang tidak menentu itu. Kadang-kadang ia merasa begitu kuat untuk menghadapi penyakitnya itu. Namun kadang-kadang pula ia merasa tidak memiliki kekuatan. Ia merasa lemas, ketika mendengar sesama temannya yang menjalani kemoteraspi satu per satu meninggal dunia.
Ia berkata, “Saya tidak bisa mengerti mengapa saya masih hidup. Padahal banyak teman-teman saya yang menjalani kemo dengan saya meninggal dunia. Tetapi satu hal yang pasti adalah saya selalu berdoa kepada Tuhan. Saya yakin kekuatan doa itu telah memberi semangat kepada saya.”
Selama menjalani proses penyembuhan atas penyakitnya, ibu ini selalu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia pasrah kepada Tuhan. Apa pun yang akan terjadi atas dirinya, ia serahkan seluruhnya kepada Tuhan. Baginya, hanya Tuhan yang dapat mengatasi penyakitnya.
Ia berkata, “Saya yakin, Tuhan masih mencintai saya. Tuhan tidak pernah meninggalkan saya berjuang sendirian menghadapi penyakit ini. Terlalu berat kalau saya hanya menghadapinya sendiri.” Berkat keyakinannya itu, ia sembuh total dari kanker ganas itu.
Kisah seperti ini bagai suatu kisah khayalan. Namun ini sungguh-sungguh terjadi dalam hidup manusia. Ternyata Tuhan mau intervensi ke dalam perjalanan hidup manusia. Tuhan tidak membiarkan manusia menderita seorang diri. Tuhan mau melibatkan diri dalam suka dan duka hidup manusia.
Kesadaran akan hal ini sering kali kurang. Orang lebih mendahulukan kemampuannya, kekuatannya. Setelah orang mengalami jalan buntu, baru mereka berseru-seru kepada Tuhan. Pantaskah sikap demikian sebagai orang-orang yang mengimani Tuhan?
Untuk itu, sebagai orang beriman kita diajak untuk senantiasa melibatkan Tuhan dalam hidup kita sejak dini. Janganlah ketika kita mengalami kesulitan baru kita berseru minta tolong kepada Tuhan. Sejak awal kita mesti berusaha untuk selalu hidup bersama Tuhan. Sebenarnya Tuhan tidak jauh dari hidup kita. Ia ada di dalam hati kita. Ia ada di dalam saku kita. Ia ada di dalam dompet kita. Bukankah kita percaya bahwa Tuhan itu ada di mana-mana?
Mari kita berserah diri kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Dia selalu menjadi bagian dalam perjuangan hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
248
Bagikan
" Bagikan