Pages

Tampilkan postingan dengan label kesetiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesetiaan. Tampilkan semua postingan

19 Oktober 2015

Bersimpuh di Hadapan Tuhan Sang Damai Sejati

 
Pernahkah Anda merasa sepi dalam hidup ini? Pernahkah Anda merasa Tuhan jauh dari hidup Anda? Apa yang Anda lakukan?

Suatu malam seseorang bermimpi. Dia mimpi berjalan bersama Tuhan di sepanjang tepian pantai. Di ujung langit sana tergambar peristiwa-peristiwa dari kehidupannya. Di setiap kejadian, ia memperhatikan ada dua pasang jejak kaki di permukaan pasir, satu punyanya dan lainnya jejak kaki Tuhan.

Pada penayangan dari peristiwa itu di akhir hidupnya, dia kembali melihat jejak kaki di permukaan pasir itu. Dia memperhatikan bahwa banyak kali di dalam kehidupannya hanya ada satu jejak kaki. Dia memperhatikan bahwa saat-saat itu adalah saat-saat genting dan penuh kesedihan. Hal itu sungguh membingungkannya.

Lantas ia bertanya kepada Tuhan tentang hal ini, ”Tuhan, Engkau berkata bahwa sekali aku memutuskan untuk mengikut-Mu, Engkau berjanji akan berjalan selamanya bersamaku. Tetapi aku juga memperhatikan, pada masa aku mengalami kesukaran dalam hidupku, hanya ada satu pasang jejak kaki. Aku sungguh tidak mengerti mengapa di saat-saat aku membutuhkanMu, malah Engkau meninggalkanku.”

Tuhan menjawab, ”Anak-Ku yang Kukasihi, Aku mengasihimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Pada saat-saat pencobaan dan penderitaanmu, saat di mana engkau hanya melihat ada satu pasang jejak kaki, itulah saat di mana Aku menggendong engkau.”



Tuhan adalah Setia

Banyak orang merasa bahwa Tuhan tidak peduli terhadap hidup mereka. Apalagi di saat-saat susah dan derita. Akibatnya, mereka berjuang sendiri dalam hidup ini. Mereka berusaha sendiri tanpa bantuan Tuhan. Padahal Tuhan senantiasa menawarkan bantuan-Nya.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan hidup manusia. Bahkan Tuhan menggendong manusia di saat-saat susah hidupnya. Sering manusia lupa akan hal ini. Sering manusia tidak peduli terhadap penyertaan Tuhan. Manusia berusaha menjauh dari Tuhan melalui kesalahan dan dosa-dosanya.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh manusia? Yang mesti dilakukan oleh manusia adalah kembali kepada Tuhan. Manusia mesti mempersilakan Tuhan untuk hadir dan bekerja di dalam dirinya. Manusia membiarkan Tuhan masuk dan tinggal di dalam dirinya. Dengan demikian, manusia senantiasa mengalami kasih dan kebaikan Tuhan.

Memang, tidak mudah untuk kembali kepada Tuhan. Apalagi manusia yang telah merasakan nikmatinya dosa. Manusia lebih suka tenggelam dalam lumpur dosa. Padahal dalam kondisi seperti itu yang dialami hanyalah kedamaian semu. Untuk itu, manusia mesti selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Kalau manusia ingin memiliki damai yang sejati, manusia mesti menerima Tuhan dalam hidupnya.

Yang mesti selalu diingat adalah Tuhan senantiasa menuntun hidup manusia dalam untung dan malang. Tentang Tuhan yang baik, seorang bijak berkata, ”Sampai masa tuamu Aku tetap Tuhan dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu” (Yesaya 46:4a). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang (masih) Kota Asap



1173b

14 Januari 2014

Kesetiaan dalam Penantian yang Panjang

 


Pernahkah Anda bayangkan bagaimana seorang istri menjalani hari-hari sebagai pasangan seorang serdadu yang tengah bertugas di medan pertempuran? Bukan perkara mudah untuk menjalaninya, bukan? Terlebih, hari-hari selalu dihantui oleh ketidakpastian akan nasib orang yang dikasihi. Apalagi godaan-godaan terus-menerus membahayakan hubungan mereka.

Kisah-kisah penuh warna ini dijalani oleh Claudia Joy Holden, Denis Sherwood, Roxy LeBlanc dan Pamela Moran. Empat perempuan ini bersuamikan serdadu Amerika Serikat. Suami-suami mereka, ditugaskan di medan pertempuran.

Berbagai persoalan hidup muncul mewarnai kehidupan mereka. Dari menjalani kehidupan sebagai "single parent" atau orangtua tunggal hingga menanti ketidakpastian akan nasib suami-suami mereka. Sebuah kisah yang mengugah. Menyelami kehidupan penuh warna yang nyaris serupa dengan kehidupan nyata para pasangan tentara.

Mereka dituntut untuk tetap setia dalam penantian. Mereka mengisi penantian tak menentu itu dengan berbagai kegiatan. Mengurus anak dengan baik merupakan satu sisi kehidupan mereka. Karena itu, kehidupan mereka jauh dari kesepian. Sisi kehidupan seperti ini menjadi suatu keutamaan yang mereka jalani sehari-hari. Hasilnya adalah suatu situasi yang membahagiakan. Suatu situasi yang juga membanggakan atas tugas militer sang suami di medan laga.

Sahabat, dalam hidup sehari-hari kita semua juga sedang menanti. Ada yang sedang menanti orang yang dicintai. Ada yang menanti hadiah dari seseorang. Saya baru saja mendapat SMS dari seseorang. Ia berkata, “Tolong bantuin aku, Tuhan. Aku sekarang ini lagi nggak ada uang belanja. Aku tak tahu mau ke mana aku harus minta bantuan.”

Orang yang saya tidak kenal ini sangat membutuhkan bantuan. Ia ingin meneruskan perjalanan hidupnya yang masih panjang. Ia sedang menantikan uluran tangan orang-orang yang berkehendak baik. Ia sedang mengalami kesulitan hidup. Pantaskah ia berlama-lama menanti uluran tangan dari sesamanya? Bukankah hidupnya mesti berjalan terus? Bukankah ia tidak ingin hidupnya berhenti lantaran tidak mendapatkan sesuap nasi?

Tentu saja pesan sahabat kita satu ini membangunkan insting manusiawi kita untuk memberi dari apa yang kita miliki. Bukankah setiap manusia telah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki hati yang rela memberi? Karena itu, penantian penuh harapan dari sahabat kita satu ini sudah semestinya mendapatkan jawaban. Dengan demikian, ia dapat melanjutkan perjalanan hidupnya dengan senyum bahagia.

Mari kita memupuk hati kita untuk mudah tergugah oleh penantian panjang sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1025

04 Desember 2013

Meninggalkan Egoisme demi Kesetiaan




Apa yang akan Anda lakukan untuk mempertahankan kesetiaan Anda?

Shep adalah seekor anjing yang mengikuti tuannya tercinta ke mana-mana. Ketika tuannya pergi ke ladang yang luas, Shep tetap mengikutinya. Saat tuannya terperosok ke dalam jurang, Shep berusaha membantunya. Caranya dengan menggonggong sekuat-kuatnya, sehingga orang-orang yang lewat dapat membantu tuannya itu.

Ketika tuannya meninggal pada tahun 1936, Shep mengikuti peti mati tuannya ke stasiun kereta api di Fort Benton, Montana, Amerika Serikat. Ketika mereka menolaknya untuk ikut dalam kereta, Shep menunggu di halaman stasiun. Ia menunggu tuannya kembali. Selama enam tahun, Shep memeriksa setiap kereta yang tiba di stasiun untuk mengecek apakah tuannya telah kembali. Tetapi sang tuan tidak pernah kembali lagi.

Tragisnya, Shep ditabrak oleh kereta api yang lewat pada tahun 1942. Kesetiaan itu berakhir dengan kematian. Untuk mengenang kesetiaan anjing ini, dibangun sebuah patung perunggu besar untuk dirinya di sebuah taman kecil di dekat sebuah sungai. Di tugunya ada prasasti kecil dengan tulisan, "Forever Faithful", kesetiaan selama-lamanya.

Sahabat, kesetiaan tidak diraih dalam waktu yang singkat. Kesetiaan itu diraih melalui suatu proses. Ada pengalaman jatuh dan bangun dalam membangun kesetiaan yang kokoh kuat. Ada pengalaman pahit dan manis dalam mengarungi kesetiaan. Ketika orang jatuh ke dalam ketidaksetiaan, orang akan mengalami kegetiran dalam hidup. Orang mengalami hidup ini hampa, karena orang merasa mengkhianati kesetiaannya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap bertahan dalam kesetiaan. Anjing itu tidak melupakan kebaikan tuannya. Ia setia demi memiliki relasi yang tetap baik dengan sang tuan. Ia tidak peduli akan panas dan dingin yang dihadapinya. Yang penting adalah berjumpa dengan sang tuan yang pernah mengasihinya itu.

Kesetiaan itu menuntut korban dari manusia. Orang yang setia mesti meninggalkan egoismenya. Ketika seseorang dililit oleh egoismenya, kesetiaannya tidak bisa diandalkan. Orang seperti ini biasanya hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia menuntut orang lain untuk setia kepadanya. Ia tidak ingin orang lain mengkhianati kesetiaannya. Tetapi saat orang menuntut kesetiaannya, ia tidak mampu mempertahankannya. Ia mudah meninggalkan kesetiaannya itu. Mengapa? Karena ia hanya mau keinginan dirinya terpenuhi.

Karena itu, orang beriman mesti berusaha untuk tetap memiliki kesetiaannya. Komitmen yang telah dibuat dalam membangun relasi yang lebih dalam mesti selalu dipegang. Orang mesti berani berkorban demi mempertahankan kesetiaan itu. Hanya dengan berkorban, orang mampu bertahan dalam kesetiaan pada sesama dan komitmen yang telah dibuatnya.

Pengkhianatan hanya akan meninggalkan luka yang dalam bagi sesama yang telah begitu dekat dengan kita. Mari kita berusaha untuk senantiasa setia kepada sesama dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


997

16 Juni 2012

Membangun Kesetiaan Sejati dalam hidup Nyata

Apa yang akan Anda lakukan untuk mempertahankan kesetiaan Anda? Tentu ada banyak cara.

Ada seekor anjing yang setia menemani seeorang anak berusia 4 tahun di sebuah stasiun di kawasan penghasil anggur. Suatu ketika anak kecil itu tersesat saat ia berjalan bersama anjingnya. Anak itu sangat ketakutan, apalagi malam yang dingin begitu gelap.

Apa yang ia lakukan? Anak kecil itu berlindung di balik semak-semak. Ia juga memeluk anjingnya itu erat-erat, agar terhindar dari dinginnya malam itu. Keesokan harinya terjadi heboh atas diri anak itu. Orangtuanya mesti mencarinya ke mana-mana. Pihak polisi mengerahkan helikopter untuk mencari dirinya. Sementara anak itu hanya bisa mendengar suara helikopter. Dengan anjingnya, ia berjalan mencari rumah terdekat.

Setelah lama mencari, anak itu ditemukan bersama anjingnya. Anjing itu sangat setia kepada anak kecil itu. Ia tidak meninggalkan anak itu berjuang sendirian. Bahkan saat mendekati sebuah rumah, anjing itu menggonggong keras-keras. Dengan demikian, tuan rumah itu keluar dan menemukan anak yang dicari keluarganya bersama anjing itu.

Anak itu mensyukuri kesetiaan anjing itu. Ia kemudian memberi hadiah makanan yang paling enak bagi anjing itu. “Anjing ini sudah menyelamatkan saya dari bahaya di malam yang gelap. Saya terbebas dari rasa dingin di malam hari. Sungguh baik dan setia anjing ini,” kata anak itu.

Sahabat, kesetiaan sepertinya mulai memudar dalam hidup manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam hidup ini terjadi ketidaksetiaan. Dalam hidup berkeluarga, misalnya, ada suami yang mengingkari kesetiaannya. Padahal saat menikah, ia berjanji setia sehidup semati dengan istrinya. Atau ada juga istri yang selingkuh dengan pria idaman lain. Akibatnya, kehidupan rumah tangga menjadi berantakan. Korbannya adalah anak-anak yang tidak mendapatkan cinta yang sejati dari orangtuanya.

Kisah di atas mau memberikan kepada kita suatu motivasi untuk tetap saling setia dalam hidup ini. Kesetiaan memberikan kedamaian dalam hidup. Kesetiaan mampu menyelamatkan kehidupan bersama. Anjing yang setia itu mampu menyelamatkan anak itu dari rasa dingin di malam hari. Anak itu boleh merasakan kehangatan. Anak itu boleh menemukan rasa damai dan tenteram di malam yang gelap gulita.

Membangun kesetiaan yang sejati tidak gampang. Ada banyak godaan terhadap seseorang untuk mengingkari kesetiaan yang telah diikrarkan. Namun orang mesti tetap disadarkan bahwa kesetiaan itu suatu keutamaan yang mesti dipertahankan dalam hidup ini. Hanya melalui kesetiaan yang sejati orang mampu membangun hidup yang lebih baik. Hanya melalui kesetiaan itu orang mampu membangun relasi yang saling menguntungkan dan membahagiakan.

Orang beriman mesti berusaha terus-menerus untuk mempertahankan kesetiaan sejati dalam hidup ini. Untuk itu, kesetiaan sejati mesti mampu bertahan sekalipun ada banyak mengalami rintangan dan tantangan. Kita mesti tetap berjuang, karena kesetiaan merupakan keutamaan yang membawa kebahagiaan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

906

24 Mei 2012

Dalam Susah dan Derita Tetap Setia kepada Tuhan

Apa yang akan Anda lakukan di saat susah dan derita menimpa hidup Anda? Anda melarikan diri dari Tuhan? Atau justru Anda memberikan seluruh hidup Anda kepada Tuhan?

Sebelas Maret lalu menjadi peristiwa kelabu bagi warga Jepang. Prefektur Miyagi hancur luluh oleh tsunami setinggi 14 meter setelah daerah tersebut dihentak gempa 9,8 skala richter. Daerah ini kini tampak seperti hamparan tanah lapang dengan tumpukan bangkai-bangkai besi, kayu, dan tubuh manusia.

Jalan-jalan di Sendai, Ibukota Miyagi, basah dengan genangan air laut dan lumpur. Beberapa warga terlihat berada di jalan, mencari sanak keluarganya yang hilang. Salah satunya adalah Masahira Kasamatsu (76), seorang petani dari luar kota Sendai. Masahira datang bersama istrinya Emiko untuk mencari harta miliknya yang paling berharga, Yoko Oosato, anak perempuannya yang tinggal di Sendai.

Masahira berkata, ”Saya sedang mencari anak saya. Namanya Yoko Oosato apakah anda melihatnya?”

Yoko Oosato telah tinggal di Sendai selama lebih dari 30 tahun. Ia bekerja di Bandara Sendai yang ikut hancur akibat luapan air laut dan gempa bumi. Bandara sendiri dipenuhi dengan puing-puing, lumpur, bangkai-bangkai mobil dan pesawat.

Masahira menceritakan, usai gempa dan tsunami pada 11 Maret 2011 lalu, bersama istrinya, dirinya berangkat menuju Sendai mengendarai mobil pribadi mereka. Tujuannya untuk mencari Yoko. Masahira menghubungi anaknya sejak tsunami menghantam Sendai. Sayang, panggilan telepon tersebut tidak membuahkan hasil.

Butuh waktu 3 hari untuk mencapai Sendai. Jalan-jalan menuju Bandara Sendai hampir tidak bisa dilewati. Di tengah jalan, bahan bakar kendaraan Masahira habis. Akibatnya, Masahira dan Emiko menghabiskan malam di mobil mereka, tanpa penghangat dan bahan bakar. Keesokan harinya, Masahira memutuskan untuk berjalan kaki guna mencapai bandara Sendai.

Masahira berkata, ”Saya tahu begitu banyak yang mati di dalam bandara. Saya tahu bahwa anak saya mungkin hanya satu, di antara begitu banyak yang mati. Tapi harapan saya yang paling dalam adalah bahwa dia masih hidup. Itulah satu-satunya doa saat ini.”

Sahabat, peristiwa alam yang ganas itu telah meninggalkan luka yang dalam bagi warga. Mereka kehilangan banyak hal termasuk nyawa orang-orang yang terdekat. Karena itu, peristiwa nahas itu tidak akan pernah dilupakan. Peristiwa itu menjadi kenangan yang mengerikan.

Kisah Masahira mencari sang anak menjadi suatu kesempatan untuk merefleksikan kekecilan hidup di hadapan Tuhan dan alam semesta. Manusia boleh memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menundukkan alam semesta. Namun manusia mesti juga sadar bahwa ia makhluk yang terbatas. Ia makhluk yang punya ketergantungan kepada Yang Mahakuasa.

Karena itu, yang dibutuhkan di saat-saat susah dan derita adalah tangan yang terbuka terhadap penyelenggaraan Tuhan. Namun manusia sering kurang peduli. Manusia lebih mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Manusia berpikir bahwa dengan demikian ia mampu mengatasi setiap persoalan yang dihadapi.

Penyerahan diri yang total kepada Tuhan menjadi satu-satunya cara untuk menjalani hidup ini dengan tenang dan damai. Masahira menyerahkan hidup putrinya kepada Tuhan melalui doa-doanya. Ia yakin, Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi putrinya. Mari kita serahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan dalam saat-saat susah dan duka hidup kita. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

25 Januari 2010

Membangun Kesetiaan

Seorang anak begitu kecewa terhadap ayah dan ibunya. Pasalnya, ayahnya punya istri simpanan. Sedangkan ibunya cuek saja terhadap dirinya. Dalam hatinya, ia memberontak. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia seorang gadis lemah yang sering dimarahi oleh ayahnya, kalau ia mulai mengungkit-ungkit istri simpanan ayahnya.


Gadis itu begitu merasakan derita yang begitu mendalam dalam batinnya. Ia berjuang untuk menahan semua derita itu. Namun ia tidak kuat. Suatu hari, ia mengambil keputusan untuk pergi dari rumahnya. Ia berharap dengan pergi dari rumah, semua persoalan yang ia hadapi selama ini akan selesai.


Ternyata gadis itu keliru. Justru ia tidak bisa melupakan persoalan dalam keluarganya. Sosok ayahnya selalu menghantui dirinya. Demikian juga sosok istri simpanan ayahnya selalu membayangi-bayangi wajahnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Katanya dalam hati, “Saya akan pulang dan menghadapi semua persoalan ayah dan ibu. Kalau mereka tidak saling setia, saya mau berusaha untuk setia. Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.”


Dalam hidup ini kesetiaan itu mesti selalu dibangun. Namun persoalannya adalah membangun kesetiaan satu sama lain itu tidak selalu mudah. Susah-susah gampang, kata orang. Kesetiaan itu ibarat jinak-jinak burung merpati. Padahal kesetiaan itu mesti menjadi landasan dalam membangun sebuah keluarga dan hidup bersama. Suami istri yang saling setia akan memancarkan keharmonisan. Kesetiaan itu membuat suami istri tidak saling curiga. Kesetiaan membuat suami atau istri merasa tenang dalam hidupnya. Tidak ada yang perlu dicurigai.


Karena itu, suatu perkawinan itu tidak selesai, ketika kedua pasangan berjanji setia satu sama lain waktu mereka menikah. Kesetiaan itu mesti dibangun terus-menerus. Kesetiaan itu bukan sesuatu yang instan. Ada kalanya orang jatuh ke dalam godaan dan cobaan. Ada kalanya orang tidak kuat menghadapi berbagai persoalan hidup, sehingga membuat pasangan suami istri menyeleweng.


Setiap keluarga semestinya menjadi tempat untuk belajar kesetiaan. Untuk itu, orangtua mesti lebih dahulu menunjukkan kesetiaan itu dalam keluarga. Orangtua mesti saling setia. Bagaimana kesetiaan itu bisa dibangun? Banyak contoh yang bisa dipelajari dari keluarga-keluarga yang hidupnya baik di masyarakat. Orangtua yang saling setia itu orangtua yang mau memberi contoh kepada anak-anaknya untuk selalu setia dalam hidup sehari-hari.


Kita hidup dalam suatu dunia di mana perbedaan antara kesetiaan dan ketidaksetiaan itu begitu tipis. Kita hidup dalam masyarakat yang begitu mudah mengingkari kasih setia mereka. Hampir setiap hari kita menyaksikan tetangga kita yang cerai. Kita nonton berita begitu banyak artis yang cerai. Ini semua tantangan bagi keluarga-keluarga kita. Untuk memiliki sebuah keluarga yang baik dan harmonis, suami istri mesti tetap setia. Tidak ada jalan lain menuju keharmonisan kecuali melalui jalan kesetiaan.


Kita telah menerima banyak hal baik dari sesama dan Tuhan. Mari kita belajar dari Tuhan yang senantiasa setia kepada kita. Tuhan tidak pernah mengingkari kesetiaanNya kepada manusia, meskipun manusia tidak setia kepadaNya. Tuhan selalu menepati janjiNya. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


Bagikan

30 Desember 2009

Kesetiaan Itu Indah


Ada sepasang burung merpati. Bulu burung merpati jantan sangat indah dan menarik. Tetapi bulu burung betina biasa-biasa saja. Meski demikian, sepasang burung merpati itu hidup rukun selama bertahun-tahun dalam sebuah sangkar.

Suatu hari, si betina tiba-tiba mati. Sejak kematian pasangannya, sang jantan tidak mau makan. Ia menjadi sangat sedih. Akibatnya, tubuhnya semakin hari semakin lemah. Keadaan itu kontan membuat pemilik burung itu menjadi kuatir, kalau-kalau burung merpati jantan kesayangannya itu juga mati. Ia pun mencari seekor burung merpati betina yang bulunya cantik dan parasnya elok. Menurut pemilik burung itu, dengan demikian merpati betina itu menemani sang jantan yang gagah itu.

Ia berpikir, tentu si jantan mau makan kembali dan akan hidup jauh lebih harmonis bila memiliki pasangan yang lebih cantik. Anehnya, merpati jantan tetap tidak terpengaruh oleh kecantikan pasangan barunya. Ia tetap tidak mau makan. Tidak lama kemudian merpati jantan itu pun mati.

Kisah ini berbicara tentang kesetiaan dalam hidup yang nyata. Sering orang beranggapan bahwa kesetiaan itu cukup diucapkan di bibir saja. Kesetiaan itu tidak perlu dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Tentu hal ini tidak benar. Kesetiaan itu mesti menjadi nyata dalam praktek hidup sehari-hari. Tanpa kesetiaan, hidup tidak memiliki makna. Tanpa kesetiaan suami istri, hidup hanya dihiasi oleh rasa curiga. Kalau suami istri sudah terlibat dalam kecurigaan, kebahagiaan mereka pun terkikis. Lama-kelamaan pasangan seperti ini akan dilanda oleh ketidakharmonisan.

Karena itu, kesetiaan dalam hidup yang konkret itu mutlak diperlukan. Tanpa kesetiaan, hidup ini menjadi hambar. Bagai sayur tanpa garam. Hidup ini hanya dikuasai oleh emosi yang tidak bisa dikendalikan. Untuk itu, orang mesti berjuang untuk menghiasi hidupnya dengan kesetiaan yang mendalam. Kesetiaan seperti ini tidak datang dengan sendirinya. Kesetiaan seperti ini biasanya diperjuangkan dalam hidup yang nyata.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk hidup saling setia. Artinya, kita mau memegang teguh komitmen yang telah kita buat bersama. Bagi para pasangan suami istri, komitmen mereka ketika mengikrarkan janji setia sebagai suami istri mesti menjadi andalan hidup. Hanya dengan berpegang teguh pada komitmen seperti ini sebuah keluarga akan mengalami sukacita dan bahagia. Keluarga seperti ini akan langgeng dalam menapaki hidup. Keluarga seperti ini akan menemukan keindahan dalam hidup sehari-hari. Kesetiaan itu bukan hanya mimpi. Kesetiaan itu sungguh-sungguh nyata dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com





276
Bagikan