19 Oktober 2015
Bersimpuh di Hadapan Tuhan Sang Damai Sejati
14 Januari 2014
Kesetiaan dalam Penantian yang Panjang
04 Desember 2013
Meninggalkan Egoisme demi Kesetiaan
16 Juni 2012
Membangun Kesetiaan Sejati dalam hidup Nyata
Ada seekor anjing yang setia menemani seeorang anak berusia 4 tahun di sebuah stasiun di kawasan penghasil anggur. Suatu ketika anak kecil itu tersesat saat ia berjalan bersama anjingnya. Anak itu sangat ketakutan, apalagi malam yang dingin begitu gelap.
Apa yang ia lakukan? Anak kecil itu berlindung di balik semak-semak. Ia juga memeluk anjingnya itu erat-erat, agar terhindar dari dinginnya malam itu. Keesokan harinya terjadi heboh atas diri anak itu. Orangtuanya mesti mencarinya ke mana-mana. Pihak polisi mengerahkan helikopter untuk mencari dirinya. Sementara anak itu hanya bisa mendengar suara helikopter. Dengan anjingnya, ia berjalan mencari rumah terdekat.
Setelah lama mencari, anak itu ditemukan bersama anjingnya. Anjing itu sangat setia kepada anak kecil itu. Ia tidak meninggalkan anak itu berjuang sendirian. Bahkan saat mendekati sebuah rumah, anjing itu menggonggong keras-keras. Dengan demikian, tuan rumah itu keluar dan menemukan anak yang dicari keluarganya bersama anjing itu.
Anak itu mensyukuri kesetiaan anjing itu. Ia kemudian memberi hadiah makanan yang paling enak bagi anjing itu. “Anjing ini sudah menyelamatkan saya dari bahaya di malam yang gelap. Saya terbebas dari rasa dingin di malam hari. Sungguh baik dan setia anjing ini,” kata anak itu.
Sahabat, kesetiaan sepertinya mulai memudar dalam hidup manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam hidup ini terjadi ketidaksetiaan. Dalam hidup berkeluarga, misalnya, ada suami yang mengingkari kesetiaannya. Padahal saat menikah, ia berjanji setia sehidup semati dengan istrinya. Atau ada juga istri yang selingkuh dengan pria idaman lain. Akibatnya, kehidupan rumah tangga menjadi berantakan. Korbannya adalah anak-anak yang tidak mendapatkan cinta yang sejati dari orangtuanya.
Kisah di atas mau memberikan kepada kita suatu motivasi untuk tetap saling setia dalam hidup ini. Kesetiaan memberikan kedamaian dalam hidup. Kesetiaan mampu menyelamatkan kehidupan bersama. Anjing yang setia itu mampu menyelamatkan anak itu dari rasa dingin di malam hari. Anak itu boleh merasakan kehangatan. Anak itu boleh menemukan rasa damai dan tenteram di malam yang gelap gulita.
Membangun kesetiaan yang sejati tidak gampang. Ada banyak godaan terhadap seseorang untuk mengingkari kesetiaan yang telah diikrarkan. Namun orang mesti tetap disadarkan bahwa kesetiaan itu suatu keutamaan yang mesti dipertahankan dalam hidup ini. Hanya melalui kesetiaan yang sejati orang mampu membangun hidup yang lebih baik. Hanya melalui kesetiaan itu orang mampu membangun relasi yang saling menguntungkan dan membahagiakan.
Orang beriman mesti berusaha terus-menerus untuk mempertahankan kesetiaan sejati dalam hidup ini. Untuk itu, kesetiaan sejati mesti mampu bertahan sekalipun ada banyak mengalami rintangan dan tantangan. Kita mesti tetap berjuang, karena kesetiaan merupakan keutamaan yang membawa kebahagiaan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
906
24 Mei 2012
Dalam Susah dan Derita Tetap Setia kepada Tuhan
Sebelas Maret lalu menjadi peristiwa kelabu bagi warga Jepang. Prefektur Miyagi hancur luluh oleh tsunami setinggi 14 meter setelah daerah tersebut dihentak gempa 9,8 skala richter. Daerah ini kini tampak seperti hamparan tanah lapang dengan tumpukan bangkai-bangkai besi, kayu, dan tubuh manusia.
Jalan-jalan di Sendai, Ibukota Miyagi, basah dengan genangan air laut dan lumpur. Beberapa warga terlihat berada di jalan, mencari sanak keluarganya yang hilang. Salah satunya adalah Masahira Kasamatsu (76), seorang petani dari luar kota Sendai. Masahira datang bersama istrinya Emiko untuk mencari harta miliknya yang paling berharga, Yoko Oosato, anak perempuannya yang tinggal di Sendai.
Masahira berkata, ”Saya sedang mencari anak saya. Namanya Yoko Oosato apakah anda melihatnya?”
Yoko Oosato telah tinggal di Sendai selama lebih dari 30 tahun. Ia bekerja di Bandara Sendai yang ikut hancur akibat luapan air laut dan gempa bumi. Bandara sendiri dipenuhi dengan puing-puing, lumpur, bangkai-bangkai mobil dan pesawat.
Masahira menceritakan, usai gempa dan tsunami pada 11 Maret 2011 lalu, bersama istrinya, dirinya berangkat menuju Sendai mengendarai mobil pribadi mereka. Tujuannya untuk mencari Yoko. Masahira menghubungi anaknya sejak tsunami menghantam Sendai. Sayang, panggilan telepon tersebut tidak membuahkan hasil.
Butuh waktu 3 hari untuk mencapai Sendai. Jalan-jalan menuju Bandara Sendai hampir tidak bisa dilewati. Di tengah jalan, bahan bakar kendaraan Masahira habis. Akibatnya, Masahira dan Emiko menghabiskan malam di mobil mereka, tanpa penghangat dan bahan bakar. Keesokan harinya, Masahira memutuskan untuk berjalan kaki guna mencapai bandara Sendai.
Masahira berkata, ”Saya tahu begitu banyak yang mati di dalam bandara. Saya tahu bahwa anak saya mungkin hanya satu, di antara begitu banyak yang mati. Tapi harapan saya yang paling dalam adalah bahwa dia masih hidup. Itulah satu-satunya doa saat ini.”
Sahabat, peristiwa alam yang ganas itu telah meninggalkan luka yang dalam bagi warga. Mereka kehilangan banyak hal termasuk nyawa orang-orang yang terdekat. Karena itu, peristiwa nahas itu tidak akan pernah dilupakan. Peristiwa itu menjadi kenangan yang mengerikan.
Kisah Masahira mencari sang anak menjadi suatu kesempatan untuk merefleksikan kekecilan hidup di hadapan Tuhan dan alam semesta. Manusia boleh memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menundukkan alam semesta. Namun manusia mesti juga sadar bahwa ia makhluk yang terbatas. Ia makhluk yang punya ketergantungan kepada Yang Mahakuasa.
Karena itu, yang dibutuhkan di saat-saat susah dan derita adalah tangan yang terbuka terhadap penyelenggaraan Tuhan. Namun manusia sering kurang peduli. Manusia lebih mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Manusia berpikir bahwa dengan demikian ia mampu mengatasi setiap persoalan yang dihadapi.
Penyerahan diri yang total kepada Tuhan menjadi satu-satunya cara untuk menjalani hidup ini dengan tenang dan damai. Masahira menyerahkan hidup putrinya kepada Tuhan melalui doa-doanya. Ia yakin, Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi putrinya. Mari kita serahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan dalam saat-saat susah dan duka hidup kita. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
25 Januari 2010
Membangun Kesetiaan
Seorang anak begitu kecewa terhadap ayah dan ibunya. Pasalnya, ayahnya punya istri simpanan. Sedangkan ibunya cuek saja terhadap dirinya. Dalam hatinya, ia memberontak. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia seorang gadis lemah yang sering dimarahi oleh ayahnya, kalau ia mulai mengungkit-ungkit istri simpanan ayahnya.
Gadis itu begitu merasakan derita yang begitu mendalam dalam batinnya. Ia berjuang untuk menahan semua derita itu. Namun ia tidak kuat. Suatu hari, ia mengambil keputusan untuk pergi dari rumahnya. Ia berharap dengan pergi dari rumah, semua persoalan yang ia hadapi selama ini akan selesai.
Ternyata gadis itu keliru. Justru ia tidak bisa melupakan persoalan dalam keluarganya. Sosok ayahnya selalu menghantui dirinya. Demikian juga sosok istri simpanan ayahnya selalu membayangi-bayangi wajahnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Katanya dalam hati, “Saya akan pulang dan menghadapi semua persoalan ayah dan ibu. Kalau mereka tidak saling setia, saya mau berusaha untuk setia. Apa pun yang akan terjadi, terjadilah.”
Dalam hidup ini kesetiaan itu mesti selalu dibangun. Namun persoalannya adalah membangun kesetiaan satu sama lain itu tidak selalu mudah. Susah-susah gampang, kata orang. Kesetiaan itu ibarat jinak-jinak burung merpati. Padahal kesetiaan itu mesti menjadi landasan dalam membangun sebuah keluarga dan hidup bersama. Suami istri yang saling setia akan memancarkan keharmonisan. Kesetiaan itu membuat suami istri tidak saling curiga. Kesetiaan membuat suami atau istri merasa tenang dalam hidupnya. Tidak ada yang perlu dicurigai.
Karena itu, suatu perkawinan itu tidak selesai, ketika kedua pasangan berjanji setia satu sama lain waktu mereka menikah. Kesetiaan itu mesti dibangun terus-menerus. Kesetiaan itu bukan sesuatu yang instan. Ada kalanya orang jatuh ke dalam godaan dan cobaan. Ada kalanya orang tidak kuat menghadapi berbagai persoalan hidup, sehingga membuat pasangan suami istri menyeleweng.
Setiap keluarga semestinya menjadi tempat untuk belajar kesetiaan. Untuk itu, orangtua mesti lebih dahulu menunjukkan kesetiaan itu dalam keluarga. Orangtua mesti saling setia. Bagaimana kesetiaan itu bisa dibangun? Banyak contoh yang bisa dipelajari dari keluarga-keluarga yang hidupnya baik di masyarakat. Orangtua yang saling setia itu orangtua yang mau memberi contoh kepada anak-anaknya untuk selalu setia dalam hidup sehari-hari.
Kita hidup dalam suatu dunia di mana perbedaan antara kesetiaan dan ketidaksetiaan itu begitu tipis. Kita hidup dalam masyarakat yang begitu mudah mengingkari kasih setia mereka. Hampir setiap hari kita menyaksikan tetangga kita yang cerai. Kita nonton berita begitu banyak artis yang cerai. Ini semua tantangan bagi keluarga-keluarga kita. Untuk memiliki sebuah keluarga yang baik dan harmonis, suami istri mesti tetap setia. Tidak ada jalan lain menuju keharmonisan kecuali melalui jalan kesetiaan.
Kita telah menerima banyak hal baik dari sesama dan Tuhan. Mari kita belajar dari Tuhan yang senantiasa setia kepada kita. Tuhan tidak pernah mengingkari kesetiaanNya kepada manusia, meskipun manusia tidak setia kepadaNya. Tuhan selalu menepati janjiNya. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Bagikan
30 Desember 2009
Kesetiaan Itu Indah
Ada sepasang burung merpati. Bulu burung merpati jantan sangat indah dan menarik. Tetapi bulu burung betina biasa-biasa saja. Meski demikian, sepasang burung merpati itu hidup rukun selama bertahun-tahun dalam sebuah sangkar.
Suatu hari, si betina tiba-tiba mati. Sejak kematian pasangannya, sang jantan tidak mau makan. Ia menjadi sangat sedih. Akibatnya, tubuhnya semakin hari semakin lemah. Keadaan itu kontan membuat pemilik burung itu menjadi kuatir, kalau-kalau burung merpati jantan kesayangannya itu juga mati. Ia pun mencari seekor burung merpati betina yang bulunya cantik dan parasnya elok. Menurut pemilik burung itu, dengan demikian merpati betina itu menemani sang jantan yang gagah itu.
Ia berpikir, tentu si jantan mau makan kembali dan akan hidup jauh lebih harmonis bila memiliki pasangan yang lebih cantik. Anehnya, merpati jantan tetap tidak terpengaruh oleh kecantikan pasangan barunya. Ia tetap tidak mau makan. Tidak lama kemudian merpati jantan itu pun mati.
Kisah ini berbicara tentang kesetiaan dalam hidup yang nyata. Sering orang beranggapan bahwa kesetiaan itu cukup diucapkan di bibir saja. Kesetiaan itu tidak perlu dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Tentu hal ini tidak benar. Kesetiaan itu mesti menjadi nyata dalam praktek hidup sehari-hari. Tanpa kesetiaan, hidup tidak memiliki makna. Tanpa kesetiaan suami istri, hidup hanya dihiasi oleh rasa curiga. Kalau suami istri sudah terlibat dalam kecurigaan, kebahagiaan mereka pun terkikis. Lama-kelamaan pasangan seperti ini akan dilanda oleh ketidakharmonisan.
Karena itu, kesetiaan dalam hidup yang konkret itu mutlak diperlukan. Tanpa kesetiaan, hidup ini menjadi hambar. Bagai sayur tanpa garam. Hidup ini hanya dikuasai oleh emosi yang tidak bisa dikendalikan. Untuk itu, orang mesti berjuang untuk menghiasi hidupnya dengan kesetiaan yang mendalam. Kesetiaan seperti ini tidak datang dengan sendirinya. Kesetiaan seperti ini biasanya diperjuangkan dalam hidup yang nyata.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk hidup saling setia. Artinya, kita mau memegang teguh komitmen yang telah kita buat bersama. Bagi para pasangan suami istri, komitmen mereka ketika mengikrarkan janji setia sebagai suami istri mesti menjadi andalan hidup. Hanya dengan berpegang teguh pada komitmen seperti ini sebuah keluarga akan mengalami sukacita dan bahagia. Keluarga seperti ini akan langgeng dalam menapaki hidup. Keluarga seperti ini akan menemukan keindahan dalam hidup sehari-hari. Kesetiaan itu bukan hanya mimpi. Kesetiaan itu sungguh-sungguh nyata dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
276
Bagikan