Pages

Tampilkan postingan dengan label egoisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label egoisme. Tampilkan semua postingan

08 Desember 2013

Melepas Egoisme bagi Hidup yang Lebih Baik




Apa yang akan terjadi ketika egoisme menguasai diri manusia? Tentu saja hidup ini terjadi ketidakharmonisan. Manusia hanya mementingkan diri sendiri. Orang lain menjadi obyek bagi dirinya.

Ketika kaum perempuan belum mendapatkan pendidikan yang memadai, mereka dianggap sebagai kaum yang lemah. Akibatnya, mereka sering tidak diikutsertakan dalam berbagai segi kehidupan. Mereka sering dianggap sebagai pelengkap saja dalam kehidupan kaum pria.

Di zaman dulu, mereka dipingit. Mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang baik di luar rumah. Kehidupan publik mereka sangat dibatasi. Akibatnya, kaum perempuan tetap tertinggal dari kaum lelaki dari berbagai segi kehidupan. Kondisi seperti ini mesti bukan menjadi suatu kebanggaan bagi umat manusia. Kita semestinya merasa trenyuh terhadap kondisi seperti ini. Yang mesti kita lakukan adalah kita memperjuangkan kemajuan kaum perempuan.

Setelah pembatasan-pembatasan dibuka, kaum perempuan semakin mendapatkan kesempatan yang banyak untuk mengembangkan diri. Kemajuan-kemajuan di berbagai bidang kehidupan pun raih. Ada yang menjadi guru besar di perguruan tinggi. Ada yang menjadi pilot.

Berliana Febrianti, pemain film dan sinetron, merasa bahwa kemajuan perempuan Indonesia sampai sekarang ini sangat membanggakan.”Perempuan itu makhluk yang kuat. Biarpun mereka mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perempuan (pada umumnya) tetap memiliki kekuatan untuk bertahan,” kata Berliana.

Tentang KDRT yang sering terjadi, ia mengatakan bahwa kelihatannya perempuan yang mengalami KDRT tersebut tidak memberontak. Hal itu karena mereka ingin melindungi anaknya. Perempuan selalu berpikir panjang.

Untuk itu, ia berharap agar kaum pria tidak berlaku kasar terhadap kaum perempuan. Ibu dari tiga orang anak ini berkata, ”Lebih baik jika kaum lelaki mengerti, kekuatan perempuan itu luar biasa. Setidaknya, mereka bisa mengingat betapa besar kekuatan yang dimiliki ibu mereka.”

Sahabat, KDRT yang terjadi dalam kehidupan bersama itu merupakan salah satu bentuk perendahan terhadap martabat manusia. Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga itu suatu bentuk tumbuh kuatnya egosime. Orang yang melakukan kekerasan itu hanya mementingkan diri sendiri.

Kuasa egoisme itu bisa dihilangkan, kalau orang menyadari kehadiran sesama bukan hanya sebagai pelengkap. Namun kehadiran sesama itu sebagai suatu keharusan. Mengapa? Karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan sesama untuk menjalani kehidupan ini. Orang yang ingin maju dalam hidupnya mesti menerima kehadiran sesamanya.

Kalau kesadaran ini senantiasa tumbuh dalam diri seseorang, ia akan mudah untuk menghargai kehadiran sesamanya. Karena itu, orang beriman mesti menukik ke dalam dirinya sendiri. Orang beriman mesti berani menerima kehadiran sesamanya sebagai partner dalam suka dan duka. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kegembiraan bagi semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


1002

04 Desember 2013

Meninggalkan Egoisme demi Kesetiaan




Apa yang akan Anda lakukan untuk mempertahankan kesetiaan Anda?

Shep adalah seekor anjing yang mengikuti tuannya tercinta ke mana-mana. Ketika tuannya pergi ke ladang yang luas, Shep tetap mengikutinya. Saat tuannya terperosok ke dalam jurang, Shep berusaha membantunya. Caranya dengan menggonggong sekuat-kuatnya, sehingga orang-orang yang lewat dapat membantu tuannya itu.

Ketika tuannya meninggal pada tahun 1936, Shep mengikuti peti mati tuannya ke stasiun kereta api di Fort Benton, Montana, Amerika Serikat. Ketika mereka menolaknya untuk ikut dalam kereta, Shep menunggu di halaman stasiun. Ia menunggu tuannya kembali. Selama enam tahun, Shep memeriksa setiap kereta yang tiba di stasiun untuk mengecek apakah tuannya telah kembali. Tetapi sang tuan tidak pernah kembali lagi.

Tragisnya, Shep ditabrak oleh kereta api yang lewat pada tahun 1942. Kesetiaan itu berakhir dengan kematian. Untuk mengenang kesetiaan anjing ini, dibangun sebuah patung perunggu besar untuk dirinya di sebuah taman kecil di dekat sebuah sungai. Di tugunya ada prasasti kecil dengan tulisan, "Forever Faithful", kesetiaan selama-lamanya.

Sahabat, kesetiaan tidak diraih dalam waktu yang singkat. Kesetiaan itu diraih melalui suatu proses. Ada pengalaman jatuh dan bangun dalam membangun kesetiaan yang kokoh kuat. Ada pengalaman pahit dan manis dalam mengarungi kesetiaan. Ketika orang jatuh ke dalam ketidaksetiaan, orang akan mengalami kegetiran dalam hidup. Orang mengalami hidup ini hampa, karena orang merasa mengkhianati kesetiaannya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap bertahan dalam kesetiaan. Anjing itu tidak melupakan kebaikan tuannya. Ia setia demi memiliki relasi yang tetap baik dengan sang tuan. Ia tidak peduli akan panas dan dingin yang dihadapinya. Yang penting adalah berjumpa dengan sang tuan yang pernah mengasihinya itu.

Kesetiaan itu menuntut korban dari manusia. Orang yang setia mesti meninggalkan egoismenya. Ketika seseorang dililit oleh egoismenya, kesetiaannya tidak bisa diandalkan. Orang seperti ini biasanya hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia menuntut orang lain untuk setia kepadanya. Ia tidak ingin orang lain mengkhianati kesetiaannya. Tetapi saat orang menuntut kesetiaannya, ia tidak mampu mempertahankannya. Ia mudah meninggalkan kesetiaannya itu. Mengapa? Karena ia hanya mau keinginan dirinya terpenuhi.

Karena itu, orang beriman mesti berusaha untuk tetap memiliki kesetiaannya. Komitmen yang telah dibuat dalam membangun relasi yang lebih dalam mesti selalu dipegang. Orang mesti berani berkorban demi mempertahankan kesetiaan itu. Hanya dengan berkorban, orang mampu bertahan dalam kesetiaan pada sesama dan komitmen yang telah dibuatnya.

Pengkhianatan hanya akan meninggalkan luka yang dalam bagi sesama yang telah begitu dekat dengan kita. Mari kita berusaha untuk senantiasa setia kepada sesama dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


997

23 Maret 2012

Berani Keluar dari Kunkungan Egoisme


Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda merasa hasil yang Anda capai kurang dihargai? Anda putus asa untuk melajutkan karya-karya Anda? Atau Anda bangkit kembali untuk meretas kesuksesan dalam hidup Anda?

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-rekannya, sehingga dia sering menjadi juara di berbagai perlombaan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat nanti dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepukan kepadanya.

Suatu hari, di kotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat. Dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut. Kesempatan itu datang juga. Gadis muda itu berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari.

”Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah Anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat Anda tentang tarian saya,” pinta si gadis muda itu.

”Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit,” kata pakar tari itu.

Belum sepuluh menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya. Serta merta ia meninggalkan gadis muda itu begitu saja. Betapa hancur hati gadis muda itu melihat sikap sang pakar. Gadis itu langsung berlari keluar. Pulang ke rumah, dia langsung menangis tersedu-sedu.

Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan menari lagi. Belakangan, gadis muda itu tahu kalau sang pakar itu meninggalkan dirinya, karena ia menari begitu indah.

Sahabat, orang yang gampang patah semangat mudah menemukan jalan buntu dalam hidupnya. Orang seperti ini biasanya tidak kreatif dalam hidupnya. Apa yang akan dikerjakannya selalu serba salah. Tentu saja situasi seperti ini tidak baik bagi pertumbuhan seseorang dalam hidupnya.

Kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa orang mesti berani berusaha terus-menerus untuk meraih impian. Orang tidak boleh berhenti berusaha hanya karena tidak mendapatkan pujian dari sesamanya. Pujian itu sering melumpuhkan orang untuk meretas hidup yang lebih baik. Orang hanya terpaku pada prestasi yang diraihnya. Orang tidak mudah untuk melangkahkan kaki demi sesuatu yang lebih baik lagi.

Orang beriman mesti tidak boleh terpaku pada prestasi-prestasi yang telah diraihnya. Orang beriman mesti maju terus untuk memiliki hidup yang lebih baik lagi. Untuk itu, dibutuhkan suatu ketahanan dalam usaha untuk meraih hidup yang lebih baik. Orang mesti berani keluar dari kungkungan egoismenya. Orang mesti berani meninggalkan keinginan-keinginan pribadi untuk menjadi terkenal.

Mari kita berusaha untuk terus-menerus meraih hidup yang lebih baik dengan tidak mudah puas atas apa yang telah kita raih. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


880

27 Juli 2011

Melepas Egoisme bagi Hidup yang Lebih Baik



Ketika kaum perempuan belum mendapatkan pendidikan yang memadai, mereka dianggap sebagai kaum yang lemah. Akibatnya, mereka sering tidak diikutsertakan dalam berbagai segi kehidupan. Mereka sering dianggap sebagai pelengkap saja dalam kehidupan kaum pria.

Di zaman dulu, mereka dipingit. Mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang baik di luar rumah. Kehidupan publik mereka sangat dibatasi. Akibatnya, kaum perempuan tetap tertinggal dari kaum lelaki dari berbagai segi kehidupan. Kondisi seperti ini mesti bukan menjadi suatu kebanggaan bagi umat manusia. Kita semestinya merasa trenyuh terhadap kondisi seperti ini. Yang mesti kita lakukan adalah kita memperjuangkan kemajuan kaum perempuan. Namun setelah pembatasan-pembatasan dibuka, kaum perempuan semakin mendapatkan kesempatan yang banyak untuk mengembangkan diri.

Kemajuan-kemajuan di berbagai bidang kehidupan pun diraih. Ada yang menjadi guru besar di perguruan tinggi. Ada yang menjadi pilot. Berliana Febrianti, pemain film dan sinetron, merasa bahwa kemajuan perempuan Indonesia sampai sekarang ini sangat membanggakan. Ia berkata, ”Perempuan itu makhluk yang kuat. Biarpun mereka mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perempuan (pada umumnya) tetap memiliki kekuatan untuk bertahan.”

Tentang KDRT yang sering terjadi, ia mengatakan bahwa kelihatannya perempuan yang mengalami KDRT tersebut tidak memberontak. Hal itu karena mereka ingin melindungi anaknya. Perempuan selalu berpikir panjang.

Untuk itu, ia berharap agar kaum pria tidak berlaku kasar terhadap kaum perempuan. Ibu dari tiga orang anak ini berkata, ”Lebih baik jika kaum lelaki mengerti, kekuatan perempuan itu luar biasa. Setidaknya, mereka bisa mengingat betapa besar kekuatan yang dimiliki ibu mereka.”

Sahabat, KDRT yang terjadi dalam kehidupan bersama itu merupakan salah satu bentuk perendahan terhadap martabat manusia. Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga itu suatu bentuk tumbuh kuatnya egosime. Orang yang melakukan kekerasan itu hanya mementingkan diri sendiri. Kuasa egoisme itu bisa dihilangkan, kalau orang menyadari kehadiran sesama bukan hanya sebagai pelengkap. Namun kehadiran sesama itu sebagai suatu keharusan. Mengapa? Karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan sesama untuk menjalani kehidupan ini. Orang yang ingin maju dalam hidupnya mesti menerima kehadiran sesamanya. Kalau kesadaran ini senantiasa tumbuh dalam diri seseorang, ia akan mudah untuk menghargai kehadiran sesamanya. Karena itu, orang beriman mesti menukik ke dalam dirinya sendiri. Orang beriman mesti berani menerima kehadiran sesamanya sebagai partner dalam suka dan duka. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kegembiraan bagi semua orang. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ


738

10 April 2011

Jangan Mengandalkan Egosime dalam Hidup Bersama

Denise Richards (38) merasa harus jujur kepada anak perempuannya, Sam Sheen (5), tentang sang ayah, aktor Charlie Sheen, yang terpaksa merayakan Natal di penjara. Gara-garanya, anak sulung Richards itu mendapat pertanyaan dari teman sekolahnya tentang berita koran yang menyebut Sheen dipenjara.

Awalnya, Denise yang pernah berperan sebagai ”gadis Bond” dalam The World is Not Enough berusaha menutupi kebenaran itu dari kedua anak perempuannya, Sam dan Lola Rose Sheen (4). Dia berbohong tentang keberadaan Sheen yang sesungguhnya saat Sheen menelepon dari penjara di Aspen, Colorado, AS, untuk mengucapkan selamat Natal kepada anak-anaknya.

Namun, Richards merasa harus menjernihkan persoalan itu saat Sam bertanya tentang pertengkaran ayah mereka dengan istrinya kini, Brooke Mueller. Denise berkata, ”Sungguh sangat sulit menjelaskan hal itu. Ini berawal di sekolah saat anakku ditanya temannya, ’Apakah ayahmu masih di penjara?’ Sebelumnya, aku tak pernah bercerita tentang ayah mereka sedang di penjara.”

Natal 2009, Sheen terbukti melakukan kekerasan domestik terhadap Mueller hingga istrinya itu mengalami cedera parah. Akibat perbuatannya itu, Sheen harus melewati Natal di penjara.

Sahabat, kekerasan domestik merupakan sesuatu yang menyedihkan. Persoalannya, mengapa mesti terjadi kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang-orang yang begitu dekat? Mengapa orang-orang yang dicintai itu mesti menghadapi suatu situasi yang menyedihkan dan menakutkan?

Jawaban atas pertanyaan ini tentu mesti dicari dari hakekat kehidupan bersama. Kalau orang sungguh-sungguh mengerti tentang hakekat kehidupan bersama, orang akan mudah membangun suasana damai. Tujuan hidup bersama itu untuk membangun kebahagiaan. Setiap orang yang hidup dalam kebersamaan itu mesti berusaha untuk menciptakan suasana damai itu. Mereka mesti berusaha menjauhkan situasi diri yang dipenuhi oleh egoisme berlebihan.

Kekerasan bisa terjadi dalam hidup bersama, karena egoisme dan kepentingan diri sendiri mengatasi kepentingan bersama. Ada yang kemudian mau menang sendiri. Ada yang tidak mau orang lain dominan dalam hidup bersama itu. Akibatnya, terjadilah kekerasan. Orang mengandalkan siapa kuat dia menang. Hidup seperti di dalam hutan belantara saja.

Karena itu, orang beriman mesti senantiasa menyadari panggilan hidupnya untuk menciptakan kebersamaan yang damai. Orang mesti sadar bahwa dalam kehidupan bersama itu kepentingan bersama mesti dijunjung tinggi. Egoisme dan kepentingan diri sendiri tidak boleh diutamakan. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih baik dan damai. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ


651

27 Oktober 2010

Berusaha Meninggalkan Egoisme

Suatu hari seorang anak merengek-rengek minta dibelikan mainan kesukaannya. Dengan sedikit enggan, ibunya mengulurkan selembar uang untuk membelinya sendiri. Sedang ia mengawasi anaknya dari kejauhan. Lalu anak itu dengan tekun mengikuti gerak tangan seorang kakek tua yang menjual mainan di pingggir jalan itu. Anak itu tergelak menyaksikan sang kakek tua memainkan permainan dari mainan itu. Anak itu sangat senang. Ia menikmati permainan kakek tua yang sudah seharian duduk di pinggir jalan itu.

Setelah beberapa saat, kakek tua itu menyerahkan mainan itu kepada anak itu. Lantas anak itu pulang menemui ibunya yang berdiri mengamatinya dari kejauhan. Herannya, kakek tua itu tidak meminta sesen pun dari anak itu. Ia menyuruh anak itu pergi begitu saja. Padahal sejak pagi belum ada yang membeli mainan darinya.

Setelah menemui ibunya, anak itu mengembalikan lagi selembar uang yang diberikan ibunya. Ia berkata, “Kakek tua itu tidak mau menerima uang ini. Dia menyuruh saya pulang dengan membawa mainan ini.”

Sang ibu mengambil uang itu. Lantas ia mengajak anaknya untuk kembali kepada kakek tua itu. Setelah berada di hadapan kakek itu, sang ibu mengucapkan terima kasih atas kebaikannya. Kakek tua itu menjawab, “Saya menjadi teringat akan cucu-cucu saya. Mereka sudah lama berpisah dari saya. Jadi kehadiran anak ibu mengingatkan saya akan cucu-cucu saya.”

Sahabat, kenangan akan orang yang dekat dengan kita membuat kita melepaskan hal-hal yang berguna bagi kita untuk orang lain. Orang yang memberi itu merasakan suatu sukacita dan kegembiraan, ketika ia boleh melepaskan apa yang dimiliki untuk orang-orang yang dicintai.

Namun ada orang yang tidak peduli terhadap sesamanya, bahkan terhadap orang-orang yang sangat dekat dan dicintainya. Banyak kita saksikan ada pertentangan di antara orang-orang yang hidup di bawah satu atap. Ada iri hati dan benci. Mengapa ini bisa terjadi di dalam sebuah komunitas yang semula punya komitmen untuk hidup bersama?

Alasan yang paling kuat adalah orang kurang punya kasih. Yang ditumbuhsuburkan adalah kecurigaan dan kebencian. Semestinya yang tumbuh subur dalam sebuah komunitas adalah kasih yang menjadi dasar seluruh hidup manusia. Yang semestinya tumbuh subur adalah pengampunan dan menerima kehadiran sesama dengan hati yang tulus.

Karena itu, orang mesti memegang teguh komitmen bersama. Artinya, orang mesti setia terhadap komitmen yang telah dibuta secara bersama-sama itu. Konsekuensinya adalah orang rela berkorban untuk sesamanya. Orang berani melepaskan kepentingan dirinya sendiri dengan mengutamakan kepentingan bersama. Egoisme mesti ditinggalkan untuk sesuatu yang lebih luas bagi hidup bersama.

Sebagai orang beriman, kita semua dipanggil untuk menghidupi komitmen kasih yang telah kita buat bersama-sama. Orang yang menyerahkan hidup kepada Tuhan itu orang yang mau meninggalkan egoismenya dan membangun komitmen bersama untuk suatu kepentingan yang lebih luas. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 20.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

538

18 Maret 2010

Berjuang untuk Lebih Baik




Suatu sore seorang bapak berjalan-jalan dengan anaknya di tepi sebuah kolam di belakang rumah mereka. Sambil memberi makan ikan-ikan di kolam itu, anak itu bercerita kepada ayahnya. Menurutnya, akhir-akhir ini ia bermimpi yang aneh-aneh. Mimpinya juga bermacam-macam. Salah satunya ia bermimpi tentang pertarungan dua ekor anjing. Anehnya, dua ekor anjing itu bertarung di dalam dirinya.

Anak itu bercerita, “Dua ekor anjing itu memiliki mata yang tajam. Gigi mereka runcing-runcing. Kuku-kuku mereka sangat kuat. Mereka saling menerkam. Keduanya berusaha memenangkan perkelahian itu.”

Ia melanjutkan, “Anjing pertama tampak baik dan tenang. Tetapi anjing yang kedua sangat ganas dan menakutkan. Ia meraung-raung dan menerkam anjing yang pertama dengan sangat kejam. Apa maksud mimpi ini ayah? Apakah ini gambaran dari sifat-sifat yang ada dalam diri saya?”

Ayahnya menatap wajah anaknya. Ia menganggukkan kepala lalu berkata, “Hati-hatilah, anakku. Dalam hidup ini kamu akan selalu berada di bawah bayang-bayang dua hal ini, yaitu yang baik dan yang jahat.”

“Lalu anjing mana yang akan menjadi pemenangnya, ayah?” tanya anak itu.

Tanpa pikir panjang ayahnya menjawab, “Pemenangnya adalah yang paling banyak kamu beri makan. Seperti ikan-ikan kita, yang mendapatkan makanan yang banyak akan bertumbuh lebih baik.”

Hidup kita ini seperti suatu pertarungan. Kita selalu bergumul dengan berbagai hal yang membentuk kepribadian kita. Kalau kita berada di dalam suatu lingkungan yang baik dan kondusif untuk pertumbuhan hidup kita, kita juga akan bertumbuh dengan baik. Tetapi bisa juga lingkungan yang kurang baik dan kurang kondusif bisa dipakai untuk pertumbuhan kepribadian kita. Ini tergantung dari orang yang bersangkutan yang mampu memilah mana yang baik yang dapat ia gunakan untuk pertumbuhan kepribadiannya.

Seringkali manusia tunduk kepada sifat-sifat jelek yang ada dalam dirinya. Misalnya, ada orang yang mudah sekali dikuasai oleh iri hati, marah dan egoisme. Orang seperti ini mesti bertanya diri, mengapa hal ini bisa terjadi atas dirinya? Mengapa ia mudah sekali dikuasai oleh hal-hal ini? Bukankah iri hati terhadap orang yang sukses hanya membuat diri orang terjerumus ke dalam pikiran-pikiran negatif tentang orang lain? Bukankah lebih baik belajar dari kesuksesan orang lain untuk memajukan diri sendiri?

Karena itu, sebagai orang beriman, kita perlu membangun sikap menumbuhkan hal-hal baik dalam diri kita. Untuk itu, iri hati, marah dan egoisme mesti mampu kita singkirkan dari dalam diri kita. Dengan begitu, kita mampu menjadi orang-orang yang kuat dalam menghadapi arus jaman yang seringkali menyesatkan manusia ini.

Setiap hari kita mengalami begitu banyak hal, baik yang jelek maupun yang baik. Pengalaman yang kurang baik bisa kita gunakan untuk introspeksi diri. Pengalaman-pengalaman yang baik kita gunakan untuk membangun kepribadian yang lebih baik. Mari kita bawa semua pengalaman hidup kita itu kepada Tuhan. Dengan demikian, rahmat Tuhan senantiasa menyertai kita dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

354

Bagikan