Pages

Tampilkan postingan dengan label pengalaman hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman hidup. Tampilkan semua postingan

16 Oktober 2011

Mengalami Tuhan dalam Hidup Sehari-hari


Di suatu desa, hiduplah seorang petani dan anaknya. Ayah dan anak ini menanam padi untuk penghidupan mereka. Setelah mencangkul di musim kemarau yang panas, keduanya mulai menanam di musim hujan tiba. Maklum, kebun yang mereka miliki adalah ladang yang hanya bisa ditanami di musim hujan.

Sang anak bekerja tanpa kenal lelah membantu ayahnya. Ia tidak peduli kedua telapak tangannya menjadi tebal. Butir-butir keringat yang ia cucurkan menjadi sumber rezeki bagi keluarganya. Setelah menanami ladang penuh dengan padi, keduanya mulai beristirahat. Mereka menunggu sampai masa penyiangan tiba. Mereka akan membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di sela-sela padi.

Setelah masa penyiangan selesai, keduanya tetap bekerja dengan memberi pupuk pada batang-batang padi itu. Hingga suatu ketika keduanya menikmati hasil panen yang melimpah dari ladang mereka. Setelah beberapa hari padi-padi itu dipanen, sang anak berkata kepada ayahnya, “Ayah, beri saya waktu untuk istirahat. Saya mau pergi ke kota. Boleh kan sesekali saya menikmati hasil kerja kita?”

Ayahnya tersenyum mendengar permintaan anaknya. Ia mengerti itulah keinginan setiap pemuda. Mereka bekerja untuk mengumpulkan uang. Setelah itu mereka gunakan untuk berfoya-foya. Mereka butuh kesempatan untuk menikmati hidup. Tidak selamanya orang hanya bekerja dan bekerja.

Karena itu, ayahnya mengizinkan anaknya itu untuk meninggalkan desa menuju kota. Meski ia tahu bahwa anaknya akan seperti rusa masuk kota, ia tetap membiarkan anaknya pergi. Ia butuh pengalaman. Ia butuh kesempatan untuk mengisi hidupnya dengan pengalaman-pengalaman baru. Apa yang akan terjadi dengan dirinya, sang ayah yakin, anaknya akan mampu bertanggungjawab.

Sahabat, orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Orang yang berani bergelut dengan pengalaman akan menemukan bahwa hidup ini memiliki aneka keindahan. Orang berani belajar dari pengalaman-pengalaman itu. Orang mengasah ketrampilan dirinya melalui pengalaman-pengalaman itu.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa orang akan menemukan pengalaman baru dalam hidupnya, ketika ia berani melangkahkan kakinya. Pengalaman itu mesti dijalani. Pengalaman tidak datang dengan sendirinya. Ketika pemuda itu berani meninggalkan desanya, ia boleh berharap akan mendapatkan berbagai pengalaman menarik. Pengalaman-pengalaman baru itu akan memperkaya dirinya dalam hidupnya sehari-hari.

Demikian halnya dengan pengalaman akan Tuhan. Kita percaya bahwa penyertaan Tuhan kita alami dalam kehidupan kita yang nyata. Mengapa? Karena Tuhan hadir dalam perjalanan hidup kita. Tuhan hadir dalam pengalaman hidup kita sehari-hari.

Karena itu, orang beriman mesti berani mencari Tuhan dalam hidup sehari-hari. Orang beriman mesti berusaha menemukan Tuhan dalam kehidupannya yang nyata. Lantas kalau sudah berjumpa dengan Tuhan, orang mesti berani bertanya tentang kehendak Tuhan bagi dirinya. Hanya dengan cara ini, orang mampu berjalan bersama Tuhan. Orang mampu mengenal kehendak Tuhan bagi hidupnya. Dengan demikian, orang menemukan sukacita dan damai dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


805

23 Juni 2011

Membagikan Pengalaman Kegembiraan


Suatu pagi, seorang mahasiswi mendapat telephon dari kampusnya. Ia diminta untuk segera ke kampus. Ia segera berangkat. Seribu satu pikiran timbul tenggelam dalam benaknya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah tiba di kampus. Namun ia tetap yakin, ada sesuatu yang baik yang akan ia peroleh dari kampusnya.

Setelah beberapa lama, ia pun tiba di kampusnya. Ia langsung menuju ke bagian administrasi universitas itu. Begitu bertemu dengan petugas administrasi, jantungnya berdetak kencang. Namun tiba-tiba ia menjadi tenang. Ia pun dapat tersenyum gembira, begitu petugas itu berkata, “Selamat. Anda mendapat beasiswa!”

Ia melonjak kegirangan. Ia merasakan hidup ini menjadi lebih bermakna. Hidup ini menjadi lebih mudah. Ia datang dari keluarga miskin yang tidak berpunya, namun ia mendapatkan perhatian yang luar biasa dari pihak universitas. Ia pun bersyukur atas kebaikan Tuhan. Ternyata Tuhan tetap menyertai umat-Nya yang miskin. Tuhan tetap peduli terhadap orang yang lemah.

Kegembiraan itu kemudian ia bagikan kepada sang ibu di rumah. Sang ibu sampai meneteskan air mata. Ia begitu bahagia. Ia tidak perlu lagi bekerja terlaku keras untuk membiayai putrinya itu.

Gadis itu mengucapkan terima kasih atas perhatian ibunya. Ia menyadari, sikap cerewet yang selama ini ditunjukkan oleh ibunya itu sungguh-sungguh bermanfaat. Ia mendapatkan dukungan dan dorongan untuk meraih prestasi yang tinggi dalam kuliahnya.

Sahabat, kegembiraan yang kita miliki bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kegembiraan itu juga mesti dibagikan kepada sesama. Mengapa? Karena kegembiraan itu menjadi suatu situasi kita memberi semangat hidup kepada orang lain. Ketika kita berani membagikan kegembiraan kita kepada orang lain, kita ingin mengungkapkan betapa hidup ini memiliki makna yang begitu mendalam.

Banyak orang berpikir, kegembiraan itu miliki diri mereka sendiri. Karena itu, mereka memendam kegembiraan itu untuk diri mereka sendiri. Mereka enggan membagikan kegembiraan itu kepada sesamanya. Akibatnya, kegembiraan itu hanya untuk diri mereka sendiri. Kegembiraan itu hanya bermakna bagi diri mereka sendiri. Bukan menjadi bagian dari sesama.

Melalui kisah di atas kita diajak untuk berani membagikan kegembiraan yang kita miliki kepada sesama kita. Mengapa? Karena kegembiraan yang kita miliki itu bukan hanya milik kita. Kegembiraan itu juga milik sesama kita. Kegembiraan itu pantas kita bagikan kepada sesama kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menyadari bahwa kegembiraan itu berasal dari Tuhan. Tuhan sendiri ingin membagikan kegembiraannya kepada ciptaan-Nya. Tuhan ingin agar kita menemukan kegembiraan dalam hidup kita. Karena itu, mari kita saling berbagi kegembiraan. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

707

28 April 2010

Belajar dari Pengalaman Hidup



Suatu hari seorang teman mengunjungi saya. Sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Karena itu, kami mencurahkan rasa rindu kami dengan obrolan-obrolan masa lalu. Topik pembicaraan yang paling dominan dalam pembicaraan itu tentang live in di Solo, Jawa Tengah. Dalam live in itu, kami tinggal bersama suatu masyarakat dalam waktu yang tidak lama. Tujuan live ini adalah merasakan dan mengalami cara hidup warga setempat.

Ia mengenang kembali saat-saat, ketika ia bersama seorang tukang sampah (betulan) mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.

“Apa komentar warga waktu itu?”tanya teman saya itu, mengingatkan saya.

“Ada yang kasihan sama kita. Ada yang bilang, orang bersih-bersih gitu kok mau jadi tukang sampah,” kata saya.

Teman saya itu tertawa terkekeh-kekeh. Memang, kebanyakan warga kurang begitu mengenal para tukang sampah (betulan) yang hampir setiap hari berkeliling itu. Karena itu, mereka pun tidak tahu, kalau ada sejumlah mahasiswa yang sedang live in alias merasakan kehidupan nyata bersama orang-orang kecil. Ketidaktahuan warga itu menjadi sesuatu yang sangat diharapkan. Mengapa? Karena kalau warga sudah tahu identitas para mahasiswa itu, sudah dapat dipastikan bahwa mereka tidak tega melihat para mahasiswa itu berlepotan kotoran sampah yang berasal dari rumah mereka.

“Saya merasakan bahwa pengalaman live in itu sesuatu yang berguna bagi persiapan saya untuk menjadi seorang pemimpin. Sayang, saya tidak menjadi pemimpin besar di masyarakat. Tetapi toh pengalaman seperti itu tetap saya bawa hingga kini. Saya menjadi lebih peduli terhadap mereka yang kurang mampu,” kata teman saya yang kini sudah menjadi seorang bapak keluarga dengan dua orang anak ini.

Pengalaman hidup sehari-hari sering menjadi guru yang sangat berharga dalam mendidik seseorang memaknai hidup ini. Para pemimpin yang pernah mengalami hal ini akan memperhatikan rakyat yang mereka pimpin. Pengalaman live in itu sesuatu yang sangat berharga dalam proses pembinaan mereka.

Gunungan sampah yang pernah mereka sentuh dapat mengajari mereka bahwa ada warna-warni kehidupan yang mesti mereka jamah dan alami. Kehidupan ini tidak hanya riak-riak kecil nan biasa yang mengalir begitu saja. Kehidupan ini ternyata memiliki suatu makna perjuangan, kalau itu didalami sungguh-sungguh.

Pengalaman ini tentu akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan hidup seorang pemimpin. Presiden Sukarno banyak ditempa oleh perjumpaan dengan masyarakat kecil. Ketika ia dibuang di berbagai tempat di Tanah Air, ia belajar banyak dari mereka. Ia menjadi seorang pemimpin yang sangat peduli terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Karena itu, perjuangannya untuk kemerdekaan bangsa ini merupakan suatu perjuangan yang total. Sebagai orang beriman, apakah kita juga berjuang secara total untuk kebahagiaan sesama kita? Ataukah kita masih hanya berkutat dengan diri kita sendiri? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


361

Bagikan

21 April 2010

Belajar dari Pengalaman


Jonas Salk, seorang ilmuwan besar dan penemu vaksin polio, adalah orang yang tidak pernah merasa gagal. Padahal baru pada usahanya yang ke-201 ia menemukan vaksin polio. Suatu hari seorang wartawan bertanya kepadanya, “Bagaimana hasil luar biasa yang Anda capai yang bisa menghapus kata polio dari perbendaharaan dunia kedokteran menyebabkan Anda memandang 200 kegagalan Anda sebelumnya?”

Dengan penuh percaya diri, Jonas menjawab, “Saya tidak pernah membuat 200 kegagalan di dalam hidup saya. Keluarga saya tidak pernah menganggapnya sebagai kegagalan. Mereka menyebutnya pengalaman dan apa yang bisa dipelajari dari pengalaman itu. Saya hanya membuat 201 penemuan. Saya tidak akan berhasil menemukan vaksin polio tanpa 200 pengalaman sebelumnya.”

Wartawan itu berdecak kagum mendengarkan penjelasan Jonas. Dua ratus kegagalan justru menjadi 200 pengalaman yang indah untuk menemukan sesuatu yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Berkat 201 penemuan itu, anak-anak diberi vaksin polio sejak dini, sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang normal.

Jarang kita menemukan orang yang seoptimis Jonas. Ia merasa optimis, karena ia memiliki keyakinan bahwa ilmu yang sedang ia dalami berguna untuk keselamatan umat manusia. Ia merasa bertanggung jawab atas generasi penerus bangsa manusia di muka bumi ini. Karena itu, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menemukan vaksin polio itu.

Optimisme itu tentu dibarengi juga oleh suatu kerja keras tanpa mengenal lelah. Tidak ada kata gagal dalam kamus hidupnya. Yang ia lakukan adalah bekerja dengan konsistensi yang tinggi. Ia terus-menerus membaktikan diri bagi ilmu itu meski hasil yang akan ia peroleh masih samar-samar.

Dalam hidup ini orang mesti memiliki suatu optimisme. Hal ini akan memberi semangat bagi seseorang untuk terus maju dalam usaha-usahanya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Mengapa orang mudah putus asa ketika suatu usaha belum menampakkan hasil yang diinginkan? Jawabannya adalah orang kurang memiliki sikap optimis. Baru sekali coba, orang sudah mengambil kesimpulan bahwa ia sudah gagal. Setiap percobaan itu tidak dipandang sebagai pengalaman yang memberi sumbangan dalam usaha mencapai tujuan yang diinginkan.

Pengalaman Jonas Salk mengajarkan kepada kita bahwa pengalaman-pengalaman itu adalah guru yang terbaik. Pengalaman-pengalaman itu menjadi bekal langkah kita selanjutnya untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Sebagai orang beriman, kita tidak lupa menyertakan Tuhan dalam setiap usaha kita. Tuhan memberikan semangat kepada kita untuk tetap berjuang dalam hidup ini. Tuhan membantu kita dalam menggapai kesuksesan dalam hidup kita. Karena itu, sambil berusaha kita mesti memasrahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Dialah penyelenggara hidup ini bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

355


Bagikan

18 Maret 2010

Berjuang untuk Lebih Baik




Suatu sore seorang bapak berjalan-jalan dengan anaknya di tepi sebuah kolam di belakang rumah mereka. Sambil memberi makan ikan-ikan di kolam itu, anak itu bercerita kepada ayahnya. Menurutnya, akhir-akhir ini ia bermimpi yang aneh-aneh. Mimpinya juga bermacam-macam. Salah satunya ia bermimpi tentang pertarungan dua ekor anjing. Anehnya, dua ekor anjing itu bertarung di dalam dirinya.

Anak itu bercerita, “Dua ekor anjing itu memiliki mata yang tajam. Gigi mereka runcing-runcing. Kuku-kuku mereka sangat kuat. Mereka saling menerkam. Keduanya berusaha memenangkan perkelahian itu.”

Ia melanjutkan, “Anjing pertama tampak baik dan tenang. Tetapi anjing yang kedua sangat ganas dan menakutkan. Ia meraung-raung dan menerkam anjing yang pertama dengan sangat kejam. Apa maksud mimpi ini ayah? Apakah ini gambaran dari sifat-sifat yang ada dalam diri saya?”

Ayahnya menatap wajah anaknya. Ia menganggukkan kepala lalu berkata, “Hati-hatilah, anakku. Dalam hidup ini kamu akan selalu berada di bawah bayang-bayang dua hal ini, yaitu yang baik dan yang jahat.”

“Lalu anjing mana yang akan menjadi pemenangnya, ayah?” tanya anak itu.

Tanpa pikir panjang ayahnya menjawab, “Pemenangnya adalah yang paling banyak kamu beri makan. Seperti ikan-ikan kita, yang mendapatkan makanan yang banyak akan bertumbuh lebih baik.”

Hidup kita ini seperti suatu pertarungan. Kita selalu bergumul dengan berbagai hal yang membentuk kepribadian kita. Kalau kita berada di dalam suatu lingkungan yang baik dan kondusif untuk pertumbuhan hidup kita, kita juga akan bertumbuh dengan baik. Tetapi bisa juga lingkungan yang kurang baik dan kurang kondusif bisa dipakai untuk pertumbuhan kepribadian kita. Ini tergantung dari orang yang bersangkutan yang mampu memilah mana yang baik yang dapat ia gunakan untuk pertumbuhan kepribadiannya.

Seringkali manusia tunduk kepada sifat-sifat jelek yang ada dalam dirinya. Misalnya, ada orang yang mudah sekali dikuasai oleh iri hati, marah dan egoisme. Orang seperti ini mesti bertanya diri, mengapa hal ini bisa terjadi atas dirinya? Mengapa ia mudah sekali dikuasai oleh hal-hal ini? Bukankah iri hati terhadap orang yang sukses hanya membuat diri orang terjerumus ke dalam pikiran-pikiran negatif tentang orang lain? Bukankah lebih baik belajar dari kesuksesan orang lain untuk memajukan diri sendiri?

Karena itu, sebagai orang beriman, kita perlu membangun sikap menumbuhkan hal-hal baik dalam diri kita. Untuk itu, iri hati, marah dan egoisme mesti mampu kita singkirkan dari dalam diri kita. Dengan begitu, kita mampu menjadi orang-orang yang kuat dalam menghadapi arus jaman yang seringkali menyesatkan manusia ini.

Setiap hari kita mengalami begitu banyak hal, baik yang jelek maupun yang baik. Pengalaman yang kurang baik bisa kita gunakan untuk introspeksi diri. Pengalaman-pengalaman yang baik kita gunakan untuk membangun kepribadian yang lebih baik. Mari kita bawa semua pengalaman hidup kita itu kepada Tuhan. Dengan demikian, rahmat Tuhan senantiasa menyertai kita dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

354

Bagikan

04 Oktober 2009

Mengolah Pengalaman Hidup

Suatu Pagi yang cerah, ada seorang penganggur yang sedang duduk-duduk di tepi jalan di antara dua kota. Tak lama kemudian, lewatlah seorang turis di jalan itu. Wajahnya tampak kusut. Ketika melintas di hadapan sang penganggur, berhentilah sang turis dan bertanya kepadanya, “Pak, numpang tanya. Orang-orang macam apa yang tinggal di kota di depan itu?”

Tanpa memandang sang turis, sang penganggur balik bertanya, “Orang-orang macam apa yang Anda temui di kota yang baru saja Anda tinggalkan?”

Sang turis menjawab, “Oh, sangat mengerikan. Mereka egois dan kurang ajar.”

Mendengar jawaban itu, sang penganggur mendongakkan kepalanya. Lalu ia berkata, “Kalau begitu, di kota depan itu pun Anda akan menjumpai orang-orang yang sama.”

Tak lama setelah itu, seorang turis lain juga lewat di jalan itu. Wajahnya tampak riang gembira. Ketika melintas di hadapan sang penganggur, berhentilah sang turis dan bertanya kepadanya, "Pak, numpang tanya. Orang-orang macam apa yang tinggal di kota di depan itu?”

Tanpa memandang sang turis, sang penganggur balik bertanya, “Orang-orang macam apa yang Anda temui di kota yang baru saja Anda tinggalkan?”

Sang turis menjawab, “Oh, menyenangkan sekali. Mereka amat baik dan bersahabat.”

Sang penganggur mendongakkan kepalanya. Sambil tersenyum ia berkata kepada sang turis, “Kalau begitu, di kota depan itu pun Anda akan menjumpai orang-orang yang sama.”

Turis itu membalas senyum si penganggur, lalu berjalan menuju ke kota di depannya dengan gembira.

Pengalaman hidup kita dapat mempengaruhi cara pandang kita terhadap orang lain atau suatu masyarakat tertentu. Orang yang memiliki pengalaman indah tentang orang lain atau suatu masyarakat akan menyimpan dalam hatinya hal-hal yang baik. Orang yang punya pengalaman masa lalu yang jelek tentang orang lain atau suatu masyarakat akan menyimpan memori yang jelek pula.

Untuk itu, orang mesti mampu mengolah pengalaman masa lalu itu. Kisah tadi menunjukkan bahwa turis kedua dapat mengolah pengalaman masa lalunya. Ia memiliki suasana gembira dalam hatinya, karena ia memiliki pengalaman yang indah. Namun semestinya setiap orang mampu memiliki kegembiraan dalam hidupnya, meski memiliki pengalaman masa lalu yang kurang begitu baik.

Orang mesti berani menerima pengalaman jelek masa lalunya dan mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Pengalaman masa lalu yang jelek itu mesti mengalami proses daur ulang. Hal ini membutuhkan suasana batin yang baik dan menyenangkan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mampu mengolah pengalaman-pengalaman hidup kita. Hanya dengan mengolahnya dengan baik, kita akan menjadi orang-orang yang senantiasi menghiasi hidup kita dengan suasana kegembiraan. Mari kita pandai-pandai mengolah pengalaman hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


187

27 Agustus 2009

Belajar dari Pengalaman Hidup





Aktris Teri Hatcher mengumpulkan sumbangan sebesar 35.000 dollar AS untuk membantu kaum miskin di Kenya. Pemain film seri televisi The Desperate Housewives ini menyampaikan sumbangan itu di sela-sela kunjungannya ke Nairobi, ibu kota Kenya, selama dua minggu.

Hatcher tidak pergi sendirian ke Kenya. Ia membawa putrinya, Emerson Rose, yang baru berusia sepuluh tahun. Di sana Rose mengikuti sekolah bersama murid-murid setempat. Tentang anaknya, Hatcher yang juga bermain dalam film Spy Kids ini berkata,

”Anak-anak itu begitu bersemangat. Awalnya mereka sempat malu-malu. Mereka tidak mau berbicara langsung dengan saya. Anak-anak itu hanya mau bicara dengan anak saya.”

Perempuan kelahiran Palo Alto, California, Amerika Serikat, 8 Desember 1964, ini sangat terkesan dengan teman-teman sekolah Rose selama di Nairobi. Ia mengatakan bahwa mereka menyayangi anaknya. Rose pun menjalin persahabatan dengan anak-anak di Nairobi. Suatu persahabatan lintas suku bangsa dan negara. Tentu kondisi seperti ini sangat menyenangkan semua pihak.

Tentang pengalamannya selama dua minggu di Nairobi, Hatcher berkata, “Kami kemudian berbicara berbagai hal, dari soal serius seperti matematika sampai hal ramah-tamah. Apa saja hal yang paling kami sukai dalam hidup ini. Kami juga ngobrol tentang olahraga favorit kami masing-masing.”

Pengalaman itu guru yang sangat berharga. Melalui pengalaman itu orang dapat belajar berbagai hal tentang kehidupan ini. Kisah di atas menunjukkan bahwa persahabatan itu dapat dibangun melalui pengalaman hidup bersama. Saling menghargai dapat dibangun, kalau orang mau bergaul dengan sesamanya.

Kunci untuk semua ini adalah keterbukaan hati kepada sesama. Orang yang mampu membuka hatinya terhadap kehadiran sesama akan menimba begitu banyak hal yang indah bagi hidupnya. Orang yang mau menerima kehadiran sesamanya biasanya orang yang mau belajar dari sesamanya itu.

Dari kisah tadi kita belajar bahwa seorang bintang film terkenal tidak segan-segan menimba ilmu dari anak-anak yang miskin di negeri miskin. Baginya, ilmu kehidupan itu dapat ditimba dari mana saja. Yang penting orang mau membuka hati dan dan mau belajar sesuatu yang baru.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mau belajar sesuatu yang baru dari orang lain. Pengalaman hidup bersama orang lain memperkaya hidup kita. Untuk itu, kita mesti membuka hati bagi sesama yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.