Pages

Tampilkan postingan dengan label berjuang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berjuang. Tampilkan semua postingan

27 Juni 2014

Berjuang dengan Tekun demi Hasil Yang Spektakuler



Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda mesti berhadapan dengan kekurangan dan kesulitan? Anda menyerah? Atau Anda berjuang terus dengan menemukan berbagai cara?

Tangan kanan Paul Wittgenstein tertembak saat Perang Dunia I. Padahal ia sangat membutuhkan tangan itu untuk bermain piano. Tangan kanan itu mesti diamputasi. Ia sangat mengalami depresi. Ia hampir putus asa.

Namun Paul Wittgenstein kemudian bangkit. Ia mulai belajar memainkan piano dengan menggunakan tangan kirinya. Selama menjadi tahanan Rusia, ia belajar menggunakan daya ingat di otaknya. Sesudah Perang Dunia I, ia belajar secara intensif memainkan piano dengan tangan kirinya.

Pria kelahiran Austria ini meneruskan perjalanan hidupnya dengan penuh semangat. Ia mengadakan konser di berbagai tempat terkenal. Dalam waktu singkat, ia menjadi seorang pianis kenamaan yang bermain dengan satu tangan, yaitu tangan kiri. Ia meminta para komposer terkenal untuk membuatkan lagu-lagu yang kemudian dimainkannya dengan sangat indah. Ia sangat dihormati oleh para penggemarnya.

Paul Wittgenstein membangkitkan semangat hidup bagi banyak orang yang sedang berada dalam situasi sulit. Kebangkitannya dari depresi menginspirasi kehidupan manusia. Banyak orang kemudian meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup. Ternyata tidak ada aral yang mampu menghalangi kesuksesan manusia.

Sahabat, apa yang mampu menghalangi manusia untuk keluar dari kesulitan hidupnya? Sebenarnya tidak ada yang mampu menghalangi manusia, kalau manusia mau berjuang untuk keluar dari kesulitan hidupnya. Apalagi kalau manusia menyertakan Tuhan dalam perjalanan hidup ini.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kondisi fisik tidak bisa menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Paul Wittgenstein membuktikan bahwa ia mampu keluar dari keterbatasan dirinya. Dengan satu tangan, yaitu tangan kiri, ia mampu menghasilkan musik-musik spektakuler dengan memainkan piano.

Kisah ini memberi kita inspirasi untuk tidak pernah berhenti berkreasi dalam kehidupan ini. Kreasi yang kita miliki bukan hanya bagi diri kita sendiri. Kreasi yang kita buat juga untuk kebahagiaan bagi banyak orang. Karena itu, tantangan dan rintangan yang menghadang mesti memberi kita motivasi untuk terus-menerus berkarya.

Untuk itu, yang mesti disadari adalah kita tidak berkarya sendirian. Paul Wittgenstein meminta bantuan orang-orang lain untuk membantunya dalam menciptakan lagu-lagu. Ia melanjutkannya dengan memainkan piano. Ketika kita bekerja sendirian, hasil yang kita dapatkan sering kurang optimal. Tetapi ketika kita saling membantu dalam suatu karya, karya itu menjadi sesuatu yang spektakuler.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah suatu sikap rendah hati dalam berkarya. Artinya, orang berani mengakui kekurangan dan kelemahan dirinya. Lantas orang berani menerima keunggulan orang lain demi kemajuan dirinya. Hal ini sering tidak mudah. Mengapa? Karena orang sering mengandalkan egoisme dirinya. Orang lebih menonjolkan kemampuan dirinya sendiri. Akibatnya, orang tidak mampu menyelesaikan suatu karya yang spektakuler.

Mari kita berkarya bersama untuk menghasilkan karya-karya yang spektakuler. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih baik dan damai. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1112

01 Februari 2014

Menciptakan Semangat Berjuang



Anda masih punya semangat juang hidup dalam dunia yang serba tidak menentu ini? Saya harap Anda masih punya optimisme yang tinggi untuk menjalani hidup ini.

Kehormatan sebagai pengeliling dunia pertama tunggal dianugerahkan kepada Francis Chichester. Ia hidup dari tahun 1902 hingga 1972. Di tahun 1966, Chichester yang berusia 64 tahun berlayar menggunakan Gipsy Moth IV dengan panjangnya 16 meter dari Inggris.

Sial baginya. Sistim kemudi Gipsy rusak saat berada 3700 kilometer dari Australia. Tapi ia berhasil mencapai Australia. Segera setelah meninggalkan Sydney, Gyspy terbalik. Namun ia berhasil memperbaiki keadaannya. Di sekitar Tanjung Tanduk, Chichester menghadapi gelombang setinggi 15 meter. Dia berhasil mengendalikan Gyspynya. Chichester bukan tipe orang yang cepat menyerah.

Tahun 1960 dia adalah pemenang lomba melintasi atlantik dengan hanya menggunakan satu tangan. Dia juga orang pertama yang melakukan penerbangan tunggal jarak jauh dengan menggunakan pesawat terbang air dari Inggris ke Australia. Pada tanggal 28 Mei 1967, setelah 226 hari berlayar di laut lepas, dia disambut oleh setengah juta orang di Plymouth, Inggris.

Sahabat, suatu kerja keras tanpa menyerah akan membuahkan hasil yang berlimpah bagi kehidupan. Namun suatu kerja keras tanpa konsistensi belum tentu menghasilkan buah yang baik. Konsistensi itu semangat yang memotivasi kerja keras manusia. Konsistensi itu bagai mesin penggerak yang menggerakkan kendaraan untuk dapat berlari.

Karena itu, orang tidak hanya sekedar bekerja keras. Orang mesti menemukan semangat hidup yang memberi konsistensi dalam kerja kerasnya itu. Orang beriman akan menemukan semangat itu di dalam Tuhan. Mengapa? Karena bagi orang beriman, Tuhanlah sumber inspirasi hidup. Tuhan memberi kekuatan kepada manusia untuk memiliki semangat dalam mengerjakan sesuatu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa sang pengembara itu memiliki semangat hidup yang tinggi. Ia tidak menyerah begitu ada tantangan yang besar yang menghadang hidupnya. Ia terus-menerus berusaha. Ketika kapal yang dikendalikannya dihempas gelombang yang tinggi, ia tetap berusaha untuk mengatasinya. Ia tidak putus asa. Berkat kerja kerasnya itu, ia mengalami kegembiraan. Tentu saja Chichester memiliki konsistensi dalam perjuangannya mengarungi lautan luas.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memiliki konsistensi dalam hidup beriman. Konsistensi itu bisa dalam bentuk kesetiaan atau kejujuran. Orang yang bertahan dalam kesetiaan akan menemukan semangat untuk tetap berjuang. Tidak ada keputusasaan dalam dirinya. Orang terus berusaha, karena memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu akan menghasilkan buah-buah kebaikan bagi hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk memiliki semangat yang memberi kita kekuatan untuk tetap bertahan dalam iman kita. Kita juga mohon bantuan dari Tuhan, agar kita tetap setia pada iman kita masing-masing. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih berguna bagi diri kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1040

17 Juli 2011

Terus Berjuang bagi Kepentingan Bersama



Masih adakah sosok orang-orang yang berani berkorban bagi bangsa dan negara di negeri ini? Bukankah banyak orang hanya mementingkan diri sendiri? Bukahkah berbagai persoalan korupsi di negeri ini bermula dari penonjolan kepentingan diri sendiri? Orang ingin kaya mendadak. Orang ingin memiliki harta dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Akibatnya, uang rakyat dirampas begitu saja dengan cara-cara yang tidak halal.

Kasus-kasus korupsi yang melibatkan berbagai pihak di negeri ini menjadi salah satu contoh tidak adanya orang-orang yang berani berkorban bagi bangsa dan negara. Mereka hanya bekerja demi kepentingan diri sendiri. Kepentingan rakyat banyak diabaikan. Akibatnya terjadi jenjang yang begitu dalam antara si kaya dan si miskin. Si kaya boleh berfoya-foya. Sedangkan si miskin terpaksa hidup apa adanya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok saja tidak mampu.

Krisbiantoro merasakan situasi sekarang ini sebagai situasi yang memprihatinkan. Pria berusia 73 tahun ini pernah terlibat dalam masa perjuangan kemerdekaan negeri ini. Ia merasakan ada berbedaan yang begitu besar antara generasinya dengan generasi sekarang. Ia memberi contoh kasus kejahatan uang milik rakyat yang dilakukan oleh Gayus Tambunan.

Kris Biantoro mengatakan bahwa sepertinya generasi muda sekarang perlu untuk kembali ”dipertemukan” dan ”diperkenalkan” dengan sosok-sosok ksatria. Sosok orang-orang yang berani berkorban demi bangsa dan negara. Ia memberi contoh Jenderal Sudirman, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Gatot Subroto yang menjadi idola kaum muda pada zamannya. Mereka telah menunjukkan korban yang begitu besar bagi bangsa dan negara ini.

Sambil berseloroh, ia berkata, ”Jangan seperti sekarang. Hampir setiap hari kita ini dicekoki soal Gayus Tambunan.”

Sahabat, tugas setiap warga negara adalah menyelamatkan bangsa dan negara ini dari kehancuran. Namun soalnya adalah kita kekurangan kesatria yang berani berkorban. Artinya, orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang bagi kepentingan bangsa dan negara ini.

Tentu saja hal ini terjadi karena bangsa kita sudah kehilangan semangat berjuang. Yang ada sekarang ini adalah bangsa penikmat. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan sudah lama berlalu. Perjuangan untuk membangun bangsa dan negara ini juga tampaknya sudah berlalu. Karena itu, yang ada sekarang adalah menikmati hasil perjuangan dan pembangunan. Tidak usah heran tumbuh dan berkembang Gayus-gayus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, apa yang dikatakan oleh Krisbiantoro patut kita serap dalam hidup kita. Sebagai bangsa, kita perlu mencontoh sosok-sosok pejuang. Mereka telah berani mengorbankan hidup untuk kita. Mereka memberi semangat bagi kita untuk memacu diri menjadi bangsa pejuang. Mari kita terus-menerus berjuang bagi kemajuan bangsa dan negara ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


732

22 Maret 2011

Berusaha Menciptakan Semangat Berjuang

Kehormatan sebagai pengeliling dunia pertama tunggal dianugerahkan kepada Francis Chichester. Ia hidup dari tahun 1902 hingga 1972. Di tahun 1966, Chichester yang berusia 64 tahun berlayar menggunakan Gipsy Moth IV dengan panjangnya 16 meter dari Inggris.

Sial baginya. Sistim kemudi Gipsy rusak saat berada 3700 kilometer dari Australia. Tapi ia berhasil mencapai Australia. Segera setelah meninggalkan Sydney, Gyspy terbalik. Namun ia berhasil memperbaiki keadaannya. Di sekitar Tanjung Tanduk, Chichester menghadapi gelombang setinggi 15 meter. Dia berhasil mengendalikan Gyspynya. Chichester bukan tipe orang yang cepat menyerah.

Tahun 1960 dia adalah pemenang lomba melintasi atlantik dengan hanya menggunakan satu tangan. Dia juga orang pertama yang melakukan penerbangan tunggal jarak jauh dengan menggunakan pesawat terbang air dari Inggris ke Australia. Pada tanggal 28 Mei 1967, setelah 226 hari berlayar di laut lepas, dia disambut oleh setengah juta orang di Plymouth, Inggris.

Sahabat, suatu kerja keras tanpa menyerah akan membuahkan hasil yang berlimpah bagi kehidupan. Namun suatu kerja keras tanpa konsistensi belum tentu menghasilkan buah yang baik. Konsistensi itu semangat yang memotivasi kerja keras manusia. Konsistensi itu bagai mesin penggerak yang menggerakkan kendaraan untuk dapat berlari.

Karena itu, orang tidak hanya sekedar bekerja keras. Orang mesti menemukan semangat hidup yang memberi konsistensi dalam kerja kerasnya itu. Orang beriman akan menemukan semangat itu di dalam Tuhan. Mengapa? Karena bagi orang beriman, Tuhanlah sumber inspirasi hidup. Tuhan memberi kekuatan kepada manusia untuk memiliki semangat dalam mengerjakan sesuatu.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa sang pengembara itu memiliki semangat hidup yang tinggi. Ia tidak menyerah begitu ada tantangan yang besar yang menghadang hidupnya. Ia terus-menerus berusaha. Ketika kapal yang dikendalikannya dihempas gelombang yang tinggi, ia tetap berusaha untuk mengatasinya. Ia tidak putus asa. Berkat kerja kerasnya itu, ia mengalami kegembiraan. Tentu saja Chichester memiliki konsistensi dalam perjuangannya mengarungi lautan luas.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memiliki konsistensi dalam hidup beriman. Konsistensi itu bisa dalam bentuk kesetiaan atau kejujuran. Orang yang bertahan dalam kesetiaan akan menemukan semangat untuk tetap berjuang. Tidak ada keputusasaan dalam dirinya. Orang terus berusaha, karena memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu akan menghasilkan buah-buah kebaikan bagi hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk memiliki semangat yang memberi kita kekuatan untuk tetap bertahan dalam iman kita. Kita juga mohon bantuan dari Tuhan, agar kita tetap setia pada iman kita masing-masing. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih berguna bagi diri kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang

638

07 November 2010

Berjuang Meraih Sukses


Ada seorang anak yang selalu tidak berani tampil ke hadapan umum. Ia selalu menyuruh temannya untuk maju, kalau ada kegiatan yang menuntut suatu kompetisi. Semua soal akan ia kerjakan, yang penting ia tidak maju untuk membawakan jawaban atas soal-soal itu. Biarlah temannya yang mendapat nama, kalau nanti berhasil menjuarai suatu kompetisi. Lama sekali situasi ini berlangsung. Ia mau hidup di balik bayang-bayang orang lain. Sebaliknya, temannya itu juga hidup di balik bayang-bayang dirinya.

Akibatnya, anak ini menjadi kurang percaya diri. Ia tidak mampu mengungkapkan isi hatinya dengan baik kepada orang lain. Padahal ia bukan orang yang bodoh. Ia orang yang pandai. Ia selalu menduduki rangking tertinggi di kelas bahkan di sekolahnya. Memang, ia punya prinsip bahwa yang penting adalah hasil yang baik. Bukan penampilan yang paling penting. Namun tetap saja menampilkan diri di hadapan orang lain merupakan suatu ungkapan penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain.

Lama-kelamaan anak ini menjadi orang yang kurang pergaulan. Ia hanya punya teman orang-orang tertentu saja. Akibatnya, ia juga tidak mudah mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan sekolahnya. Ia hanya bisa tinggal di rumah. Ia hanya mampu bergaul dengan teman-teman tertentu saja.

Sahabat, kondisi seperti kisah tadi tentu sesuatu yang kurang baik. Berani tampil di hadapan umum itu bukan untuk menonjolkan kehebatan diri. Itu suatu bentuk pengungkapan penghargaan terhadap diri dan sesama. Orang yang hanya bersembunyi di balik bayang-bayang orang lain hanya akan menghancurkan diri sendiri. Orang seperti ini tidak membuka dirinya lebih luas untuk dunia di sekitarnya. Orang seperti ini lebih mementingkan dirinya sendiri. Egoismenya menguasai pribadinya.

Namun sebaliknya orang yang bersembunyi di balik bayang-bayang orang lain hanya untuk menikmati keberhasilan orang lain juga sesuatu yang kurang baik. Orang seperti ini mengakui ide, jerih payah, karya dan keberhasilan orang lain sebagai miliknya. Ke mana-mana ia membanggakan dirinya. Padahal apa yang diraihnya itu bukan usaha dirinya sendiri, tetapi usaha orang lain.

Kondisi seperti ini merupakan suatu kegagalan dalam hidup. Bahkan ini suatu kekalahan telak bagi integritas seseorang. Semestinya orang dengan tulus mengakui keberhasilan orang lain dengan menghargai dan menghormati apa yang telah mereka raih. Orang mesti dengan tulus menyatakan bahwa keberhasilan itu bukan miliknya. Ini hanyalah sebuah keberhasilan yang semu.

Karena itu, orang mesti mulai meniti keberhasilan dirinya sendiri. Meski hanya setetes, keberhasilan sejati adalah mata air yang terus-menerus memancarkan harapan bagi hidup ini. Untuk itu, orang mesti kreatif dalam hidupnya. Orang tidak bisa hidup di balik bayang-bayang orang lain. Mengapa? Karena apa yang diberikan sebuah bayangan hanyalah kegelapan.

Orang beriman mesti menunjukkan kemampuannya sendiri. Tidak perlu kuatir. Tidak usah berkecil hati, kalau ada kegagalan-kegagalan kecil menimpa diri kita. Kita mesti berusaha untuk meraih kesuksesan bagi hidup kita. Sedikit demi sedikit kita bekerja, lama-lama akan berhasil dengan baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 20.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


544

09 September 2010

Merebut Peluang untuk Kehidupan yang Lebih Baik



Seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya. Ia berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur dan kondisi finansial keluarganya morat marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumahnya dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan caranya memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Kadang-kadang dia sangat sedih memikirkan nasibnya, anak-anak sudah lama tak dibelikan pakaian. Istrinya sering marah-marah, karena tidak dapat membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga yang lebih layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi itu dan tak yakin bahwa perjalanannya kali inipun membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran, ia membungkuk dan mengambilnya. Melihat apa yang diinjaknya, ia berkata, ”Uh…., hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok.”

Meski begitu, ia membawa koin itu ke sebuah Bank. Melihat koin itu, teller berkata, ”Sebaiknya koin ini bapak bawa saja ke kolektor uang kuno.”

Lelaki itu pun mengikuti saran. Ia membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu rupiah. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok itu.

Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia ingin membuatkan beberapa rak untuk istrinya, karena istrinya pernah mengeluh tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu rupiah, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat meubel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan meubel. Dia menawarkan uang sejumlah satu juta rupiah kepada lelaki itu. Laki-laki itu tampak ragu-ragu, sehingga pengrajin itu meyakinkan dan menawarkan dapat menukar dengan sebuah lemari seharga satu juta rupiah.

Lelaki itu berpikir, ”Ya, sudahlah, aku tukar saja daripada aku juga akan membuat lemari. Toh juga sudah untung harganya jauh lebih tinggi”. Lelaki itu meminjam gerobak pengerajin dan dia pun segera membawa pulang lemari tersebut.

Dalam hidup ini satu hal yang penting adalah kreativitas dalam menangkap peluang-peluang yang ada. Peluang yang ada mesti ditangkap dengan baik untuk kemajuan hidup ini. Hanya dengan cara demikian, orang dapat menemukan suatu hidup yang lebih baik. Hanya dengan demikian, orang dapat menemukan hidup yang bahagia dan damai.

Namun banyak orang sering tidak peduli terhadap peluang-peluang yang ada. Mereka membiarkan peluang-peluang itu berlalu begitu saja. Padahal peluang-peluang itu sangat berharga bagi hidup mereka. Orang seperti ini biasanya orang yang hanya mau cari enak. Orang yang tidak mau bersusah payah dalam hidupnya. Orang seperti ini hanya menyia-nyiakan waktu hidupnya. Mengapa? Karena peluang itu akan pergi begitu saja. Peluang itu akan hilang.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menggunakan peluang-peluang yang ada untuk membangun hidup kita. Kita tidak perlu menunggu butir-butir emas jatuh dari langit ke atas tangan kita. Kita tidak perlu menunggu koin penyok yang mahal harganya. Bahkan kita sendiri mesti menciptakan peluang untuk diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

492

06 September 2010

Perjuangkanlah Hidup yang Indah Ini

Di depan para muridnya, seorang guru menceritakan pengalaman bertemu dengan seorang veteran Perang Dunia II. Pada suatu hari, prajurit tersebut harus menerbangkan ratusan pekerja rodi dari China untuk menggarap proyek jalan di Myanmar.

Jarak tempuh cukup jauh. Karena itu, untuk menghilangkan kebosanan dalam perjalanan itu, para pekerja itu menghabiskan waktu mereka dengan bermain kartu. Mereka bertaruh. Awalnya mereka bertaruh dengan menggunakan uang dan harta yang melekat pada badan mereka. Makin lama makin seru. Lama-kelamaan mereka kehabisan apa yang mereka miliki. Akibatnya, mereka mempertaruhkan hidup mereka. Yang kalah harus terjun keluar pesawat tanpa parasut.

Tiba-tiba seorang murid di kelas itu berteriak, ”Alangkah mengerikan dan kejamnya mereka.”

Guru itu menjawab, ”Memang, sungguh-sungguh mengerikan. Tetapi dengan begitu permainan semakin menjadi ramai dan asyik.”

Murid-murid mendengarkan guru itu. Tetapi ada juga yang tidak setuju dengan perbuatan para pekerja itu. Lantas guru itu berkata, ”Anak-anak semua, kalian semua baru bisa mensyukuri hidup ini, kalau kalian pernah mempertaruhkannya.”

Hidup itu indah. Hidup ini begitu berharga. Apa pun yang kita lakukan mesti mencerminkan perjuangan untuk mempertahankan hidup kita. Tetapi bukankah manusia sering lalai dalam hidup ini? Lihat saja begitu banyak orang tidak peduli akan nyawa mereka. Di tengah lalulintas yang padat, misalnya, masih saja kita saksikan banyak pengendara kendaraan bermotor yang nyerobot. Mereka ingin cepat-cepat. Atau kadang-kadang mereka hanya mau memperlihatkan kehebatan mereka dalam berkendaraan. Nanti kalau sudah terjadi kecelakaan, baru orang akan menyadari betapa hidup itu sangat berharga.

Kisah tadi mau menunjukkan kepada kita bahwa memperjuangkan hidup itu semestinya menjadi hal utama. Bagaimana jadinya kalau seseorang kehilangan hidupnya? Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia habis. Ia hanya tinggal nama. Kalau ia orang baik, ia masih beruntung karena masih ada orang yang mengenang kebaikannya. Tetapi kalau ia seorang yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, ia akan dicaci maki oleh banyak orang.

Karena itu, kesadaran untuk memperjuangkan dan mempertahankan kehidupan merupakan hal yang utama dalam hidup ini. Manusia dipanggil untuk mengembangkan dan memajukan hidupnya. Ketika kita menyadari hidup ini indah dan berharga, kita mesti mensyukurinya. Dengan demikian, kita dapat menemukan makna kehidupan ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

489

05 Juni 2010

Tidak Berhenti Berjuang



Ada seorang pendaki gunung yang berusaha memaknai hidupnya dari perjuangan yang ia lakukan. Hampir seluruh waktu dalam hidupnya dipakai untuk menaklukkan gunung-gunung yang menjulang tinggi, hanya untuk melihat pemandangan yang indah. Ia pernah mendaki gunung Kilimajaro di Afrika. Ia pernah mendaki Puncak Everest. Ia juga pernah menikmati indahnya salju abadi di Puncak Jaya. Menurutnya, semakinn tinggi gunung yang dia taklukkan, semakin indah pemandangan yang ia dapatkan.

Ketika berada di puncak Kilimanjaro, ia merasa itulah gunung tertinggi yang pernah ia hadapi. Dalam hatinya ada ketakutan, hal yang selalu datang dalam hatinya setiap akan mendaki sebuah gunung. Seperti biasa, ia berusaha menenangkan hatinya. Setelah merasa cukup tenang, ia mulai melangkahkan kaki, selangkah demi selangkah. Mendaki gunung yang akan menghadiahi dia banyak tantangan dengan bekal seadanya.

Tidak terasa, ia sudah mendaki seperempat dari gunung tersebut. Ia melihat sejenak ke belakang, jalan yang sudah ia lalui. Dalam pikirannya, dia berkata, "Ah, masih belum jauh." Sambil terus melangkahkan kakinya. Sampai langkahnya harus terhenti oleh seekor ular yang berjalan di hadapannya. Sesaat ia panik. Ia ingin menghindar. Namun, sedikit gerakan tubuhnya, menyadarkan ular tersebut akan kehadirannya di sekitarnya. Ular tersebut memandang dia yang sedang berusaha tenang. Ternyata ketenangannya akhirnya membuat ular tersebut pergi.

Ia melanjutkan perjalanannya dengan sisa bekal yang masih ada. Ketegangan karena ular tadi cukup membuat ia kehilangan tenaga. Kini ia sampai di posisi tengah dari gunung tersebut. Saat ia sadar akan posisinya, ada ketakutan muncul kembali dalam hatinya. Betapa jauh dan terjalnya jalan yang sudah ia lalui dan yang masih akan dia jalani. Bekal sudah sangat menipis. Ia takut akan mati di tengah jalan. Sesaat kembali ia duduk dan mengumpulkan semangat. Ia kembali pada motivasinya. Setelah yakin, ia kembali melangkah. Dia mulai dapat melihat pemandangan yang indah namun masih buram.

Sampailah ia pada tiga per empat bagian gunung itu. Ada pemandangan yang sangat mengerikan. Terdapat beberapa tulang belulang manusia di sana yang mungkin tewas saat mendaki gunung tersebut. Segera ia membuka bekal. Ia sangat terkejut. Tinggal sepotong roti. Pikirannya terguncang. Ia takut akan kematian. Namun saat memandang ke bawah, ia sadar, sudah terlalu jauh melangkah. Saat memandang sekelilingnya, ia mulai melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat, namun masih buram. Dan saat ia memandang ke atas, dia sadar, tinggal beberapa langkah lagi. Segera ia menghabiskan roti itu, dan dengan tekad bulat memutuskan untuk mendaki gunung tersebut sampai tuntas.

Langkah-langkahnya terus bergantian, walau lelah sudah tak terkatakan lagi. Ia terus berusaha, walau terjatuh beberapa kali. Naik, naik, dan terus naik. Sampai ia melihat sebuah hamparan tanah datar dan ia kembali terjatuh. Jatuh dan tak sanggup untuk bangun lagi. Ia mencoba membuka mata dan melihat pemandangan yang sangat indah dan jelas. Keindahan dunia di bawah sana. Warna-warni yang dihasilkan dengan sangat harmonis oleh alam. Ia sampai di puncak gunung. Gunung tersebut telah takluk. Ia mengucap syukur. Dengan sikap pasrah, ia menyerahkan tubuhnya, menyerahkan kelelahannya pada Sang Pencipta. Dia mati. Mati dalam kepuasan hidup. Mati dalam pengertian akan perjuangan hidup dan warna-warni kehidupan. Debu dan tanah gunung menjadi selimut untuk tidur panjangnya. Eidelways sebagai hiasan dan batu gunung sebagai batu nisannya.

Inilah gambaran kehidupan yang akan, sedang, dan mungkin yang seharusnya kita alami. Kita mesti tetap berusaha walau banyak rintangan yang mesti kita hadapi. Kita mesti yakin pada tujuan hidup kita. Kita mesti percaya bahwa setiap perjuangan akan membawa hasil. Sehingga kita pun dapat menghargai hidup kita dan semakin percaya bahwa Tuhan akan selalu ada dalam hidup kita.

Mari kita bawa seluruh perjuangan hidup kita kepada Tuhan. Suatu perjuangan yang penuh makna. Kita ingin satukan seluruh perjuangan hidup kita hari ini dengan tekad baru yang akan kita bangun di hari-hari mendatang. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com




400
Bagikan

16 Mei 2010

Menimba Semangat Juang


Suatu hari seorang anak muda mendatangi seorang seniman terkenal yang telah menghasilkan jendela-jendela kaca yang sangat indah. Ia ingin belajar pada seniman itu untuk melukis di atas kaca. Ia merasa dirinya memiliki bakat di bidang seni lukis. Setiap hari ia belajar di tempat seniman itu. Seniman itu dengan sabar membimbing anak muda itu.

Suatu ketika ia merasa penasaran, mengapa ia tidak bisa melukis seindah seniman itu. Lalu dia meminjam alat-alat yang digunakan oleh gurunya. Ia berpikir, jangan-jangan alat-alat itu yang membuat seniman itu tidak bisa disamainya. Dia berpikir, dengan meminjam alat-alat itu dia akan menjadi sama dengan gurunya.

Anak muda itu mulai melukis dengan alat-alat gurunya. Namun hasilnya masih jauh dari yang ia harapkan. Ia merasa kesal. Ia kecewa. Lalu dia mendatangi gurunya dan berkata, “Saya tidak dapat melukis lebih baik meski menggunakan alat-alat guru.”

Seniman itu menjawab, “Bukan alat-alat itu yang engkau butuhkan. Yang engkau butuhkan sekarang ialah semangat gurumu.”

Anak muda itu tertegun. Ia menyadari semangat gurunya belum ia transfer ke dalam dirinya. Ia masih memiliki semangat lama, semangat dari dirinya sendiri. Karena itu, semangatnya itu mesti diganti dengan semangat gurunya. Dengan demikian dia dapat melukis lebih baik lagi, bahkan kalau bisa lebih indah daripada gurunya.

Yang kita butuhkan dalam perjalanan hidup kita adalah semangat dari orang yang kita ikuti. Banyak anak muda di jaman kini mengikuti suatu trend tertentu. Misalnya, model rambut atau pakaian. Seringkali yang terjadi adalah mereka cepat bosan. Mereka merasa itu bukan dari diri mereka sendiri. Karena itu, mereka suka gonta-ganti model rambut atau pakaian. Trend itu ternyata hanyalah suatu tempelan, bukan menjadi semangat hidup.

Atau banyak anak muda yang mengikuti gaya para bintang olahraga tertentu. Mereka cepat bosan juga karena mereka tidak bisa mentransfer nilai-nilai baik yang dihidupi oleh bintang-bintang itu. Seseorang menjadi bintang lapangan hijau itu setelah melalui suatu perjuangan yang panjang. Ia mesti latihan setiap hari sepuluh jam, misalnya. Ia hidup secara teratur. Tidak begadang hingga larut malam. Nah, anak-anak muda lupa akan hal ini. Yang mereka tiru adalah gaya bintang di lapangan hijau itu. Mereka tidak menimba semangat juangnya. Karena itu, banyak anak muda menjadi stress karena tidak bisa menyamai bintang yang mereka idolakan.

Mari kita timba semangat juang, kesabaran, keuletan dan keberanian dari sesama yang kita jumpai. Setiap hari kita berjuang untuk meraih keinginan-keinginan kita. Mari kita memetik semangat juang dari sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

379


Bagikan

18 Maret 2010

Berjuang untuk Lebih Baik




Suatu sore seorang bapak berjalan-jalan dengan anaknya di tepi sebuah kolam di belakang rumah mereka. Sambil memberi makan ikan-ikan di kolam itu, anak itu bercerita kepada ayahnya. Menurutnya, akhir-akhir ini ia bermimpi yang aneh-aneh. Mimpinya juga bermacam-macam. Salah satunya ia bermimpi tentang pertarungan dua ekor anjing. Anehnya, dua ekor anjing itu bertarung di dalam dirinya.

Anak itu bercerita, “Dua ekor anjing itu memiliki mata yang tajam. Gigi mereka runcing-runcing. Kuku-kuku mereka sangat kuat. Mereka saling menerkam. Keduanya berusaha memenangkan perkelahian itu.”

Ia melanjutkan, “Anjing pertama tampak baik dan tenang. Tetapi anjing yang kedua sangat ganas dan menakutkan. Ia meraung-raung dan menerkam anjing yang pertama dengan sangat kejam. Apa maksud mimpi ini ayah? Apakah ini gambaran dari sifat-sifat yang ada dalam diri saya?”

Ayahnya menatap wajah anaknya. Ia menganggukkan kepala lalu berkata, “Hati-hatilah, anakku. Dalam hidup ini kamu akan selalu berada di bawah bayang-bayang dua hal ini, yaitu yang baik dan yang jahat.”

“Lalu anjing mana yang akan menjadi pemenangnya, ayah?” tanya anak itu.

Tanpa pikir panjang ayahnya menjawab, “Pemenangnya adalah yang paling banyak kamu beri makan. Seperti ikan-ikan kita, yang mendapatkan makanan yang banyak akan bertumbuh lebih baik.”

Hidup kita ini seperti suatu pertarungan. Kita selalu bergumul dengan berbagai hal yang membentuk kepribadian kita. Kalau kita berada di dalam suatu lingkungan yang baik dan kondusif untuk pertumbuhan hidup kita, kita juga akan bertumbuh dengan baik. Tetapi bisa juga lingkungan yang kurang baik dan kurang kondusif bisa dipakai untuk pertumbuhan kepribadian kita. Ini tergantung dari orang yang bersangkutan yang mampu memilah mana yang baik yang dapat ia gunakan untuk pertumbuhan kepribadiannya.

Seringkali manusia tunduk kepada sifat-sifat jelek yang ada dalam dirinya. Misalnya, ada orang yang mudah sekali dikuasai oleh iri hati, marah dan egoisme. Orang seperti ini mesti bertanya diri, mengapa hal ini bisa terjadi atas dirinya? Mengapa ia mudah sekali dikuasai oleh hal-hal ini? Bukankah iri hati terhadap orang yang sukses hanya membuat diri orang terjerumus ke dalam pikiran-pikiran negatif tentang orang lain? Bukankah lebih baik belajar dari kesuksesan orang lain untuk memajukan diri sendiri?

Karena itu, sebagai orang beriman, kita perlu membangun sikap menumbuhkan hal-hal baik dalam diri kita. Untuk itu, iri hati, marah dan egoisme mesti mampu kita singkirkan dari dalam diri kita. Dengan begitu, kita mampu menjadi orang-orang yang kuat dalam menghadapi arus jaman yang seringkali menyesatkan manusia ini.

Setiap hari kita mengalami begitu banyak hal, baik yang jelek maupun yang baik. Pengalaman yang kurang baik bisa kita gunakan untuk introspeksi diri. Pengalaman-pengalaman yang baik kita gunakan untuk membangun kepribadian yang lebih baik. Mari kita bawa semua pengalaman hidup kita itu kepada Tuhan. Dengan demikian, rahmat Tuhan senantiasa menyertai kita dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

354

Bagikan

25 Oktober 2009

Berjuang Bersama Tuhan

Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar, ternyata memiliki kisah hidup yang unik. Kisah ini dimulai sebelum ia lahir. Ibu kandungnya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan". Ibunya memberikan ia kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa anaknya harus diadopsi keluarga sarjana. Ia diadopsi seorang pengacara dan istrinya.

Sialnya, begitu ia lahir, tiba-tiba pasangan ini berubah pikiran, karena ingin bayi perempuan. Maka orangtua angkatnya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: "Kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut, apakah Anda berminat?

Mereka menjawab, "Tentu saja." Ibu kandungnya lalu mengetahui bahwa ibu angkat anaknya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkatnya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orangtua angkat anaknya berjanji akan menyekolahkannya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian Steve Jobs betul-betul kuliah. Namun, ia memilih universitas yang sangat mahal, sehingga seluruh tabungan orangtuanya habis untuk biaya kuliah. “Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orangtua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah. Saya yakin, itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil,” kata Steve Jobs saat pelepasan mahasiswa Unversitas Stanford beberapa tahun lalu.

Ia menjadi seorang yang sukses dalam hidupnya. Keputusan itu penuh resiko. Namun ia berani menghadapi apa pun resiko itu.

Dalam hidup ini kadang-kadang orang mesti berani mengambil resiko. Orang tidak bisa hanya mencari aman dalam hidup ini. Kesuksesan dan kemajuan yang dicapai oleh berbagai orang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berani melintasi batas-batas kemapanan yang ada. Mereka ingin sesuatu yang lebih dalam hidup mereka. Karena itu, mereka berjuang.

Kisah Steve Jobs menjadi salah satu pendorong bagi kita untuk berani mengambil langkah-langkah berani untuk kesuksesan dan kemajuan dalam hidup kita. Namun orang tidak asal berani. Orang mesti memiliki perhitungan-perhitungan yang matang dalam usaha-usahanya.

Sebagai orang beriman, kita yakin Tuhan akan selalu menjadi pendorong bagi hidup kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita berjuang sendiri dalam hidup ini. Tuhan senantiasa membantu kita untuk meraih sukses dan kemajuan.

Karena itu, mari kita berusaha untuk senantiasa berjuang bersama Tuhan dalam hidup ini. Kita serahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Dia pasti membantu kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


206

21 Juli 2009

Memperjuangkan Hidup Sesama


Suatu hari seorang murid menjual segala miliknya dan membagikannya kepada kaum miskin di kota. Setelah tidak ada lagi apa pun padanya, ia mengadakan perjalanan keliling kota, sampai akhirnya suatu ketika ia tidak mampu menahan rasa lapar yang menggerus perutnya. Lama ia mencoba bertahan, sampai akhirnya pasrah kalah terhadap kelaparan yang menimpanya.

Sementara mencari kemungkinan bagaimana mengganjal perutnya yang kosong, tatapannya tertuju kepada seekor kuda yang sedang dipekerjakan menggiling padi.

Ia bertanya kepada pemilik penggilingan, “Berapa kuda itu dibayar untuk kerja satu hari?”

Pemilik penggilingan itu menjawab, “Dua ribu rupiah!”

Ia berkata, “Bayar saya seribu rupiah untuk kerja satu hari.”

Permohonan itu dikabulkan. Ia bekerja selama satu hari demi lapar yang tidak tertahankan. Dalam hati ia berkata, “Banyak yang bahkan sanggup bekerja lebih hina daripada kuda sekedar mempertahankan hidup sehari.”

Banyak persoalan muncul bersumber dari perut. Dalam dunia ini kita menyaksikan begitu banyak orang mengalami lapar dan haus. Mereka ingin melakukan apa saja untuk mengenyangkan perut mereka dan melepas dahaga di tenggorokan mereka.

Di Afrika, misalnya, jutaan rakyat menderita kelaparan. Mereka menjerit. Bahkan dari antara mereka sudah begitu banyak yang meninggal dunia. Namun perang terus-menerus berkecamuk di benua tersebut. Upaya untuk membebaskan diri dari kemiskinan sepertinya tidak dilakukan sama sekali. Padahal begitu banyak program bantuan yang telah diberikan oleh berbagai bangsa.

Atau di sekitar kita juga terdapat begitu banyak orang yang mengalami penderitaan akibat kelaparan. Para politisi dan anggota DPR yang semestinya memperjuangkan hidup rakyat justru menyelewengkan dana untuk pengentasan orang miskin. Berapa banyak rakyat yang mesti menjadi korban akibat ulah korupsi, kolusi dan nepotisme? Sudah begitu banyak anak yang menderita busung lapar. Siapa yang harus bertanggungjawab atas semua ini?

Sebagai orang beriman, hati kita semestinya tersentuh oleh berbagai penderitaan ini. Tidak hanya itu. Tangan kita semestinya langsung bergerak memberi makan saudara-saudari kita yang kelaparan. Bagi kita, memberi sesuatu kepada sesama yang menderita lapar berarti kita menyelamatkannya dari kematian. Kita memberi sesama itu kehidupan. Inilah yang menjadi perjuangan setiap orang beriman dalam hidup sehari-hari. Memberi hidup kepada sesamanya, bukan kematian.

Kalau kita melakukan sesuatu untuk sesama yang berkekurangan berarti kita telah melakukan suatu keutamaan dalam hidup ini. Kita menanggapi ajakan Tuhan untuk memberi perhatian kepada sesama. Mari kita berusaha untuk memperjuangkan hidup sesama kita dalam hidup kita yang nyata. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (95)