Pages

Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan

21 Oktober 2014

Mempunyai Kepedulian terhadap Sesama




Apa yang akan terjadi ketika di sekitar Anda berhimpun orang-orang yang memerlukan bantuan Anda? Anda mengusir mereka pergi? Atau Anda tergerak hati untuk membantu mereka?

Beberapa waktu lalu terjadi penangkapan Bupati Bogor Rachmat Yasin oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini menambah daftar kepala daerah yang tersangkut kasus hukum. Hampir sebagian besar kasus yang melibatkan gubernur dan wali kota atau bupati terkait dengan korupsi.

"Posisinya sekarang sudah 325 kepala daerah yang terjerat hukum. Baik masih berstatus tersangka atau sudah menjadi narapidana," kata Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan.

Tentu saja jumlah ini sangat besar. Begitu banyak kepala daerah yang ternyata bertindak tidak jujur terhadap rakyat yang telah memilih mereka. Padahal rakyat sangat berharap bahwa pilihan mereka itu akan memimpin mereka dengan penuh kejujuran. Para pemimpin itu semestinya menjalankan tugas sebaik-baiknya demi rakyat. Bukan demi diri mereka sendiri. Sayang, harapan seperti ini tidak terjadi.

Djohermansyah kuatir, kalau tidak ada perubahan sistem, jumlah kepala daerah yang terkena kasus hukum pasti bertambah banyak. Faktor mahalnya biaya kampanye pemilukada juga turut menyumbang kepala daerah untuk balik modal.

Alhasil, mereka ada kecenderungan untuk berupaya mencari uang dengan cara apa pun, hingga akhirnya harus berurusan dengan aparat hukum. "Nah, jadi kita mengkaji bahwa salah satu faktor penyebab dari proses hukum tersangkut korupsi itu suap adalah karena besarnya kewenangan kepala daerah," katanya.

Sahabat, ketika sebuah kasus korupsi terkuak, hati kita semestinya merasa sakit. Peristiwa seperti ini merupakan suatu ledakan dari penipuan terhadap hati nurani yang terjadi selama ini. Seorang pemimpin yang melakukan korupsi sebenarnya membunuh banyak rakyat yang dipimpinnya. Semestinya anggaran digunakan untuk pembangunan bagi kesejahteraan rakyat banyak. Namun anggaran itu ternyata hanya dipakai untuk diri sendiri.

Dalam berbagai berita, kita masih menyaksikan begitu banyak rakyat yang hidup dalam keterbatasan. Ada orang yang sulit sekali mendapatkanya makanan hanya untuk makan sekali sehari saja. Ada sekolah-sekolah yang lebih layak disebut sebagai kandang ayam. Ada banyak gelandangan yang begitu banyak di kota-kota. Mereka tidur di emperan took, ketika malam menjelang.

Namun di sisi lain, ada orang yang merampok uang rakyat untuk berfoya-foya. Mereka melakukan korupsi demi memenuhi keinginan diri mereka. Sungguh tragis situasi seperti ini. Hati mereka keras dan beku. Tidak punya ketergerakkan hati untuk berbagi hidup dengan sesamanya.

Orang beriman tentu saja mesti memiliki hati yang lebih peduli terhadap sesamanya. Orang beriman itu orang yang selalu mengutamakan kejujuran dalam kehidupan. Orang yang senantiasa peduli terhadap sesamanya. Orang yang selalu bekerja bagi kepentingan hidup sesamanya.

Mari kita memupuk hati kita, agar memiliki kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, semakin banyak orang memiliki harapan akan masa depan yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ



1163

19 Juli 2014

Memerangi Korupsi untuk Hidup Lebih Baik




Kiranya semua kita setuju kalau korupsi itu seperti penyakit kanker yang perlahan-lahan menggerogoti kehidupan manusia. Karena itu, korupsi adalah dosa berat yang mesti disingkirkan

Gubernur Tokyo Naoki Inose tanggal 19 Desember 2013 lalu mengundurkan diri, karena terlibat skandal keuangan senilai 50 juta yen atau sekitar Rp 5 milyar. Gubernur Inose dituduh menerima uang sekitar 50 juta yen dari perusahaan kesehatan Tokushukai yang mengoperasikan 280 fasilitas kesehatan, termasuk 66 rumah sakit.

Hal itu terungkap akibat kejelian polisi menemukan bukti adanya dana dari perusahaan tersebut yang diberikan kepada enam pejabat pemilihan umum dan dianggap melanggar ketentuan UU Pemilu Jepang.

Gubernur Tokyo yang terkenal sebagai mantan novelis terkenal dan ikut berjasa menjadikan Tokyo sebagai tuan rumah Olimpiade 2020, mengakui bahwa ia menerima uang sebesar itu. Uang dimasukkan ke dalam tasnya. Ketika tim investigasi mengatakan tidak mungkin memasukkan uang dalam kotak ke dalam tas sekecil itu, Gubernur Inose memperagakan bagaimana caranya memasukkan kotak berisi uang tersebut.

Gubernur Tokyo Naoki Inose menunjukkan tas tempat ia memasukkan uang ¥50 juta (sekitar Rp 5 milyar) dalam sidang DPRD Tokyo tanggal 16 Desember 2013.

Setelah itu, dia menyatakan mengundurkan diri sebagai gubernur Tokyo. Naoki Inose adalah mantan wakil gubernur yang maju sebagai calon gubernur. Ia menggantikan Ishihara yang mengundurkan diri setelah empat periode. Naoki Inose memenangi pemilukada Tokyo tahun 2012 dengan suara terbanyak yang pernah ada dalam sejarah pemilihan gubernur Tokyo, yaitu sekitar 4,34 juta suara.

Sahabat, korupsi itu dosa. Pertama-tama dosa melawan hati nurani yang mengingkari sumpah jabatan seorang pejabat. Namun korupsi juga merupakan dosa yang berat, karena menelantarkan rakyat banyak. Semestinya anggaran untuk pembangunan bagi kesejahteraan rakyat banyak, tetapi uang yang ada dipakai hanya oleh satu atau sejumlah orang. Orang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Orang tidak peduli terhadap sesamanya yang sangat membutuhkan untuk keluar dari kungkungan kesulitan hidup. Rakyat boleh hidup merana melarat, yang penting pejabat boleh hidup mewah. Ini dosa besar terhadap Tuhan dan sesama.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk menyadari diri kita di hadapan Tuhan dan sesama. Ketika kita melakukan kesalahan, besar atau kecil, kita mesti berani mengakuinya. Dengan mengakui kesalahan itu, kita dapat menyelamatkan banyak hal dalam kehidupan ini. Kita sadar bahwa dosa yang kita buat menyebabkan penderitaan begitu banyak orang. Untuk itu, kita mesti bertobat.

Sayang, di negeri ini para koruptor masih bebas merdeka berlenggang tangan ke sana ke mari. Bahkan para koruptor yang sudah jelas-jelas tertangkap basah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi masih juga membela diri. Mereka masih merasa tidak bersalah atas perbuatan jahat mereka. Mereka tidak tertunduk malu saat digelandang petugas keamanan menuju hotel prodeo. Mereka tidak menyadari bahwa perbuatan kotor mereka telah menyebabkan begitu banyak rakyat yang menderita.

Orang beriman mesti mengubah hidupnya. Orang beriman mesti berani menyadari diri bahwa perbuatan dosa membawa akibat soscial yang begitu mengerikan. Misalnya, kemiskinan, kemelaratan hidup, perpecahan dalam kehidupan bersama dan contoh negatif bagi generasi penerus bangsa ini.

Karena itu, orang beriman mesti berani memerangi korupsi. Bukan hanya mengatakan ‘tidak’ terhadap korupsi. Tetapi lebih dari itu, mengatakan korupsi adalah kanker yang membawa penderitaan bagi rakyat. Semoga semakin banyak koruptor menyadari perbuatannya dan bertobat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1117

09 Juli 2011

Jaukan Diri dari Korupsi


Indonesia mendapat cap negeri terkorup di dunia. Tentu saja cap ini membuat telinga kita memerah. Betapa tidak? Korupsi itu suatu tindak pidana merampok uang rakyat. Karena itu, tidaklah sesuai dengan semangat reformasi yang telah dihembuskan oleh para pemimpin negeri ini.

Beberapa tahun lalu presiden negeri ini sudah menyerukan pemberantasan korupsi. Banyak koruptor yang sudah mendekam di penjara. Namun sistim korupsi pun diubah oleh para koruptor yang masih berkeliaran.

Karena itu, apa yang mesti dibuat? Yang mesti dilakukan adalah memberikan penyadaran kepada setiap insan yang hidup di negeri ini. Orang mesti sadar bahwa korupsi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap hati nurani. Orang tidak berani mengakui keterbatasan dirinya. Orang memaksakan diri untuk menjadi kaya dalam waktu singkat.

Salah satu kegiatan penyadaran itu dilakukan oleh Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi. Awal April tahun lalu, ia berpidato di depan ratusan anggota Korpri Jawa Timur di Kantor Gubernur Jatim di Surabaya. Dalam pidatonya, Mahfud membahas habis-habisan soal korupsi di Indonesia.

Ia berkata, ”Saya mengimbau, nikmati saja pekerjaan sebagai PNS (pegawai negeri sipil). Lakukanlah pekerjaan dengan jujur, enggak usah macam-macam.”

Di hadapan para PNS, Mahfud mengatakan, para koruptor sering kali bersembunyi di balik hukum. Mereka menjadikan hukum sebagai sarana untuk menyembunyikan diri dari segala macam tindakan korupsi.

Ia berkata, ”Mereka memang berpegang pada hukum, tetapi tidak pada moral.”

Mahfud menilai, kebiasaan buruk korupsi di Indonesia sudah sedemikian parah. Kondisi ini bukan karena jeleknya hukum, melainkan karena buruknya mental masyarakat. Karena itu, pemberantasan korupsi membutuhkan waktu lama.

Sahabat, perubahan sikap hidup dan moral mesti segera dilakukan oleh setiap insan yang hidup di negeri ini. Mengapa? Karena sikap hidup dan moral manusia Indonesia sudah terkontaminasi oleh korupsi yang terjadi di negeri ini. Korupsi sudah mengakar kuat dalam kehidupan manusia. Satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari situasi ini adalah mengubah pola hidup, sikap hidup dan moral.

Sebagai orang beriman, kita tentu prihatin terhadap situasi karut marut yang mencabik bangsa kita dengan skandal korupsi. Namun tidak cukup kita hanya prihatin. Harus ada gerakan dari diri kita untuk memerangi korupsi itu.

Caranya adalah dengan hidup ugahari sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Kita tidak memaksakan kehendak untuk menjadi kaya dalam waktu singkat. Kita mesti ingat bahwa kita hidup dalam suatu proses. Mari kita berusaha untuk menjauhkan diri dari korupsi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


724

19 Desember 2010

Menjadi Peka terhadap Situasi Sekitar


Tindakan Alexei Dymovsky, seorang perwira polisi di Rusia ini patut ditiru. Tidak tahan dengan budaya korupsi yang terjadi, ia membuat sebuah rekaman video tentang perilaku korup para atasannya.

Seperti diberitakan AFP, Senin (9/11/2009), Dymovsky, polisi yang berusia 32 tahun ini menuding atasannya di wilayah Novorossiisk telah melakukan jual beli perkara. Dymovsky adalah penyidik senior di wilayah tersebut yang memegang divisi kejahatan narkotika dan penyelundupan.

Menurutnya, ia tidak tahan selalu diminta untuk menutup-nutupi kejahatan. Ia berkata, “Saya tidak tahan karena selalu diminta untuk menutupi kejahatan. Saya capek disuruh memenjarakan orang yang tidak bersalah.”

Dalam videonya, Dymovsky juga meminta bertemu langsung dengan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin untuk membahas permasalahan di lembaga kepolisian. Ia juga meminta agar pemerintah memerhatikan kesejahteraan polisi.

Tentang gaji seorang polisi, ia mengeluh, “Bagaimana bisa bekerja profesional dengan gaji hanya sekitar 14,000 ruble (USD 549) per bulan.”

Menteri Dalam Negeri Rusia Rashid Nurgaliyev memerintahkan penyelidikan menyeluruh atas laporan dari Dymovksy. Tim langsung mulai bekerja. Rashid berkata, “Laporan lengkap akan disampaikan pada Presiden Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Vladimir Putin.”

Sahabat, setiap hari di negeri kita juga digonjang-ganjing oleh persoalan pemberantasan korupsi. Ada pernyataan-pernyataan yang masih menyimpan tanda tanya-tanda tanya di benak masyarakat. Sebetulnya apa yang sesungguhnya terjadi dengan aparat hukum di negeri ini? Apakah benar aparat hukum di negeri ini sudah berada di titik nadir?

Korupsi terjadi karena ketidakjujuran. Pertama, ketidakjujuran terhadap diri sendiri. Orang yang tidak jujur terhadap dirinya sendiri biasanya menyembunyikan kelemahan-kelemahan yang ada dalam dirinya. Orang seperti ini mempunyai cita-cita yang tinggi, tetapi tidak punya modal yang banyak. Akibatnya, orang seperti ini menggunakan wewenang dan kekuasaan yang dimilikinya untuk melakukan korupsi. Kalau saja ia mengakui keterbatasan dirinya, ia tidak perlu ngoyo dalam usaha meraih cita-citanya.

Kedua, ketidakjujuran terhadap orang lain. Orang seperti ini biasanya mudah membuat janji-janji kepada orang lain. Ketika ia sulit menepati janji, ia mulai mencari cara-cara untuk menepati janji itu. Akibatnya, ia mulai melakukan ketidakjujuran. Ia dapat melakukan korupsi, agar orang lain senang. Padahal orang lain tidak tahu dari mana uang atau harta benda yang dimilikinya itu berasal.

Ketiga, ketidakjujuran terhadap Tuhan. Orang yang tidak jujur biasanya mengabaikan perintah Tuhan dalam hidupnya. Orang seperti ini menganggap enteng firman Tuhan yang mengarahkan dirinya kepada kebaikan dan kebenaran. Ia mudah mengingkari kebaikan-kebaikan yang berasal dari Tuhan sendiri. Akibatnya, suara hatinya tidak lagi bekerja dengan baik. Suara hatinya menjadi tumpul. Ketika ia melakukan korupsi, suara hatinya tidak menegurnya.

Kita mesti berani mendengarkan suara hati kita yang berbicara jujur kepada kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang peka terhadap situasi hidup di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


574

21 Juli 2009

Memperjuangkan Hidup Sesama


Suatu hari seorang murid menjual segala miliknya dan membagikannya kepada kaum miskin di kota. Setelah tidak ada lagi apa pun padanya, ia mengadakan perjalanan keliling kota, sampai akhirnya suatu ketika ia tidak mampu menahan rasa lapar yang menggerus perutnya. Lama ia mencoba bertahan, sampai akhirnya pasrah kalah terhadap kelaparan yang menimpanya.

Sementara mencari kemungkinan bagaimana mengganjal perutnya yang kosong, tatapannya tertuju kepada seekor kuda yang sedang dipekerjakan menggiling padi.

Ia bertanya kepada pemilik penggilingan, “Berapa kuda itu dibayar untuk kerja satu hari?”

Pemilik penggilingan itu menjawab, “Dua ribu rupiah!”

Ia berkata, “Bayar saya seribu rupiah untuk kerja satu hari.”

Permohonan itu dikabulkan. Ia bekerja selama satu hari demi lapar yang tidak tertahankan. Dalam hati ia berkata, “Banyak yang bahkan sanggup bekerja lebih hina daripada kuda sekedar mempertahankan hidup sehari.”

Banyak persoalan muncul bersumber dari perut. Dalam dunia ini kita menyaksikan begitu banyak orang mengalami lapar dan haus. Mereka ingin melakukan apa saja untuk mengenyangkan perut mereka dan melepas dahaga di tenggorokan mereka.

Di Afrika, misalnya, jutaan rakyat menderita kelaparan. Mereka menjerit. Bahkan dari antara mereka sudah begitu banyak yang meninggal dunia. Namun perang terus-menerus berkecamuk di benua tersebut. Upaya untuk membebaskan diri dari kemiskinan sepertinya tidak dilakukan sama sekali. Padahal begitu banyak program bantuan yang telah diberikan oleh berbagai bangsa.

Atau di sekitar kita juga terdapat begitu banyak orang yang mengalami penderitaan akibat kelaparan. Para politisi dan anggota DPR yang semestinya memperjuangkan hidup rakyat justru menyelewengkan dana untuk pengentasan orang miskin. Berapa banyak rakyat yang mesti menjadi korban akibat ulah korupsi, kolusi dan nepotisme? Sudah begitu banyak anak yang menderita busung lapar. Siapa yang harus bertanggungjawab atas semua ini?

Sebagai orang beriman, hati kita semestinya tersentuh oleh berbagai penderitaan ini. Tidak hanya itu. Tangan kita semestinya langsung bergerak memberi makan saudara-saudari kita yang kelaparan. Bagi kita, memberi sesuatu kepada sesama yang menderita lapar berarti kita menyelamatkannya dari kematian. Kita memberi sesama itu kehidupan. Inilah yang menjadi perjuangan setiap orang beriman dalam hidup sehari-hari. Memberi hidup kepada sesamanya, bukan kematian.

Kalau kita melakukan sesuatu untuk sesama yang berkekurangan berarti kita telah melakukan suatu keutamaan dalam hidup ini. Kita menanggapi ajakan Tuhan untuk memberi perhatian kepada sesama. Mari kita berusaha untuk memperjuangkan hidup sesama kita dalam hidup kita yang nyata. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (95)