Pages

Tampilkan postingan dengan label beriman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beriman. Tampilkan semua postingan

02 April 2014

Dalam Kegalauan, Tetap Beriman kepada Tuhan



Apa yang akan terjadi, ketika Anda mampu mengabadikan otak Anda dalam keabadian digital? Saya merasa bahwa hal ini akan membawa kegoncangan terhadap iman Anda.

Stephen Hawking mengatakan bahwa otak mampu berdiri sendiri di luar tubuh dan mendukung manusia untuk memperoleh keabadian.

Pada Sabtu (21/9) yang lalu, Hawking berkata, "Saya pikir otak seperti sebuah program dalam pikiran, seperti komputer, jadi secara teoretis sebenarnya mungkin untuk menyalin otak ke komputer dan mendukung bentuk kehidupan setelah mati."

Namun, menurut Hawking, seperti ini masih di luar kapasitas manusia saat ini. Selama ini, berdasarkan kepercayaan yang diyakini, banyak manusia memahami bahwa setelah mati, manusia akan menjadi abadi di alam yang berbeda. Jiwa manusia bertemu dengan Tuhan serta berada di surga atau neraka sesuai perbuatannya selama hidup.

Keabadian seperti yang diungkapkan Hawking kerap disebut dengan keabadian digital. Dalam hal ini, manusia abadi tetapi tidak dalam tubuh biologisnya. Dalam keabadian digital, eksistensi manusia tak lagi tergantung pada tubuh karena tubuh bisa diupayakan.

Keabadian seperti yang dimaksud Hawking sebenarnya sudah sering dibahas, termasuk oleh Ryan Kurzweil, salah satu insinyur di Google.

Dalam Global Futures 2045 International Congress, sebuah konferensi futuristik yang digelar di Amerika Serikat pada 14-15 Juni 2013 lalu, seperti diberitakan Huffington Post pada 20 Juni 2013, Kurzweil mengungkapkan bahwa keabadian digital bisa tercapai pada tahun 2045.

Salah satu teknologi kunci yang mendukung keabadian digital adalah mind uploading atau pengunggahan pikiran ke komputer alias dunia digital.

Sementara itu, keabadian digital mungkin terjadi dan telah banyak dibicarakan, tetapi banyak pertanyaan mendasar yang belum terjawab. Misalnya, mengapa manusia harus hidup abadi? Apa manfaatnya? Apa masalahnya kalau manusia hidup lalu mati saja seperti yang dialami saat ini?

Sahabat, setiap orang ingin meraih hidup abadi, namun tidak semudah yang diinginkan. Orang mesti berusaha hidup baik dan benar di hadapan Tuhan dan sesama. Tentu saja keabdian yang dimaksud tidak sama dengan keabadian digital. Keabadian yang ingin diraih oleh manusia yang hidup adalah persekutuan yang erat dengan Sang Pencipta kehidupan setelah manusia menghembuskan nafas terakhir.

Keabadian digital boleh saja terjadi dengan mengandaikan otak manusia yang masih berfungsi setelah kematiannya. Namun bukankah otak selalu menjadi ukuran ketika nyawa seseorang dipertaruhkan? Ketika orang tidak berfungsi lagi lalu dokter akan mengatakan bahwa seseorang telah tiada.

Memang seandainya keabadian digital sungguh-sungguh terjadi, tentu saja tidak semua otak manusia itu diabadikan. Tentu ada seleksi-seleksi yang diadakan agar dapat direkam dengan baik ke dalam computer yang tersedia. Andaikan setiap orang bisa mengkopi data-data yang ada dalam otaknya, tentu saja tindakan ini tidak perlu menunggu kematian manusia tersebut. Selagi masih hidup sehat walafiat, orang bisa mengkopi data-data yang ada dalam otaknya.

Sebagai orang beriman, kita tetap teguh pada iman kita akan keabdian yang bersekutu dengan Tuhan. Tuhan selalu ingin bersekutu dengan kita dalam keabadianNya. Memang, untuk itu manusia mesti membuka hatinya terhadap rahmat demi rahmat yang dicurahkan kepadanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Signis Indonesia/Majalah FIAT

1086

23 September 2011

Beriman dalam Keseharian Hidup




Ada seorang kaya yang sangat kikir. Ia punya banyak pembantu. Namun ia memberi mereka gaji di bawah upah minimum. Baginya, yang penting para pembantunya itu melaksanakan tugas-tugas dengan penuh tanggung jawab. Ia membayar tenaga mereka dan mereka tidak protes. Orang kaya ini juga tidak takut kepada Tuhan. Baginya, Tuhan itu hanyalah ilusi orang-orang. Tuhan itu tidak ada. Ia tidak hanya mengungkapkannya melalui pikirannya saja. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari ia tidak peduli terhadap orang lain. Kalau ada orang miskin yang datang kepadanya, ia segera mengusirnya pergi. Ia tidak ingin melihat wajah mereka. Ia tidak mau mereka mengganggu dirinya.

Suatu hari orang kaya yang kikir ini jatuh sakit. Sakitnya itu sangat parah. Ia mesti dibawa ke rumah sakit oleh istrinya. Para pembantunya yang tinggal di rumah merasa damai. Mereka tidak perlu dipelototi atau diperintah-perintah oleh orang kaya yang kikir itu. Mereka pun tidak mau mengunjungi bos mereka itu.

Dalam situasi sakit yang mencekam itu, orang kaya yang kikir itu meminta bantuan Tuhan. “Tuhan, kalau Engkau ada, tunjukkanlah kebaikan-Mu kepadaku. Sembuhkanlah penyakit saya ini,” ia berdoa, Istrinya yang menemaninya kaget mendengar doa suaminya. “Pak, bukankah bapak tidak percaya bahwa Tuhan itu ada? Mengapa bapak berdoa minta bantuan Tuhan?” ia bertanya.

“Bukankah semua orang melakukan hal yang sama ketika mereka sakit? Jadi saya juga berdoa, siapa tahu Tuhan itu ada. Siapa tahu Tuhan membantu saya,” suaminya menjawab. Sahabat, dalam hidup ini ada banyak orang yang kurang percaya akan hadirnya Tuhan. Mereka mengandalkan sesuatu yang lain di luar diri mereka. Mereka tidak yakin bahwa Tuhan hadir dalam keseharian hidup mereka. Karena itu, mereka berani melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, membunuh sesamanya, mencuri, merampok atau melakukan tindakan korupsi.

Karena itu, apa yang harus dilakukan oleh orang beriman dalam hidup ini? Orang beriman mesti tetap membangun keyakinannya kepada Tuhan. Orang beriman mesti tetap setia kepada Tuhan. Kesetiaan itu ditunjukkan dengan menghargai hidup dan hak-hak hidup orang lain. Hanya dengan cara itu, orang mengakui diri beriman dalam praksis hidup sehari-hari.

Mari kita tetap memberikan hidup kita kepada Tuhan dengan berlaku adil terhadap sesama kita. Kita mau melaksanakan ajaran cinta kasih yang menjadi dasar dan sumber hidup manusia. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih bermakna bagi diri kita dan sesama kita. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ


785

19 Februari 2011

Berusaha Memberdayakan Kemampuan



Namanya Josephine Komara. Perempuan berusia 54 tahun ini telah menggeluti kain selama 37 tahun. Hal yang paling membanggakan dirinya adalah dia masih teguh memegang etika. Ia punya usaha dengan nama Bin yang diambil dari nama panggilannya, yaitu Obin.

Dalam suatu acara, ia berkata, ”Tak pernah sekali pun menyontek. Bin itu orisinal. Ini bisa diverifikasi dengan orang-orang yang berhubungan dengan Bin.”

Obin memang mempertahankan keasliannya. Hal itu dapat ia pertahankan, karena ia bekerja dengan hati. Ia tidak hanya mencari keuntungan saja. Tetapi ia mengutamakan kepuasan dari para pelanggannya.

Tentang hal ini, Obin berkata, ”Saya bekerja pakai nalar dan naluri, bekerja dengan hati.”

Obin yang menyelesaikan pendidikan formal hanya hingga kelas 6 SD menggulati kain sejak usia 17 tahun. Dia memulai dengan membuat kain interior. Setelah melalui 15 tahun mencoba dan mencoba, Obin dan Bin House memasukkan kain sebagai busana. Ini setelah ia menemukan cara memintal dan menenun kain sutra menjadi tipis dan luwes.

”Tahun 1989 Bin House memadukan batik dengan tenun, yang orang tidak memikirkan sebelumnya,” kata Obin tentang orisinalitas Bin.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang gampang sekali menjiplak karya orang lain. Beberapa waktu lalu negara tentangga kita mengklaim beberapa karya seni milik bangsa kita. Bahkan sampai dipromosikan secara besar-besaran di internet sebagai milik bangsa tetangga tersebut. Rupanya mereka tidak menghargai orisinalitas karya orang lain.

Namun dari peristiwa itu kita dapat belajar tentang pentingnya hak paten terhadap sebuah karya tangan manusia. Batik kemudian diakui sebagai milik anak negeri ini oleh dunia internasional. Diharapkan juga anak-anak bangsa ini mau dengan penuh kesadaran menghargai karya-karya seni milik bangsa ini.

Kisah Obin memberikan inspirasi bagi kita tentang usaha-usaha untuk mengembangkan diri. Setiap orang diberi potensi yang mesti dikembangkan baik untuk hidup diri sendiri maupun untuk hidup banyak orang. Potensi-potensi itu adalah rahmat dari Tuhan sendiri yang mesti disyukuri. Cara mensyukurinya itu dengan mengembangkannya. Obin sudah mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, meski ia hanya lulus SD.

Kita dapat belajar dari perjuangan Obin untuk tetap setia pada komitmen orisinalitasnya. Ia tidak terpengaruh oleh cara-cara instan yang tidak wajar dengan menjiplak karya orang lain. Sebagai orang beriman, mari kita berusaha agar kita terus-menerus mengembangkan kemampuan-kemampuan kita. Dengan demikian, kita dapat membahagiakan diri kita sendiri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

619

23 April 2010

Menemukan yang Paling Berharga




Ketika sedang mengantre di kasir untuk membayar belanjaan bersama mamanya, mata seorang gadis kecil menangkap seuntai kalung mutiara putih berkilauan. Sambil menepuk tangan ibunya, jari gadis kecil itu menunjuk untaian kalung mutiara itu. Ia bertanya kepada ibunya, “Mama, bolehkah aku memilikinya? Boleh ya, Ma?”

Ibunya hanya tersenyum menyaksikan tingkah anaknya. Tetapi mata ibu itu cepat menyelidik harga kalung mutiara itu. Cuma dua puluh lima ribu rupiah. Beberapa saat kemudian, ia berkata kepada putrinya, “Nak, ambil mutiara itu. Bawa ke sini, biar dibayar sekalian. Itu untuk hadiah ulang tahunmu minggu depan.”

Gadis kecil itu segera mengambil seuntai kalung mutiara itu. Dengan tersenyum lebar ia mendatangi ibunya. Dalam hatinya, ia berkata, “Aku akan selalu menjaga kalung ini baik-baik. Aku tidak akan menghilangkannya atau memberikannya kepada orang lain.”

Wajah gembira selalu menyelimuti wajah gadis itu sepanjang hari itu. Ia memamerkannya kepada ayah dan kakak-kakaknya. Kalung mutiara ‘palsu’ itu menjadi barang yang sangat berharga bagi gadis kecil itu. Ia melepaskan kalung itu hanya kalau mau mandi atau berenang. Ibunya pernah mengatakan kalau kalung itu kena air, maka lehernya akan menjadi hijau. Gadis itu sangat menyayangi kalung itu, meski kalung itu palsu. Ia mengikuti semua saran dari ibunya.

Ada hal-hal yang begitu berharga yang ada pada diri kita yang sangat kita sayangi. Kita tidak rela kalau hal-hal itu lepas dari diri kita. Kita berusaha menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Namun betapa berharganya barang-barang yang kita miliki, semua itu hanya sementara. Semua itu dapat binasa dalam sekejap. Karena itu, kita mesti pandai-pandai memelihara barang-barang itu. Soalnya, apakah perhatian kita hanya tertuju kepada barang-barang berharga itu? Kalau kita tidak punya waktu untuk memperhatikan barang-barang berharga itu, apa yang mesti kita lakukan?

Ada orang mengatakan bahwa ada hal yang lebih berharga yang mesti kita pelihara dalam hidup ini, yaitu hati kita. Kalau hati kita baik, banyak orang akan menyukai kita. Kalau hati kita jahat, banyak orang akan menyingkir dari kita. Orang yang judes yang suka marah-marah biasanya tidak punya banyak sahabat. Ia dianggap sebagai orang yang mudah menyakiti hati orang lain. Akibatnya, ia dianggap sebagai musuh yang berbahaya bagi kehidupan.

Karena itu, sebagai orang-orang yang beriman kepada Tuhan kita mesti memelihara hati yang baik. Hati yang baik itu berkenan kepada Tuhan dan sesama yang hidup bersama kita. Untuk itu, kita mesti memiliki semangat untuk membangun persaudaraan dengan semua orang yang kita jumpai dalam hidup ini. Artinya, kita tidak memilih-milih orang dalam membangun persaudaraan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

357
Bagikan

23 Agustus 2009

Menumbuhkan Iman dalam Hidup




Nelson Mandela, siapa tidak kenal? Pria berusia 90 tahun ini terkenal sangat gigih memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Ia pernah dipenjara selama 27 tahun oleh regim apartheid Afrika Selatan. Perjuangan kemudian ia lakukan dari dalam penjara sampai akhirnya kaum kulit hitam Afrika Selatan mendapatkan hak yang sama dengan kaum kulit putih.

Setelah ia terpilih menjadi presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela mengadakan suatu rekonsiliasi. Ia tidak membalas kekejaman yang telah dilakukan kaum kulit putih terhadapnya. Ia mengampuni semua yang bersalah dan mulai membangun Afrika Selatan bangkit dari keterpurukan.

Akhir Juni tahun 2008 lalu diadakan sebuah konser untuk ulang tahunnya di London. Dalam kesempatan itu, Nelson Mandela menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk ambil bagian dalam perjuangan melawan kemiskinan, penindasan, dan penyakit yang melanda dunia. Ia berkata, “Inilah saatnya untuk mengangkat beban secara bersama-sama. Malam ini, kita berdiri di sini. Kami kembali ke London untuk memberikan penghargaan atas perayaan yang indah ini. Tetapi, kendati kita mengadakan perayaan malam ini, marilah kita kenangkan kembali bahwa pekerjaan kita belumlah rampung. Di mana kemiskinan, penyakit, termasuk AIDS dan kemanusiaan masih ditindas, maka menjadi tugas kitalah untuk membebaskan itu semua.”

Kepedulian terhadap sesama yang menderita mesti menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Ada begitu banyak peristiwa mengenaskan yang terjadi di sekitar kita. Peristiwa-peristiwa itu menuntut kita untuk memiliki kepedulian. Kita mesti menjadi pembawa solusi yang berguna bagi sesama.

Soalnya adalah ada begitu banyak orang yang kurang peduli terhadap penderitaan sesamanya. Mereka cuek. Mereka tidak mau tahu. Mengapa ini semua bisa terjadi? Tentu saja hal ini bisa terjadi karena kurangnya kesadaran bahwa semua manusia itu memilik harkat dan martabat yang sama. Kalau ada kesadaran mengenai kesamaan ini, saya yakin banyak orang akan mudah tergerak hatinya oleh belas kasihan.

Nelson Mandela telah melakukan hal yang sangat indah dalam hidupnya. Ia berjuang untuk kesamaan hak bangsanya. Ia juga telah memaafkan semua orang yang telah menghukum dan menganiaya dia. Sosok Nelson Mandela menjadi contoh bagi kita bagaimana kita semestinya memiliki kepedulian terhadap sesama. Kita adalah bagian dari sesama kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki kepedulian terhadap sesama kita. Inilah iman yang hidup yang mesti terus-menerus berkembang dan bertumbuh dalam hidup kita. Tuhan memberkati.**



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

144

30 Juli 2009

Menumbuhkan Iman dalam Hidup





Kata banyak orang, tempat ibadat yang ada di tengah kampung itu karismatis. Masyarakat sekitar begitu yakin akan dikabulkan doanya bila dipanjatkan di dalam tempat ibadat itu.

Suatu hari, seorang peminta-minta datang ke tempat ibadat itu untuk memanjatkan doa permohonan. Ia punya keyakinan sebagaimana penduduk kampung itu. Setiap hari ia berdoa, sampai genap sembilan kali.

Pada malam kesembilan, sementara sedang khusyuk dalam doa, tampaklah di hadapannya suatu makhluk bersayap. Semuanya serba putih mempesona. Di tangan makhluk itu terdapat sepuluh batang emas murni yang berkilap.

Spontan saja tangan peminta-minta ini menengadah. Malaikat itu memberikan satu lempeng emas. Kata peminta-minta itu, “Terima kasih, terima kasih.”

Ia meletakkan lempengan itu di kantongnya. Kemudian tangannya segera menengadah lagi. Malaikat itu kembali memberikan satu lempeng emas. Demikian terus-menerus sampai lempeng yang kesembilan. Betapa girang hati si pengemis itu, setelah sembilan lempeng emas didapat. Namun, ketika dilihatnya masih ada satu lempeng emas di tangan malaikat, ia merengek, “Tuan, berikanlah lempeng terakhir itu kepadaku!”

Malaikat itu menggelengkan kepala sambil menebarkan senyum. Semakin keras pengemis itu berteriak, “Tuan, tinggalkan lempeng emas itu sebelum Tuan pergi meninggalkan aku!”

Seketika itu juga pengemis itu terjaga. Dia agak gugup mencari-cari lempeng emas dalam kantungnya. Tetapi tiada sesuatu pun didapat. Cepat-cepat ia menutup matanya kembali dan berteriak, “Okey, Tuan, tidak usahlah Tuan memberikan lempeng yang satu. Cukuplah Tuan mengembalikan yang sembilan itu kepadaku.”

Kepada kita masing-masing sudah diberi Tuhan kemampuan-kemampuan. Itulah rahmat yang dihadiahkan secara gratis kepada kita. Namun Tuhan masih mengharapkan kita untuk mengembangkannya sedapat mungkin. Dengan demikian, hadiah yang gratis itu dapat kita gunakan dengan baik.

Namun ada orang yang serakah dalam hidupnya. Sudah diberi kemampuan secara gratis oleh Tuhan, tetapi terus-menerus meminta lagi dan lagi. Akibatnya, orang lupa diri. Orang lupa bahwa mereka mesti mengembangkan rahmat itu untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka mesti berjuang sekuat tenaga untuk menumbuhsuburkan rahmat yang gratis itu.

Kisah pengemis di atas mau mengatakan kepada kita bahwa orang yang hanya menadahkan tangan meminta sesuatu itu mesti menyadari diri. Orang seperti ini sering melalaikan tugasnya dalam mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Semestinya ia berusaha sekuat tenaga, agar kemampuan yang dimiliki itu berbuah banyak.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kita semakin hari semakin mengembangkan diri kita. Kita menumbuhsuburkan iman yang kita miliki itu dalam perbuatan-perbuatan nyata. Mari kita berusaha untuk semakin mengembangkan iman kita. Dengan demikian iman kita bertumbuh subur dalam hidup kita sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Menjadi semakin Bermutu dalam Beriman

Suatu hari, seorang pemuda datang ke sebuah tempat ibadat. Dalam suasana hening, ia berkeluh kesah, “Kami sedang ribut, Tuhan. Mereka menuduh kami kafir, anak setan. Kami marah. Maka kami bakar rumah ibadat mereka.”

Ia pun terdiam beberapa saat. Merasa tidak puas, ia berkata lagi, “Kami tersinggung, karena agama kami dilecehkan, dihina dan dinodai. Tidakkah Engkau juga marah? Kami marah. Kami membela kesucian-Mu.”

Tidak lama kemudian datang pula seorang pemuda lain menghadap Tuhan yang sama. Ia berdoa dengan lantang, “Tuhan, bantulah kami. Rumah kami dibakar, tempat suciMu diinjak-injak musuh. Kini kami telah siapkan sejumlah pedang untuk membela kebenaranMu. Beri aku berkat-Mu.” Tidak lama kemudian, ia ngeluyur keluar tempat ibadat itu.

Baru keluar dari halaman tempat ibadat itu, bertemulah dua pemuda yang saling berseteru itu. Tanpa tegur sapa, mereka saling pasang kuda-kuda dengan senjata masing-masing.

Untunglah seorang ulama penjaga tempat ibadat itu lewat. Begitu melihat kedua pemuda yang siap saling bunuh, ia melepas bajunya dan melemparkannya tepat di tengah antara kedua pemuda yang berseteru itu.

Kaget dengan ulah aneh ulama itu, kedua pemuda itu pun beralih perhatian menatap tajam ulama tua yang mendekat. Ulama itu dengan suara keras berkata sambil menunjuk dengan telunjuknya, “Agama hanyalah baju. Tuhan begitu mencintai kau dan kau.”

Sering orang kurang menyadari prinsip hidup yang dipegangnya. Kita juga menyaksikan orang bertikai atas nama Tuhan. Di jaman dulu hal seperti ini sering terjadi. Padahal Tuhan kita itu satu dan sama. Tuhan yang sama itu menciptakan manusia dengan kemampuan dan kelemahannya. Orang sering lupa bahwa dalam hidup ini orang mesti saling memperhatikan. Orang mesti selalu menyadari bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama. Di hadapan Tuhan, kita ini sama. Tuhan mengasihi kita semua tanpa memandang seseorang dari suku atau agama mana.

Bagi Tuhan, perbuatan baiklah yang menjadi tolok ukur seseorang yang sungguh-sungguh beriman kepadaNya. Orang yang mengatakan dirinya taat beragama, tetapi dalam hidup tidak menampilkan perbuatan-perbuatan baik, orang itu sama sekali kurang beriman.

Karena itu, kasih dan kesetiaan kepada Tuhan itu mesti ditunjukkan dengan kasih dan kesetiaan kepada sesama. Tuhan itu hadir dalam diri sesama yang kita jumpai sehari-hari. Dengan mengasihi mereka berarti kita mengasihi Tuhan yang telah menciptakan dan mengasihi mereka.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kasih dan kesetiaan Tuhan itu senantiasa berbuah dalam hidup yang nyata. Orang yang berbeda iman itu bukanlah musuh. Tetapi sesama yang di dalam dirinya juga hadir Tuhan. Mari kita meningkatkan kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan dan sesama. Dengan demikian, hidup beriman kita menjadi semakin bermutu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.(105)

21 Juli 2009

Memperjuangkan Hidup Sesama


Suatu hari seorang murid menjual segala miliknya dan membagikannya kepada kaum miskin di kota. Setelah tidak ada lagi apa pun padanya, ia mengadakan perjalanan keliling kota, sampai akhirnya suatu ketika ia tidak mampu menahan rasa lapar yang menggerus perutnya. Lama ia mencoba bertahan, sampai akhirnya pasrah kalah terhadap kelaparan yang menimpanya.

Sementara mencari kemungkinan bagaimana mengganjal perutnya yang kosong, tatapannya tertuju kepada seekor kuda yang sedang dipekerjakan menggiling padi.

Ia bertanya kepada pemilik penggilingan, “Berapa kuda itu dibayar untuk kerja satu hari?”

Pemilik penggilingan itu menjawab, “Dua ribu rupiah!”

Ia berkata, “Bayar saya seribu rupiah untuk kerja satu hari.”

Permohonan itu dikabulkan. Ia bekerja selama satu hari demi lapar yang tidak tertahankan. Dalam hati ia berkata, “Banyak yang bahkan sanggup bekerja lebih hina daripada kuda sekedar mempertahankan hidup sehari.”

Banyak persoalan muncul bersumber dari perut. Dalam dunia ini kita menyaksikan begitu banyak orang mengalami lapar dan haus. Mereka ingin melakukan apa saja untuk mengenyangkan perut mereka dan melepas dahaga di tenggorokan mereka.

Di Afrika, misalnya, jutaan rakyat menderita kelaparan. Mereka menjerit. Bahkan dari antara mereka sudah begitu banyak yang meninggal dunia. Namun perang terus-menerus berkecamuk di benua tersebut. Upaya untuk membebaskan diri dari kemiskinan sepertinya tidak dilakukan sama sekali. Padahal begitu banyak program bantuan yang telah diberikan oleh berbagai bangsa.

Atau di sekitar kita juga terdapat begitu banyak orang yang mengalami penderitaan akibat kelaparan. Para politisi dan anggota DPR yang semestinya memperjuangkan hidup rakyat justru menyelewengkan dana untuk pengentasan orang miskin. Berapa banyak rakyat yang mesti menjadi korban akibat ulah korupsi, kolusi dan nepotisme? Sudah begitu banyak anak yang menderita busung lapar. Siapa yang harus bertanggungjawab atas semua ini?

Sebagai orang beriman, hati kita semestinya tersentuh oleh berbagai penderitaan ini. Tidak hanya itu. Tangan kita semestinya langsung bergerak memberi makan saudara-saudari kita yang kelaparan. Bagi kita, memberi sesuatu kepada sesama yang menderita lapar berarti kita menyelamatkannya dari kematian. Kita memberi sesama itu kehidupan. Inilah yang menjadi perjuangan setiap orang beriman dalam hidup sehari-hari. Memberi hidup kepada sesamanya, bukan kematian.

Kalau kita melakukan sesuatu untuk sesama yang berkekurangan berarti kita telah melakukan suatu keutamaan dalam hidup ini. Kita menanggapi ajakan Tuhan untuk memberi perhatian kepada sesama. Mari kita berusaha untuk memperjuangkan hidup sesama kita dalam hidup kita yang nyata. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (95)