Pages

Tampilkan postingan dengan label memelihara hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memelihara hati. Tampilkan semua postingan

24 Oktober 2015

Memelihara Hati Kita dengan Baik

 

Mengapa hati Anda kurang terasa damai? Ada berbagai jawaban atas pertanyaan sederhana ini. Namun satu hal yang pasti adalah karena Anda tidak menjaga dan memelihara hati Anda dengan baik.

Dalam suatu acara rohani anak-anak, setiap peserta diberi sebutir telur oleh panitia. Pesannya adalah telur itu dijaga agar jangan pecah atau hilang. Telur itu mesti selalu dibawa setiap saat selama acara rohani berlangsung sampai akhir acara. Entah mereka mengikuti session, makan, tidur, bahkan ke kamar mandi, telur itu tidak boleh mereka tinggalkan.

Siapa saja yang kehilangan telur atau sampai memecahkannya, maka ia akan mendapatkan ‘hukuman’ dari Panitia. Dua hari kemudian, ketika acara rohani itu selesai, legalah mereka semua. Namun ada beberapa orang yang harus menanggung hukuman, karena memecahkan telur mereka. Seperti halnya menjaga sebutir telur yang mereka lakukan, demikian juga kita harus menjaga hati.

Seorang anak yang memecahkan telur berkata, “Saya sudah menjaganya sedemikian rupa. Tetapi hanya teledor sedikit saja, telur itu pecah. Saya sangat menyesal telah memecahkan telur itu. Artinya, saya belum bisa menjaganya dengan baik.”

Anak itu mengerti bahwa ia mesti menjaga hal-hal yang berharga yang dimiliki dirinya. Ia berjanji kepada pembimbing acara rohani itu untuk memelihara hatinya dengan sebaik-baiknya. Ia boleh mendapatkan hukuman atas kelalaiannya. Namun ia dapat belajar banyak hal tentang kehidupan.



Jangan Ceroboh

Persoalan terbesar yang dihadapi oleh semua manusia di dunia ini adalah persoalan hati. Dari hati muncul motivasi. Dari hati muncul rencana. Dari hati timbul perasaan. Dari hati kemarahan diungkapkan. Dari hati keluarlah pikiran-pikiran, perkataan dan tindakan.

Namun banyak orang kurang menyadari hal ini. Banyak orang sering ceroboh dalam hidup ini. Akibatnya, mereka kehilangan hati yang tulus dan murni dalam menjalani hidup ini. Mereka bertindak seenaknya saja. Ada hal yang hilang dari hidup mereka, sehingga mereka kurang punya ketahanan hidup.

Bagi kita, hati adalah area yang penting dalam kehidupan ini. Hati yang baik mengatur dan mengarahkan setiap hal yang kita kerjakan. Untuk itu, kita mesti menjaga hati kita dengan sebaik-baiknya. Caranya dengan menghidupi nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari Tuhan sendiri.

Kalau kita mampu menjaga hati kita dari hal-hal yang kurang baik, kita mampu memancarkan kebaikan Tuhan dalam hidup ini. Kita dapat menemukan bahwa Tuhan begitu mencintai hidup kita. Tuhan tidak pernah menolak kehadiran kita. Tuhan tetap menguasai diri kita, bukan hal-hal lain yang sering mengganggu hidup kita.

Sang bijak berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Mari kita menjaga hati kita, agar kita mampu memancarkan kasih Tuhan kepada sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang (masih) Kota Asap


1176

23 April 2010

Menemukan yang Paling Berharga




Ketika sedang mengantre di kasir untuk membayar belanjaan bersama mamanya, mata seorang gadis kecil menangkap seuntai kalung mutiara putih berkilauan. Sambil menepuk tangan ibunya, jari gadis kecil itu menunjuk untaian kalung mutiara itu. Ia bertanya kepada ibunya, “Mama, bolehkah aku memilikinya? Boleh ya, Ma?”

Ibunya hanya tersenyum menyaksikan tingkah anaknya. Tetapi mata ibu itu cepat menyelidik harga kalung mutiara itu. Cuma dua puluh lima ribu rupiah. Beberapa saat kemudian, ia berkata kepada putrinya, “Nak, ambil mutiara itu. Bawa ke sini, biar dibayar sekalian. Itu untuk hadiah ulang tahunmu minggu depan.”

Gadis kecil itu segera mengambil seuntai kalung mutiara itu. Dengan tersenyum lebar ia mendatangi ibunya. Dalam hatinya, ia berkata, “Aku akan selalu menjaga kalung ini baik-baik. Aku tidak akan menghilangkannya atau memberikannya kepada orang lain.”

Wajah gembira selalu menyelimuti wajah gadis itu sepanjang hari itu. Ia memamerkannya kepada ayah dan kakak-kakaknya. Kalung mutiara ‘palsu’ itu menjadi barang yang sangat berharga bagi gadis kecil itu. Ia melepaskan kalung itu hanya kalau mau mandi atau berenang. Ibunya pernah mengatakan kalau kalung itu kena air, maka lehernya akan menjadi hijau. Gadis itu sangat menyayangi kalung itu, meski kalung itu palsu. Ia mengikuti semua saran dari ibunya.

Ada hal-hal yang begitu berharga yang ada pada diri kita yang sangat kita sayangi. Kita tidak rela kalau hal-hal itu lepas dari diri kita. Kita berusaha menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Namun betapa berharganya barang-barang yang kita miliki, semua itu hanya sementara. Semua itu dapat binasa dalam sekejap. Karena itu, kita mesti pandai-pandai memelihara barang-barang itu. Soalnya, apakah perhatian kita hanya tertuju kepada barang-barang berharga itu? Kalau kita tidak punya waktu untuk memperhatikan barang-barang berharga itu, apa yang mesti kita lakukan?

Ada orang mengatakan bahwa ada hal yang lebih berharga yang mesti kita pelihara dalam hidup ini, yaitu hati kita. Kalau hati kita baik, banyak orang akan menyukai kita. Kalau hati kita jahat, banyak orang akan menyingkir dari kita. Orang yang judes yang suka marah-marah biasanya tidak punya banyak sahabat. Ia dianggap sebagai orang yang mudah menyakiti hati orang lain. Akibatnya, ia dianggap sebagai musuh yang berbahaya bagi kehidupan.

Karena itu, sebagai orang-orang yang beriman kepada Tuhan kita mesti memelihara hati yang baik. Hati yang baik itu berkenan kepada Tuhan dan sesama yang hidup bersama kita. Untuk itu, kita mesti memiliki semangat untuk membangun persaudaraan dengan semua orang yang kita jumpai dalam hidup ini. Artinya, kita tidak memilih-milih orang dalam membangun persaudaraan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

357
Bagikan