Pages

Tampilkan postingan dengan label kemampuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemampuan. Tampilkan semua postingan

18 Maret 2014

Mengasah Mutiara-mutiara yang Indah

Tuhan telah membekali kita semua dengan bakat-bakat. Yang mesti kita lakukan adalah kita mengasah bakat-bakat kita itu menjadi lebih baik lagi.

Suatu ketika Daiju mengunjungi guru Baso di China. Ketika mereka bertemu, Baso bertanya, "Kamu sedang mencari apa?"

Tanpa pikir panjang, Daiju menjawab, “Pencerahan.”

Baso agak bingung mendengar jawaban Daiju. Lantas ia berkata, “Kamu sudah memiliki mutiara dalam rumahmu. Mengapa kamu mencari lagi sesuatu di luar?"

Daiju tidak bisa mengerti. Dia tidak bisa menangkap kata-kata Baso dengan baik dan jelas. Jadi ia bertanya, “Di manakah mutiara itu?”

Sambil tersenyum, Baso menjawab, “Apa yang kamu tanyakan itu adalah mutiara itu.”

Seketika itu juga, Daiju mendapatkan pencerahan. Sejak saat itu dia mengajak teman-temannya untuk membuka mata mereka guna melihat mutiara dalam rumah mereka masing-masing dan menggunakan mutiara itu. Ternyata ada begitu banyak mutiara bertebaran di dalam rumah mereka. Mutiara-mutiara itu mesti digunakan untuk kebahagiaan mereka.

Sahabat, kita sering bingung akan diri kita sendiri. Kaum remaja yang sedang tumbuh biasanya masih belum punya pegangan yang pasti. Mereka masih meraba-raba tentang kemampuan-kemampuan mereka. Mereka mudah sekali tergoda oleh sesuatu yang ada di luar diri mereka. Karena itu, mereka mudah sekali mengikuti trend yang ada. Mereka suka mengikuti mode yang sedang berkembang.

Seolah-olah sesuatu yang ada di luar diri mereka itulah yang mesti mereka kejar dan dapatkan. Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa dalam diri kita tersedia mutiara-mutiara indah yang mesti kita temukan dan kembangkan. Mutiara-mutiara itu sangat berguna bagi kehidupan kita.

Kalau mutiara-mutiara berharga ini sudah kita temukan, kita mesti mulai mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna untuk kehidupan kita. Ada orang yang tidak peduli dengan kemampuan-kemampuan yang ada dalam dirinya. Mereka biarkan begitu saja, sehingga mati dan tak berguna bagi hidup mereka. Tentu hal seperti ini sangat kita sayangkan. Mutiara-mutiara berupa kemampuan-kemampuan itu mesti diolah dan dikembangkan sebaik mungkin. Dengan demikian, menjadi sesuatu yang berharga bagi hidup kita.

Sebagai orang beriman, kita tidak ingin mutiara-mutiara itu lenyap begitu saja dari diri kita. Kita ingin agar mutiara-mutiara itu menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai bagi perjalanan hidup kita. Karena itu, kita mesti mengolah dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang berguna untuk hidup kita.

Orang beriman itu orang yang tidak mau membiarkan kemampuan-kemampuan dalam dirinya sirna begitu saja. Orang beriman itu selalu mau berusaha untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Dengan demikian, ia dapat menghayati imannya dalam hidup yang nyata.

Mari kita berusaha sekuat tenaga untuk mengolah dan mengembangkan mutiara-mutiara indah di dalam diri kita. Jangan biarkan mutiara-mutiara itu menjadi karat dan tak berguna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

19 Februari 2011

Berusaha Memberdayakan Kemampuan



Namanya Josephine Komara. Perempuan berusia 54 tahun ini telah menggeluti kain selama 37 tahun. Hal yang paling membanggakan dirinya adalah dia masih teguh memegang etika. Ia punya usaha dengan nama Bin yang diambil dari nama panggilannya, yaitu Obin.

Dalam suatu acara, ia berkata, ”Tak pernah sekali pun menyontek. Bin itu orisinal. Ini bisa diverifikasi dengan orang-orang yang berhubungan dengan Bin.”

Obin memang mempertahankan keasliannya. Hal itu dapat ia pertahankan, karena ia bekerja dengan hati. Ia tidak hanya mencari keuntungan saja. Tetapi ia mengutamakan kepuasan dari para pelanggannya.

Tentang hal ini, Obin berkata, ”Saya bekerja pakai nalar dan naluri, bekerja dengan hati.”

Obin yang menyelesaikan pendidikan formal hanya hingga kelas 6 SD menggulati kain sejak usia 17 tahun. Dia memulai dengan membuat kain interior. Setelah melalui 15 tahun mencoba dan mencoba, Obin dan Bin House memasukkan kain sebagai busana. Ini setelah ia menemukan cara memintal dan menenun kain sutra menjadi tipis dan luwes.

”Tahun 1989 Bin House memadukan batik dengan tenun, yang orang tidak memikirkan sebelumnya,” kata Obin tentang orisinalitas Bin.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang gampang sekali menjiplak karya orang lain. Beberapa waktu lalu negara tentangga kita mengklaim beberapa karya seni milik bangsa kita. Bahkan sampai dipromosikan secara besar-besaran di internet sebagai milik bangsa tetangga tersebut. Rupanya mereka tidak menghargai orisinalitas karya orang lain.

Namun dari peristiwa itu kita dapat belajar tentang pentingnya hak paten terhadap sebuah karya tangan manusia. Batik kemudian diakui sebagai milik anak negeri ini oleh dunia internasional. Diharapkan juga anak-anak bangsa ini mau dengan penuh kesadaran menghargai karya-karya seni milik bangsa ini.

Kisah Obin memberikan inspirasi bagi kita tentang usaha-usaha untuk mengembangkan diri. Setiap orang diberi potensi yang mesti dikembangkan baik untuk hidup diri sendiri maupun untuk hidup banyak orang. Potensi-potensi itu adalah rahmat dari Tuhan sendiri yang mesti disyukuri. Cara mensyukurinya itu dengan mengembangkannya. Obin sudah mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, meski ia hanya lulus SD.

Kita dapat belajar dari perjuangan Obin untuk tetap setia pada komitmen orisinalitasnya. Ia tidak terpengaruh oleh cara-cara instan yang tidak wajar dengan menjiplak karya orang lain. Sebagai orang beriman, mari kita berusaha agar kita terus-menerus mengembangkan kemampuan-kemampuan kita. Dengan demikian, kita dapat membahagiakan diri kita sendiri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

619

16 Februari 2010

Membagikan Kemampuan Diri



Andrew Carnegie, seorang yang berjasa terhadap bangsa Amerika, suatu hari mengeluh. Ia berkata, “Saya berutang terhadap semua keberhasilan yang pernah saya raih. Khususnya terhadap kemampuan saya untuk membuat orang-orang yang lebih pandai dari saya yang berada di sekitar saya.”

Carnegie mengaku, semasa hidupnya ia kurang mampu melakukan satu hal penting. Ia tidak bisa menularkan kelebihannya kepada orang lain. Kelebihannya itu ia gunakan untuk dirinya sendiri. Orang lain tidak boleh memiliki kelebihannya. Ia baru sadar, ketika ia sudah menjadi tua.

Karena itu, ia merasa memiliki utang yang besar terhadap bangsanya. Ia menyesal, dulu sewaktu muda ia tidak menularkan kelebihannya itu kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Seandainya keahliannya itu ia tularkan kepada orang lain, tentu banyak orang akan menggunakannya untuk kemajuan bangsa manusia.

Sering kita menyaksikan hal-hal seperti ini terjadi dalam hidup sehari-hari. Seorang pengusaha tentu akan tetap menjaga rahasia suksesnya. Ia tidak ingin rahasia suksesnya itu ditiru oleh orang lain. Baginya, rahasia sukses itu mesti ia simpan rapat-rapat untuk dirinya sendiri. Orang lain tidak perlu tahu.

Tentu hal ini sah-sah saja. Tidak ada orang yang bisa melarang seseorang untuk menyimpan rahasia suksesnya untuk dirinya sendiri. Namun seperti kisah di atas, hal yang baik yang tidak ditularkan kepada orang lain itu akan mati bersama orang yang memilikinya.

Hal yang baik itu tidak akan bertumbuh dan berkembang. Hal yang baik itu akan tetap satu saja. Tidak akan menjadi banyak. Padahal dalam hidup ini kita butuh semakin banyak hal baik yang mesti dikembangkan.

Kalau kita menularkan kebaikan-kebaikan atau keahlian-keahlian kita kepada orang lain di sekitar kita, maka hal-hal itu akan bertumbuh dan berkembang. Keahlian yang kita miliki itu akan hidup terus dalam diri orang-orang lain.

Sebagai orang-orang, kita didorong oleh suatu semangat untuk membagikan apa yang kita miliki kepada orang lain. Dalam hal ini yang kita miliki itu kemampuan atau keahlian dalam diri kita. Ketika kita membagikan atau menularkan hal ini kepada sesama, berarti kita ingin membagikan kasih kita kepada sesama yang ada di sekitar kita. Kasih itu juga tumbuh melalui hal-hal seperti ini. Kasih itu menjadi tampak, ketika kita membagikan kemampuan diri kita kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

324

Bagikan

07 Januari 2010

Mampu Keluar dari Kesulitan


Kalau Anda ke Yogyakarta, jangan lupa mampir ke Kota Gede. Kota Gede yang terletak di bagian selatan Yogya ini terkenal dengan sebutan Kota Perak. Di sana banyak pengrajin perak yang hidupnya tergantung dari usaha perak ini. Namun masa sulit pun menimpa masyarakat kota ini. Para turis asing yang menjadi andalan pembeli perak sudah jarang datang. Hal ini terjadi karena para pengrajin Kotagede kalah bersaing.

Produk ekspor dari kora perak ini kalah bersaing dengan produk dari negara lain seperti Hongkong, Thailand, Malaysia dan Vietnam. Negara-negara ini unggul dalam desain dan tidak dikenai pajak bahan baku.

Akibatnya, banyak pengrajin yang kewalahan memasarkan produk mereka. Di dalam negeri kurang banyak diminati. Turis-turis asing juga tidak mau datang lagi ke Kota Perak untuk membeli hasil karya dari perak ini. Para pengrajin terus-menerus mengalami kesulitan.

Dalam kesulitan seperti ini ada sejumlah pengrajin mulai membanting stir. Mereka membuka usaha-usaha lain yang menarik perhatian para turis. Nah, para pengrajin seperti ini mulai mendapatkan penghasilan yang memadai untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Dalam hidup ini orang mesti berani untuk mengambil terobosan-terobosan. Kesulitan yang menghadang semestinya menjadi sumber inspirasi bagi seseorang untuk menemukan cara-cara baru untuk keluar dari kesulitan. Orang mesti memiliki kreativitas yang lebih untuk menjalani hidup ini dengan penuh antusias.

Ada orang yang mudah menyerah begitu menghadapi kesulitan-kesulitan. Seolah-olah tidak ada jalan lain bagi dirinya untuk keluar dari kesulitannya. Orang seperti ini biasanya tidak ingin maju dalam hidupnya. Ia mudah putus asa. Padahal orang yang mudah putus asa itu tidak mencerminkan dirinya sebagai orang yang beriman.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk tidak terpuruk dalam kesulitan yang kita hadapi. Mengapa? Karena masih ada jalan keluar yang bisa ditempuh. Ada berbagai cara yang halal dan baik yang dapat kita gunakan untuk keluar dari kesulitan hidup ini.

Untuk itu, orang beriman mesti mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang beriman mesti bekerja bersama Tuhan. Tuhan siap membantu, kalau orang mau membuka diri dan hati meminta pertolongan dari Tuhan. Orang beriman mesti terus-menerus menggunakan pikirannya untuk menemukan cara-cara keluar dari kesulitan hidup. Mari kita coba. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


286

Bagikan

04 Januari 2010

Berlatih untuk Meningkatkan Kemampuan




Ada seorang penjual batu akik di pinggir jalan. Agar jualannya menarik dan diminati pembeli, ia pun menggosok batu-batu akik itu. Ia menggosoknya terus-menerus, sehingga orang-orang yang lewat mau berhenti dan melihatnya.

Suatu hari datang seorang pembeli. Ia heran melihat penjual batu akik itu tak henti-henti menggosok-gosok batu akik itu. Ia bertanya, “Pak, bagaimana bapak bisa tahu kalau batu-batu akik yang bapak gosok itu sudah siap dijual? Bagaimana bapak tahu kalau gosokannya sudah cukup halus?”

Sambil tersenyum, bapak itu memandang pembeli itu. Ia berkata, “Gampang sekali. Saya dekatkan saja batu akik ini ke wajah saya. Kalau wajah saya sudah terlihat di batu akik, itu tandanya batu akik itu sudah cukup mengkilap. Batu akik itu sudah siap dijual.”

Pembeli itu terdiam. Ia mengerti penjelasan penjual batu akik itu. Ternyata ada berbagai cara untuk menemukan keindahan dalam hidup ini.

Hidup manusia itu seperti batu akik yang terus-menerus digosok. Untuk menjadi baik dan benar, hidup ini mesti diolah. Tidak cukup orang hidup dengan apa yang ada dalam dirinya saat ini. Kemampuan yang dimiliki itu dapat berkembang menjadi lebih baik, kalau ia terus-menerus melatihnya.

Orang mengatakan bahwa sebagian besar keahlian seseorang itu dicapai dengan lebih banyak berlatih. Bakat dibutuhkan untuk memacu seseorang dalam mencapai keahlian. Namun bakat bukan segalanya. Hal yang sangat diperlukan adalah latihan terus-menerus.

Soalnya adalah ada orang yang sulit berlatih. Tidak ada kemauan dalam dirinya untuk berlatih. Padahal latihan yang terus-menerus itu meningkatkan keahlian seseorang. Seorang olahragawan hebat itu meraih kesuksesan bukan dengan malas-malasan. Tetapi ia meraih kesuksesannya dengan berlatih sebanyak-banyaknya.

Orang seperti ini biasanya tidak takut menghadapi resiko dalam hidupnya. Resiko dapat diatasi, kalau orang mau berlatih dengan baik dan benar. Orang seperti ini biasanya memiliki iman yang tangguh. Dalam pengalaman hidupnya, ia berani melintasi berbagai tantangan hidup. Ia berani menghadapi berbagai aral yang menghadang.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berusaha dalam hidup yang nyata. Usaha keras kita pasti berkenan kepada Tuhan yang senantiasa menyertai kita. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita berjuang sendirian. Untuk itu, kita mesti berani menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Dia akan memberikan segala yang kita butuhkan dalam hidup ini, kalau kita berani berserah diri kepadaNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
283
Bagikan