Pages

16 Februari 2010

Membagikan Kemampuan Diri



Andrew Carnegie, seorang yang berjasa terhadap bangsa Amerika, suatu hari mengeluh. Ia berkata, “Saya berutang terhadap semua keberhasilan yang pernah saya raih. Khususnya terhadap kemampuan saya untuk membuat orang-orang yang lebih pandai dari saya yang berada di sekitar saya.”

Carnegie mengaku, semasa hidupnya ia kurang mampu melakukan satu hal penting. Ia tidak bisa menularkan kelebihannya kepada orang lain. Kelebihannya itu ia gunakan untuk dirinya sendiri. Orang lain tidak boleh memiliki kelebihannya. Ia baru sadar, ketika ia sudah menjadi tua.

Karena itu, ia merasa memiliki utang yang besar terhadap bangsanya. Ia menyesal, dulu sewaktu muda ia tidak menularkan kelebihannya itu kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Seandainya keahliannya itu ia tularkan kepada orang lain, tentu banyak orang akan menggunakannya untuk kemajuan bangsa manusia.

Sering kita menyaksikan hal-hal seperti ini terjadi dalam hidup sehari-hari. Seorang pengusaha tentu akan tetap menjaga rahasia suksesnya. Ia tidak ingin rahasia suksesnya itu ditiru oleh orang lain. Baginya, rahasia sukses itu mesti ia simpan rapat-rapat untuk dirinya sendiri. Orang lain tidak perlu tahu.

Tentu hal ini sah-sah saja. Tidak ada orang yang bisa melarang seseorang untuk menyimpan rahasia suksesnya untuk dirinya sendiri. Namun seperti kisah di atas, hal yang baik yang tidak ditularkan kepada orang lain itu akan mati bersama orang yang memilikinya.

Hal yang baik itu tidak akan bertumbuh dan berkembang. Hal yang baik itu akan tetap satu saja. Tidak akan menjadi banyak. Padahal dalam hidup ini kita butuh semakin banyak hal baik yang mesti dikembangkan.

Kalau kita menularkan kebaikan-kebaikan atau keahlian-keahlian kita kepada orang lain di sekitar kita, maka hal-hal itu akan bertumbuh dan berkembang. Keahlian yang kita miliki itu akan hidup terus dalam diri orang-orang lain.

Sebagai orang-orang, kita didorong oleh suatu semangat untuk membagikan apa yang kita miliki kepada orang lain. Dalam hal ini yang kita miliki itu kemampuan atau keahlian dalam diri kita. Ketika kita membagikan atau menularkan hal ini kepada sesama, berarti kita ingin membagikan kasih kita kepada sesama yang ada di sekitar kita. Kasih itu juga tumbuh melalui hal-hal seperti ini. Kasih itu menjadi tampak, ketika kita membagikan kemampuan diri kita kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

324

Bagikan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.