Pages

26 Februari 2010

Memiliki Daya Tahan

Suatu hari, seorang murid silat datang kepada gurunya. Ia mengatakan kepada gurunya bahwa ia sudah layak disejajarkan dengan gurunya dalam banyak hal. Soalnya, dia sudah menguasai seluruh jurus silat. Dia sudah mempraktekkannya dengan baik. Bahkan ketika suatu hari dia dikeroyok oleh enam orang kawanan penjahat, ia dapat mengatasi mereka. Ia mengalahkan mereka dengan memukul mereka sampai pingsan.

Guru itu menatap mata muridnya dalam-dalam lalu bertanya, “Apakah menguasai seluruh jurus itu sudah cukup? Bukankah masih ada kualifikasi lain?”

Murid itu dengan suara tegas menjawab, “Saya sudah mendisiplinkan tubuhku sedemikian rupa, sehingga saya dapat tidur di atas tanah, makan rumput di padang dan membiarkan diriku didera tiga kali sehari.”

Guru itu menarik lengan muridnya. Lantas ia membawanya ke jendela. Ia mengajaknya untuk melihat seekor sapi yang ditambat di lapangan dengan rerumputan yang hijau. Lalu dengan wajah agak sedih ia berkata kepada muridnya, “Lihat sapi itu? hendaknya Anda ingat bahwa sapi itu tidur di tanah, makan rumput dan tidak kurang dari tiga kali sehari dicemeti. Karena itu, sampai saat ini kamu hanya layak menjadi seperti seekor sapi, bukan sebagai murid yang sudah lulus.”

Mata murid itu menjadi merah. Ia sangat geram. Mengapa ia disamakan dengan seekor sapi? Padahal ia sudah berjuang habis-habisan untuk menggapai cita-citanya sebagai seorang yang dinobatkan juga sebagai guru atau bahkan mahaguru di dunia silat. Hari itu juga murid itu mengundurkan diri dari perguruan silat itu. Ia merasa diri tidak layak menempuh pelatihan di padepokan itu.

Barangkali yang sangat kurang dari sang murid dalam kisah tadi adalah kerendahan hati. Hidup ini sebenarnya suatu proses. Dalam proses itu orang tidak bisa membuat keputusan seenaknya sendiri. Orang mesti melewati proses demi proses. Orang tidak bisa begitu saja meloncati suatu proses yang sedang dilalui. Orang mesti menjauhi sikap tergesa-gesa.

Kesempurnaan itu dicapai kalau orang sudah melewati proses pembentukan dirinya. Kadang-kadang orang merasa diri sudah tidak perlu pembinaan lagi. Orang ingin lepas bebas bagai burung-burung di udara. Orang tidak sadar bahwa masih ada begitu banyak hal yang mesti dipelajari dalam kehidupan ini.

Karena itu, dalam proses pembentukan diri itu dibutuhkan suatu sikap rendah hati. Orang mesti belajar dari ilmu padi. Semakin berisi semakin merunduk. Kesombongan hanya mempercepat kegagalan dalam hidup. Kata orang, kesombongan itu langkah awal menuju kebinasaan.

Orang juga butuh kesabaran dalam menjalani setiap proses pembentukan dirinya. Kesabaran itu sering menjadi kunci sukses banyak orang dalam meraih cita-cita mereka. Hal lain adalah keuletan dalam mengikuti setiap proses pembentukan.

Kita boleh bertanya diri apakah kita masih memiliki kerendahan hati yang mendalam? Atau kita sudah melepaskan kerendahan hati ini? Apakah kita memiliki kesabaran yang cukup dalam perjuangan kita meraih sukses? Apakah hidup kita hari ini didukung oleh keuletan dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kita? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

333
Bagikan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.