Pages

18 Februari 2010

Menjadi Saudara bagi Semua Orang


Suatu malam seseorang menelepon saya. Saya belum pernah bertemu dengan orang ini. Namun dengan penuh keramahan ia menyapa saya, “Saudaraku yang baik.” Lantas ia menyebutkan namanya. Pertama kali itu saya mendengar namanya.

“Apa kabar saudaraku,” saya menjawab meski hati saya tetap bertanya-tanya tentang identitas orang itu.

Ia tertawa ngakak. Seolah-olah malam itu ia mendapatkan seorang saudara yang dapat ia curahkan seluruh isi hatinya. Memang, kemudian ia bercerita tentang suka duka hidupnya. Yang paling banyak ia sharingkan adalah pahit getir hidupnya dalam membangun usaha dan keluarga.

Ia bercerita, “Beberapa kali usaha saya gagal. Usaha-usaha saya sudah mulai besar, tetapi kemudian jatuh lagi. Saya harus merangkak lagi dari bawah. Coba Anda bayangkan betapa sulitnya memulai usaha baru, tetapi dengan semudah itu jatuh. Seolah-olah semua yang telah saya upayakan itu sia-sia belaka.

Saya berusaha untuk menghiburnya. Saya berusaha untuk menuntun dia menemukan makna dari kegagalan-kegagalannya dalam usaha-usahanya. Saya berkata, “Saudaraku, Tuhan pasti menolongmu.”

Ia menjawab, “Aku tahu Tuhan selalu menolong saya. Buktinya, setiap kali saya gagal, saya bisa bangkit lagi dengan usaha yang baru. Istri dan anak-anak saya mendapatkan ketenangan batin. Terima kasih atas nasihat-nasihat saudara.”

Ia kemudian tertawa terbahak-bahak. Lantas ia mengucapkan selamat tidur kepada saya sambil berjanji akan menelepon lagi, kalau dia membutuhkan bantuann berupa nasihat.

Saya agak bingung dengan tingkah orang yang baru pertama kali berkenalan lewat telepon itu. Biasanya dalam keadaan sulit seperti itu di penghujung pembicaraan akan meminta uang untuk modal usaha. Tetap orang ini tidak. Ia hanya ingin mengungkapkan isi hatinya. Itu sudah cukup baginya.

Beberapa waktu kemudian, ia menelepon saya lagi dengan maksud yang sama. Kali ini ia memamerkan keberhasilan usaha-usahanya. Ia tetap menyapa saya dengan ‘saudaraku yang baik’. Aneh, setelah itu ia tidak teleponn lagi. Mungkin ia tidak membutuhkan nasihat saya lagi.

Membangun persaudaraan yang baik memang tidak mudah. Selalu saja ada hambatan. Tetapi orang yang beriman biasanya menemukan cara-cara yang baik dalam membangun persaudaraan. Ia tidak putus asa menghadapi hambatan-hambatan. Justru hambatan-hambatan itu manjadi berkat baginya untuk membangun persaudaraan yang lebih baik.

Persaudaraan yang sehat dan baik itu dibangun dalam kasih. Orang yang memiliki kasih, dia akan dengan mudah membangun persaudaraan dengan setiap orang yang dia jumpai. Untuk itu kita perlu menghilangkan rasa curiga terhadap sesama yang kita jumpai. Mari kita menjadi saudara bagi semua orang. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih indah. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

327
Bagikan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.