Pages

Tampilkan postingan dengan label persaudaraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persaudaraan. Tampilkan semua postingan

23 Februari 2014

Bersama-sama Membangun Hidup Persaudaraan


 
Hidup bersama yang penuh persaudaraan merupakan dambaan semua orang. Namun dalam kenyataan sehari-hari, hidup bersama penuh persaudaraan itu tidak mudah diraih.

Beberapa waktu lalu di sebuah kebun binatang di California, Amerika Serikat, seekor macan melahirkan dua ekor anaknya. Sayang, kedua anaknya itu tidak lama hidup. Mereka mati. Sang induk sangat sedih menyaksikan dua anaknya yang mati itu. Ia mengalami stress yang luar biasa. Akibatnya, petugas kebun binatang mesti merawatnya secara khusus di tempat yang khusus pula. Ia dipisahkan dari macan-macan lain.

Setelah sembuh dari stressnya, sang induk diberi tiga ekor anak babi yang di punggungnya diberi warna belang-belang seperti macan. Apa yang terjadi? Induk macan itu tertarik terhadap tiga ekor anak babi itu. Ia mendekati mereka. Ia merangkul mereka seperti anaknya sendiri. Yang mengejutkan para petugas kebun binatang itu adalah sang induk pun mulai menyusui tiga anak babi itu. Ia memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Sungguh, luar biasa. Ia tidak memangsa mereka.

Lama-kelamaan mereka hidup dengan penuh damai. Sang induk melatih tiga anak babi itu berlari. Ia melatih mereka untuk berburu mangsa. Ketiga anak babi itu pun melakukannya dengan penuh semangat. Mereka melakukannya dengan baik. Para pengunjung kebun binatang dibuat berdecak kagum menyaksikan peristiwa itu. Hidup rukun tercipta di antara jenis binatang yang berbeda itu. Sang macan yang ganas tidak serta merta memangsa ketiga babi itu. Sebaliknya, mereka membangun persahabatan yang baik.

Sahabat, tidak ada yang mustahil dalam hidup ini. Kehidupan yang harmonis dan damai dapat tercipta, kalau manusia ingin membangun persaudaraan. Kuncinya terletak pada niat baik setiap orang untuk membangun hidup ini menjadi lebih baik. Niat baik itu mesti selalu didasarkan pada kepedulian satu sama lain. Manusia tidak boleh saling menindas. Yang mesti terjadi adalah situasi saling menghargai. Suatu situasi yang memberi kesempatan orang lain untuk bertumbuh dan berkembang dalam hidupnya.

Tentu saja situasi seperti ini tidak mudah dicapai dalam hidup. Situasi yang harmonis dan damai itu tidak sekaligus jadi. Orang mesti memperjuangkannya. Orang mesti berani untuk mengorbankan kepentingan dirinya sendiri bagi kebahagiaan bersama. Orang yang berani mengorbankan diri bagi kehidupan bersama yang bahagia tentu memiliki suatu cinta yang besar.

Karena itu, orang yang mengandalkan kekuatan diri sendiri akan mengalami kesulitan dalam membangun persaudaraan yang sejati. Orang yang mau menang sendiri akan menemukan kehidupan bersama menjadi penghalang bagi tercapainya keinginan-keinginannya.

Untuk itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk membangun suatu hidup yang harmonis dan damai yang didasarkan pada cinta kasih yang mendalam. Kalau ini yang terjadi, kita akan menemukan hidup ini sungguh-sungguh bermakna. Kita dapat belajar dari induk macan dan tiga anak babi yang dapat hidup bersama dalam kisah di atas. Perasaan senasib sepenanggungan mesti selalu diolah dan dikembangkan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1054

11 Oktober 2011

Membangun Persaudaraan yang Kuat

Sejarah itu tercipta di menit ke-116, ketika tendangan kaki kanan Andres Iniesta menggetarkan jalan gawang Belanda yang dikawal Maarten Stekelenburg. Spanyol pun menjadi juara dunia untuk pertama kali. Para pemain Spanyol menumpahkan kegembiraan itu dengan berbagai cara. Kiper Spanyol, Iker Casillas, menangis sesenggukan begitu wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir.

Yang menarik adalah kemenangan Spanyol tersebut menjadi suatu peristiwa menyatunya dua kubu yang selama ini berseteru. Sebagian besar pemain inti Spanyol terdiri dari para pemain Barcelona yang dikenal dengan Catalan yang tidak pro-pemerintah. Bertahun-tahun lamanya tim-tim Catalan berseteru dengan tim-tim Madrid yang pro-pemerintah. Bahkan selama ini tim-tim dari Catalan enggan mengenakan seragam tim nasional dan membawa bendera kenegaraan Spanyol.

Namun peraihan gelar juara dunia sepakbola menjadi saat yang menyatukan kedua pihak yang saling bertikai selama ini. Marcelino Sanchez yang merayakan kemenangan bersama warga Kota Barcelona berkata, “Anda kini akan melihat orang-orang keluar di jalan dengan seragam 'La Roja' atau dengan bendera Spanyol yang biasanya dianggap tabu di sini.”

Sahabat, olahraga ternyata mampu menyatukan perselisihan yang telah terjadi bertahun-tahun. Olahraga yang membawa kegembiraan besar bagi suatu bangsa itu mampu menghilangkan permusuhan di antara anak-anak bangsa negeri itu. Yang mereka alami hanyalah sukacita, karena tim kesebelasannya mampu meraih juara dunia. Suatu impian yang puluh tahun dirindukan kini terwujud.

Sebuah kemenangan mampu membangkitkan semangat untuk bersatu. Nasionalisme yang terpecah belah itu dapat disatukan kembali berkat raihan sebuah trophy bernama Piala Dunia. Sepakbola bukan hanya sebuah olahraga. Sepakbola menjadi sebuah sarana untuk membangun persaudaraan.

Karena itu, yang diharapkan adalah persaudaraan yang dicapai itu tidak hanya berlangsung sesaat. Persaudaraan itu mesti terus-menerus hadir dalam kehidupan bersama. Untuk itu, orang mesti membangun sikap sportif seperti para pemain sepakbola yang sedang berlaga di atas lapangan hijau. Meski terjadi pelanggaran dari lawan main, tetapi selalu ada pengampunan. Meski pemain yang dilanggar itu mesti tertatih-tatih, karena mengalami cedera, ia tetap memberikan kata maaf bagi yang melanggarnya.

Orang beriman juga mesti memupuk sportivitas dalam kehidupan bersama. Orang yang mau menang sendiri biasanya akan menciptakan suasana yang kurang enak dalam hidup bersama. Sesamanya akan mengalami suasana tertekan dan takut. Akibatnya, kehidupan bersama menjadi kurang harmonis. Persaudaraan yang didambakan akan berakhir dengan suatu situasi yang tidak menyenangkan.

Untuk itu, membangun sportivitas yang mendukung persaudaraan merupakan panggilan kita semua. Dengan memiliki persaudaraan, kita dapat membangun hidup kita menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Mari kita terus-menerus membangun persaudaraan dalam hidup kita bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



803

18 Juni 2011

Hidup dalam Persaudaraan dan Persahabatan


Ada seorang bapak yang sewot luar biasa ketika mengetahui bahwa bemper mobil sedannya tergores. Seseorang baru saja menyerempet mobilnya itu. Orang itu tidak melarikan diri. Ia meminggirkan mobilnya dan turun menemui pemilik sedan itu. Ia meminta maaf atas kekilafannya. Ia tidak sengaja melakukan hal itu. Peristiwa itu terjadi secara kebetulan.

Bapak pemilik sedan itu sama sekali tidak menghiraukan permintaan maaf itu. Ia lebih peduli terhadap bemper mobilnya yang lecet itu. Beberapa saat kemudian, bapak itu menatap wajah orang yang menyerempet mobilnya. Ia memarahinya dengan kata-kata yang pedas dan kasar. Tidak ada pengampunan dari dalam dirinya. Yang ia pentingkan adalah bemper mobilnya yang lecet itu.

Orang yang menyerempet mobil itu tidak habis pikir. Mengapa bapak itu begitu sadis? Mengapa ia begitu peduli terhadap bemper mobilnya yang lecet itu? Padahal lecet itu bisa dihilangkan dalam beberapa saat dengan cat.

Dengan sedih, orang itu berkata, “Bapak, saya minta maaf. Kita sama-sama berada di tempat yang ramai. Jadi kekeliruan sedikit saja bisa terjadi serempetan. Kalau bapak tidak mementingkan permohonan maaf saya, saya akan segera pergi.”

Bapak itu semakin marah. Ia tidak mau memberikan maaf. Baginya, lecet itu mesti diganti dengan sejumlah uang. Namun ia enggan mengatakan berapa jumlah uang yang mesti diberikan kepadanya. Orang yang menyerempet mobil itu lantas meninggalkan bapak itu sendirian.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang menampilkan berbagai segi kehidupan. Ada yang begitu peduli dengan harta benda yang mereka miliki. Ada yang peduli terhadap kehidupan sosial dan kebersamaan.

Ada yang tidak peduli terhadap permohonan maaf dari sesamanya. Karena itu, orang seperti ini sulit sekali mengampuni sesamanya. Orang seperti ini lebih peduli terhadap kepentingan dirinya sendiri. Tujuan kehadiran orang lain di sekitarnya hanya demi kepentingan dirinya sendiri.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa dalam kebersamaan hidup yang mesti dipentingkan adalah terciptanya persaudaraan. Kesalahan yang kecil tidak perlu dibesar-besarkan. Kesalahan yang kecil itu mesti segera ditutup dengan bangunan persaudaraan dan persahabatan. Kalau orang membesar-besarkan kesalahan, persahabatan tidak akan terjadi dalam kehidupan bersama.

Karena itu, membangun persaudaraan dan persahabatan menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan ini. Persahabatan yang baik mampu mengubah yang buruk menjadi lebih baik. Orang mengatakan bahwa lebih baik memiliki sahabat yang baik daripada memiliki harta berlimpah, namun tidak punya sahabat yang baik.

Sebagai orang beriman, kita mesti berusaha untuk mendahulukan persaudaraan dan persahabatan dalam hidup ini. Mengapa? Karena hidup dalam persaudaraan dan persahabatan yang baik itu membuahkan kebaikan. Kita akan diperkaya oleh bangunan persaudaraan dan persahabatan itu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

702

31 Mei 2011

Hidup dalam Kasih Menumbuhkan Persaudaraan



Persoalan penculikan anak-anak belakangan ini marak terjadi di Jakarta dengan berbagai modus. Di Jakarta Utara, misalnya, seorang pelajar dibius tiga pria tak dikenal. Sedangkan dua bocah di Jakarta Pusat ditarik paksa ke dalam kereta oleh seorang pria yang tidak dikenal.

Penculikan itu meninggalkan trauma yang mendalam bagi yang diculik maupun orangtua yang diculik itu. Indah Lestari yang berusia 8 tahun, misalnya, mengaku masih trauma. Dia adalah satu dari dua bocah yang diculik pria tidak dikenal. Kamis pekan lalu (Maret 2010), keduanya dinaikkan ke atas kereta api jurusan Rangkasbitung ke Kota.

Indah berkata, ”Tangan saya dipegangi sampai bengkak. Sakit sekali. Kami tidak bisa lepas.”

Indah bersama temannya bernama Fani diculik lalu dimasukkan ke dalam kereta. Beruntung bagi keduanya. Saat kereta berhenti di Stasiun Angke, Indah berteriak memanggil nama kakaknya yang bernama Eneng. Sang kakak langsung naik ke atas kereta api dan berusaha membebaskan keduanya. Namun ia gagal. Tetapi ia tidak hilang akal. Di stasiun berikutnya, Beos, ia mencari petugas keamanan yang membekuk pria yang tak dikenal yang menculik dua bocah itu.

Sahabat, mengapa terjadi penculikan terhadap anak-anak dalam beberapa waktu terakhir ini? Alasannya bisa macam-macam. Namun satu hal yang pasti adalah orang hanya ingin memenuhi kepentingan dirinya sendiri. Orang hanya mau mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Orang lain boleh mengalami penderitaan. Yang penting dirinya sendiri mengalami kegembiraan dan kebahagiaan.

Tentu saja hal ini tidak benar. Orang tidak bisa dibenarkan menggunakan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Setiap manusia memiliki martabat yang tinggi. Semua orang memiliki harkat dan martabat yang sama.

Karena itu, orang tidak bisa mereduksi harkat dan martabat sesamanya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Orang mesti menyadari bahwa kehadiran sesamanya bukan hanya untuk dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang mesti selalu menjalin kehidupan bersama.

Karena itu, tindakan penculikan itu mesti diperangi dengan menyadarkan para penculik itu. Dengan demikian, para penculik itu sungguh-sungguh memahami kehadiran sesama dalam hidup mereka. Mereka mesti diberi pengertian-pengertian yang mendalam tentang kehadiran sesama. Caranya adalah dengan menanamkan nilai-nilai cinta kasih dalam hidup mereka.

Hidup tanpa cinta hanya menimbulkan kekacauan dalam hidup. Hidup tanpa cinta hanya menumbuhkan kebencian dalam hidup ini. Karena itu, mari kita berusaha untuk menanamkan nilai-nilai cinta kasih dalam hidup bersama. Dengan demikian, hidup bersama ini menjadi kesempatan yang indah dan damai bagi semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


690

24 April 2011

Bersama-sama Bangun Hidup Persaudaraan

Beberapa waktu lalu di sebuah kebun binatang di California, Amerika Serikat, seekor macan melahirkan dua ekor anaknya. Sayang, kedua anaknya itu tidak lama hidup. Mereka mati. Sang induk sangat sedih menyaksikan dua anaknya yang mati itu. Ia mengalami stress yang luar biasa. Akibatnya, petugas kebun binatang mesti merawatnya secara khusus di tempat yang khusus pula. Ia dipisahkan dari macan-macan lain.

Setelah sembuh dari stressnya, sang induk diberi tiga ekor anak babi yang di punggungnya diberi warna belang-belang seperti macan. Apa yang terjadi? Induk macan itu tertarik terhadap tiga ekor anak babi itu. Ia mendekati mereka. Ia merangkul mereka seperti anaknya sendiri. Yang mengejutkan para petugas kebun binatang itu adalah sang induk pun mulai menyusui tiga anak babi itu. Ia memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Sungguh, luar biasa. Ia tidak memangsa mereka.

Lama-kelamaan mereka hidup dengan penuh damai. Sang induk melatih tiga anak babi itu berlari. Ia melatih mereka untuk berburu mangsa. Ketiga anak babi itu pun melakukannya dengan penuh semangat. Mereka melakukannya dengan baik. Para pengunjung kebun binatang dibuat berdecak kagum menyaksikan peristiwa itu. Hidup rukun tercipta di antara jenis binatang yang berbeda itu. Sang macan yang ganas tidak serta merta memangsa ketiga babi itu. Sebaliknya, mereka membangun persahabatan yang baik.

Sahabat, tidak ada yang mustahil dalam hidup ini. Kehidupan yang harmonis dan damai dapat tercipta, kalau manusia ingin membangun persaudaraan. Kuncinya terletak pada niat baik setiap orang untuk membangun hidup ini menjadi lebih baik. Niat baik itu mesti selalu didasarkan pada kepedulian satu sama lain. Manusia tidak boleh saling menindas. Yang mesti terjadi adalah situasi saling menghargai. Suatu situasi yang memberi kesempatan orang lain untuk bertumbuh dan berkembang dalam hidupnya.

Tentu saja situasi seperti ini tidak mudah dicapai dalam hidup. Situasi yang harmonis dan damai itu tidak sekaligus jadi. Orang mesti memperjuangkannya. Orang mesti berani untuk mengorbankan kepentingan dirinya sendiri bagi kebahagiaan bersama. Orang yang berani mengorbankan diri bagi kehidupan bersama yang bahagia tentu memiliki suatu cinta yang besar.

Karena itu, orang yang mengandalkan kekuatan diri sendiri akan mengalami kesulitan dalam membangun persaudaraan yang sejati. Orang yang mau menang sendiri akan menemukan kehidupan bersama menjadi penghalang bagi tercapainya keinginan-keinginannya.

Untuk itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk membangun suatu hidup yang harmonis dan damai yang didasarkan pada cinta kasih yang mendalam. Kalau ini yang terjadi, kita akan menemukan hidup ini sungguh-sungguh bermakna. Kita dapat belajar dari induk macan dan tiga anak babi yang dapat hidup bersama dalam kisah tadi. Perasaan senasib sepenanggungan mesti selalu diolah dan dikembangkan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

662

18 Februari 2010

Menjadi Saudara bagi Semua Orang


Suatu malam seseorang menelepon saya. Saya belum pernah bertemu dengan orang ini. Namun dengan penuh keramahan ia menyapa saya, “Saudaraku yang baik.” Lantas ia menyebutkan namanya. Pertama kali itu saya mendengar namanya.

“Apa kabar saudaraku,” saya menjawab meski hati saya tetap bertanya-tanya tentang identitas orang itu.

Ia tertawa ngakak. Seolah-olah malam itu ia mendapatkan seorang saudara yang dapat ia curahkan seluruh isi hatinya. Memang, kemudian ia bercerita tentang suka duka hidupnya. Yang paling banyak ia sharingkan adalah pahit getir hidupnya dalam membangun usaha dan keluarga.

Ia bercerita, “Beberapa kali usaha saya gagal. Usaha-usaha saya sudah mulai besar, tetapi kemudian jatuh lagi. Saya harus merangkak lagi dari bawah. Coba Anda bayangkan betapa sulitnya memulai usaha baru, tetapi dengan semudah itu jatuh. Seolah-olah semua yang telah saya upayakan itu sia-sia belaka.

Saya berusaha untuk menghiburnya. Saya berusaha untuk menuntun dia menemukan makna dari kegagalan-kegagalannya dalam usaha-usahanya. Saya berkata, “Saudaraku, Tuhan pasti menolongmu.”

Ia menjawab, “Aku tahu Tuhan selalu menolong saya. Buktinya, setiap kali saya gagal, saya bisa bangkit lagi dengan usaha yang baru. Istri dan anak-anak saya mendapatkan ketenangan batin. Terima kasih atas nasihat-nasihat saudara.”

Ia kemudian tertawa terbahak-bahak. Lantas ia mengucapkan selamat tidur kepada saya sambil berjanji akan menelepon lagi, kalau dia membutuhkan bantuann berupa nasihat.

Saya agak bingung dengan tingkah orang yang baru pertama kali berkenalan lewat telepon itu. Biasanya dalam keadaan sulit seperti itu di penghujung pembicaraan akan meminta uang untuk modal usaha. Tetap orang ini tidak. Ia hanya ingin mengungkapkan isi hatinya. Itu sudah cukup baginya.

Beberapa waktu kemudian, ia menelepon saya lagi dengan maksud yang sama. Kali ini ia memamerkan keberhasilan usaha-usahanya. Ia tetap menyapa saya dengan ‘saudaraku yang baik’. Aneh, setelah itu ia tidak teleponn lagi. Mungkin ia tidak membutuhkan nasihat saya lagi.

Membangun persaudaraan yang baik memang tidak mudah. Selalu saja ada hambatan. Tetapi orang yang beriman biasanya menemukan cara-cara yang baik dalam membangun persaudaraan. Ia tidak putus asa menghadapi hambatan-hambatan. Justru hambatan-hambatan itu manjadi berkat baginya untuk membangun persaudaraan yang lebih baik.

Persaudaraan yang sehat dan baik itu dibangun dalam kasih. Orang yang memiliki kasih, dia akan dengan mudah membangun persaudaraan dengan setiap orang yang dia jumpai. Untuk itu kita perlu menghilangkan rasa curiga terhadap sesama yang kita jumpai. Mari kita menjadi saudara bagi semua orang. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih indah. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

327
Bagikan

25 Januari 2010

Membangun Keluarga Berlandaskan Persaudaraan







Keluarga Pak Anis tampak rukun dan bersahabat. Banyak hal mereka kerjakan bersama ketika berada di rumah. Makan malam selalu bersama. Kalau ada anggota keluarga yang belum berada di meja makan, semua yang lain menunggu. Kalau ada anggota keluarga yang sakit mereka selalu memperhatikan dengan sangat baik.

Ketika ditanya tentang kondisi keluarganya yang harmonis, Pak Anis mengatakan bahwa ia dan istrinya sudah membangun persaudaraan sejak mereka menikah. Ketika anak pertama lahir, ia dan istrinya selalu mengajarkan untuk selalu makan bersama. Persaudaraan terus mereka bangun ketika anak-anak lain lahir. Hasilnya, jarang sekali terjadi pertengakaran di dalam keluarga ini. Mereka saling mengerti dan saling mendukung cita-cita mereka.

Keluarga yang harmonis itu tidak dicapai dalam waktu yang singkat. Ada proses yang mesti dilewati oleh keluarga semacam ini. Kadang-kadang ada perselisihan kecil-kecil. Ada kalanya terjadi pertengkaran. Namun persoalan-persoalan yang ada itu bukan menjadi batu sandungan untuk menciptkan keluarga yang harmonis. Justru persoalan-persoakan yang ada itu menjadi pemacu bagi sebuah keluarga untuk mencapai cita-cita keluarga yang bahagia.

Ada banyak keluarga yang mencari jalan pintas dalam mencapai keluarga yang harmonis. Suami merasa bahwa keluarga yang harmonis itu tercapai kalau ia dapat memenuhi kebutuhan materi keluarganya. Karena itu, ia bekerja keras tanpa mengenal waktu. Ia lupa bahwa istrinya lebih ingin banyak waktu untuk duduk bersamanya. Anak-anak kurang ia perhatikan, karena kesibukannya bekerja itu. Persaudaraan yang mendalam dalam keluarga itu sulit tercipta, karena masing-masing keluarga mengurus diri sendiri.

Apa yang akan terjadi dengan keluarga seperti ini? Sedikit saja persoalan, pasti akan terjadi suatu malapetaka yang besar bagi keluarga ini. Karena itu, dalam hidup berkeluarga dibutuhkan suatu kebersamaan untuk membangun persaudaraan di antara anggota keluarga.

Setiap keluarga semestinya menjadi tempat anak-anak membangun persaudaraan yang tulus. Untuk itu, orangtua mesti menunjukkan bagaimana anak-anak dapat membangun persaudaraan yang tulus itu. Persaudaraan yang tulus itu persaudaraan yang membahagiakan semua orang. Suatu persaudaraan yang dibangun berdasarkan kehendak baik untuk membahagiakan orang lain.

Anak-anak biasanya belajar dari orangtuanya. Kalau orangtuanya tidak memiliki ketulusan dalam membangun persaudaraan dalam hidup, anak-anak juga akan mengikutinya. Kalau orangtua selalu tulus, jujur dalam membangun persaudaraan, anak-anak juga akan mencontoh. “Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya,” begitu kata pepatah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


308
Bagikan