Pages

Tampilkan postingan dengan label persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persahabatan. Tampilkan semua postingan

02 Juni 2014

Bangun Persahabatan yang Membahagiakan

Membangun persahabatan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Orang mesti mengusahakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak tantangan yang mesti dihadapi. Ada kalanya orang mengalami rasa bosan hidup bersama sahabat-sahabatnya.

Suatu hari seorang gadis merasa hidupnya kurang punya makna. Ia sudah berusaha untuk memaknai kehidupan ini, namun ia sulit menemukannya. Karena itu, ia berusaha untuk menjauh dari sahabat-sahabatnya yang selama ini akrab dengan dirinya. Ia pergi ke suatu tempat yang jauh untuk menyepi. Baginya, itulah cara yang baik untuk menemukan makna kehidupan ini.

Dalam perjalanan untuk menyepi itu, gadis itu berjumpa dengan orang-orang di dalam kendaraan umum. Ia berusaha untuk bersikap ramah terhadap mereka. Senyumnya ternyata sangat bermakna bagi seorang ibu tua. Ibu tua itu pun berusaha untuk menjadi sahabatnya. Gadis itu merasa bahagia boleh berkenalan dan bersahabat dengan ibu tua itu.

Ketika ia turun di tempat yang ditujunya, ibu tua itu pun turun. Rupanya rumah ibu tua itu tidak jauh dari tempat untuk menyepi. Gadis itu membantu membawakan barang-barang ibu tua itu. Keduanya kemudian tidak canggung untuk berbicara. Mereka pun mulai membangun persahabatan.

Beberapa hari tinggal di tempat itu, gadis itu menemukan suatu persahabatan yang menyenangkan. Setiap sore ia mengunjungi ibu tua itu. Mereka bercanda. Mereka berbagi pengalaman bersama. Bahkan ibu tua itu membagikan makanan yang dimasaknya. Gadis itu sangat terkesan oleh keramahan ibu tua itu. Setelah masa menyepi selesai, gadis itu mesti meninggalkan suasana desa yang indah dan penuh persahabatan.

Sahabat, persahabatan yang positif mampu mengubah hidup manusia. Persahabatan membantu orang untuk membangun relasi yang baik dengan sesamanya. Ketika relasi menjadi lebih baik, hidup ini akan mengalami sukacita dan bahagia. Surga pun dapat mulai dibangun di dunia ini.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk terus-menerus membangun persahabatan di antara kita. Membangun persahabatan itu mengandaikan ketulusan hati. Ketika orang memiliki ketulusan hati, persahabatan yang lebih mendalam akan dibangun dengan baik dan benar.

Dalam persahabatan itu yang terjadi adalah saling memberi. Tidak ada yang menuntut sesamanya. Mengapa? Karena dalam persahabatan yang sejati itu tidak ada yang mencari keuntungan pribadi. Yang selalu diutamakan adalah kebahagiaan bersama. Ada mutualisme. Yang dilakukan adalah menguntungkan semua pihak.

"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran" (Amsal 17:17). Dalam membangun persahabatan yang diandalkan adalah kasih dan kesetiaan. Mengapa? Karena kasih itu yang menumbuhkan kuatnya persahabatan. Mari kita terus-menerus membangun persahabatan. Dengan demikian, hidup ini semakin membahagiakan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1098

13 Februari 2013

Andalkan Kelembutan Hati dalam Menjalin Persahabatan

 

Apa yang Anda rasakan saat Anda berhadapan dengan kekerasan? Tentu saja Anda akan merasa kurang damai. Hidup Anda selalu diliputi ketegangan demi ketegangan.

Ada dua benda yang bersahabat karib, yaitu besi dan air. Besi sering berbangga akan dirinya. Ia sering menyombongkan dirinya kepada sahabatnya. Suatu hari, ia berkata, "Lihat ini aku. Kuat dan keras. Aku tidak seperti kamu yang lemah dan lunak."

Air hanya diam saja mendengar tingkah sahabatnya. Suatu hari, besi menantang air berlomba untuk menembus suatu gua dan mengatasi segala rintangan yang ada di sana. Aturannya, barang siapa dapat melewati gua itu dengan selamat tanpa terluka, maka ia dinyatakan menang. Besi dan air pun mulai berlomba.

Rintangan pertama mereka ialah mereka harus melalui penjaga gua, yaitu batu-batu yang keras dan tajam. Besi mulai menunjukkan kekuatannya. Ia menabrakkan dirinya ke batu-batuan itu. Tetapi karena kekerasannya, batu-batuan itu mulai runtuh menyerangnya. Akibatnya, besi pun banyak terluka di sana sini.

Air melakukan tugasnya, ia menetes sedikit demi sedikit untuk melawan bebatuan itu. Ia lembut mengikis bebatuan itu, sehingga bebatuan lainnya tidak terganggu dan tidak menyadarinya. Ia hanya melubangi seperlunya saja untuk lewat, tetapi tidak merusak lainnya. Skore air dan besi adalah 1:0 untuk rintangan ini.

Rintangan kedua mereka ialah mereka harus melalui berbagai celah sempit untuk tiba di dasar gua. Besi mengubah dirinya menjadi mata bor yang kuat. Ia mulai berputar untuk menembus celah-celah itu. Tetapi celah-celah itu ternyata cukup sulit untuk ditembus. Semakin keras ia berputar, memang celah itu semakin hancur. Tetapi ia pun semakin terluka.

Air dengan santainya merubah dirinya mengikuti bentuk celah-celah itu. Ia mengalir santai. Karena bentuknya yang bisa berubah, ia bisa dengan leluasa tanpa terluka mengalir melalui celah-celah itu. Ia tiba dengan cepat di dasar gua. Skore air dan besi menjadi 2:0

Besi pun menyerah kalah. Ia tidak bisa melanjutkan perlombaan. Kalau diteruskan pun, ia tetap kalah. Sejak itu, besi tidak merasa diri paling kuat. Ia tidak mau menyombongkan diri lagi.

Sahabat, setiap hari kita selalu bersentuhan dengan air. Kita tahu air mengalir dengan lembut dan tenang. Air memiliki peran untuk memberi kehidupan. Saat kita haus, kita butuh air untuk menghilangkan dahaga kita. Namun tidak hanya itu. Dengan air itu, kita mampu melanjutkan perjalanan hidup kita.

Orang beriman mesti belajar dari air. Orang beriman mesti menjadikan hidupnya seperti air. Kita hidup dengan semangat yang mengalir. Kita mengandalkan kelembutan hati dalam menjalin persahabatan dengan semua orang. Hanya dengan cara seperti itu, kita mampu membawa damai dalam hidup bersama.

Sebaliknya, kekerasan hati hanya menciptakan hidup yang jauh dari kasih sayang. Orang hanya mengandalkan kekerasan untuk menguasai yang lain. Orang tidak peduli bahwa manusia membutuhkan hidup yang penuh cinta kasih. Untuk itu, orang butuh waktu untuk berefleksi atas hidup ini.

Karena itu, mari kita berusaha hidup dengan mengandalkan hati yang lemah lembut dan penuh kasih. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT





946

29 Mei 2012

Membangun Persahabatan Sejati untuk Hidup Lebih Baik


Anda punya sahabat yang baik dalam hidup ini? Tentu saja Anda punya banyak sahabat yang baik. Namun mempunyai sahabat yang sejati tidak begitu banyak. Artinya, sahabat yang sejati itu sahabat yang mampu merasakan penderitaan sesamanya. Sahabat sejati mampu berbagai suka dan duka dengan sesamanya.

Di jaman dahulu kala, mendapat sebuah kehormatan dengan disebut sebagai sahabat Tuhan. Mengapa? Karena ia menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan. Ia menjalin persahabatan yang sungguh-sungguh menakjubkan dengan Tuhan. Tuhan senantiasa berkenan kepada Abraham.

Karena itu, ketika ia berada dalam kesulitan, Tuhan membantu dirinya. Tuhan memberikan pertolongan kepadanya, sehingga ia boleh mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Jalinan persahabatan yang baik itu sungguh-sungguh dijaga oleh Abraham. Ketika Tuhan menghendaki ia mengorbankan anaknya, ia lakukan. Ia tidak kuatir bahwa ia akan kehilangan anak yang dikasihinya itu.

Namun Tuhan tidak tega atas diri Abraham yang begitu setia pada jalinan persahabatannya. Tuhan sendiri yang membatalkan korban Abraham dalam wujud anaknya itu. Sebagai gantinya, Tuhan menyediakan seekor domba yang digunakan Abraham untuk korban persembahan kepada Tuhan.

Sahabat, persahabatan yang sejati terjadi ketika orang sungguh-sungguh membangun relasi dengan ketulusan hati. Orang tidak banyak menuntut dari sahabatnya. Dalam situasi seperti itu, orang saling memberi dan menerima sebagai sahabat. Orang masuk dalam kebutuhan sesamanya tanpa harus tahu kebutuhan seperti apa yang ada dalam diri sesamanya itu.

Kisah Abraham mau mengatakan kepada kita bahwa jalinan persahabatan yang sejati mampu membawa manusia untuk hidup baik. Abraham mengalami hidup yang bahagia di hadapan Tuhan, karena ia setia kepada Tuhan yang telah memberi semua kebutuhan hidup kepadanya.

Dalam hidup sehari-hari, banyak persahabatan yang tidak mencapai relasi yang sejati. Mengapa terjadi begitu? Karena mereka tidak bisa menjadi seorang sahabat satu terhadap yang lain. Ada banyak orang yang terlalu banyak menuntut dari jalinan persahabatan itu. Tujuannya demi kepentingan diri sendiri. Bukan kepentingan sesamanya. Akibatnya, persahabatan mereka hanya sampai di permukaan saja. Persahabatan itu tidak sampai lebih mendalam.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam jalinan persahabatan adalah membuka diri bagi sesama. Dengan membuka diri, orang saling mengenal. Orang semakin mendalami pribadi seseorang dalam hidup ini. Dengan demikian, orang saling menegerti kebutuhan masing-masing.

Mari kita membangun persahabatan sejati dengan saling mengerti kebutuhan kita masing-masing. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang

898

18 Juni 2011

Hidup dalam Persaudaraan dan Persahabatan


Ada seorang bapak yang sewot luar biasa ketika mengetahui bahwa bemper mobil sedannya tergores. Seseorang baru saja menyerempet mobilnya itu. Orang itu tidak melarikan diri. Ia meminggirkan mobilnya dan turun menemui pemilik sedan itu. Ia meminta maaf atas kekilafannya. Ia tidak sengaja melakukan hal itu. Peristiwa itu terjadi secara kebetulan.

Bapak pemilik sedan itu sama sekali tidak menghiraukan permintaan maaf itu. Ia lebih peduli terhadap bemper mobilnya yang lecet itu. Beberapa saat kemudian, bapak itu menatap wajah orang yang menyerempet mobilnya. Ia memarahinya dengan kata-kata yang pedas dan kasar. Tidak ada pengampunan dari dalam dirinya. Yang ia pentingkan adalah bemper mobilnya yang lecet itu.

Orang yang menyerempet mobil itu tidak habis pikir. Mengapa bapak itu begitu sadis? Mengapa ia begitu peduli terhadap bemper mobilnya yang lecet itu? Padahal lecet itu bisa dihilangkan dalam beberapa saat dengan cat.

Dengan sedih, orang itu berkata, “Bapak, saya minta maaf. Kita sama-sama berada di tempat yang ramai. Jadi kekeliruan sedikit saja bisa terjadi serempetan. Kalau bapak tidak mementingkan permohonan maaf saya, saya akan segera pergi.”

Bapak itu semakin marah. Ia tidak mau memberikan maaf. Baginya, lecet itu mesti diganti dengan sejumlah uang. Namun ia enggan mengatakan berapa jumlah uang yang mesti diberikan kepadanya. Orang yang menyerempet mobil itu lantas meninggalkan bapak itu sendirian.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang menampilkan berbagai segi kehidupan. Ada yang begitu peduli dengan harta benda yang mereka miliki. Ada yang peduli terhadap kehidupan sosial dan kebersamaan.

Ada yang tidak peduli terhadap permohonan maaf dari sesamanya. Karena itu, orang seperti ini sulit sekali mengampuni sesamanya. Orang seperti ini lebih peduli terhadap kepentingan dirinya sendiri. Tujuan kehadiran orang lain di sekitarnya hanya demi kepentingan dirinya sendiri.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa dalam kebersamaan hidup yang mesti dipentingkan adalah terciptanya persaudaraan. Kesalahan yang kecil tidak perlu dibesar-besarkan. Kesalahan yang kecil itu mesti segera ditutup dengan bangunan persaudaraan dan persahabatan. Kalau orang membesar-besarkan kesalahan, persahabatan tidak akan terjadi dalam kehidupan bersama.

Karena itu, membangun persaudaraan dan persahabatan menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan ini. Persahabatan yang baik mampu mengubah yang buruk menjadi lebih baik. Orang mengatakan bahwa lebih baik memiliki sahabat yang baik daripada memiliki harta berlimpah, namun tidak punya sahabat yang baik.

Sebagai orang beriman, kita mesti berusaha untuk mendahulukan persaudaraan dan persahabatan dalam hidup ini. Mengapa? Karena hidup dalam persaudaraan dan persahabatan yang baik itu membuahkan kebaikan. Kita akan diperkaya oleh bangunan persaudaraan dan persahabatan itu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

702

15 April 2011

Membuka Diri untuk Membangun Persahabatan


Seorang bapak hidup dalam suasana ketakutan. Ia selalu merasa ada orang yang sedang mengejar-ngejar dirinya. Akibatnya, ia enggan untuk tampil di hadapan umum. Ia mengurung diri di kamarnya. Ketika ada orang datang ke rumahnya, ia cepat-cepat menghindar. Ia merasa tidak layak menatap wajah orang lain.

Selidik punya selidik, ternyata bapak ini kurang pede. Ia punya rasa minder yang besar terhadap orang lain. Karena itu, ia membiarkan dirinya terkurung di dalam dirinya. Ia mau hidup sendiri. Ia tidak ingin orang lain terlibat dalam hidupnya. Ia ingin melakukan apa yang diinginkannya.

Persoalannya, mengapa ia merasa rendah diri? Belakangan diketahui bahwa bapak ini punya kedangkalan dalam berpikir. Ia juga kurang punya semangat untuk bergaul dengan orang lain. Sejak kecil, ia diajar oleh orangtuanya untuk tidak menyertakan orang lain dalam hidupnya.

Akibatnya, ketika ia memiliki kekurangan-kekurangan, ia mau tangani sendiri. Persoalan-persoalan yang dihadapi itu mau ia selesaikan sendiri. Padahal ada persoalan-persoalan yang tidak bisa ia selesaikan sendiri. Ia butuh bantuan orang lain.

Akibat lebih lanjut adalah ia menjadi minder. Ia kurang punya semangat untuk hidup. Ia mudah putus asa dalam hidupnya. Ia sendiri tidak mampu menemukan cara-cara yang baik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya itu. Ia tenggelam dalam kesendiriannya. Ia semakin diliputi oleh rasa takut terhadap dirinya sendiri.

Sahabat, kita hidup dalam zaman yang serba canggih dan modern. Persahabatan dapat dibangun dengan siapa saja. Melalui media massa yang semakin canggih dan modern, kita dapat membangun pertemanan dengan siapa saja di dunia ini.

Dalam kondisi seperti inilah kita dapat melakukan hal-hal yang berguna bagi hidup kita. Kita dapat membagikan pengalaman hidup kita yang manis maupun yang pahit. Pengalaman-pengalaman yang manis dapat membantu teman-teman kita di senatero jagat ini untuk bertumbuh di dalam kebaikan. Sedangkan pengalaman-pengalaman hidup yang pahit yang kita bagikan dapat membantu kita untuk menghadapi kerasnya hidup ini.

Karena itu, ketika orang mengurung dirinya dalam kesendirian, ia tidak akan menemukan solusi atas persoalan-persoalan hidupnya. Orang yang kurang berani membangun pertemanan biasanya tenggelam dalam kepicikan dirinya. Keterbatasan pikirannya menjadi andalan hidupnya. Tentu saja hal ini berbahaya. Mengapa? Karena orang seperti ini akan mengukur segala sesuatu dari kepicikan dirinya.

Orang beriman adalah orang yang berani membangun relasi yang lebih baik dengan siapa saja di seantero jagat ini. Orang beriman yang berani membuka dirinya bagi sesamanya akan menemukan indahnya kehidupan ini. Ia tidak perlu merasa putus asa ketika menghadapi persoalan-persoalan. Justru teman-temannya yang tersebar di berbagai tempat akan siap membantunya dengan jalan keluar yang baik.

Mari kita berusaha untuk membangun persahabatan dengan semua orang. Yakinlah, persahabatan itu membantu kita keluar dari kepicikan diri kita. Dengan demikian, kita akan menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang


656

13 April 2011

Membangun Persahabatan yang Baik

Seorang petani merasa terganggu oleh tetangganya yang adalah seorang pemburu. Pemburu itu memiliki anjing galak yang sering melompati pagar untuk memangsa domba-domba petani tersebut.

Petani itu sudah sering meminta tetangganya untuk mengendalikan anjing-anjingnya. Tetapi tidak ada juga tindakan yang nyata dari pihak pemburu. Setiap kali anjing-anjing itu melompati pagar yang memisahkan rumah si petani dan si pemburu, beberapa ekor domba pasti terluka parah.

Karena kesabaran si petani sudah sampai di ambang batas, ia pergi ke kota untuk menemui seorang hakim dan menceritakan perkaranya dengan si pemburu. Setelah mendengarkan keluh kesah petani itu, hakim itu berkata, “Pak, saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan agar anjingnya dirantai atau dikurung. Kalau saya melakukan itu, Anda akan kehilangan seorang teman dan menambah seorang musuh. Mana yang ingin Anda miliki, teman atau musuh?”

Karena si petani lebih memilih untuk menambah satu orang teman lagi dalam hidupnya, maka si hakim menawarkan sebuah solusi. Ia berkata, “Baiklah, saya akan memberikan sebuah jalan keluar yang baik bagi Anda. Sehingga domba-domba Anda aman dan tetangga itu dapat menjadi sahabat yang sejati.”

Setelah mendengar penjelasan, petani itu pun pulang. Sesampai di rumah, petani itu menjalankan saran dari hakim tersebut. Dia mengambil tiga ekor domba dan memberikannya kepada ketiga orang putra tetangganya yang masih kecil. Ketiga bocah itu sangat senang dan selalu bermain dengan domba-domba pemberian sang petani.

Melihat kegembiraan putra-putranya, si pemburu pun membangun sebuah kandang yang tinggi bagi anjing-anjingnya, sehingga domba-domba milik putranya aman. Sejak saat itu anjing-anjing si pemburu tidak lagi pernah mengganggu domba si petani. Efek lain dari sikap baik petani itu adalah jembatan persahabatan yang lebih dulu dibangun petani itu membuat pemburu itu suka berbagi hasil buruan kepadanya.

Sahabat, membangun persahabatan yang baik itu selalu saja ada korban. Orang mesti berani mengorbankan egoismenya demi persahabatan yang baik itu. Korban seperti itu biasanya akan dirasakan sebagai sesuatu yang membahagiakan. Dalam membangun persahabatan yang baik itu orang saling memberi diri. Orang memberikan apa yang dimilikinya tanpa harus meminta kembali pemberiannya. Pemberian yang tulus itu menghasilkan sesuatu yang berguna bagi hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita mesti membangun persahabatan dengan saling memberi diri. Dalam pemberian diri itu, ada korban yang mesti kita berikan kepada orang lain. Namun korban yang ditanggung dengan penuh cinta kasih akan mendatangkan kebahagiaan dalam hidup ini. Korban itu menjadi sesuatu yang berdaya guna dalam membangun persahabatan yang langgeng.

Mari kita terus-menerus membangun persahabatan yang baik. Jangan takut untuk mengorbankan sesuatu yang kita punya. Ketika kita berani berkorban dengan ketulusan cinta kita, kita akan mendapatkan persahabatan yang baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


653

27 Agustus 2010

Persahabatan yang Memperkaya Nilai-nilai Kehidupa

Seorang pemuda berusia 20 tahun itu tampak sendirian di tengah keramaian pesta kaum muda. Ia duduk di pojok ruangan. Tiada yang menemani. Hanya sebotol minuman ringan dan sepiring makanan kecil. Wajahnya tampak murung. Ia tidak bergairah. Padahal kaum muda yang berpesta malam itu berjingkrak-jingkrak. Mereka tertawa. Mereka bernyanyi beria-ria. Tiada yang murung.

Pemuda itu tetap duduk di pojok ruangan itu. Padahal beberapa kaum muda mengajaknya untuk melantai bersama. Ia menolak. Ia memilih untuk menyendiri. Ia lagi tidak enak badan.

Belakangan baru ketahuan bahwa pemuda itu memang tidak punya teman. Ia tidak punya sahabat yang bisa diajaknya untuk ngobrol. Karena itu, tidak ada teman yang dapat ia bagikan perasaan hatinya. Suka dan duka ia miliki sendiri. Ia tidak mengalami betapa kayanya persahabatan yang baik. Ia terpuruk dalam kesendiriannya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena pemuda itu tidak mau membuka dirinya bagi persahabatan. Pemuda itu ingin hidup sendirian dan menyendiri.

Ketika ditanya, dia berkata, “Saya ingin hidup sendiri. Saya tidak ingin mengganggu orang lain. Saya juga tidak ingin diganggu.”

Membangun persahabatan dengan orang lain itu bukan untuk mengganggu ketenangan orang lain. Membangun persahabatan itu merupakan hakekat kehidupan manusia. Tidak ada orang yang diciptakan untuk dirinya sendiri. Setiap orang diciptakan untuk orang lain. Manusia itu makhluk sosial yang mesti membangun kehidupan bersama dengan orang lain.

Seorang bijak mengatakan bahwa manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari sahabat. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman, tetapi menyia-nyiakannya. Artinya, membangun persahabatan itu adalah suatu keharusan. Namun persahabatan itu mesti mampu memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Tidak hanya untuk satu pihak saja.

Persahabatan adalah bagian dari hidup manusia. Persahabatan itu memperkaya hidup manusia. Hanya dengan membangun persahabatan orang akan menemukan makna hidupnya sendiri. Hidup seseorang baru memiliki arti yang lebih dalam, ketika ia mampu hidup bersama orang lain.

Melalui persahabatan itu orang dapat membagikan hidupnya kepada orang lain. Orang dapat berbagi kebahagiaan yang menguatkan sesamanya. Orang dapat juga mensharingkan pengalaman hidupnya kepada orang lain. Dengan demikian, hidup ini semakin memiliki nilai-nilai yang berguna untuk kehidupan.

Sebagai orang beriman, dorongan kita untuk membangun persahabatan adalah kasih Tuhan yang senantiasa menyertai kita. Tuhan sendiri menghendaki kita hidup bersahabat dengan semua orang. Persahabatan itu mesti membangun pesaudaraan dan cinta kasih yang mendalam. Mari kita membangun persahabatan yang baik dan benar untuk kehidupan yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

483

10 Maret 2010

Memelihara Persahabatan




Pernahkah Anda mendengungkan lagu Diane Worwick berikut ini: Keep smiling, keep shining, showing you can always count on me for sure, that’s what friend are for…? Lagu ini berkisah tentang indahnya persahabatan. Persahabatan yang baik selalu mendatangkan kebahagiaan lewat senyum yang selalu lepas bebas diberikan kepada sahabat.

Beberapa waktu lalu saya berjumpa lagi dengan teman kuliah saya dulu. Sudah dua puluh tahun lebih kami tidak bertemu. Akhirnya, dalam suatu pertemuan di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kami berjumpa kembali. Ia sendiri yang menjemput kedatangan saya di bandara. Senyumnya masih seperti dulu seperti ketika kami membangun persahabatan. Senyum itu begitu tulus. Saya merasakan sangat istimewa berjumpa kembali teman lama itu. Kami boleh bercerita tentang banyak hal. Ia bercerita tentang istri dan anak-anaknya. Tetapi kami juga bercerita tentang kampus di mana kami pernah bersama-sama kuliah. Kami sama-sama mengalami rasa bahagia. Setelah beberapa hari berjumpa, saya diantar lagi ke bandara dengan senyum yang masih sama. Sebuah senyum yang tulus yang datang dari hati yang dalam.

Suatu persahabatan yang baik biasanya selalu bertahan lama. Persahabatan yang sudah dibumbui oleh maksud-maksud negatif tidak akan bertahan lama. Karena persahabatan seperti ini hanya mengutamakan keuntungan sepihak. Kalau tidak menguntungkan lagi, kawan menjadi lawan. Sahabat menjadi musuh.

Memelihara persahabatan tidak segampang memulainya. Ibadat tanaman, persahabatan itu mesti selalu dirawat, dipupuk dengan cinta kasih dan disiram dengan perhatian. Dalam keadaan apa pun kita dapat tetap tersenyum, karena ada sahabat yang bisa diandalkan.

Di jaman kini ada fenomena banyaknya persahabatan yang tidak tulus. Persahabatan hanya sering kali bersifat fungsional. Orang menggunakan persahabatan itu untuk tujuan-tujuan yang menguntungkan bagi diri sendiri. Apakah yang akan terjadi dengan persahabatan model ini? Yang terjadi adalah orang dengan mudah mencampakkan sahabat yang tidak memberi keuntungan bagi dirinya. Orang begitu mudah lari dari sahabatnya yang jatuh miskin, karena tidak bisa diandalkan lagi.

Sebagai orang beriman, kita mesti membangun suatu persahabatan yang baik. Artinya, kita tidak hanya mencari keuntungan pribadi dari sahabat-sahabat kita. Membangun persahabatan yang baik itu menuntut suatu korban. Mesti ada semangat berkorban, kalau orang ingin memiliki sahabat yang baik. Semangat berkorban itu tampak dalam sikap-sikap hidup sehari-hari. Misalnya, mampu mengampuni sahabat yang berbuat salah. Mampu mengingatkan sahabat yang melanggar aturan-aturan dan norma-norma dalam masyarakat. Sahabat yang baik itu tetap bertahan, ketika temannya mengalami penderitaan.

Hari ini mungkin kita sudah menjalin suatu persahabatan dengan orang-orang yang kita jumpai. Kita syukuri itu. Kita tetap memelihara persahabatan itu. Kita serahkan usaha-usaha kita dalam memelihara persahabatan kita kepada Tuhan. Dengan demikian, rahmat Tuhan selalu menaungi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


346

Bagikan

30 November 2009

Membangun Persahabatan yang Menguntungkan




Ada seorang pemuda yang mengalami betapa hidup itu begitu berat. Ia berjumpa dengan begitu banyak orang dalam hidupnya. Namun ia tidak dapat menjalin persahabatan yang sungguh-sungguh mendalam dengan orang-orang itu.

Menurut beberapa orang yang pernah menjadi sahabatnya, pemuda itu memiliki kecenderungan untuk tidak mau mengalah. Ia juga selalu merasa diri sibuk. Ia selalu merasa tidak punya waktu untuk orang lain. Padahal ia selalu memaksa teman-temannya untuk mempunyai waktu bagi dirinya.

Karena itu, orang-orang yang pernah menjalin persahabatan dengannya terpaksa meninggalkan ia seorang diri. Ia menjadi seorang yang pemurung. Ia mengalami kesepian yang begitu mendalam.

Suatu hari, ia mencoba untuk bunuh diri dengan menggantung diri. Namun nyawanya diselamatkan oleh seorang temannya yang dulu sangat dibencinya. Beberapa saat ia sempat pingsan. Setelah sadar, ia mulai insaf akan cara hidupnya. Sejak saat itu ia mulai mengubah pandangan hidupnya.

Ia mulai menata kembali hidupnya. Ia berusaha sedapat mungkin untuk keluar dari persoalan yang ia hadapi. Kini ia mulai menyediakan waktu sebanyak-banyaknya untuk orang yang menjadi teman-temannya. Ia tidak mau menyibukkan diri dengan hal-hal yang kurang berguna.

Pemuda itu mulai membangun suatu waktu yang berkualitas. Artinya waktu yang ia isi dengan kegiatan bersama yang menyenangkan bagi dirinya dan bagi teman-temannya. Waktu itu ia gunakan untuk membangun relasi yang baik dengan teman-temannya.

Dalam hidup ini persahabatan itu sangat penting. Kita membangun persahabatan bukan hanya untuk kebaikan diri kita sendiri. Tetapi kita juga membantu sesama untuk mengenal lebih dalam siapa dirinya. Karena itu, persahabatan yang baik itu mesti kita isi dengan nilai-nilai yang memperjuangkan kehidupan. Misalnya, suatu kegiatan yang membantu sesama untuk lebih menyadari betapa hidup itu berguna dan penting.

Ada orang yang mulai membahas tentang mempertahankan kehidupan. Dengan demikian orang itu mulai mempromosikan anti aborsi kepada teman-temannya. Ia juga dapat mengajak teman-temannya untuk menjauhi narkoba. Ia mengajak teman-temannya memilih kegiatan-kegiatan yang positif.

Hidup itu indah. Demikian pula betapa indah kita memiliki sahabat-sahabat yang baik dan setia dalam hidup ini. Karena itu, mari kita berusaha untuk membangun persahabatan yang membantu kita dan sesama menemukan identitas diri kita masing-masing. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

246