Pages

29 Mei 2012

Membangun Persahabatan Sejati untuk Hidup Lebih Baik


Anda punya sahabat yang baik dalam hidup ini? Tentu saja Anda punya banyak sahabat yang baik. Namun mempunyai sahabat yang sejati tidak begitu banyak. Artinya, sahabat yang sejati itu sahabat yang mampu merasakan penderitaan sesamanya. Sahabat sejati mampu berbagai suka dan duka dengan sesamanya.

Di jaman dahulu kala, mendapat sebuah kehormatan dengan disebut sebagai sahabat Tuhan. Mengapa? Karena ia menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan. Ia menjalin persahabatan yang sungguh-sungguh menakjubkan dengan Tuhan. Tuhan senantiasa berkenan kepada Abraham.

Karena itu, ketika ia berada dalam kesulitan, Tuhan membantu dirinya. Tuhan memberikan pertolongan kepadanya, sehingga ia boleh mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Jalinan persahabatan yang baik itu sungguh-sungguh dijaga oleh Abraham. Ketika Tuhan menghendaki ia mengorbankan anaknya, ia lakukan. Ia tidak kuatir bahwa ia akan kehilangan anak yang dikasihinya itu.

Namun Tuhan tidak tega atas diri Abraham yang begitu setia pada jalinan persahabatannya. Tuhan sendiri yang membatalkan korban Abraham dalam wujud anaknya itu. Sebagai gantinya, Tuhan menyediakan seekor domba yang digunakan Abraham untuk korban persembahan kepada Tuhan.

Sahabat, persahabatan yang sejati terjadi ketika orang sungguh-sungguh membangun relasi dengan ketulusan hati. Orang tidak banyak menuntut dari sahabatnya. Dalam situasi seperti itu, orang saling memberi dan menerima sebagai sahabat. Orang masuk dalam kebutuhan sesamanya tanpa harus tahu kebutuhan seperti apa yang ada dalam diri sesamanya itu.

Kisah Abraham mau mengatakan kepada kita bahwa jalinan persahabatan yang sejati mampu membawa manusia untuk hidup baik. Abraham mengalami hidup yang bahagia di hadapan Tuhan, karena ia setia kepada Tuhan yang telah memberi semua kebutuhan hidup kepadanya.

Dalam hidup sehari-hari, banyak persahabatan yang tidak mencapai relasi yang sejati. Mengapa terjadi begitu? Karena mereka tidak bisa menjadi seorang sahabat satu terhadap yang lain. Ada banyak orang yang terlalu banyak menuntut dari jalinan persahabatan itu. Tujuannya demi kepentingan diri sendiri. Bukan kepentingan sesamanya. Akibatnya, persahabatan mereka hanya sampai di permukaan saja. Persahabatan itu tidak sampai lebih mendalam.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam jalinan persahabatan adalah membuka diri bagi sesama. Dengan membuka diri, orang saling mengenal. Orang semakin mendalami pribadi seseorang dalam hidup ini. Dengan demikian, orang saling menegerti kebutuhan masing-masing.

Mari kita membangun persahabatan sejati dengan saling mengerti kebutuhan kita masing-masing. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang

898

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.