Pages

22 Februari 2010

Tuhan, Sumber Air Hidup




Ketika saya berusia sebelas tahun, saya pergi ke sungai yang berjarak kira-kira lima kilometer dari rumah. Waktu itu, saya pergi bersama ibu saya. Biasanya di sungai itu kami mandi, mencuci pakaian dan mengambil air untuk kebutuhan dapur. Air sungai ini sangat jernih. Air yang kami bawa pulang biasanya kami isi di dalam bambu sepanjang tiga atau empat ruas. Dengan cara itu, kami mudah untuk memikulnya.

Panas matahari yang menyengat ketika perjalanan pulang itu sangat menguras tenaga saya. Dalam perjalanan pulang itu, saya merasa sangat haus. Namun saya tidak bisa minum air yang ada di dalam bambu yang saya pikul. Air yang ada itu sangat berbahaya bagi perut saya.

Saya minta ijin kepada ibu saya untuk minum air yang belum direbus itu. Tetapi ibu saya tidak mengijinkan. Saya menangis tersedu-sedu, karena dahaga tak tertahankan lagi. Saya sangat membutuhkan air yang menyegarkan dahaga saya. Setitik air saja akan sangat menolong lidah saya terlepas dari dahaga.

Saya yakin kita semua merasakan haus. Haus itu suatu pengalaman yang sangat manusiawi. Ketika kita haus, naluri kita mendorong kita untuk mengambil segelas air untuk diteguk. Namun jika kita tidak minum, kita akan mengalami sakit kepala atau dapat juga mati karena kekurangan air atau dehidrasi. Tanaman-tanaman akan cepat layu dan bahkan akan mati, kalau dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka membutuhkan air untuk dapat bertahan hidup.

Namun pengalaman manusiawi akan haus tidak hanya terjadi secara fisik. Manusia dapat mengalami haus dalam hidup rohani. Hal ini dapat membawa manusia kepada kehampaan dalam hidup. Orang yang mengalami kekeringan rohani itu merasa hidupnya tidak bermakna. Hidupnya itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang menonjol.

Di dunia sekarang ini banyak orang haus akan kasih, perhatian, harapan dan iman. Mereka membutuhkan air kehidupan yang diberikan dengan kasih, karena hati mereka sedang dilanda kekeringan. Mereka selalu butuh untuk membangun hubungan dengan mereka yang dapat membersihkan ‘padang gurun’ dari hati mereka dan memberi keteguhan iman kepada mereka. Mereka mengharapkan tangan-tangan kuat yang dapat menuntun mereka kepada kehidupan yang lebih baik.

Bagi orang beriman, Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Tuhan itu bagai air yang terus-menerus mengalir dan memberi kehidupan bagi kita. Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti senantiasa datang kepada Tuhan. Kita ingin menimba air hidup yang mengalir dari Tuhan sendiri. Untuk itu, dibutuhkan suatu keyakinan dalam diri kita bahwa hanya Tuhan yang mampu memberi kita kehidupan yang abadi. Dalam kehidupan yang abadi itu tidak ada lagi dahaga. Tidak ada lagi rasa haus.

Kekeringan rohani yang kita alami dalam perjalanan hidup kita dapat diatasi apabila kita selalu menyerahkan hidup kepada Tuhan. Kita berharap bahwa Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu dapat menjadi sumber air yang menyegarkan jiwa kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

328
Bagikan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.