Pages

22 Februari 2010

Membantu Sesama yang Kekurangan Pakaian




Beberapa tahun yang lalu saya mengunjungi Suku Anak Dalam di Rantau Kloyang, Muara Bungo, Jambi. Mereka tinggal di hutan, namun biasanya mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka membangun gubuk-gubuk yang sangat sederhana untuk tinggal selama dua minggu atau lebih. Mereka mengumpulkan makanan dari hutan, sebab mereka tidak memiliki sawah atau ladang untuk diolah.

Ketika itu saya berjumpa dengan sebuah keluarga yang anak-anaknya dibiarkan telanjang, karena mereka tidak mempunyai pakaian yang cukup. Saya bertanya kepada anak-anak itu mengapa mereka telanjang. Ibu mereka menjawab, “Kami tidak punya uang untuk beli pakaian. Tambahan pula tidak ada seorang pun yang mau memberi kami pakaian. Jika bapak mempunyai sisa pakaian, berikan itu kepada kami.”

Saya tidak dapat berkata apa-apasetelah mendengar pernyataannya. Saya pulang ke kota Muara Bungo setelah berbincang-bincang dengan beberapa anak dan membuat foto-foto. Beberapa waktu lamanya saya tidak dapat tidur, karena pernyataan ibu itu selalu terngiang di benak saya.

Saya bertanya dalam hati, “Apa yang dapat saya buat bagi mereka?”

Saya tidak punya uang untuk membelikan mereka pakaian. Waktu itu saya juga tidak punya sisa pakaian. Namun suatu hari ada serombongan ibu-ibu yang memberi pakaian yang masih sangat layak pakai. Saya bawa pakaian itu untuk anak-anak Suku Anak Dalam itu.

Di dunia sekarang ini ada begitu banyak orang miskin yang tidak punya pakaian. Kondisi ini bisa menimpa jutaan orang yang mendiami bumi ini. Pertanyaannya adalah apa yang bisa kita buat untuk sesama yang tidak cukup punya pakaian? Apakah kita akan membiarkan mereka kedinginan di musim hujan, karena tidak punya pakaian yang pantas?

Sebagai orang beriman, melihat kondisi seperti ini tentu membuat hati kita trenyuh. Kita tidak tega membiarkan sesama yang terlunta-lunta, karena ketiadaan pakaian. Karena itu, kita diajak untuk memberi perhatian kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan dari sesamanya.

Orang-orang yang malang seperti ini membutuhkan bantuan yang kita beri dengan kasih dan kegembiraan. Iman yang hidup itu tampak dalam perbuatan nyata. Orang yang menyatakan diri beriman, tetapi tidak berbuat sesuatu untuk sesamanya yang menderita itu bagai tong kosong nyaring bunyinya. Imannya tidak membuahkan kasih sayang bagi sesama.

Saudara, kita beruntung bahwa kita memiliki pakaian yang pantas yang dapat kita gunakan dalam berbagai acara. Karena itu, uluran tangan kasih yang kita berikan kepada sesama yang menderita akan memberi kesempatan bagi sesama untuk melanjutkan hidup ini dengan lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


329
Bagikan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.