Pages

Tampilkan postingan dengan label kesulitan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesulitan. Tampilkan semua postingan

28 Juni 2012

Hadapi Kesulitan Hidup dengan Iman

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda mengalami suatu situasi yang mencekam. Anda cemas dan takut? Anda menyerah kalah? Atau Anda hadapi situasi itu dengan penuh iman?

Suatu hari seekor anak katak merasa cemas. Pasalnya, langit tiba-tiba menjadi sangat gelap. Ia tidak bisa melihat dunia sekitarnya. Padahal ia masih membutuhkan perlindungan. Ia masih butuhkan suasana yang tenang bercengkrama dengan ibu dan saudara-saudaranya yag lain.

Dalam kecemasan itu, ia bertanya kepada ibunya, “Bu, apa kita akan binasa? Kenapa langit tiba-tiba gelap?”

Anak katak itu merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut. Ia berusaha meyakinkan anaknya bahwa langit yang tiba-tiba menjadi gelap tidak akan membinasakan mereka.

Sang ibu berkata, “Anakku, itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru itu tanda baik.”

Anak katak itu belum paham. Ia bingung, mengapa situasi yang gelap gulita itu menjadi pertanda baik? Anak katak itu semakin panik begitu tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai beterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil.

Anak katak itu mengerang ketakutan. Ia bertanya, “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?”

Sang ibu berusaha menenangkan anaknya. Ia berkata, “Anakku, itu cuma angin. Itu juga pertanda, kalau yang kita tunggu pasti datang!”

Anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan itu. Tiba-tiba suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Anak katak itu tidak bisa bilang apa-apa lagi. Ia gemetar. Sambil memejamkan matanya, ia berteriak, “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!”

Sambil membelai anaknya, sang induk berkata, “Sabar, anakku! Itu cuma petir. Itu tanda ketiga, kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang.”

Sahabat, pernahkah Anda mengalami sesuatu yang mencekam sebelum meraih impian Anda? Apa sikap Anda? Anda takut menghadapi situasi mencekam itu? Anda cemas? Atau Anda tidak percaya pada kenyataan yang ada? Lantas apa yang Anda lakukan?

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa rahmat Tuhan kadang-kadang datang kepada kita melalui jalan yang berliku-liku. Orang mesti sabar menunggu. Orang mesti yakin bahwa Tuhan tetap akan memberikan rahmatNya. Tuhan tidak pernah mengingkari kasih setiaNya kepada manusia.

Karena itu, yang dibutuhkan dari manusia adalah kesabaran yang penuh iman. Artinya, orang mesti membangun keyakinan dalam dirinya bahwa apa yang sedang diperjuangkannya tidak akan sia-sia. Apa yang sedang diperjuangkannya akan ia raih dalam iman yang mendalam kepada Tuhan.

Kita mesti mengakui bahwa dalam hidup ini kita sering terombang-ambing oleh berbagai persoalan hidup. Kita ditantang untuk tetap berpegang teguh pada iman kita kepada Tuhan. Kita tidak boleh menyerah, apa pun situasi yang mengobrak-abrik hidup kita. Satu pegangan hidup yang mesti kita utamakan adalah Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Yakinlah, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita berjuang sendirian.

Karena itu, kita tidak boleh takut melangkah. Kita tidak boleh bersembunyi di balik tantangan hidup ini. Kita mesti menghadapi situasi hidup itu dengan iman yang kokoh dan teguh. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

915

04 Januari 2011

Bersyukur di Saat-saat Sulit



Ada seorang narapidana yang senantiasa mensyukuri kebaikan Tuhan. Baginya, Tuhan selalu baik. Meski ia dijebloskan ke dalam penjara, ia tetap yakin bahwa Tuhan itu baik. Perbuatan jahat yang dilakukannya itu melulu karena kehendak pribadinya. Karena itu, ia tidak perlu menyalahkan Tuhan. Ia mesti tetap bersyukur atas kebaikan Tuhan sama seperti sebelum ia mendekam di penjara.

Sikapnya itu membuat orang-orang yang dekat dengannya itu heran. Bukankah ia sendirian memperjuangkan kehidupannya? Bukankah di saat-saat seperti itu Tuhan seolah-olah menghilang?

Namun narapidana itu berusaha untuk menyadarkan orang-orang itu akan kebaikan Tuhan. Ia berkata, “Tuhan begitu baik kepada saya di dalam ruangan yang sempit ini. Secara fisik, saya tidak punya kebebasan. Namun saya merasa Tuhan selalu setia mendampingi saya. Tuhan tidak pernah menyakiti hati saya. Setiap pagi ia memberi udara segar bagi saya.”

Narapidana itu menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan yang diimani itu dengan mensyukuri kebaikan Tuhan itu. Ia tidak mau meninggalkan Tuhan. Ia tetap memasrahkan hidupnya kepada Tuhan.

Sahabat, betapa banyak orang lupa mensyukuri kebaikan Tuhan. Apalagi ketika sukses dan kebahagiaan menjadi bagian hidupnya. Orang lupa bahwa ada Tuhan yang selalu mendampingi dan menyertai perjalanan hidup manusia. Orang kurang peduli terhadap kasih dan kesetiaan Tuhan dalam hidupnya sehari-hari.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan tetap menyertai manusia. Dalam saat-saat sulit hidup ini Tuhan tetap hadir untuk memberikan kekuatan. Karena itu, dalam saat-saat sulit itu manusia semestinya tidak perlu mengeluh atau menolak kehadiran Tuhan.

Keluhan-keluhan itu hanya menunjukkan kurangnya iman kita kepada Tuhan. Keluh kesah yang bahkan menyangsikan kehadiran Tuhan itu menunjukkan bahwa manusia tidak sabar dalam penderitaannya. Manusia gampang menyerah pada situasi sulit yang dihadapinya. Manusia begitu rapuh.

Karena itu, yang mesti dilakukan oleh orang beriman adalah senantiasa mensyukuri kebaikan dan penyertaan Tuhan. Sering manusia kurang menyadari penyertaan Tuhan. Sering manusia ingin menggapai cita-citanya seorang diri tanpa menyertakan Tuhan.

Tentu saja sikap seperti ini berbahaya. Tuhan tetap menyertai setiap orang meskipun manusia tidak memintanya. Tuhan tetap setia membantu ciptaan-Nya dalam hidupnya sehari-hari. Karena itu, patutlah kita bersyukur atas kebaikan Tuhan itu dalam situasi sulit hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

585

27 Januari 2010

Membangun Kemauan untuk Bangkit dari Kesulitan






Seorang murid mengalami kesulitan dengan suatu mata pelajaran. Dengan mudah ia tidak senang terhadapnya dan semakin kesulitan. Ia sudah berusaha keras, namun ia masih tetap mengalami kesulitan. Ia juga sudah bertanya kepada teman-temannya yang lebih pintar darinya. Tetapi semua jawaban tidak membantunya untuk keluar dari kesulitan itu.

Ia mulai merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri di kelas. Melihat kondisi itu, teman-temannya malah menyingkirkannya. Mereka kurang mau menerima kehadirannya. Akhirnya, murid itu mendatangi guru kelasnya. Ia mengutarakan semua persoalan yang ia hadapi. Gurunya berusaha membantunya.

Kata gurunya, “Yang penting kamu memiliki kemauan untuk belajar. Kemauan itu yang mesti kamu tanamkan dalam dirimu.”

Murid itu menemukan jalan untuk keluar dari kesulitannya. Setelah pulang sekolah, ia mempelajari ulang bahan-bahan yang diberikan di kelas tentang pelajaran itu. Lama-kelamaan ia dapat menguasai pelajaran itu. Memang, yang ia butuhkan adalah kemauan dan kerja keras.

Setelah berhasil mengatasi kesulitannya, teman-temannya mulai mendekatinya kembali. Untuk hal ini, ia tidak dendam. Ia menerima kembali mereka apa adanya. Ia tidak mau mempersoalkan tingkah mereka waktu ia mengalami kesulitan. Ia malah bersyukur atas tantangan yang mereka tunjukkan kepadanya. Dengan begitu, ia dapat mencari cara-cara untuk keluar dari kesulitannya.

Dalam hidup ini, kita berjumpa dengan orang-orang seperti kisah di atas. Usaha keras ternyata dapat membantu orang untuk keluar dari kesulitan-kesulitan hidup. Untuk itu, orang mesti selalu berjuang. Tidak boleh berhenti berjuang. Apa pun tantangan yang dihadapi, orang mesti selalu mencari cara-cara untuk keluar dari kesulitannya.

Yang menarik adalah dalam hidup ini, kita jumpai juga orang-orang yang menyingkirkan sesamanya yang mengalami kesulitan. Orang hanya ingin melihat sesamanya yang tidak mengalami kesulitan hidup. Padahal hidup ini penuh dengan warna-warni. Hidup ini ada kalanya di atas. Tetapi ada kalanya berada di bawah. Ada kalanya orang mencapai kesuksesan yang gilang-gemilang. Tetapi ada kalanya orang mengalami kejatuhan yang paling pahit.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk berusaha menerima semua orang dalam keadaan apa pun. Kita menerima sesama yang sukses dengan sukacita. Tetapi kita juga mesti menerima mereka yang kurang beruntung dalam hidup ini dengan sukacita pula. Kesulitan hidup semestinya tidak menghalangi kita untuk membiarkan sesama kita terpuruk dalam kesulitannya.

Setiap hari kita mengalami betapa hidup ini begitu indah. Tentu saja indahnya hidup ini tidak tercipta hanya dari yang baik-baik saja. Hidup ini juga tercipta dari kesulitan-kesulitan hidup. Karena itu, mari kita syukuri aneka pengalaman hidup ini. Kita mengsyukurinya karena aneka pengalaman itu mampu membentuk hidup kita seperti sekarang ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

313
Bagikan

07 Januari 2010

Mampu Keluar dari Kesulitan


Kalau Anda ke Yogyakarta, jangan lupa mampir ke Kota Gede. Kota Gede yang terletak di bagian selatan Yogya ini terkenal dengan sebutan Kota Perak. Di sana banyak pengrajin perak yang hidupnya tergantung dari usaha perak ini. Namun masa sulit pun menimpa masyarakat kota ini. Para turis asing yang menjadi andalan pembeli perak sudah jarang datang. Hal ini terjadi karena para pengrajin Kotagede kalah bersaing.

Produk ekspor dari kora perak ini kalah bersaing dengan produk dari negara lain seperti Hongkong, Thailand, Malaysia dan Vietnam. Negara-negara ini unggul dalam desain dan tidak dikenai pajak bahan baku.

Akibatnya, banyak pengrajin yang kewalahan memasarkan produk mereka. Di dalam negeri kurang banyak diminati. Turis-turis asing juga tidak mau datang lagi ke Kota Perak untuk membeli hasil karya dari perak ini. Para pengrajin terus-menerus mengalami kesulitan.

Dalam kesulitan seperti ini ada sejumlah pengrajin mulai membanting stir. Mereka membuka usaha-usaha lain yang menarik perhatian para turis. Nah, para pengrajin seperti ini mulai mendapatkan penghasilan yang memadai untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Dalam hidup ini orang mesti berani untuk mengambil terobosan-terobosan. Kesulitan yang menghadang semestinya menjadi sumber inspirasi bagi seseorang untuk menemukan cara-cara baru untuk keluar dari kesulitan. Orang mesti memiliki kreativitas yang lebih untuk menjalani hidup ini dengan penuh antusias.

Ada orang yang mudah menyerah begitu menghadapi kesulitan-kesulitan. Seolah-olah tidak ada jalan lain bagi dirinya untuk keluar dari kesulitannya. Orang seperti ini biasanya tidak ingin maju dalam hidupnya. Ia mudah putus asa. Padahal orang yang mudah putus asa itu tidak mencerminkan dirinya sebagai orang yang beriman.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk tidak terpuruk dalam kesulitan yang kita hadapi. Mengapa? Karena masih ada jalan keluar yang bisa ditempuh. Ada berbagai cara yang halal dan baik yang dapat kita gunakan untuk keluar dari kesulitan hidup ini.

Untuk itu, orang beriman mesti mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang beriman mesti bekerja bersama Tuhan. Tuhan siap membantu, kalau orang mau membuka diri dan hati meminta pertolongan dari Tuhan. Orang beriman mesti terus-menerus menggunakan pikirannya untuk menemukan cara-cara keluar dari kesulitan hidup. Mari kita coba. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


286

Bagikan

12 November 2009

Menghadapi Kesulitan dengan Hati yang Tegar



Di Jepang ada seorang tentara yang tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Pada malam itu dia tidak bisa tidur karena sangat cemas. Ia takut keesokan harinya ia akan diinterogasi dan disiksa. Sepanjang malam itu ia membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpa dirinya.

Sepanjang malam itu ia sangat resah. Namun setelah beberapa saat ia teringat kata-kata gurunya dulu. Gurunya pernah berkata, “Besok tidak nyata. Besok hanyalah bayang-bayang semu. Satu-satunya yang nyata adalah sekarang dan di sini.”

Tentara itu menjadi semangat lagi. Ia memejamkan matanya dan ia dapat tidur dengan nyenyak malam itu. Dalam hati ia berkata, “Apa yang akan terjadi besok, terjadilah. Saya akan menghadapinya dengan lapang dada.”

Keesokan harinya, proses interogasi berjalan seperti biasa. Tentara itu dengan tegar menghadapinya. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan baik. Selang beberapa lama, tentara itu dibebaskan karena tidak terbukti bersalah. Ia pulang ke rumahnya dengan hati yang gembira.

Banyak orang resah dan gelisah akan hidupnya. Apalagi di jaman serba sulit seperti sekarang ini. Gaji pegawai negeri yang sebentar lagi naik membuat banyak pihak gelisah. Banyak orang tidak bisa tidur, karena hal ini. Kelanjutan dari naiknya gaji pegawai negeri adalah naiknya barang-barang kebutuhan hidup. Masyarakat kecil semakin resah akan hidupnya.

Tetapi pantaskah kita resah dan gelisah, karena naiknya harga-harga kebutuhan hidup? Bukankah hidup ini mengalir seperti air? Bukankah kita mesti menapaki hidup ini langkah demi langkah?

Hidup memang berat dalam kondisi perekonomian yang kurang begitu baik sekarang ini. Namun kita bisa bercermin pada krisis ekonomi yang terjadi sebelas tahun lalu. Ada begitu banyak usaha untuk keluar dari kesulitan hidup. Krisis yang dihadapi itu kemudian berangsur-angsur dapat diatasi.

Sebagai orang beriman, kita mesti tetap berpegang teguh pada Tuhan yang maha pengasih dan penyayang. Tuhan senantiasa menyertai kita sejelek apapun situasi yang kita hadapi. Yang dibutuhkan dari kita adalah penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Dalam sikap penyerahan diri yang total itu, kita juga berusaha untuk keluar dari krisis yang kita hadapi. Tuhan akan membantu kita sejauh kita juga mau berusaha untuk keluar dari kesulitan yang kita hadapi.

Karena itu, janganlah kita cemas dan gelisah. Mari kita hadapi hidup ini dengan hati yang tegar, meskipun begitu banyak persoalan yang mesti kita hadapi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




227