Pages

21 Juli 2009

Memperjuangkan Hidup Sesama


Suatu hari seorang murid menjual segala miliknya dan membagikannya kepada kaum miskin di kota. Setelah tidak ada lagi apa pun padanya, ia mengadakan perjalanan keliling kota, sampai akhirnya suatu ketika ia tidak mampu menahan rasa lapar yang menggerus perutnya. Lama ia mencoba bertahan, sampai akhirnya pasrah kalah terhadap kelaparan yang menimpanya.

Sementara mencari kemungkinan bagaimana mengganjal perutnya yang kosong, tatapannya tertuju kepada seekor kuda yang sedang dipekerjakan menggiling padi.

Ia bertanya kepada pemilik penggilingan, “Berapa kuda itu dibayar untuk kerja satu hari?”

Pemilik penggilingan itu menjawab, “Dua ribu rupiah!”

Ia berkata, “Bayar saya seribu rupiah untuk kerja satu hari.”

Permohonan itu dikabulkan. Ia bekerja selama satu hari demi lapar yang tidak tertahankan. Dalam hati ia berkata, “Banyak yang bahkan sanggup bekerja lebih hina daripada kuda sekedar mempertahankan hidup sehari.”

Banyak persoalan muncul bersumber dari perut. Dalam dunia ini kita menyaksikan begitu banyak orang mengalami lapar dan haus. Mereka ingin melakukan apa saja untuk mengenyangkan perut mereka dan melepas dahaga di tenggorokan mereka.

Di Afrika, misalnya, jutaan rakyat menderita kelaparan. Mereka menjerit. Bahkan dari antara mereka sudah begitu banyak yang meninggal dunia. Namun perang terus-menerus berkecamuk di benua tersebut. Upaya untuk membebaskan diri dari kemiskinan sepertinya tidak dilakukan sama sekali. Padahal begitu banyak program bantuan yang telah diberikan oleh berbagai bangsa.

Atau di sekitar kita juga terdapat begitu banyak orang yang mengalami penderitaan akibat kelaparan. Para politisi dan anggota DPR yang semestinya memperjuangkan hidup rakyat justru menyelewengkan dana untuk pengentasan orang miskin. Berapa banyak rakyat yang mesti menjadi korban akibat ulah korupsi, kolusi dan nepotisme? Sudah begitu banyak anak yang menderita busung lapar. Siapa yang harus bertanggungjawab atas semua ini?

Sebagai orang beriman, hati kita semestinya tersentuh oleh berbagai penderitaan ini. Tidak hanya itu. Tangan kita semestinya langsung bergerak memberi makan saudara-saudari kita yang kelaparan. Bagi kita, memberi sesuatu kepada sesama yang menderita lapar berarti kita menyelamatkannya dari kematian. Kita memberi sesama itu kehidupan. Inilah yang menjadi perjuangan setiap orang beriman dalam hidup sehari-hari. Memberi hidup kepada sesamanya, bukan kematian.

Kalau kita melakukan sesuatu untuk sesama yang berkekurangan berarti kita telah melakukan suatu keutamaan dalam hidup ini. Kita menanggapi ajakan Tuhan untuk memberi perhatian kepada sesama. Mari kita berusaha untuk memperjuangkan hidup sesama kita dalam hidup kita yang nyata. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (95)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.