Pages

16 Juli 2009

Semangat menerima sesama yang berdosa

Suatu hari seorang perempuan berdosa mendatangi rumah seorang cendekiawan yang mengundang Yesus ke rumahnya. Seperti orang yang tidak tahu diri, perempuan itu langsung masuk tanpa permisi.

Ia langsung menuju kaki Yesus. Ia merebahkan dirinya di kaki Yesus itu. Ia menangis. Air matanya membasahi kedua telapak kaki Yesus. Lalu ia membersihkannya dengan rambutnya yang panjang terurai. Tidak lama kemudian, ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya.

Cendekiawan kaya itu terkejut menyaksikan peristiwa itu. Ia protes. Kenapa perempuan berdosa itu melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan undangannya yang begitu ia hormati itu? Tetapi Yesus tidak peduli terhadap protesnya. Bahkan Yesus mengingatkannya bahwa ia semestinya telah diberi air untuk membasuh kakinya.

Yesus berkata kepadanya, “Saudaraku, sejak aku datang ke sini, kamu tidak membasuh kakiku. Tetapi lihatlah perempuan ini. Tak henti-hentinya ia membasuh kaki saya dengan air matanya.”

Cendekiawan itu tidak bisa mengerti. Baginya, Yesus telah melakukan suatu kesalahan besar. Yesus telah melanggar adat istiadat bangsanya. Tetapi Yesus tersenyum memandangnya.

Lantas Yesus berkata, “Lihatlah, perempuan ini sudah menyesali dosa-dosanya yang banyak itu. Kita mesti bergembira atas pertobatannya.”

Sering kita menolak kehadiran sesama kita yang kita anggap telah melakukan dosa berat. Mereka yang baru keluar dari penjara, misalnya, tidak mudah kita terima dalam kehidupan kita yang normal. Mengapa bisa terjadi? Karena kita merasa bahwa diri kita bersih dari noda dosa. Padahal setiap manusia tidak lepas dari dosa. Kita semua memiliki dosa.

Karena itu, pantaslah kalau kita menerima semua orang yang datang kepada kita. Kita tidak boleh memilih-milih. Kita mesti menyadari bahwa suatu ketika kita juga akan jatuh ke dalam dosa. Dan di saat seperti itu kita butuh pengampunan dan penerimaan dari sesama yang ada di sekitar kita.

Dosa memang membuat kita merasa terasing dari sesama kita. Dosa menyebabkan kita jauh dari Tuhan dan sesama. Namun selalu ada kesempatan bagi kita untuk kembali ke jalan yang benar. Caranya adalah dengan menyadari dosa-dosa dan bertobat. Ini yang penting dalam hidup kita. Betapa pun besar dosa kita, tetapi kalau kita memiliki kemauan untuk bertobat, kita akan diterima oleh Tuhan.

Sebagai orang beriman, mari kita belajar untuk menerima sesama kita dalam hidup sehari-hari. Kita menciptakan suatu situasi yang baik dan indah, agar mereka yang melakukan kesalahan dan dosa dapat bertobat. Artinya, kita belajar untuk tidak menolak sesama yang jatuh ke dalam dosa dan kesalahan.

Tuhan akan sangat berbahagia melihat ada sesama kita yang berdosa yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Kebahagiaan itu mesti juga menjadi kebahagiaan kita. Mari kita berusaha untuk membawa sesama kepada suasana pertobatan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.