Pages

Tampilkan postingan dengan label pertobatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertobatan. Tampilkan semua postingan

26 April 2010

Pentingnya Pertobatan



Beberapa tahun lalu seorang pembunuh akan dihukum mati di salah satu negara bagian di Amerika Serikat yang memberlakukan hukuman mati. Kakak dari pembunuh itu, yang pernah berjasa besar bagi negara, memohon kepada gubernur negara bagian untuk mengampuni adiknya itu.

Permohonannya dikabulkan. Lantas ia mengunjungi saudaranya di penjara dengan surat pengampunan di sakunya. Setelah diijinkan untuk menemui adiknya, ia bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan, jika kamu menerima pengampunan?”

Tanpa basa-basi, adiknya itu menjawab, “Hal pertama yang akan saya lakukan adalah melacak hakim yang menghukum saya. Kalau sudah ketemu, saya akan membunuhnya.”

Kakaknya terkejut, katanya, “Kamu sudah gila!”

Adiknya tidak peduli dengan kata-kata kakaknya. Ia melanjutkan, “Hal kedua adalah saya akan melacak saksi-saksi yang memberatkan saya. Kalau sudah ketemu, saya akan membunuh mereka juga.”

Kakaknya tidak bisa mengerti ungkapan hati adiknya. Serentak ia berdiri lalu meninggalkan ruangan sel itu dengan surat pengampunan di sakunya.

Apakah yang jahat selalu jahat? Semestinya tidak. Orang jahat bisa menjadi orang baik, kalau ia bertobat. Kalau ia mengakui semua kejahatan yang pernah dilakukannya dan mau kembali ke jalan yang benar. Tetapi pembunuh dalam kisah di atas tetap memendam kebencian di dalam hatinya. Ia merasa bahwa orang yang berlaku tidak adil terhadapnya mesti dilenyapkan. Padahal seandainya ia mau bertobat, ia tidak perlu mendapatkan hukuman mati. Ia dapat bebas dan melanjutkan hidup ini secara normal.

Seringkali dendam itu terjadi karena orang dikuasai oleh emosi yang tidak tertahankan. Emosi seperti ini dapat membawa bencana bagi hidup sendiri dan bagi hidup banyak orang. Karena itu, orang mesti menyadari bahwa ketika ia sedang dilanda emosi, ia mesti hati-hati. Ia tidak boleh mengambil keputusan dalam keadaan seperti itu. Setiap keputusan yang diambil ketika orang dikuasai oleh emosi akan berakibat fatal bagi hidupnya.

Sebenarnya emosi dalam diri kita itu bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat positif bagi hidup kita. Pertama-tama orang mesti berusaha meredam emosinya dan mengalihkannya ke sesuatu yang bersifat positif. Dengan demikian orang akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi hidupnya.

Emosi yang diolah itu akan membawa keuntungan-keuntungan bagi hidup bersama juga. Orang tidak mudah membalas dendam terhadap orang yang melakukan kesalahan terhadapnya. Orang mudah untuk memaafkan sesamanya. Orang juga mudah untuk bertobat atas segala perbuatan jeleknya terhadap sesama.

Setiap hari kita selalu menimba kebaikan-kebaikan dari sesama. Mari kita bawa semua kebaikan itu dalam hidup ini. Kita tetap membuka hati kita terhadap Tuhan yang begitu mengasihi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com




360

Bagikan

25 Juli 2009

Semangat menerima sesama yang berdosa

Suatu hari seorang perempuan berdosa mendatangi rumah seorang cendekiawan yang mengundang Yesus ke rumahnya. Seperti orang yang tidak tahu diri, perempuan itu langsung masuk tanpa permisi.

Ia langsung menuju kaki Yesus. Ia merebahkan dirinya di kaki Yesus itu. Ia menangis. Air matanya membasahi kedua telapak kaki Yesus. Lalu ia membersihkannya dengan rambutnya yang panjang terurai. Tidak lama kemudian, ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya.

Cendekiawan kaya itu terkejut menyaksikan peristiwa itu. Ia protes. Kenapa perempuan berdosa itu melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan undangannya yang begitu ia hormati itu? Tetapi Yesus tidak peduli terhadap protesnya. Bahkan Yesus mengingatkannya bahwa ia semestinya telah diberi air untuk membasuh kakinya.

Yesus berkata kepadanya, “Saudaraku, sejak aku datang ke sini, kamu tidak membasuh kakiku. Tetapi lihatlah perempuan ini. Tak henti-hentinya ia membasuh kaki saya dengan air matanya.”

Cendekiawan itu tidak bisa mengerti. Baginya, Yesus telah melakukan suatu kesalahan besar. Yesus telah melanggar adat istiadat bangsanya. Tetapi Yesus tersenyum memandangnya.

Lantas Yesus berkata, “Lihatlah, perempuan ini sudah menyesali dosa-dosanya yang banyak itu. Kita mesti bergembira atas pertobatannya.”

Sering kita menolak kehadiran sesama kita yang kita anggap telah melakukan dosa berat. Mereka yang baru keluar dari penjara, misalnya, tidak mudah kita terima dalam kehidupan kita yang normal. Mengapa bisa terjadi? Karena kita merasa bahwa diri kita bersih dari noda dosa. Padahal setiap manusia tidak lepas dari dosa. Kita semua memiliki dosa.

Karena itu, pantaslah kalau kita menerima semua orang yang datang kepada kita. Kita tidak boleh memilih-milih. Kita mesti menyadari bahwa suatu ketika kita juga akan jatuh ke dalam dosa. Dan di saat seperti itu kita butuh pengampunan dan penerimaan dari sesama yang ada di sekitar kita.

Dosa memang membuat kita merasa terasing dari sesama kita. Dosa menyebabkan kita jauh dari Tuhan dan sesama. Namun selalu ada kesempatan bagi kita untuk kembali ke jalan yang benar. Caranya adalah dengan menyadari dosa-dosa dan bertobat. Ini yang penting dalam hidup kita. Betapa pun besar dosa kita, tetapi kalau kita memiliki kemauan untuk bertobat, kita akan diterima oleh Tuhan.

Sebagai orang beriman, mari kita belajar untuk menerima sesama kita dalam hidup sehari-hari. Kita menciptakan suatu situasi yang baik dan indah, agar mereka yang melakukan kesalahan dan dosa dapat bertobat. Artinya, kita belajar untuk tidak menolak sesama yang jatuh ke dalam dosa dan kesalahan.

Tuhan akan sangat berbahagia melihat ada sesama kita yang berdosa yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Kebahagiaan itu mesti juga menjadi kebahagiaan kita. Mari kita berusaha untuk membawa sesama kepada suasana pertobatan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (99)

16 Juli 2009

Semangat menerima sesama yang berdosa

Suatu hari seorang perempuan berdosa mendatangi rumah seorang cendekiawan yang mengundang Yesus ke rumahnya. Seperti orang yang tidak tahu diri, perempuan itu langsung masuk tanpa permisi.

Ia langsung menuju kaki Yesus. Ia merebahkan dirinya di kaki Yesus itu. Ia menangis. Air matanya membasahi kedua telapak kaki Yesus. Lalu ia membersihkannya dengan rambutnya yang panjang terurai. Tidak lama kemudian, ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya.

Cendekiawan kaya itu terkejut menyaksikan peristiwa itu. Ia protes. Kenapa perempuan berdosa itu melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan undangannya yang begitu ia hormati itu? Tetapi Yesus tidak peduli terhadap protesnya. Bahkan Yesus mengingatkannya bahwa ia semestinya telah diberi air untuk membasuh kakinya.

Yesus berkata kepadanya, “Saudaraku, sejak aku datang ke sini, kamu tidak membasuh kakiku. Tetapi lihatlah perempuan ini. Tak henti-hentinya ia membasuh kaki saya dengan air matanya.”

Cendekiawan itu tidak bisa mengerti. Baginya, Yesus telah melakukan suatu kesalahan besar. Yesus telah melanggar adat istiadat bangsanya. Tetapi Yesus tersenyum memandangnya.

Lantas Yesus berkata, “Lihatlah, perempuan ini sudah menyesali dosa-dosanya yang banyak itu. Kita mesti bergembira atas pertobatannya.”

Sering kita menolak kehadiran sesama kita yang kita anggap telah melakukan dosa berat. Mereka yang baru keluar dari penjara, misalnya, tidak mudah kita terima dalam kehidupan kita yang normal. Mengapa bisa terjadi? Karena kita merasa bahwa diri kita bersih dari noda dosa. Padahal setiap manusia tidak lepas dari dosa. Kita semua memiliki dosa.

Karena itu, pantaslah kalau kita menerima semua orang yang datang kepada kita. Kita tidak boleh memilih-milih. Kita mesti menyadari bahwa suatu ketika kita juga akan jatuh ke dalam dosa. Dan di saat seperti itu kita butuh pengampunan dan penerimaan dari sesama yang ada di sekitar kita.

Dosa memang membuat kita merasa terasing dari sesama kita. Dosa menyebabkan kita jauh dari Tuhan dan sesama. Namun selalu ada kesempatan bagi kita untuk kembali ke jalan yang benar. Caranya adalah dengan menyadari dosa-dosa dan bertobat. Ini yang penting dalam hidup kita. Betapa pun besar dosa kita, tetapi kalau kita memiliki kemauan untuk bertobat, kita akan diterima oleh Tuhan.

Sebagai orang beriman, mari kita belajar untuk menerima sesama kita dalam hidup sehari-hari. Kita menciptakan suatu situasi yang baik dan indah, agar mereka yang melakukan kesalahan dan dosa dapat bertobat. Artinya, kita belajar untuk tidak menolak sesama yang jatuh ke dalam dosa dan kesalahan.

Tuhan akan sangat berbahagia melihat ada sesama kita yang berdosa yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Kebahagiaan itu mesti juga menjadi kebahagiaan kita. Mari kita berusaha untuk membawa sesama kepada suasana pertobatan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (99)

Semangat menerima sesama yang berdosa

Suatu hari seorang perempuan berdosa mendatangi rumah seorang cendekiawan yang mengundang Yesus ke rumahnya. Seperti orang yang tidak tahu diri, perempuan itu langsung masuk tanpa permisi.

Ia langsung menuju kaki Yesus. Ia merebahkan dirinya di kaki Yesus itu. Ia menangis. Air matanya membasahi kedua telapak kaki Yesus. Lalu ia membersihkannya dengan rambutnya yang panjang terurai. Tidak lama kemudian, ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya.

Cendekiawan kaya itu terkejut menyaksikan peristiwa itu. Ia protes. Kenapa perempuan berdosa itu melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan undangannya yang begitu ia hormati itu? Tetapi Yesus tidak peduli terhadap protesnya. Bahkan Yesus mengingatkannya bahwa ia semestinya telah diberi air untuk membasuh kakinya.

Yesus berkata kepadanya, “Saudaraku, sejak aku datang ke sini, kamu tidak membasuh kakiku. Tetapi lihatlah perempuan ini. Tak henti-hentinya ia membasuh kaki saya dengan air matanya.”

Cendekiawan itu tidak bisa mengerti. Baginya, Yesus telah melakukan suatu kesalahan besar. Yesus telah melanggar adat istiadat bangsanya. Tetapi Yesus tersenyum memandangnya.

Lantas Yesus berkata, “Lihatlah, perempuan ini sudah menyesali dosa-dosanya yang banyak itu. Kita mesti bergembira atas pertobatannya.”

Sering kita menolak kehadiran sesama kita yang kita anggap telah melakukan dosa berat. Mereka yang baru keluar dari penjara, misalnya, tidak mudah kita terima dalam kehidupan kita yang normal. Mengapa bisa terjadi? Karena kita merasa bahwa diri kita bersih dari noda dosa. Padahal setiap manusia tidak lepas dari dosa. Kita semua memiliki dosa.

Karena itu, pantaslah kalau kita menerima semua orang yang datang kepada kita. Kita tidak boleh memilih-milih. Kita mesti menyadari bahwa suatu ketika kita juga akan jatuh ke dalam dosa. Dan di saat seperti itu kita butuh pengampunan dan penerimaan dari sesama yang ada di sekitar kita.

Dosa memang membuat kita merasa terasing dari sesama kita. Dosa menyebabkan kita jauh dari Tuhan dan sesama. Namun selalu ada kesempatan bagi kita untuk kembali ke jalan yang benar. Caranya adalah dengan menyadari dosa-dosa dan bertobat. Ini yang penting dalam hidup kita. Betapa pun besar dosa kita, tetapi kalau kita memiliki kemauan untuk bertobat, kita akan diterima oleh Tuhan.

Sebagai orang beriman, mari kita belajar untuk menerima sesama kita dalam hidup sehari-hari. Kita menciptakan suatu situasi yang baik dan indah, agar mereka yang melakukan kesalahan dan dosa dapat bertobat. Artinya, kita belajar untuk tidak menolak sesama yang jatuh ke dalam dosa dan kesalahan.

Tuhan akan sangat berbahagia melihat ada sesama kita yang berdosa yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Kebahagiaan itu mesti juga menjadi kebahagiaan kita. Mari kita berusaha untuk membawa sesama kepada suasana pertobatan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.