Pages

Tampilkan postingan dengan label kesalahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesalahan. Tampilkan semua postingan

22 Maret 2014

Semangat Mengampuni Sesama yang Bersalah

Apa yang akan terjadi, ketika orang yang sangat dekat dengan Anda melakukan kesalahan dan dosa terhadap Anda? Saya rasa, Anda akan mengalami sakit hati yang luar biasa. Namun ketika Anda tidak mengampuni kesalahannya, dia akan terus-menerus menyakiti hati Anda.

Suatu hari, seorang ibu bersungut-sungut. Pasalnya, suaminya selalu pulang tengah malam dalam keadaan mabuk berat. Ia sudah tidur lelap, tetapi selalu terganggu oleh suaminya yang menggedor-gedor pintu depan. Setiap kali setelah membuka pintu, suaminya selalu marah-marah. Ia juga membentak istrinya berkali-kali, seolah-olah istrinya yang melakukan kesalahan.

Tidak tahan dengan situasi itu, ibu itu mendatangi seorang bijaksana. Ia meminta nasihat dari orang bijaksana itu. Ia menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya bersama suaminya. Salah satunya adalah mabuk berat yang dihadapi suaminya setiap malam. Ia merasa suaminya telah mengingkari janjinya untuk tidak minum minuman keras.

Ibu itu berkata kepada orang bijaksana itu, “Saya tidak tahan hidup dalam kondisi seperti ini. Setiap malam suami saya selalu mabuk berat. Tidak hanya saya saja yang terganggu. Anak-anak saya juga merasa sangat terganggu. Mereka tidak bisa belajar hal-hal yang baik dari orangtua mereka.”

Sambil tersenyum, orang bijaksana itu berkata, “Ini adalah beban yang mesti kamu tanggung. Namun Anda mesti mendoakan suamimu, agar ia meninggalkan kebiasaan jeleknya. Lebih mudah menyalahkan suamimu. Tetapi menurut saya, Anda lebih baik mengampuninya.”

Ibu itu merasa, selama ini ia tidak pernah mendoakan suaminya. Ia lebih sering mengumpat-umpat suaminya. Ia memojokkan suaminya. Sejak bertemu dengan orang bijaksana itu, ibu itu mulai mendoakan suaminya. Setiap kali ia menemukan suaminya dalam keadaan mabuk berat, ia menjamahnya dengan kasih. Ia tidak mengumpat-umpatnya seperti dulu lagi. Hasilnya luar biasa. Perlahan namun pasti, sang suami mulai menghentikan kebiasaannya minum minuman keras.

Sahabat, memang lebih mudah mengumpat-umpat orang-orang yang melakukan kesalahan kepada kita. Kita lebih mudah memojokkan orang-orang yang melakukan dosa. Sementara ketika kita melakukan kesalahan dan dosa, kita menuntut orang lain memaafkan atau mengampuni kita.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk terus-menerus peduli terhadap orang yang bersalah dan berdosa terhadap kita. Kita boleh membenci kesalahan dan dosa yang diperbuatnya. Namun kita tetap mengasihi orang yang melakukan kesalahan dan dosa itu. Dengan mengasihi, kita berharap orang yang melakukan kesalahan dan dosa itu akan bertobat. Dia kita beri kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kita mesti menyadari bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan dan dosa. Kita bukan manusia sempurna. Kita manusia yang lemah. Namun dalam ketidaksempurnaan dan kelemahan itu kita ingin menjadi manusia yang baik dalam kehidupan ini.

Mari kita terus-menerus berjuang untuk menjadi manusia yang baik dan benar di hadapan Tuhan dan sesama. Kita tidak hanya bersungut-sungut terhadap kesalahan dan dosa orang lain. Tetapi kita mencari cara-cara untuk membantu sesama menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/SIGNIS INDONESIA

1081

05 Maret 2014

Berani Meminta Maaf Atas Kesalahan


Banyak orang tidak gampang meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan. Mengapa? Karena mereka merasa bahwa harga diri mereka akan jatuh, kalau nanti sungguh-sungguh dikethaui bahwa apa yang telah mereka lakukan itu salah. Akibatnya, mereka tetap bertahan pada pandangan dirinya sendiri. Padahal kalau orang berani menyatakan maaf atas kesalahan yang diperbuatnya, tentu situasi menjadi lebih baik. Mungkin hubungan yang kurang baik dapat dijalin kembali.

Mantan pesumo grand champion bernama Asashoryu meminta maaf kepada para mantan koleganya, sebulan setelah ia menyatakan diri pensiun dari olahraga tradisional Jepang tersebut. Asashoryu yang berusia 29 tahun merupakan pesumo asal Mongolia dengan nama asli Dolgorsurengiin Dagvadorj.

Ia berkata, “Saya Asashoryu atau yang pernah bernama itu, merasa menyesal bahwa selain memenangi Piala Kaisar (Jepang), saya juga sering menimbulkan masalah."

Grand champion ini memang beberapa kali terlibat pertikaian dengan otoritas sumo Jepang, terutama mengenai perilakunya. Ia akhirnya diminta mengundurkan diri setelah ketahuan mabuk dan berkelahi di luar sebuah klab malam di Tokyo. Otoritas sumo kemudian meminta dia mengundurkan diri daripada menghadapi ancaman pemecatan.

Ia ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Ia berkata, “Saya sangat berterimakasih atas dukungan Anda, sehingga mampu menjadi juara Piala Kaisar sebanyak 25 kali. Saat ini saya sudah berusia 30 tahun dan saya harap saya akan memasuki fase kehidupan baru dengan baik.”

Sahabat, kita hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Kita ini adalah makhluk sosial yang senantiasa memiliki relasi dengan sesama. Apa yang kita buat selalu memiliki dampak terhadap kehidupan bersama itu. Karena itu, ketika kita melakukan suatu kesalahan atau dosa, orang lain pun akan menerima dampaknya. Mereka merasakan akibat dari kesalahan atau dosa kita itu.

Untuk itu, kita diajak untuk berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dampak negatif perbuatan kita terhadap orang lain. Kalau toh kita telanjur melakukan kesalahan atau dosa, kita diharapkan untuk berani meminta maaf. Hanya dengan cara itu, kehidupan bersama kita menjadi lebih normal lagi. Kita dapat berbagi kebaikan di antara kita. Kita dapat menemukan sukacita dan kebahagiaan dalam hidup ini.

Kisah di atas mau mengajak kita untuk berani dengan tulus hati meminta maaf atas kesalahan yang kita lakaukan. Kita tidak perlu mempertahankan pendapat kita yang jelas-jelas telah mengakibatkan kesulitan dalam hidup orang lain.

Orang yang memiliki niat yang tulus untuk memperbaiki keadaan yang kurang baik akan mendapatkan pahala dalam hidupnya. Mari kita berusaha untuk hidup baik di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1065

20 Juni 2011

Usaha Menyadari Kesalahan Diri

Tahun lalu Jesse James, suami dari Sandra Bullock, meminta maaf kepada istri dan tiga orang anaknya. Pasalnya, ia telah dituduh melakukan skandal seksual dengan Michelle Bombshell McGee. Menurut James, hal itu telah menyebabkan hidupnya dan hidup istri serta anak-anaknya terganggu. Karena itu, ia meminta maaf dan mengharapkan pengampunan dari istrinya yang baru saja meraih hadiah Oscar sebagai pemain film putri terbaik itu.

Ia mengatakan, tuduhan terhadap dirinya itu tidak benar. Ia tidak pernah melakukan hal yang tidak senonoh. Ia tidak punya skandal seksual dengan McGee. Beberapa waktu lalu, McGee mengatakan kepada sebuah tabloid bahwa ia memiliki skandal yang panjang dengan James. Menurut James, hal itu tidak benar, sehingga ia meminta maaf kepada istri dan tiga anaknya tentang berita miring tersebut.

Ia berkata, “Hanya ada satu orang yang disalahkan dalam seluruh situasi ini. Orang itu adalah saya. Hal itu karena saya membiarkan diri saya dituding melakukan hal yang buruk.”

Ia mengatakan bahwa gosip-gosip itu telah menyebabkan rasa sakit dalam diri istri dan anak-anaknya. Ia berkata, “Gosip ini telah menyakiti istri dan anak-anak saya dan membuat malu mereka. Saya sangat sedih telah menyebabkan mereka sakit. Saya sungguh minta maaf atas penderitaan yang telah saya buat terhadap mereka. Saya harap suatu hari mereka dapat mengampuni saya.”

Sahabat, apa yang dilakukan Jesse James adalah suatu usaha yang sangat baik. Ia mengakui apa yang telah dilakukannya itu menyebabkan sakit dalam diri istri dan anak-anaknya. Ia menyadari kesalahan. Tentu saja ini suatu langkah yang baik dalam hidup. Orang yang mampu menyadari kesalahan dalam dirinya itu orang yang memiliki kebesaran hati untuk memperbaiki situasi hidup. Orang seperti ini ingin hidup lebih baik. Ia tidak ingin terpuruk dalam kegelapan hidup.

Dalam hidup ini banyak orang tidak mudah memiliki kebesaran hati untuk mengakui kesalahan dirinya. Orang lebih mudah mengajukan argumentasi pembelaan diri. Orang lebih gampang membela diri dengan mengatakan tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan kepadanya. Tentu saja pembelaan diri boleh-boleh saja.

Namun yang lebih penting adalah orang mesti berani menyadari kesalahan yang telah dibuatnya. Hal ini menjadi langkah awal dalam memperbaiki diri. Hanya dengan cara ini, orang mampu memperbaiki relasi yang telah rusak. Orang mampu menjalin kembali benang-benang kusut kehidupan. Maaf akan segera diberikan, ketika orang menunjukkan suatu perubahan dalam hidup ini.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diharapkan untuk terus-menerus menyadari kesalahan-kesalahan kita. Hal ini menjadi langkah awal bagi kita untuk membangun suatu hidup yang lebih baik. Dengan demikian, kehidupan yang harmonis dapat tercipta dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


704

07 Oktober 2010

Menyingkirkan Dosa dan Kesalahan Kita


Suatu hari kaki seorang anak tertusuk duri. Ia merasa sangat terganggu dengan hadirnya duri di kakinya. Ia berusaha untuk mengeluarkan duri itu. Namun ia tidak berhasil. Soalnya adalah duri itu menancap sangat dalam di kakinya. Kejadian itu memaksa ia tinggal di rumah. Ia tidak bisa pergi ke sekolah. Tambahan lagi suhu tubuhnya pun meningkat. Karena itu, ia mendatangi seorang dokter untuk membantu mengeluarkan duri itu.

Setelah duri itu dikeluarkan, ia merasa enak. Meski masih terasa sakit, ia mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang rutin. Ia bisa pergi ke sekolah dengan senang hati. Ia boleh berkumpul kembali dengan teman-temannya. Ia boleh berlari kian ke mari dengan teman-temannya.

Tentang duri itu, ia berkata, ”Duri itu mesti dikeluarkan dari kaki saya. Kalau tidak, saya bisa lumpuh. Saya sendiri tidak bisa mengeluarkannya dari kaki saya. Saya mesti butuhkan bantuan orang lain untuk mengeluarkan duri tersebut.”

Ia bersyukur duri itu telah keluar dari kakinya. Kalau tidak, ia tidak bisa hidup dengan nyaman dengan duri yang menancap di kakinya.

Sahabat, dalam hidup kita juga ada duri-duri yang menghambat perjalanan hidup kita. Duri-duri itu bisa saja berupa kesalahan dan dosa-dosa kita. Duri itu bisa saja luka batin yang sudah lama kita derita. Karena itu, duri-duri seperti itu mesti kita singkirkan, agar kita dapat bertumbuh dengan baik dan normal. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan hidup kita dengan duri-duri yang tetap menempel dalam hidup kita. Dosa dan kesalahan itu mengganggu pertumbuhan hidup kita baik rohani maupun jasmani.

Menyingkirkan duri-duri itu tidak selalu mudah. Selalu saja ada tantangan-tantangan yang mesti dihadapi. Kalau orang tidak bisa menghadapinya dengan baik, orang akan tetap memiliki duri-duri itu. Orang tidak bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik. Karena itu, kita butuh bantuan orang lain untuk menyingkirkan duri-duri itu. Bantuan orang lain itu akan memudahkan kita dalam usaha-usaha untuk mengatasi halangan-halangan yang ada dalam diri kita.

Dalam kisah tadi anak lelaki itu tidak bisa menyingkirkan duri dari kakinya. Ia butuh bantuan seorang dokter untuk melepaskan duri itu. Ia menyadari bahwa kalau ia mau hidup lebih tenang dan nyaman, ia mesti menyerahkan diri kepada orang lain. Ia tidak boleh memaksakan kekuatannya sendiri yang terbatas itu.

Demikian pula kita. Ketika kita menghadapi penghalang-penghalang, kita butuh bantuan orang lain. Kita sendiri tidak bisa mengatasinya. Kita mesti berani membiarkan orang lain membantu kita. Dengan demikian, dosa dan kesalahan yang ada dalam diri kita dapat kita singkirkan. Mari kita berusaha menyingkirkan duri-duri yang ada dalam diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

518

08 September 2010

Berani Berguru dari Kesalahan

Suatu hari seorang petani tua menyusuri sebuah jalan yang panjang. Pada bahunya melintang sebuah tongkat dari bambu. Di ujung tongkat bambu itu tergantung sebuah guci keramik yang berisikan sup kacang kedelai. Setelah beberapa saat, tiba-tiba ia jatuh tersungkur. Guci itu jatuh, pecah dan sup kacang kedelai itu jatuh berantakan.

Sang petani lalu bangun dan meneruskan perjalanannya tanpa menoleh ke arah sup yang terjatuh itu.

Seorang laki-laki memperhatikan kejadian tersebut. Laki-laki itu lalu cepat-cepat mendekati si petani dan berkata, "Pak, guci Bapak pecah dan sup-nya berantakan."

Petani itu menjawab, "Ya, saya tahu. Tadi saya mendengarnya."

Dengan penuh keheranan si laki-laki itu bertanya lagi, "Mengapa Bapak tidak kembali dan berbuat sesuatu?"

Dengan tenang petani tua itu menjawab, "Guci itu sudah pecah dan sup-nya sudah tidak dapat dimakan lagi. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan."

Apa yang mau kita lakukan terhadap sesuatu yang tidak berguna lagi? Mungkin Anda akan bersikap seperti petani yang kehilangan guci dan sup itu. Anda tidak peduli atas apa yang telah hilang dari Anda. Mungkin Anda tidak terlalu larut memikirkan hal itu.

Namun ada orang yang seringkali menghabiskan waktu dan energi untuk menyesali kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Seolah-olah kesalahan yang telah dibuatnya itu sungguh-sungguh menyita begitu banyak perhatian. Padahal setiap hari kita melakukan kesalahan-kesalahan. Setiap hari kita dapat kehilangan hal-hal yang begitu penting dalam hidup kita.

Sebetulnya kalau kita pikirkan lebih jauh lagi, kita akan menyadari bahwa hal-hal tersebut sudah terjadi dan kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi atasnya. Satu hal yang dapat kita lakukan ialah menjadikan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan itu sebagai pelajaran yang berharga yang akan membantu kita untuk tidak melakukannya lagi.

Ada pepatah mengatakan bahwa kegagalan itu guru yang baik untuk kesuksesan yang akan datang. Kalau Anda berani menghadapi resiko dalam hidup Anda, Anda akan meraih kesuksesan dalam hidup ini. Tetapi kalau Anda takut untuk melakukan kesalahan dalam hidup Anda, Anda akan tetaplah sebuah patung yang duduk manis. Anda tidak bisa belajar dari kesalahan yang telah Anda buat.

Sebagai orang beriman, kita punya jaminan yaitu Tuhan. Tuhan memberikan jaminan bagi kita untuk dapat melangkah lebih pasti dalam hidup ini. Karena itu, ketika kita melakukan kesalahan, kita tidak usah takut untuk memohon ampun dari Tuhan. Kita memohon, agar Tuhan memberi kita kekuatan untuk terus-menerus melakukan perbuatan-perbuatan baik, meskipun ada kesalahan-kesalahan yang menimpa kita. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


491

22 April 2010

Berani Berbuat Kesalahan


Winston Churchill tidak pernah takut membuat kesalahan. Padahal ia seorang pemimpin terkenal Inggris di Perang Dunia II. Karena itu, kalau ada keputusan yang salah, pasti berakibat sangat luas bagi kehidupan manusia. Tetapi Winston tidak takut melakukan kesalahan. Ketika dia membuat kesalahan, dia mencoba menyelesaikannya sekali lagi.

Seseorang pernah bertanya kepadanya, “Tuan Winston, pengalaman apa di sekolah yang paling mempersiapkan Anda, sehingga bisa membawa Inggris keluar dari masa-masa yang paling gelap?”

Dengan bangga, dia menjawab, “Ketika saya menghabiskan waktu dua tahun di kelas yang sama di sekolah lanjutan.”

Orang itu bertanya lagi, “Apakah Anda gagal pada waktu itu?”

Dengan tegas Winston menjawab, “Tidak! Saya memiliki dua kali kesempatan untuk membuatnya benar.”

Banyak orang takut melakukan kesalahan dalam hidup mereka. Orang mudah menyerah pada apa yang mereka rasa gagal. Padahal apa yang kita sebut sebagai kegagalan itu merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk hidup kita.

Orang yang takut melakukan kesalahan biasanya orang-orang tidak kreatif dalam hidup mereka. Mereka adalah orang-orang yang menerima begitu saja apa yang diberikan kepada mereka. Orang seperti ini biasanya hanya menunggu perintah dari atasannya. Kalau mereka disuruh bekerja, baru mereka mau bekerja.

Orang yang tidak takut melakukan kesalahan biasanya orang-orang yang berani melakukan inovasi-inovasi. Biasanya mereka adalah orang-orang yang kreatif dalam hidup mereka. Mereka tidak menunggu diperintah untuk melakukan suatu pekerjaan. Bahkan mereka sendiri biasanya mengambil inisiatif untuk melakukan hal-hal yang kemudian memberikan hasil yang sangat spektakuler.

Biasanya orang yang tidak takut melakukan kesalahan itu orang-orang yang mempunyai keyakinan yang besar akan kuasa Tuhan. Mereka yakin bahwa Tuhan yang mahapengampun dan mahakasih akan mengerti kesalahan-kesalahan yang mereka buat. Karena itu, orang-orang seperti ini biasanya juga memiliki suatu sikap penyerahan yang tinggi kepada Tuhan yang mereka imani.

Bagaimana kita, orang-orang yang beriman kepada Tuhan? Beranikah kita melakukan suatu perbuatan yang besar yang mungkin kita lewati dengan kesalahan-kesalahan? Tuhan tetap setia membantu kita, kalau kita berani melakukan hal-hal baik meski kita mesti lewati dengan kesalahan-kesalahan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


356


Bagikan

06 Januari 2010

Belajar dari Kesalahan


Suatu hari seorang pengusaha sukses diwawancarai oleh wartawan di rumahnya. Wartawan itu bertanya, “Apa rahasia sukses Anda?”

Dengan wajah serius, pengusaha sukses itu menjawab, “Hanya ada dua kata!”

Wartawan itu penasaran. Ia bertanya lagi, “Apa itu, Pak?”

Pengusaha itu menjawab dengan suara tegas, “Keputusan tepat!”

Wartawan itu tidak puas dengan jawaban yang pendek itu. Ia mengejar lagi dengan pertanyaan, “Lalu apa rahasia membuat keputusan yang tepat?”

Pengusaha sukses itu tersenyum. Namun dengan penuh wibawa ia menjawab, “Hanya satu kata.”

Wartawan itu menggeleng-gelengkan kepala. Ia semakin penasaran, mengapa pengusaha suskes itu tidak mau banyak bicara. Lantas ia bertanya lagi, “Apa itu, Pak?”

Dengan suara tegas, pengusaha itu menjawab, “Pengalaman!”

Wartawan itu bertanya lagi, “Lalu apa rahasia mendapatkan banyak pengalaman?”

Penguasa itu tersenyum sinis lalu menjawab, “Hanya dua kata!”

Wartawan itu hampir putus asa. Namun ia tetap mengejar pengusaha itu dengan pertanyaan lagi, “Apa itu?”

Pengusaha itu menjawab dengan mantap, “Keputusan salah!”

Banyak orang takut salah dalam hidup ini. Mereka berusaha untuk menjalani hidup dengan lurus dan benar seratus persen. Padahal untuk mencapai yang lurus dan benar dengan seratus persen itu sering mustahil. Manusia itu makhluk yang terbatas. Keterbatasan itu sering membuat manusia jatuh ke dalam kesalahan.

Orang yang biasanya tidak mau salah dalam hidup adalah orang yang ideal. Orang yang mau menjalani hidup ini di awang-awang. Akibatnya, orang tidak dapat mendarat pada realitas yang ada di dunia ini.

Kisah tadi mau menampilkan sisi yang lain dari kehidupan. Orang yang berani belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya akan menemukan keberhasilan dalam hidup. Ia tidak takut menghadapi realitas hidup yang pahit.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk belajar menggali makna dari kesalahan dalam hidup ini. Orang yang mampu keluar dari kesalahan akan menemukan keberhasilan dalam hidup ini. Tuhan senantiasa memberi kesempatan kepada mereka yang melakukan kesalahan. Untuk itu, orang beriman mesti memiliki penyerahan diri yang mendalam kepada Tuhan. Orang beriman mesti berani mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan akan membantu kalau orang mau berserah diri kepadaNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


285

Bagikan

25 Juli 2009

Semangat menerima sesama yang berdosa

Suatu hari seorang perempuan berdosa mendatangi rumah seorang cendekiawan yang mengundang Yesus ke rumahnya. Seperti orang yang tidak tahu diri, perempuan itu langsung masuk tanpa permisi.

Ia langsung menuju kaki Yesus. Ia merebahkan dirinya di kaki Yesus itu. Ia menangis. Air matanya membasahi kedua telapak kaki Yesus. Lalu ia membersihkannya dengan rambutnya yang panjang terurai. Tidak lama kemudian, ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya.

Cendekiawan kaya itu terkejut menyaksikan peristiwa itu. Ia protes. Kenapa perempuan berdosa itu melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan undangannya yang begitu ia hormati itu? Tetapi Yesus tidak peduli terhadap protesnya. Bahkan Yesus mengingatkannya bahwa ia semestinya telah diberi air untuk membasuh kakinya.

Yesus berkata kepadanya, “Saudaraku, sejak aku datang ke sini, kamu tidak membasuh kakiku. Tetapi lihatlah perempuan ini. Tak henti-hentinya ia membasuh kaki saya dengan air matanya.”

Cendekiawan itu tidak bisa mengerti. Baginya, Yesus telah melakukan suatu kesalahan besar. Yesus telah melanggar adat istiadat bangsanya. Tetapi Yesus tersenyum memandangnya.

Lantas Yesus berkata, “Lihatlah, perempuan ini sudah menyesali dosa-dosanya yang banyak itu. Kita mesti bergembira atas pertobatannya.”

Sering kita menolak kehadiran sesama kita yang kita anggap telah melakukan dosa berat. Mereka yang baru keluar dari penjara, misalnya, tidak mudah kita terima dalam kehidupan kita yang normal. Mengapa bisa terjadi? Karena kita merasa bahwa diri kita bersih dari noda dosa. Padahal setiap manusia tidak lepas dari dosa. Kita semua memiliki dosa.

Karena itu, pantaslah kalau kita menerima semua orang yang datang kepada kita. Kita tidak boleh memilih-milih. Kita mesti menyadari bahwa suatu ketika kita juga akan jatuh ke dalam dosa. Dan di saat seperti itu kita butuh pengampunan dan penerimaan dari sesama yang ada di sekitar kita.

Dosa memang membuat kita merasa terasing dari sesama kita. Dosa menyebabkan kita jauh dari Tuhan dan sesama. Namun selalu ada kesempatan bagi kita untuk kembali ke jalan yang benar. Caranya adalah dengan menyadari dosa-dosa dan bertobat. Ini yang penting dalam hidup kita. Betapa pun besar dosa kita, tetapi kalau kita memiliki kemauan untuk bertobat, kita akan diterima oleh Tuhan.

Sebagai orang beriman, mari kita belajar untuk menerima sesama kita dalam hidup sehari-hari. Kita menciptakan suatu situasi yang baik dan indah, agar mereka yang melakukan kesalahan dan dosa dapat bertobat. Artinya, kita belajar untuk tidak menolak sesama yang jatuh ke dalam dosa dan kesalahan.

Tuhan akan sangat berbahagia melihat ada sesama kita yang berdosa yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Kebahagiaan itu mesti juga menjadi kebahagiaan kita. Mari kita berusaha untuk membawa sesama kepada suasana pertobatan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (99)

16 Juli 2009

Semangat menerima sesama yang berdosa

Suatu hari seorang perempuan berdosa mendatangi rumah seorang cendekiawan yang mengundang Yesus ke rumahnya. Seperti orang yang tidak tahu diri, perempuan itu langsung masuk tanpa permisi.

Ia langsung menuju kaki Yesus. Ia merebahkan dirinya di kaki Yesus itu. Ia menangis. Air matanya membasahi kedua telapak kaki Yesus. Lalu ia membersihkannya dengan rambutnya yang panjang terurai. Tidak lama kemudian, ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya.

Cendekiawan kaya itu terkejut menyaksikan peristiwa itu. Ia protes. Kenapa perempuan berdosa itu melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan undangannya yang begitu ia hormati itu? Tetapi Yesus tidak peduli terhadap protesnya. Bahkan Yesus mengingatkannya bahwa ia semestinya telah diberi air untuk membasuh kakinya.

Yesus berkata kepadanya, “Saudaraku, sejak aku datang ke sini, kamu tidak membasuh kakiku. Tetapi lihatlah perempuan ini. Tak henti-hentinya ia membasuh kaki saya dengan air matanya.”

Cendekiawan itu tidak bisa mengerti. Baginya, Yesus telah melakukan suatu kesalahan besar. Yesus telah melanggar adat istiadat bangsanya. Tetapi Yesus tersenyum memandangnya.

Lantas Yesus berkata, “Lihatlah, perempuan ini sudah menyesali dosa-dosanya yang banyak itu. Kita mesti bergembira atas pertobatannya.”

Sering kita menolak kehadiran sesama kita yang kita anggap telah melakukan dosa berat. Mereka yang baru keluar dari penjara, misalnya, tidak mudah kita terima dalam kehidupan kita yang normal. Mengapa bisa terjadi? Karena kita merasa bahwa diri kita bersih dari noda dosa. Padahal setiap manusia tidak lepas dari dosa. Kita semua memiliki dosa.

Karena itu, pantaslah kalau kita menerima semua orang yang datang kepada kita. Kita tidak boleh memilih-milih. Kita mesti menyadari bahwa suatu ketika kita juga akan jatuh ke dalam dosa. Dan di saat seperti itu kita butuh pengampunan dan penerimaan dari sesama yang ada di sekitar kita.

Dosa memang membuat kita merasa terasing dari sesama kita. Dosa menyebabkan kita jauh dari Tuhan dan sesama. Namun selalu ada kesempatan bagi kita untuk kembali ke jalan yang benar. Caranya adalah dengan menyadari dosa-dosa dan bertobat. Ini yang penting dalam hidup kita. Betapa pun besar dosa kita, tetapi kalau kita memiliki kemauan untuk bertobat, kita akan diterima oleh Tuhan.

Sebagai orang beriman, mari kita belajar untuk menerima sesama kita dalam hidup sehari-hari. Kita menciptakan suatu situasi yang baik dan indah, agar mereka yang melakukan kesalahan dan dosa dapat bertobat. Artinya, kita belajar untuk tidak menolak sesama yang jatuh ke dalam dosa dan kesalahan.

Tuhan akan sangat berbahagia melihat ada sesama kita yang berdosa yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Kebahagiaan itu mesti juga menjadi kebahagiaan kita. Mari kita berusaha untuk membawa sesama kepada suasana pertobatan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (99)

Semangat menerima sesama yang berdosa

Suatu hari seorang perempuan berdosa mendatangi rumah seorang cendekiawan yang mengundang Yesus ke rumahnya. Seperti orang yang tidak tahu diri, perempuan itu langsung masuk tanpa permisi.

Ia langsung menuju kaki Yesus. Ia merebahkan dirinya di kaki Yesus itu. Ia menangis. Air matanya membasahi kedua telapak kaki Yesus. Lalu ia membersihkannya dengan rambutnya yang panjang terurai. Tidak lama kemudian, ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya.

Cendekiawan kaya itu terkejut menyaksikan peristiwa itu. Ia protes. Kenapa perempuan berdosa itu melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan undangannya yang begitu ia hormati itu? Tetapi Yesus tidak peduli terhadap protesnya. Bahkan Yesus mengingatkannya bahwa ia semestinya telah diberi air untuk membasuh kakinya.

Yesus berkata kepadanya, “Saudaraku, sejak aku datang ke sini, kamu tidak membasuh kakiku. Tetapi lihatlah perempuan ini. Tak henti-hentinya ia membasuh kaki saya dengan air matanya.”

Cendekiawan itu tidak bisa mengerti. Baginya, Yesus telah melakukan suatu kesalahan besar. Yesus telah melanggar adat istiadat bangsanya. Tetapi Yesus tersenyum memandangnya.

Lantas Yesus berkata, “Lihatlah, perempuan ini sudah menyesali dosa-dosanya yang banyak itu. Kita mesti bergembira atas pertobatannya.”

Sering kita menolak kehadiran sesama kita yang kita anggap telah melakukan dosa berat. Mereka yang baru keluar dari penjara, misalnya, tidak mudah kita terima dalam kehidupan kita yang normal. Mengapa bisa terjadi? Karena kita merasa bahwa diri kita bersih dari noda dosa. Padahal setiap manusia tidak lepas dari dosa. Kita semua memiliki dosa.

Karena itu, pantaslah kalau kita menerima semua orang yang datang kepada kita. Kita tidak boleh memilih-milih. Kita mesti menyadari bahwa suatu ketika kita juga akan jatuh ke dalam dosa. Dan di saat seperti itu kita butuh pengampunan dan penerimaan dari sesama yang ada di sekitar kita.

Dosa memang membuat kita merasa terasing dari sesama kita. Dosa menyebabkan kita jauh dari Tuhan dan sesama. Namun selalu ada kesempatan bagi kita untuk kembali ke jalan yang benar. Caranya adalah dengan menyadari dosa-dosa dan bertobat. Ini yang penting dalam hidup kita. Betapa pun besar dosa kita, tetapi kalau kita memiliki kemauan untuk bertobat, kita akan diterima oleh Tuhan.

Sebagai orang beriman, mari kita belajar untuk menerima sesama kita dalam hidup sehari-hari. Kita menciptakan suatu situasi yang baik dan indah, agar mereka yang melakukan kesalahan dan dosa dapat bertobat. Artinya, kita belajar untuk tidak menolak sesama yang jatuh ke dalam dosa dan kesalahan.

Tuhan akan sangat berbahagia melihat ada sesama kita yang berdosa yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Kebahagiaan itu mesti juga menjadi kebahagiaan kita. Mari kita berusaha untuk membawa sesama kepada suasana pertobatan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.