Pages

Tampilkan postingan dengan label dosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dosa. Tampilkan semua postingan

01 April 2012

Melepaskan Dosa demi Hidup yang Tenteram

Kalau Anda melakukan dosa dan kesalahan, apa yang akan Anda lakukan? Anda biarkan saja dosa itu di dalam diri Anda? Atau Anda berusaha untuk melepaskan dosa itu untuk hidup yang lebih baik?

Suatu hari dua orang pendosa mendatangi seorang bijaksana untuk meminta nasehatnya. Mereka ingin agar dosa-dosa mereka diampuni. Mereka juga berjanji untuk tidak melakukan lagi dosa-dosa.

Kata mereka kepada orang bijaksana itu, “Kami telah melakukan suatu dosa. Akibatnya, suara hati kami terganggu. Apa yang harus kami lakukan?”

Sambil memandang wajah mereka, orang bijaksana itu berkata, ”Katakanlah kepadaku, perbuatan-perbuatan salah mana yang telah kamu lakukan?”

Pria yang pertama berkata, ”Saya melakukan suatu dosa yang berat dan mematikan.”

Pria yang kedua berkata, ”Saya telah melakukan beberapa dosa ringan, yang tidak perlu dicemaskan."

Orang bijaksana itu berkata, "Baik. Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa yang telah kamu lakukan.”

Mereka pun pergi dengan senang hati. Pria yang pertama kembali dengan memikul sebuah batu yang sangat besar. Pria yang kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil.

Sambil tersenyum, orang bijaksana itu berkata, ”Sekarang, pergilah dan kembalikan semua batu itu tepat di mana kamu telah menemukannya.”

Pria yang pertama mengangkat batu besar itu dan memikulnya kembali ke tempat di mana ia telah mengambilnya. Pria kedua tidak dapat mengingat lagi tempat dari setengah jumlah batu yang telah diambilnya. Ia menyerah saja dan membiarkan batu-batu itu berada di dalam tasnya. Ia berkata, ”Itu pekerjaan yang sulit.”

Sahabat, dosa itu membebani hidup manusia. Dosa membuat hidup mengalami gangguan. Dosa bagai batu yang mengganjal hidup seseorang. Dosa membuat manusia loyo dalam hidupnya. Manusia tidak berdaya, karena banyaknya dosa dalam hidup seseorang. Karena itu, orang mesti melepaskan dosa itu, agar tidak membebani hidup manusia.

Kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa orang mesti berani melepaskan dosa-dosanya untuk mengalami hidup yang lebih baik. Orang mesti menyesal atas dosa-dosanya itu. Namun tidak hanya menyesal. Orang juga mesti melakukan gerakan untuk melepaskan dosa-dosa itu.

Pemuda yang pertama berani melepaskan batu besar atau dosa besarnya itu. Ia tidak peduli betapa sakitnya menghilangkan dosa besarnya itu. Sedangkan pemuda yang kedua tidak berhasil melepaskan semua dosanya, meskipun dosa-dosa itu tampak ringan. Justru ia membawa dosa-dosanya itu ke mana-mana. Akibatnya, dosa-dosa itu mengganggu seluruh proses hidupnya.

Karena itu, kita diajak untuk melepaskan semua dosa yang ada dalam diri kita. Hanya dengan melepaskan semua dosa itu, kita dapat hidup dengan damai dan tenteram. Kita tidak perlu memikul beban dosa kita ke mana pun kita pergi. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih ringan dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

886

09 Oktober 2011

Berlajar untuk Bertobat dari Dosa


Ada seorang pemuda yang punya hobby bermain catur di internet. Hobby itu membuat pemuda itu sangat ketagihan. Tiada satu hari pun ia lewatkan tanpa bermain catur. Setiap waktu luang ia gunakan untuk bermain catur. Bahkan waktu-waktu kerja ia gunakan juga untuk bermain catur di internet. Hasilnya? Pemuda itu merasa puas.

Suatu hari, pemuda itu menyadari kebiasaan buruknya itu. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari ketagihan itu. Namun ia gagal. Ia tetap saja berada di depan komputer untuk bermain catur. Ia berkata, ”Ah, kan hanya sebentar. Tidak lama lagi saya akan berhenti juga.”

Pemuda itu terus-menerus berusaha untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu. Ia mengalami jatuh dan bangun. Sambil memberi alasan-alasan yang menyegarkan dirinya, pemuda itu terus berusaha. Apa yang terjadi kemudian? Suatu hari, ia berusaha untuk tidak membuka permainan catur di internet. Kalau ada godaan untuk main catur, ia mengalihkan ke hal-hal lain. Ia tidak mau membuka permainan catur itu.

Kali ini ia berhasil. Ia melupakan permainan catur. Ia memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya. Keesokan harinya, ia mencoba hal yang sama. Kali ini ia pun berhasil. Hari-hari berikutnya, pemuda itu tidak lagi peduli terhadap permainan catur. Pikirannya terfokus pada pekerjaan-pekerjaannya.

Sahabat, sering manusia berkelit dan berdalih tentang dosa dan kesalahan yang dilakukannya. Manusia tidak mudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang telah dirasakan nikmat. Manusia berusaha untuk mempertahankan kenikmatan itu meski sebenarnya kenikmatan yang dialami itu hanyalah semu. Manusia tetap mau tenggelam dalam kenikmatan dosa.

Namun ternyata orang tidak bisa berlama-lama hidup dalam kenikmatan dosa. Mengapa? Karena kenikmatan dosa itu mengganggu ketenteraman hidup. Orang selalu merasa tidak aman dan nyaman. Dosa menggerogoti kedamaian manusia. Dosa meracuni hidup manusia. Dosa membuat hidup manusia tidak harmonis. Damai sulit tercapai ketika orang hidup di dalam dosa. Mengapa? Karena orang selalu merasa dikejar-kejar oleh dosa itu.

Akibat dari dosa tidak hanya dialami oleh diri sendiri. Akibat dosa juga dialami oleh sesama, karena perbuatan dosa selalu bersifat sosial. Penderitaan akibat dosa juga dialami oleh orang yang tidak melakukan dosa. Misalnya, dosa korupsi dan manipulasi yang dilakukan seorang pejabat berakibat pada kemiskinan bagi rakyat yang dipimpinnya. Anggaran yang semestinya digunakan untuk kebutuhan masyarakat itu digunakan untuk diri sendiri.

Karena itu, orang mesti berusaha menyadari kedosaannya. Caranya adalah dengan berefleksi diri. Ada saatnya orang mesti menukik ke dalam dirinya sendiri. Orang mesti berani mempertanyakan dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya. Dengan demikian, orang mampu berubah dan bertobat. Artinya, orang membuka dirinya untuk rahmat Tuhan yang hadir dalam hidupnya. Bertobat yang sesungguhnya adalah menerima Tuhan dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


801

07 Oktober 2010

Menyingkirkan Dosa dan Kesalahan Kita


Suatu hari kaki seorang anak tertusuk duri. Ia merasa sangat terganggu dengan hadirnya duri di kakinya. Ia berusaha untuk mengeluarkan duri itu. Namun ia tidak berhasil. Soalnya adalah duri itu menancap sangat dalam di kakinya. Kejadian itu memaksa ia tinggal di rumah. Ia tidak bisa pergi ke sekolah. Tambahan lagi suhu tubuhnya pun meningkat. Karena itu, ia mendatangi seorang dokter untuk membantu mengeluarkan duri itu.

Setelah duri itu dikeluarkan, ia merasa enak. Meski masih terasa sakit, ia mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang rutin. Ia bisa pergi ke sekolah dengan senang hati. Ia boleh berkumpul kembali dengan teman-temannya. Ia boleh berlari kian ke mari dengan teman-temannya.

Tentang duri itu, ia berkata, ”Duri itu mesti dikeluarkan dari kaki saya. Kalau tidak, saya bisa lumpuh. Saya sendiri tidak bisa mengeluarkannya dari kaki saya. Saya mesti butuhkan bantuan orang lain untuk mengeluarkan duri tersebut.”

Ia bersyukur duri itu telah keluar dari kakinya. Kalau tidak, ia tidak bisa hidup dengan nyaman dengan duri yang menancap di kakinya.

Sahabat, dalam hidup kita juga ada duri-duri yang menghambat perjalanan hidup kita. Duri-duri itu bisa saja berupa kesalahan dan dosa-dosa kita. Duri itu bisa saja luka batin yang sudah lama kita derita. Karena itu, duri-duri seperti itu mesti kita singkirkan, agar kita dapat bertumbuh dengan baik dan normal. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan hidup kita dengan duri-duri yang tetap menempel dalam hidup kita. Dosa dan kesalahan itu mengganggu pertumbuhan hidup kita baik rohani maupun jasmani.

Menyingkirkan duri-duri itu tidak selalu mudah. Selalu saja ada tantangan-tantangan yang mesti dihadapi. Kalau orang tidak bisa menghadapinya dengan baik, orang akan tetap memiliki duri-duri itu. Orang tidak bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik. Karena itu, kita butuh bantuan orang lain untuk menyingkirkan duri-duri itu. Bantuan orang lain itu akan memudahkan kita dalam usaha-usaha untuk mengatasi halangan-halangan yang ada dalam diri kita.

Dalam kisah tadi anak lelaki itu tidak bisa menyingkirkan duri dari kakinya. Ia butuh bantuan seorang dokter untuk melepaskan duri itu. Ia menyadari bahwa kalau ia mau hidup lebih tenang dan nyaman, ia mesti menyerahkan diri kepada orang lain. Ia tidak boleh memaksakan kekuatannya sendiri yang terbatas itu.

Demikian pula kita. Ketika kita menghadapi penghalang-penghalang, kita butuh bantuan orang lain. Kita sendiri tidak bisa mengatasinya. Kita mesti berani membiarkan orang lain membantu kita. Dengan demikian, dosa dan kesalahan yang ada dalam diri kita dapat kita singkirkan. Mari kita berusaha menyingkirkan duri-duri yang ada dalam diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

518

07 Desember 2009

Tuhan Mau Mengampuni Kesalahan Manusia

Suatu hari seorang pastor terkejut melihat seorang perempuan memasuki rumahnya. Perempuan itu membawa sejumlah pasir yang masih basah oleh air laut. Ia bertanya, “Tahukah pastor apa ini? Tahukah pastor mengapa saya membawa pasir ini ke sini?”

Pastor itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu maksudnya. Ia menatap perempuan dengan pasir di tangannya itu dalam bingung dan diam.

Lantas perempuan itu menjawab sendiri pertanyaannya, “Inilah dosa-dosa saya. Dosa-dosa saya tidak terhitung banyaknya seperti pasir di laut. Bagaimana saya bisa memperoleh pengampunan bagi semua dosa saya?”

Setelah tahu maksudnya, pastor itu tersenyum. Lalu ia berkata, “Sekarang, kembalikan pasir-pasir itu ke pantai. Buatlah gundukan. Lalu duduk dan lihatlah bagaimana ombak datang dan mengikis habis gundukan itu perlahan-lahan tapi pasti. Itulah cara kerjanya pengampunan Tuhan. Belas kasihNYa seluas lautan. Menyesalah sungguh-sungguh, maka Tuhan akan mengampuni engkau.”

Perempuan itu terharu mendengar penjelasan pastor. Ternyata belas kasih Tuhan begitu luar biasa. Dia mengampuni dosa umatNya betapa pun banyak dan besarnya dosa manusia itu.

Ada banyak orang yang merasa bahwa Tuhan akan memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada orang yang melakukan banyak dosa. Mereka beranggapan bahwa Tuhan itu sebagai seorang hakim yang kejam yang selalu menjebloskan para penjahat ke dalam penjara. Karena itu, orang merasa sangat takut kepada Tuhan. Orang yang berdosa tidak berani dekat dengan Tuhan.

Kisah tadi menunjukkan bahwa anggapan seperti itu tidak benar. Ternyata Tuhan begitu baik. Tuhan lebih suka mengampuni daripada menghukum mereka yang bersalah. Tuhan lebih suka memberikan jalan keluar bagi para pendosa daripada menutup belas kasihanNya terhadap orang yang berdosa. Bagi Tuhan, lebih baik satu orang berdosa yang bertobat daripada seribu orang yang menganggap dirinya baik dan suci.

Namun Tuhan juga menuntut dari setiap orang hati yang mau kembali kepadaNya. Rahmat pengampunan baru memiliki daya guna yang kuat, ketika orang yang berdosa mengungkapkan pertobatannya dalam hidup yang nyata. Pertobatan itu tidak hanya kata-kata di mulut. Pertobatan itu mesti ditunjukkan dalam perbuatan sehari-hari. Nah, kalau ini terjadi, maka pengampunan dari Tuhan dapat terwujud dengan baik.

Mari kita hidup baik di hadapan Tuhan dan sesama. Mari kita saling mengampuni, karena Tuhan senantiasa mengampuni dosa-dosa yang kita perbuat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

253

Bagikan

21 Agustus 2009

Usaha Melepaskan Diri dari Dosa



Seorang anak kecil berlari masuk ke dalam rumah setelah bermain-main di tempat becek. Ibunya bertanya kepada anak itu apa yang ada di tangan kanannya. Dengan santai anak itu menjawab, “Bu, yang ada di tangan kananku hanyalah lumpur kotor. Tadi waktu bermain-main tanganku memegang lumpur.”

Ibunya bertanya dengan cara bagaimana anaknya itu akan membersihkan tangannya yang kotor penuh lumpur itu. setelah berpikir sejenak, anak itu menjawab, “Ah, itu gampang. Aku akan pakai tangan kiriku untuk membersihkan tangan kananku yang kotor ini.”

Dengan segera ia melakukan apa yang ia katakan. Tangan kirinya berusaha keras membersihkan tangan kanannya. Tetapi apa yang terjadi? Bukannya bersih, melainkan justru kedua tangannya menjadi kotor oleh lumpur.

Dalam hidup ini banyak orang berpikir dan melakukan hal yang sama yang dilakukan anak kecil itu. Banyak pejabat publik tahu dan sadar bahwa korupsi itu dosa. Manipulasi itu tidak baik. Mereka mengerti kalau mereka melakukan tindakan korupsi, penjara telah menanti kedatangan mereka. Banyak orang tahu dan sadar bahwa menjual, mengedarkan dan menggunakan narkoba itu hukumannya sangat berat. Tetapi mereka masih tetap melakukannya.

Ada prinsip aji mumpung. Mumpung lagi enak dan tidak ketahuan, orang melakukan hal-hal yang tidak senonoh dan jahat. Mereka tahu kalau ketahuan, mereka akan dihukum dengan berat. Tetapi itu tadi, mumpung belum ketahuan, berbuat dulu. Ini kan berarti orang sedang memasukkan diri ke dalam pencobaan. Tahu bahwa di depannya itu ada jurang yang menganga lebar, tetapi orang masih saja nekad untuk terus berjalan.

Hal seperti ini yang mesti diwaspadai. Orang mengatakan bahwa hidup ini adalah trial and error. Orang mesti berani melakukan kesalahan dalam hidupnya untuk sampai pada kebenaran. Tetapi tidak berarti orang boleh memasukkan diri ke dalam kejahatan yang jelas-jelas sudah ada di depan matanya.

Untuk itu, dibutuhkan suatu kesadaran yang terus-menerus tentang makna kehidupan ini. Orang beriman itu mesti berani menghadapi berbagai tantangan dan resiko dalam hidupnya. Tetapi orang beriman itu tidak perlu memasukan diri ke dalam kejahatan. Bahkan orang beriman mesti berusaha untuk keluar dari lingkup kejahatan yang sedang membelenggunya.

Kisah tadi mau menunjukkan kepada kita bahwa kita mesti semakin bijaksana dalam hidup ini. Hidup ini begitu indah. Karena itu, janganlah membuat hidup yang indah ini mubazir. Janganlah membiarkan hidup yang begitu indah ini lenyap begitu saja hanya karena nikmatnya melakukan dosa dan kejahatan.

Dosa itu membuat orang tergiur dan nikmat. Tetapi kenikmatan yang dirasakan itu hanya sesaat. Selebihnya adalah penderitaan yang berkepanjangan. Mari kita berusaha untuk melepaskan diri dari dosa dan kejahatan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

140