Pages

05 Juni 2010

Tidak Berhenti Berjuang



Ada seorang pendaki gunung yang berusaha memaknai hidupnya dari perjuangan yang ia lakukan. Hampir seluruh waktu dalam hidupnya dipakai untuk menaklukkan gunung-gunung yang menjulang tinggi, hanya untuk melihat pemandangan yang indah. Ia pernah mendaki gunung Kilimajaro di Afrika. Ia pernah mendaki Puncak Everest. Ia juga pernah menikmati indahnya salju abadi di Puncak Jaya. Menurutnya, semakinn tinggi gunung yang dia taklukkan, semakin indah pemandangan yang ia dapatkan.

Ketika berada di puncak Kilimanjaro, ia merasa itulah gunung tertinggi yang pernah ia hadapi. Dalam hatinya ada ketakutan, hal yang selalu datang dalam hatinya setiap akan mendaki sebuah gunung. Seperti biasa, ia berusaha menenangkan hatinya. Setelah merasa cukup tenang, ia mulai melangkahkan kaki, selangkah demi selangkah. Mendaki gunung yang akan menghadiahi dia banyak tantangan dengan bekal seadanya.

Tidak terasa, ia sudah mendaki seperempat dari gunung tersebut. Ia melihat sejenak ke belakang, jalan yang sudah ia lalui. Dalam pikirannya, dia berkata, "Ah, masih belum jauh." Sambil terus melangkahkan kakinya. Sampai langkahnya harus terhenti oleh seekor ular yang berjalan di hadapannya. Sesaat ia panik. Ia ingin menghindar. Namun, sedikit gerakan tubuhnya, menyadarkan ular tersebut akan kehadirannya di sekitarnya. Ular tersebut memandang dia yang sedang berusaha tenang. Ternyata ketenangannya akhirnya membuat ular tersebut pergi.

Ia melanjutkan perjalanannya dengan sisa bekal yang masih ada. Ketegangan karena ular tadi cukup membuat ia kehilangan tenaga. Kini ia sampai di posisi tengah dari gunung tersebut. Saat ia sadar akan posisinya, ada ketakutan muncul kembali dalam hatinya. Betapa jauh dan terjalnya jalan yang sudah ia lalui dan yang masih akan dia jalani. Bekal sudah sangat menipis. Ia takut akan mati di tengah jalan. Sesaat kembali ia duduk dan mengumpulkan semangat. Ia kembali pada motivasinya. Setelah yakin, ia kembali melangkah. Dia mulai dapat melihat pemandangan yang indah namun masih buram.

Sampailah ia pada tiga per empat bagian gunung itu. Ada pemandangan yang sangat mengerikan. Terdapat beberapa tulang belulang manusia di sana yang mungkin tewas saat mendaki gunung tersebut. Segera ia membuka bekal. Ia sangat terkejut. Tinggal sepotong roti. Pikirannya terguncang. Ia takut akan kematian. Namun saat memandang ke bawah, ia sadar, sudah terlalu jauh melangkah. Saat memandang sekelilingnya, ia mulai melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat, namun masih buram. Dan saat ia memandang ke atas, dia sadar, tinggal beberapa langkah lagi. Segera ia menghabiskan roti itu, dan dengan tekad bulat memutuskan untuk mendaki gunung tersebut sampai tuntas.

Langkah-langkahnya terus bergantian, walau lelah sudah tak terkatakan lagi. Ia terus berusaha, walau terjatuh beberapa kali. Naik, naik, dan terus naik. Sampai ia melihat sebuah hamparan tanah datar dan ia kembali terjatuh. Jatuh dan tak sanggup untuk bangun lagi. Ia mencoba membuka mata dan melihat pemandangan yang sangat indah dan jelas. Keindahan dunia di bawah sana. Warna-warni yang dihasilkan dengan sangat harmonis oleh alam. Ia sampai di puncak gunung. Gunung tersebut telah takluk. Ia mengucap syukur. Dengan sikap pasrah, ia menyerahkan tubuhnya, menyerahkan kelelahannya pada Sang Pencipta. Dia mati. Mati dalam kepuasan hidup. Mati dalam pengertian akan perjuangan hidup dan warna-warni kehidupan. Debu dan tanah gunung menjadi selimut untuk tidur panjangnya. Eidelways sebagai hiasan dan batu gunung sebagai batu nisannya.

Inilah gambaran kehidupan yang akan, sedang, dan mungkin yang seharusnya kita alami. Kita mesti tetap berusaha walau banyak rintangan yang mesti kita hadapi. Kita mesti yakin pada tujuan hidup kita. Kita mesti percaya bahwa setiap perjuangan akan membawa hasil. Sehingga kita pun dapat menghargai hidup kita dan semakin percaya bahwa Tuhan akan selalu ada dalam hidup kita.

Mari kita bawa seluruh perjuangan hidup kita kepada Tuhan. Suatu perjuangan yang penuh makna. Kita ingin satukan seluruh perjuangan hidup kita hari ini dengan tekad baru yang akan kita bangun di hari-hari mendatang. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com




400
Bagikan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.