Pages

02 Juni 2010

Selalu Ada Pengampunan




Seorang teman saya mengalami suatu pergulatan batin yang luar biasa. Ia sulit sekali mengampuni seorang saudaranya yang pernah menyakiti hatinya. Baginya, lebih baik ia tidak memiliki hubungan persaudaraan lagi dengan saudaranya itu daripada harus mengampuninya. Lebih baik ia tidak memandang wajah saudaranya itu untuk selamanya daripada meluangkan sedetik untuk berdamai kembali.

Suatu hari, ia berkata kepada saya, “Hati saya sangat terluka. Dia telah menghina saya. Masak istri saya dikatakannya sebagai seorang pelacur.”

Teman saya itu memang marah besar. Saudaranya telah bertengkar hebat dengan istrinya dan secara tidak sengaja muncullah kata pelacur dari mulut saudaranya itu. “Memangnya saya ini lelaki murahan? Atau memangnya istri saya itu saya temukan di jalanan?” teman saya itu menggugat saudaranya dengan suara yang tinggi.

Setelah beberapa lama terdiam, saya mulai berbicara. Saya katakan kepadanya bahwa setiap orang bisa kilaf. Setiap orang bisa salah dalam memandang orang lain. Apalagi dalam suasana pertengkaran yang mengundang emosi yang tinggi. Orang tidak menggunakan akal sehat lagi. Apa yang ada di ujung bibir itulah yang terucapkan.

Tetapi teman saya itu tetap ngotot. Dia tidak mau berdamai dengan saudara kandungnya itu. Demi istri, ia rela kehilangan relasi dengan saudaranya. Hatinya memang tegar. Keras seperti batu. Sulit sekali untuk ditembus, bahkan dengan ajaran agama apa pun.

Setiap agama mengajarkan tentang pengampunan. Mengapa ajaran pengampunan ini penting? Ada dua hal. Pertama, karena manusia ini makhluk yang lemah. Manusia itu makhluk yang inconsistent, yang tidak konsisten. Pagi hari dia bisa bilang ini, tetapi siang hari dia sudah mengatakan yang lain. Karena itu, setiap manusia tidak luput dari kesalahan, kekeliruan dan dosa.

Kedua, setiap orang membutuhkan pengampunan dari sesamanya, supaya ia dapat hidup baik di tengah keluarga dan masyarakat. Dengan pengampunan itu, orang berharap bahwa selalu terbuka untuk perbaikan hidup. Orang tidak tetap terpuruk dalam kesalahan, kekeliruan dan dosa itu.

Karena itu, sebagai orang yang beriman, kita diajak untuk senantiasa mengampuni sesama yang melakukan kesalahan, kekeliruan atau berdosa terhadap kita. Kalau kita rela mengampuni, kita akan membuka kesempatan bagi orang yang bersalah itu untuk memperbaiki diri. Ia dapat menyadari dosa, kesalahan dan kekeliruannya lalu dapat memperbaikinya untuk hidupnya sehari-hari.

Setiap hari kita mendapatkan banyak hal baik dari sesama kita. Kita memperoleh pengampunan atas segala dosa, kesalahan dan kekeliruan kita terhadap sesama kita. Maka mari kita bawa semua itu dalam hidup kita. Kita mohon, agar Tuhan yang mahapengasih dan penyayang memberikan pengampunan kepada kita. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

396

Bagikan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.