Pages

Tampilkan postingan dengan label semangat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semangat. Tampilkan semua postingan

02 Oktober 2014

Memberi Semangat kepada Orang yang Dekat

 
Apa yang akan Anda lakukan, kalau bawahan Anda melakukan kesalahan dalam bekerja? Anda diamkan saja? Atau Anda menegurnya sambil memberikan pengarahan kepadanya?

Ada seorang pemimpin yang agak judes. Setiap kali ada anak buahnya yang melakukan kesalahan, ia selalu berkata ketus. Ia tidak peduli apakah kesalahan itu kecil atau besar. Ia tidak punya rasa toleransi. Namun dengan cara itu, para karyawannya belajar untuk bertanggung jawab atas pekerjaan mereka. Para karyawannya menjadi lebih teliti dalam mengerjakan suatu pekerjaan.

Hasilnya sangat mengagumkan. Usaha yang mereka lakukan bersama-sama itu berkembang pesat. Mereka boleh membangun hidup yang lebih baik berkat upah yang mereka peroleh semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hidup para karyawan itu menjadi semakin sejahtera.

Tentang sikapnya itu, pemimpin itu berkata, ”Saya punya cara tersendiri menghadapi kesalahan yang dilakukan oleh para karyawan saya. Memang saya tampak judes, tetapi setelah itu saya membimbing mereka untuk memperbaiki diri. Dengan cara begitu, para karyawan itu tidak merasa dihancurkan. Justru mereka merasa disapa.”

Menurut pengakuan para karyawannya, mereka mendapatkan banyak hal baik dari sikap pemimpin mereka. Memang, ketika mereka melakukan kesalahan, terasa sakit saat ditegur. Namun begitu mendapat bimbingan yang baik dan benar dari pemimpin, mereka berkembang menjadi lebih baik.

Sahabat, tidak setiap pemimpin mempunyai pendekatan yang sama terhadap suatu masalah. Ada pemimpin yang begitu peduli terhadap bawahannya sampai-sampai tidak melihat sedikit pun kesalahan yang dilakukan bawahannya. Pemimpin seperti ini biasanya terlalu percaya kepada bawahannya. Bahayanya, saat bawahannya menipu dirinya, ia tidak menyadarinya.

Namun ada pemimpin yang peduli terhadap pekerjaan bawahannya. Ia tidak hanya memberi tanggung jawab seluas-luasnya kepada bawahannya. Namun ia juga mau mendampingi bawahannya itu saat bekerja. Ketika bawahannya melakukan kesalahan, ia tidak segan-segan menegurnya. Namun teguran itu lebih bersifat mendidik bagi kemajuan usaha dan bawahan tersebut.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa pentingnya pendampingan bagi mereka yang bekerja dengan kita. Sering kita yang menjadi pemimpin kurang mau tahu terhadap para pegawai atau bawahan kita. Kita membiarkan mereka bekerja sesuai dengan kemampuan mereka. Sebenarnya tidak hanya cukup seperti itu. Mereka butuh pendampingan penuh kasih. Mereka butuh perhatian yang memberikan mereka ketenangan dalam hidup.

Karena itu, perhatian terhadap mereka menjadi hal yang utama dalam usaha-usaha kita. Para karyawan itu aset yang sangat penting bagi kemajuan usaha kita. Untuk itu, mereka perlu mendapatkan penyegaran dengan sapaan-sapaan yang menyenangkan hati mereka. Dengan demikian, mereka dapat memiliki semangat untuk terus memacu diri mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

27 Februari 2014

Dengan Iman yang Teguh, Menghadapi Sakit dan Penyakit




Sakit merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tentu saja setiap orang pernah mengalami sakit yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Namun tidak berarti orang menyerah kalah terhadap sakit dan penyakit yang menyerangnya. Berbagai contoh telah memberikan inspirasi bagi manusia untuk berani melawan sakit dan penyakitnya.

Melanie Subono, misalnya, meski berkali-kali menjalani operasi tumor, mengaku tak pernah bersedih. Menurutnya, hidup yang selama ini dia jalani masih jauh beruntung daripada banyak orang lain yang sekadar untuk makan pun susahnya minta ampun.

Perempuan berusia 37 tahun ini berkata, ”Aku masih beruntung meskipun berkali-kali perutku dioperasi. Aku masih bisa kerja, cari duit, dan menikmati hidup ini.”

Terakhir ia baru menjalani operasi pengangkatan tumor Januari 2010 lalu. Melanie bercerita, tumor yang bersarang di perutnya seberat lima kilogram dengan panjang sekitar 30 centimeter.

Tentang tumor satu ini, penyanyi rock ini berkata, ”Awalnya tumor itu hanya satu sentimeter. Anehnya, dalam waktu tiga hari sudah berkembang menjadi 30 sentimeter. Tumor itu kemudian diteliti para ahli.”

Ia berharap, pengalamannya melawan tumor menjadi inspirasi bagi orang lain, agar tidak menyerah ketika berhadapan dengan penyakit yang sulit disembuhkan.

Sahabat, perjuangan tanpa kenal lelah untuk melawan penyakit yang diderita mesti menjadi bagian dari hidup kita. Banyak orang mudah menyerah kalah terhadap penyakit. Mereka pasrah. Mereka membiarkan saja diri mereka digerogoti penyakit. Padahal berbagai cara dapat ditempuh untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Kisah Melanie Subono dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk senantiasa berusaha menghadapi sakit dan penyakit yang menyerang kita. Untuk itu, kita mesti punya keyakinan bahwa setiap penyakit dapat dilawan. Kemampuan dan keyakinan ini mesti ditanam erat-erat dalam diri kita. Dengan demikian, kita tidak hanya pasrah ketika diserang oleh penyakit.

Orang beriman itu orang yang tidak begitu saja menyerah kalah pada penyakit. Orang beriman mesti berani berjuang untuk mengalahkan penyakit yang dideritanya. Tentu saja usaha-usaha itu mesti dilandasi oleh iman akan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan senantiasa menyertai manusia. Tuhan telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk menggunakan berbagai cara dalam mengatasi penyakitnya.

Karena itu, mari kita berusaha terus-menerus untuk menghadapi sakit dan penyakit yang kita derita. Kita berjuang bersama Tuhan. Sambil berjuang, kita pasrahkan hidup kita kepada Tuhan. Dengan demikian, iman kita semakin diperteguh. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1061

01 Februari 2014

Menciptakan Semangat Berjuang



Anda masih punya semangat juang hidup dalam dunia yang serba tidak menentu ini? Saya harap Anda masih punya optimisme yang tinggi untuk menjalani hidup ini.

Kehormatan sebagai pengeliling dunia pertama tunggal dianugerahkan kepada Francis Chichester. Ia hidup dari tahun 1902 hingga 1972. Di tahun 1966, Chichester yang berusia 64 tahun berlayar menggunakan Gipsy Moth IV dengan panjangnya 16 meter dari Inggris.

Sial baginya. Sistim kemudi Gipsy rusak saat berada 3700 kilometer dari Australia. Tapi ia berhasil mencapai Australia. Segera setelah meninggalkan Sydney, Gyspy terbalik. Namun ia berhasil memperbaiki keadaannya. Di sekitar Tanjung Tanduk, Chichester menghadapi gelombang setinggi 15 meter. Dia berhasil mengendalikan Gyspynya. Chichester bukan tipe orang yang cepat menyerah.

Tahun 1960 dia adalah pemenang lomba melintasi atlantik dengan hanya menggunakan satu tangan. Dia juga orang pertama yang melakukan penerbangan tunggal jarak jauh dengan menggunakan pesawat terbang air dari Inggris ke Australia. Pada tanggal 28 Mei 1967, setelah 226 hari berlayar di laut lepas, dia disambut oleh setengah juta orang di Plymouth, Inggris.

Sahabat, suatu kerja keras tanpa menyerah akan membuahkan hasil yang berlimpah bagi kehidupan. Namun suatu kerja keras tanpa konsistensi belum tentu menghasilkan buah yang baik. Konsistensi itu semangat yang memotivasi kerja keras manusia. Konsistensi itu bagai mesin penggerak yang menggerakkan kendaraan untuk dapat berlari.

Karena itu, orang tidak hanya sekedar bekerja keras. Orang mesti menemukan semangat hidup yang memberi konsistensi dalam kerja kerasnya itu. Orang beriman akan menemukan semangat itu di dalam Tuhan. Mengapa? Karena bagi orang beriman, Tuhanlah sumber inspirasi hidup. Tuhan memberi kekuatan kepada manusia untuk memiliki semangat dalam mengerjakan sesuatu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa sang pengembara itu memiliki semangat hidup yang tinggi. Ia tidak menyerah begitu ada tantangan yang besar yang menghadang hidupnya. Ia terus-menerus berusaha. Ketika kapal yang dikendalikannya dihempas gelombang yang tinggi, ia tetap berusaha untuk mengatasinya. Ia tidak putus asa. Berkat kerja kerasnya itu, ia mengalami kegembiraan. Tentu saja Chichester memiliki konsistensi dalam perjuangannya mengarungi lautan luas.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memiliki konsistensi dalam hidup beriman. Konsistensi itu bisa dalam bentuk kesetiaan atau kejujuran. Orang yang bertahan dalam kesetiaan akan menemukan semangat untuk tetap berjuang. Tidak ada keputusasaan dalam dirinya. Orang terus berusaha, karena memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu akan menghasilkan buah-buah kebaikan bagi hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk memiliki semangat yang memberi kita kekuatan untuk tetap bertahan dalam iman kita. Kita juga mohon bantuan dari Tuhan, agar kita tetap setia pada iman kita masing-masing. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih berguna bagi diri kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1040

08 Februari 2012

Menumbuhkan Semangat Memberi dalam Hidup

Apa yang terjadi dalam hidup Anda, kalau Anda memberikan apa yang Anda miliki untuk sesama Anda? Anda merasa kehilangan? Atau Anda merasa Anda menjadi orang yang lebih kaya?

Ada seorang pemuda yang biasa memberi sesuatu kepada teman-temannya. Di saat teman-temannya mengalami kesulitan dalam hidup, ia mengulurkan tangan membantu mereka. Bagi pemuda itu, ia lakukan hal seperti itu sejak ia masih kecil. Orangtuanya selalu mengajarkan kepadanya untuk memberi sesuatu atau bantuan kepada orang lain. Dengan memberi, ia mengalami sukacita dalam hidupnya.

Ia berkata, “Memberi itu membuat saya lebih kaya. Saya punya banyak teman. Saya tidak kehilangan sesuatu pun dalam hidup ini. Bahkan saya mendapatkan banyak hal untuk hidup saya.”

Tentu saja semangat memberi itu sudah menjadi bagian dari hidup pemuda itu. Ia merasakan sakit hatinya saat ia tidak bisa mengulurkan tangannya untuk membantu sesamanya. Ia mengaku, ia pernah tidak bisa tidur semalam suntuk karena tidak bisa membantu temannya.

Meski pemuda itu bukan orang yang kaya, ia selalu berusaha memberikan apa yang dia punyai untuk sesamanya yang membutuhkan. Ia bersyukur memiliki semangat untuk memberi. Dengan cara itu, ia merasakan hidup ini semakin berguna bagi orang lain. Ia boleh mengungkapkan dalam kata dan perbuatan kasihnya kepada sesamanya.

Sahabat, sudahkah Anda memberi sesuatu kepada sesama Anda hari ini? Atau Anda malah menuntut orang lain untuk memberi Anda sesuatu yang Anda butuhkan? Kalau hal kedua ini yang menjadi semangat Anda, lalu Anda akan selalu merasa tidak punya apa-apa. Di saat Anda memberi, Anda akan merasakan ada sesuatu yang hilang dari diri Anda.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa memberi itu menjadi suatu semangat yang menjadi bagian dalam hidup kita. Semangat memberi mesti menjadi hidup kita. Orang yang rela memberikan apa yang dimiliki bagi sesamanya akan mendapatkan banyak hal bagi hidupnya. Ia tidak perlu cemas akan hari depannya. Ia tidak perlu kuatir akan kehilangan apa yang ia berikan itu.

Namun banyak orang tidak suka memberi. Mereka mengira bahwa dengan memberi itu mereka kehilangan banyak hal. Ada yang berprinsip bahwa ia baru mau memberi ketika ia sudah menjadi kaya. Dalam hal ini orang mesti hati-hati. Mengapa? Semangat memberi itu tidak datang dengan tiba-tiba. Semangat memberi itu dapat hadir dalam diri orang berkat kebiasaan memberi yang terus-menerus.

Pemberian yang bernilai tinggi terjadi kita memberikan diri kita bagi kebahagiaan sesama kita. Artinya, di saat situasi menuntut pengorbanan dari diri kita, kita mesti berani memberikan diri kita untuk sesama kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih bermakna. Mari kita memberi. Hanya dengan memberi, kita akan mendapatkan banyak hal untuk kehidupan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

868

22 Maret 2011

Berusaha Menciptakan Semangat Berjuang

Kehormatan sebagai pengeliling dunia pertama tunggal dianugerahkan kepada Francis Chichester. Ia hidup dari tahun 1902 hingga 1972. Di tahun 1966, Chichester yang berusia 64 tahun berlayar menggunakan Gipsy Moth IV dengan panjangnya 16 meter dari Inggris.

Sial baginya. Sistim kemudi Gipsy rusak saat berada 3700 kilometer dari Australia. Tapi ia berhasil mencapai Australia. Segera setelah meninggalkan Sydney, Gyspy terbalik. Namun ia berhasil memperbaiki keadaannya. Di sekitar Tanjung Tanduk, Chichester menghadapi gelombang setinggi 15 meter. Dia berhasil mengendalikan Gyspynya. Chichester bukan tipe orang yang cepat menyerah.

Tahun 1960 dia adalah pemenang lomba melintasi atlantik dengan hanya menggunakan satu tangan. Dia juga orang pertama yang melakukan penerbangan tunggal jarak jauh dengan menggunakan pesawat terbang air dari Inggris ke Australia. Pada tanggal 28 Mei 1967, setelah 226 hari berlayar di laut lepas, dia disambut oleh setengah juta orang di Plymouth, Inggris.

Sahabat, suatu kerja keras tanpa menyerah akan membuahkan hasil yang berlimpah bagi kehidupan. Namun suatu kerja keras tanpa konsistensi belum tentu menghasilkan buah yang baik. Konsistensi itu semangat yang memotivasi kerja keras manusia. Konsistensi itu bagai mesin penggerak yang menggerakkan kendaraan untuk dapat berlari.

Karena itu, orang tidak hanya sekedar bekerja keras. Orang mesti menemukan semangat hidup yang memberi konsistensi dalam kerja kerasnya itu. Orang beriman akan menemukan semangat itu di dalam Tuhan. Mengapa? Karena bagi orang beriman, Tuhanlah sumber inspirasi hidup. Tuhan memberi kekuatan kepada manusia untuk memiliki semangat dalam mengerjakan sesuatu.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa sang pengembara itu memiliki semangat hidup yang tinggi. Ia tidak menyerah begitu ada tantangan yang besar yang menghadang hidupnya. Ia terus-menerus berusaha. Ketika kapal yang dikendalikannya dihempas gelombang yang tinggi, ia tetap berusaha untuk mengatasinya. Ia tidak putus asa. Berkat kerja kerasnya itu, ia mengalami kegembiraan. Tentu saja Chichester memiliki konsistensi dalam perjuangannya mengarungi lautan luas.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memiliki konsistensi dalam hidup beriman. Konsistensi itu bisa dalam bentuk kesetiaan atau kejujuran. Orang yang bertahan dalam kesetiaan akan menemukan semangat untuk tetap berjuang. Tidak ada keputusasaan dalam dirinya. Orang terus berusaha, karena memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu akan menghasilkan buah-buah kebaikan bagi hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk memiliki semangat yang memberi kita kekuatan untuk tetap bertahan dalam iman kita. Kita juga mohon bantuan dari Tuhan, agar kita tetap setia pada iman kita masing-masing. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih berguna bagi diri kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang

638

08 Maret 2011

Istirahat untuk Menemukan Semangat Baru


Kurang tidur bisa berakibat fatal, jika dibiarkan jadi kebiasaan. Remaja yang jumlah jam tidurnya sangat sedikit cenderung depresi bahkan punya pikiran ingin bunuh diri. Inilah hasil analisa terhadap 15.000 partisipan dan orang tua di Amerika Serikat.

Peneliti menemukan setengah remaja atau orang dewasa tidur di atas jam 10 malam. Bahkan tiga perempatnya dibiarkan tidur di atas tengah malam. Dalam Journal Sleep disebutkan bahwa hampir 24 persen remaja yang kurang tidur mengalami depresi dan seperlimanya punya pikiran untuk bunuh diri.

James Gangwisch dari Columbia University berkata, ”Hasil studi ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa kurang tidur merupakan faktor pemicu depresi. Padahal kualitas tidur yang cukup bisa mencegah dari berbagai penyakit.”

Menurut Gangwisch, kecukupan tidur akan mempengaruhi bagaimana otak merespons sesuatu dan menangani stress. Kurang tidur juga akan mempengaruhi pengambilan keputusan dan tingkat konsentrasi. Studi yang dirilis oleh American Academy of Sleep Medicine menyarankan, agar remaja tidur sebanyak 8 jam setiap malamnya.

Gangwisch berkata, ”Masalahnya adalah lingkungan saat ini sudah berubah. Remaja sekarang lebih banyak terpapar lampu terang, play station, TV dan komputer yang membuat produksi hormon melatonin (hormon ngantuk yang muncul saat gelap) terhenti dan akibatnya seseorang akan lebih susah tidur. Belum lagi dengan aktivitas menelepon dan SMS-an yang sering dilakukan remaja sampai larut malam.”

Sahabat, sudah cukupkah tidur Anda? Tidur merupakan bagian yang tidak boleh dpisahkan dari hidup manusia. Sekuat-kuatnya seseorang, orang tetap membutuhkan saat untuk beristirahat. Orang mesti berani mengambil waktu untuk mengistirahatkan raganya yang capek. Orang tidak boleh membiarkan tubuhnya yang capek itu terus larut dalam kelelahan. Itu namanya penyiksaan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada orang yang menyepelekan tidur. Tujuannya adalah agar orang dapat meraih hasil kerja yang maksimal. Orang berani mengorbankan waktu istirahatnya untuk tujuan ini. Tentu saja hal ini berbahaya bagi hidup seseorang. Akibatnya akan fatal bagi kelanjutan hidup. Mengapa? Karena tubuh yang lemas menyebabkan orang tidak bisa terus-menerus bertahan dalam kegiatan-kegiatan hariannya. Kondisi tubuh yang lemah juga memudahkan berbagai penyakit datang bersarang di dalam tubuh seseorang.

Hasil penelitian tadi merupakan salah satu efek dari kurangnya waktu istirahat bagi tubuh kita. Karena itu, orang mesti menyadari sungguh-sungguh bahwa tubuh manusia membutuhkan waktu untuk istirahat. Istirahat berarti orang mau menimba kekuatan baru bagi hidupnya. Orang menemukan kembali semangat yang hilang oleh kegiatan-kegiatannya sepanjang hari.

Mari kita mengambil waktu untuk istirahat untuk memulihkan kembali jiwa dan raga kita. Dengan demikian, kita memiliki semangat dan kekuatan baru untuk memulai hari yang baru. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


627

16 Mei 2010

Menimba Semangat Juang


Suatu hari seorang anak muda mendatangi seorang seniman terkenal yang telah menghasilkan jendela-jendela kaca yang sangat indah. Ia ingin belajar pada seniman itu untuk melukis di atas kaca. Ia merasa dirinya memiliki bakat di bidang seni lukis. Setiap hari ia belajar di tempat seniman itu. Seniman itu dengan sabar membimbing anak muda itu.

Suatu ketika ia merasa penasaran, mengapa ia tidak bisa melukis seindah seniman itu. Lalu dia meminjam alat-alat yang digunakan oleh gurunya. Ia berpikir, jangan-jangan alat-alat itu yang membuat seniman itu tidak bisa disamainya. Dia berpikir, dengan meminjam alat-alat itu dia akan menjadi sama dengan gurunya.

Anak muda itu mulai melukis dengan alat-alat gurunya. Namun hasilnya masih jauh dari yang ia harapkan. Ia merasa kesal. Ia kecewa. Lalu dia mendatangi gurunya dan berkata, “Saya tidak dapat melukis lebih baik meski menggunakan alat-alat guru.”

Seniman itu menjawab, “Bukan alat-alat itu yang engkau butuhkan. Yang engkau butuhkan sekarang ialah semangat gurumu.”

Anak muda itu tertegun. Ia menyadari semangat gurunya belum ia transfer ke dalam dirinya. Ia masih memiliki semangat lama, semangat dari dirinya sendiri. Karena itu, semangatnya itu mesti diganti dengan semangat gurunya. Dengan demikian dia dapat melukis lebih baik lagi, bahkan kalau bisa lebih indah daripada gurunya.

Yang kita butuhkan dalam perjalanan hidup kita adalah semangat dari orang yang kita ikuti. Banyak anak muda di jaman kini mengikuti suatu trend tertentu. Misalnya, model rambut atau pakaian. Seringkali yang terjadi adalah mereka cepat bosan. Mereka merasa itu bukan dari diri mereka sendiri. Karena itu, mereka suka gonta-ganti model rambut atau pakaian. Trend itu ternyata hanyalah suatu tempelan, bukan menjadi semangat hidup.

Atau banyak anak muda yang mengikuti gaya para bintang olahraga tertentu. Mereka cepat bosan juga karena mereka tidak bisa mentransfer nilai-nilai baik yang dihidupi oleh bintang-bintang itu. Seseorang menjadi bintang lapangan hijau itu setelah melalui suatu perjuangan yang panjang. Ia mesti latihan setiap hari sepuluh jam, misalnya. Ia hidup secara teratur. Tidak begadang hingga larut malam. Nah, anak-anak muda lupa akan hal ini. Yang mereka tiru adalah gaya bintang di lapangan hijau itu. Mereka tidak menimba semangat juangnya. Karena itu, banyak anak muda menjadi stress karena tidak bisa menyamai bintang yang mereka idolakan.

Mari kita timba semangat juang, kesabaran, keuletan dan keberanian dari sesama yang kita jumpai. Setiap hari kita berjuang untuk meraih keinginan-keinginan kita. Mari kita memetik semangat juang dari sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

379


Bagikan

15 Februari 2010

Memberi Semangat kepada Orang Lain

Di suatu Tahun Baru, seorang milyoner menghadapi suatu tragedi yang mengerikan. Milyoner yang bangga karena tidak pernah memberi tips bagi setiap pelayanan itu kehilangan kepala akuntannya. Akuntannya itu bunuh diri dengan minum racun maut. Padahal selama tiga puluh tahun bekerja dengan milyoner itu, tidak ada masalah antara mereka. Laporan keuangan selalu ia buat dengan sangat baik. Tidak ada keanehan apa-apa pada laporan keuangan itu.

Bahkan laporan keuangan itu teratur secara sangat rapi dan sempurna. Akuntan itu seorang yang sangat jujur. Ia tidak pernah membuat rekayasa-rekayasa dalam membuat laporan keuangan. Ia juga seorang yang sangat pendiam. Satu-satunya surat yang ditinggalkan akuntan itu hanyalah surat pendek yang ditujukan kepada milyoner itu.

Isi suratnya adalah “Selama tiga puluh tahun bekerja, saya tidak pernah mendapat dorongan semangat satu kata pun. Saya bosan!”

Setelah membaca surat singkat itu, milyoner itu sangat terkejut. Ternyata apa yang ia perlihatkan selama ini tidak selalu menyenangkan semua pegawainya.

Memberikan motivasi kepada orang lain itu sangat berguna. Orang akan melihat sesuatu yang memberi semangat itu sebagai suatu kekuatan dalam usaha-usaha mengembangkan diri. Ada orang mengatakan bahwa salah satu yang membentuk keahlian seseorang itu adalah adanya motivasi dari luar diri. Motivasi yang diberikan oleh seorang pemimpin itu ternyata memberikan kekuatan dalam diri seseorang untuk mengembangkan keahliannya.

Kisah di atas menunjukkan bahwa seorang yang ahli itu masih membutuhkan semangat dari pemimpinnya. Ada berbagai bentuk semangat yang bisa diberikan. Misalnya, pujian atau ucapan terima kasih atas apa yang telah dibuat. Atau bisa juga dalam bentuk hadiah atas suatu prestasi yang telah ditunjukkan.

Bentuk-bentuk semangat ini diberikan tanpa biaya yang tinggi. Tetapi orang yang menerima penghargaan itu akan sangat bergembira. Ia merasa bahwa apa yang ia buat itu membahagiakan orang lain. Apa yang ia lakukan itu ternyata berkenan di hati pemimpinnya. Dalam kondisi seperti ini semangat untuk bekerja akan semakin kuat. Semangat untuk meningkatkan kemampuannya akan dikembangkan terus-menerus tanpa diperintah oleh orang lain.

Sering kali kita menganggap remeh pujian yang kita berikan kepada orang lain. Atau kita menganggap biasa ucapan terima kasih yang kita tujukan kepada orang lain. Namun pujian atau terima kasih itu sangat bernilai bagi yang menerima. Karena itu, baiklah kita senantiasa memberi pujian dan ucapan terima kasih kepada mereka yang bekerja dengan kita siapa pun mereka. Kalau Anda punya pembantu yang baik, berilah pujian kepadanya setelah ia melakukan pekerjaannya dengan baik. Ucapkanlah terima kasih untuknya. Hal-hal ini akan membantunya untuk meningkatkan kinerjanya dalam pekerjaannya.

Sebagai orang beriman, mari kita saling memberi semangat agar hidup ini semakin bermakna. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

323


Bagikan

28 Desember 2009

Membangun Semangat Disiplin


Suatu pagi, di perempatan jalan besar, berdirilah seorang polisi muda yang sedang bertugas mengawasi lalu lintas. Perempatan jalan itu memang ramai karena segala jenis kendaraan melewatinya. Becak, sepeda, taksi, bus kota, dan pejalan kaki berlalu lalang di sana.

Ketika lampu merah menyala, ada sebuah mobil sedan yang menerobos melanggarnya. Secara spontan, polisi muda itu membunyikan peluit. Mula-mula pengendara sedan itu tampaknya mau meneruskan jalannya. Tetapi polisi muda membunyikan peluitnya lebih keras sambil mendekat ke arah sedan. Akhirnya, sedan itu berhenti di tepi jalan.

Polisi muda itu mendekatinya dan dengan sopan meminta pengendara sedan itu untuk menunjukkan SIMnya. Ternyata, pengendara sedan itu adalah seorang perwira tinggi polisi yang berpakaian sipil, atasan polisi muda itu.

Pengendara sedan itu kelihatan tidak senang. Karena itu, dengan kasar ia menyerahkan SIM-nya. Polisi muda itu kemudian menerima SIM itu dan menuliskan sesuatu pada selembar kertas. Pengendara sedan itu kemudian berkata, "Suatu saat nanti jika Anda naik pangkat, mungkin sayalah yang akan menandatangani Surat Keputusannya."

Tanpa takut-takut dan dengan amat sopan, polisi muda itu lalu mengembalikan SIM kepada pengendara sedan itu bersama Surat Bukti Pelanggaran Lalulintas. Ia berkata, "Jika hal itu terjadi, ingatlah, Pak, bahwa di antara anak buah Bapak ada seorang polisi muda yang dapat diandalkan kerjanya. Selamat pagi dan selamat jalan."

Sering dalam hidup ini kita berhadapan dengan persoalan-persoalan yang pelik. Salah satunya adalah kedisiplinan di jalan raya. Ada begitu banyak kecelakaan yang terjadi di jalan raya disebabkan oleh rendahnya kedisiplinan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Banyak alasan dapat dikemukakan. Namun satu hal yang pasti adalah orang merasa diri sebagai orang yang terlalu penting di dunia ini. Orang merasa bahwa melanggar disiplin itu bukan suatu malapetaka. Padahal jelas banyak terjadi kecelakaan di jalan raya karena rendahnya kedisiplinan itu.

Sebenarnya, kalau orang menyadari pentingnya kedisiplinan dalam hidup ini akan merasakan keuntungan yang besar. Hidupnya akan menjadi lebih teratur. Ia tidak perlu hidup dalam kesemrawutan.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kehidupan bersama menjadi suatu berkat bagi banyak orang. Untuk itu, kita mesti meningkatkan kedisiplinan dalam hidup ini. Kalau kita disiplin dalam hidup ini, kita juga yang akan menikmatinya. Bukan siapa-siapa. Kita sendiri yang akan menemukan kebahagiaan dalam keteraturan hiup itu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



274

Bagikan

26 Desember 2009

Semangat Berserah Diri



Nicky Cruz adalah seorang pemuda brandal dari Puerto Rico. Ia melarikan diri dari rumah dan mencari kehidupannya sendiri. Suatu hari ia tiba di Brooklyn, New York. Ia bergabung dengan geng Brooklyn yang terkenal sangat menakutkan.

Kepada teman-temannya ia berkata, “Aku akan lari lagi sampai jauh sekali, sehingga tak seorang pun akan membawaku kembali.”

Sebenarnya ia melarikan diri sebagai upaya menemukan jati diri. Namun ia terdampar di kehidupan bengis geng Brooklyn itu. Ia ingin menyesali hidupnya, namun ia terlanjur masuk ke dalam geng itu. Apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur.

Suatu ketika ia berjumpa dengan David Wilkerson yang berkata, “Nicky, kelak kau akan berhenti berlari dan kau akan berlari kepada Tuhan. Kau akan menyerahkan hidupmu kepada Tuhan.”

Dalam buku Tuhan di Sarang Penyamun yang berisi kesaksiannya saat melayani para anak berandal yang dipimpin oleh Nicky Cruz, David Wilkerson berkisah bahwa pemuda ini semula sangat melecehkan dirinya yang mencoba menawarkan kasih Tuhan kepada semua orang berdosa, termasuk Nicky Cruz. Namun, karena kegigihan hati David Wilkerson yang didorong oleh kasih yang besar kepada anak-anak jalanan, keangkuhan Nicky pun runtuh.

Pentolan pemuda berandal yang biasa hidup seenaknya dengan menghalalkan segala cara itu bertobat. Nicky yang semula ingin berlari menjauhi segala hal yang bersifat Ilahi itu telah menghentikan pelariannya. Ia meninggalkan segala cara hidup lama dan menjadi partner David Wilkerson untuk melayani anak-anak berandal lainnya.

Kita kadang-kadang mengambil jalan kita sendiri. Kita tidak peduli bahwa ada jalan lurus yang indah bagi hidup kita. Kita lebih memilih jalan lain yang menurut kita baik. Padahal jalan yang kita pilih itu hanyalah pelarian diri kita. Kita ingin menemukan kebahagiaan semu saja.

Ketika kita mengalami jalan buntu, lalu kita kembali ke jalan Tuhan yang selalu menyediakan banyak hal yang baik bagi hidup kita. Ada banyak hal yang baik yang sangat berguna bagi kita yang ditawarkan oleh Tuhan kepada kita. Karena itu, kita mesti dengan penuh kerendahan hati kembali kepada Tuhan yang telah memberi kehidupan ini kepada kita.

Sebagai orang beriman, kita mesti selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Hanya dengan cara ini kita akan menemukan kebahagiaan yang kita dambakan. Ketenangan akan kita temukan dalam hidup kita. Untuk itu, kita mesti berserah diri kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com




Bagikan

05 November 2009

Memupuk Semangat yang Baik

Dua hal yang berbeda terlihat di Yangon, Myanmar, pada awal Mei 2008 lalu jika dibangdingkan dengan September 2007 lalu. Belakangan ini lebih banyak terlihat biksu di jalan-jalan dibandingkan tentara dan polisi. Bertolak belakang dengan kondisi September 2007 lalu.

Seorang ibu di Yangon berkata, “Kami kini bersama biksu membersihkan jalan-jalan. Jelas, kami berharap penguasa membantu, tetapi mereka tak pernah muncul. Para biksu datang begitu topan mereda, membantu membersihkan pohon dari jalanan.”

Awal Mei 2008 itu Myanmar dilanda Topan Margis yang ganas. Topan itu menelan korban jiwa hingga tiga puluh ribu orang. Begitu banyak harta benda pula yang hilang. Banyak orang yang selamat mengalami penderitaan yang luar biasa.

Biksu dengan jubah merah marun di Myanmar merupakan hal yang lumrah. Sekitar 90 persen dari 55 juta penduduk Myanmar pemeluk Budha. Ada sekitar 500.000 biksu di seluruh Myanmar. September tahun 2007 lalu, para biksu muncul di jalan-jalan kota Yangon untuk memprotes rejim militer yang kejam. Protes mereka itu mengakibatkan pemerintah berkuasa Myanmar mengambil langkah tegas. Akibatnya, 31 orang tewas, termasuk para biksu.

Awal Mei 2008 lalu mereka muncul lagi. Bukan untuk demonstrasi tetapi untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap penderitaan rakyat. Mereka membantu rakyat yang mengalami musibah Topan Margis. Regim militer tidak mengirim tentara atau polisi untuk membantu rakyat yang menderita.

Perjuangan dari orang-orang yang tulus berjuang untuk kepentingan sesama biasanya tidak berhenti setelah suatu cita-cita tercapai. Perjuangan itu akan diteruskan hingga tuntas. Dan biasanya perjuangan seperti ini tidak pernah berakhir. Mengapa? Karena selalu saja ada persoalan yang muncul dalam hidup manusia. Tentu saja suatu perjuangan akan berhasil, kalau perjuangan itu memiliki roh atau semangat yang baik.

Dalam hidup ini kita butuh roh atau semangat yang baik yang dapat menjadi starting point bagi kita untuk berjuang bagi kehidupan manusia. Semangat yang baik itu mesti dipelihara terus-menerus dalam hidup ini. Itulah yang akan memberi kekuatan kepada kita semua untuk tetap bertahan dalam perjuangan kita.

Seorang tokoh pernah berkata bahwa kita tidak akan pernah selesai berjuang dalam hidup ini. Perjuangan yang satu menelurkan perjuangan berikutnya. Karena itu, mari kita menanamkan semangat hidup dalam diri kita. Dengan demikian perjuangan kita untuk kehidupan tidak akan pernah berakhir. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


217

12 September 2009

Tetap Memiliki Semangat Berusaha




Masa kecil Walt Disney ternyata tidak seceria kisah-kisah kartun yang digagasnya. Elias, ayahnya, sering gonta-ganti pekerjaan, tetapi lebih banyak gagalnya sehingga ekonomi keluarga mereka morat-marit. Selain itu, ayahnya pelit menunjukkan kasih sayang, sehingga anak-anaknya segera meninggalkan dia begitu mendapat kesempatan.

Si bungsu Walt Disney juga demikian. Ketika berusia 16 tahun, ia bergabung dengan Korps Ambulans Palang Merah selama Perang Dunia Pertama. Ia juga sempat bekerja di redaksi surat kabar, tetapi ia dipecat karena dianggap kurang kreatif. Kemudian, ia menjadi artis komersial di Kansas City, USA. Di sinilah ia mulai mengenal animasi. Antara 1926-1928 Disney memproduksi serial kartun Oswald the Rabbit untuk Universal Pictures.

Pada awal 1928, Disney mulai memperkenalkan tokoh kartunnya yang paling populer, Mickey Mouse, dalam film kartun Plane Crazy. Mickey Mouse mendapat banyak pujian karena dipandang menggambarkan semangat Amerika yang tidak pernah menyerah.

Tahun 30-an, Disney merangkul Technicolor untuk membuat film berwarna. Film berwarna pertama Disney adalah Flowers and Trees (1932). Meskipun ia bukan pembuat film animasi yang baik, ia membuktikan dirinya sebagai pembuat lelucon dan penyunting cerita kelas wahid. Dengan anggota tim artis-artis muda yang bersemangat, tim Disney berkembang dalam teknik dan ekspresi.

Film panjangnya yang pertama, Snow White and Seven Dwarfs, semula diragukan banyak orang karena dianggap naif dan sentimentil. Namun, ternyata publik menerima film ini dengan baik. Sampai berpuluh-puluh tahun kemudian, film ini terus ditonton orang. Disney terus melakukan eksplorasi teknik dalam film-film berikutnya. Dua filmnya: Pinochio yang gelap dan brilian dan Fantasia yang ambisius sangat kaya dengan inovasi teknik.

Perjuangan Walt Disney dalam kisah di atas sangat menarik. Ia tidak mau menyerah begitu saja pada keadaan. Ia berusaha bangkit dari kegagalan hidupnya. Satu hal yang juga menarik adalah ia tidak mau menyalahkan siapa-siapa dalam hidupnya. Ia berusaha untuk menerima kenyataan hidupnya dan berusaha memperbaiki hidupnya.

Hanya dengan cara seperti inilah orang akan mampu bangkit dari keterpurukan hidupnya. Untuk itu, orang mesti belajar terus-menerus untuk memperbaiki hidupnya. Orang tidak boleh berhenti melakukan inovasi dalam hidupnya.

Banyak rintangan dan tantangan yang kita hadapi dalam dunia ini. Apalagi di jaman serba sulit seperti sekarang ini. Apapun rintangan dan tantangan yang kita hadapi, kita mesti tetap berusaha untuk berjuang terus. Hanya dengan cara ini, kita akan menemukan kebahagiaan dalam hidup kita. Tuhan senang pada orang yang berani untuk menghadapi rintangan dan tantangan.

Namun Tuhan tidak pernah tinggal diam. Tuhan selalu membantu umat-Nya. Tuhan tidak pernah melupakan umatNya berjuang sendiri. Ia akan selalu membantu umatNya. Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti menanamkan dalam diri kita bahwa berusaha terus-menerus bersama Tuhan akan membahagiakan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. 164