Pages

27 Juni 2014

Berjuang dengan Tekun demi Hasil Yang Spektakuler



Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda mesti berhadapan dengan kekurangan dan kesulitan? Anda menyerah? Atau Anda berjuang terus dengan menemukan berbagai cara?

Tangan kanan Paul Wittgenstein tertembak saat Perang Dunia I. Padahal ia sangat membutuhkan tangan itu untuk bermain piano. Tangan kanan itu mesti diamputasi. Ia sangat mengalami depresi. Ia hampir putus asa.

Namun Paul Wittgenstein kemudian bangkit. Ia mulai belajar memainkan piano dengan menggunakan tangan kirinya. Selama menjadi tahanan Rusia, ia belajar menggunakan daya ingat di otaknya. Sesudah Perang Dunia I, ia belajar secara intensif memainkan piano dengan tangan kirinya.

Pria kelahiran Austria ini meneruskan perjalanan hidupnya dengan penuh semangat. Ia mengadakan konser di berbagai tempat terkenal. Dalam waktu singkat, ia menjadi seorang pianis kenamaan yang bermain dengan satu tangan, yaitu tangan kiri. Ia meminta para komposer terkenal untuk membuatkan lagu-lagu yang kemudian dimainkannya dengan sangat indah. Ia sangat dihormati oleh para penggemarnya.

Paul Wittgenstein membangkitkan semangat hidup bagi banyak orang yang sedang berada dalam situasi sulit. Kebangkitannya dari depresi menginspirasi kehidupan manusia. Banyak orang kemudian meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup. Ternyata tidak ada aral yang mampu menghalangi kesuksesan manusia.

Sahabat, apa yang mampu menghalangi manusia untuk keluar dari kesulitan hidupnya? Sebenarnya tidak ada yang mampu menghalangi manusia, kalau manusia mau berjuang untuk keluar dari kesulitan hidupnya. Apalagi kalau manusia menyertakan Tuhan dalam perjalanan hidup ini.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kondisi fisik tidak bisa menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Paul Wittgenstein membuktikan bahwa ia mampu keluar dari keterbatasan dirinya. Dengan satu tangan, yaitu tangan kiri, ia mampu menghasilkan musik-musik spektakuler dengan memainkan piano.

Kisah ini memberi kita inspirasi untuk tidak pernah berhenti berkreasi dalam kehidupan ini. Kreasi yang kita miliki bukan hanya bagi diri kita sendiri. Kreasi yang kita buat juga untuk kebahagiaan bagi banyak orang. Karena itu, tantangan dan rintangan yang menghadang mesti memberi kita motivasi untuk terus-menerus berkarya.

Untuk itu, yang mesti disadari adalah kita tidak berkarya sendirian. Paul Wittgenstein meminta bantuan orang-orang lain untuk membantunya dalam menciptakan lagu-lagu. Ia melanjutkannya dengan memainkan piano. Ketika kita bekerja sendirian, hasil yang kita dapatkan sering kurang optimal. Tetapi ketika kita saling membantu dalam suatu karya, karya itu menjadi sesuatu yang spektakuler.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah suatu sikap rendah hati dalam berkarya. Artinya, orang berani mengakui kekurangan dan kelemahan dirinya. Lantas orang berani menerima keunggulan orang lain demi kemajuan dirinya. Hal ini sering tidak mudah. Mengapa? Karena orang sering mengandalkan egoisme dirinya. Orang lebih menonjolkan kemampuan dirinya sendiri. Akibatnya, orang tidak mampu menyelesaikan suatu karya yang spektakuler.

Mari kita berkarya bersama untuk menghasilkan karya-karya yang spektakuler. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih baik dan damai. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1112

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.