Pages

12 Juni 2014

Membuka Diri untuk Memperkaya Hidup



Tidak gampang orang mempelajari bahasa orang lain. Namun ketika orang mau membuka diri bagi bahasa dan budaya orang lain, orang akan diperkaya.

Tidak banyak sepertinya anak muda Moskow yang tahu banyak tentang Indonesia. Namun Marina Makarova adalah pengecualian. Gadis cantik ini lancar berbahasa Indonesia, karena dia menjadi sekretaris Duta Besar Indonesia untuk Rusia.

Senyum manisnya tersungging saat berjumpa dengan sejumlah orang di Jakarta beberapa waktu lalu. Rambut brunette-nya dibiarkan tergerai panjang, dengan mata biru yang berkilatan.

"Halo, apa kabar?" sapanya dalam Bahasa Indonesia dengan aksen yang lancar.

Tidak perlu berbahasa Inggris saat berbincang dengan Marina. Dia paham sepenuhnya bahasa Indonesia, karena sudah 4 tahun lebih belajar bahasa Indonesia di Rusia. Marina mengatakan, ia menguasai 5 bahasa, Rusia sebagai bahasa ibu, Inggris, Prancis, Melayu Malaysia dan Indonesia.

"Kalau Prancis saya belajar waktu SMA. Bahasa Indonesia dan Melayu saya belajar sewaktu kuliah mengambil jurusan Bahasa Melayu dan Indonesia di universitas di Moskow," katanya.

Marina dengan bangga menunjukan video di Youtube, ketika dia juara 4 pertandingan pidato bahasa Melayu antarbangsa Piala Perdana Menteri 2012 di Malaysia. Marina kemudian memfokuskan diri belajar bahasa Indonesia ketimbang bahasa Melayu.

"Saya pilih belajar bahasa Indonesia, karena sudah banyak orang Rusia belajar bahasa Jepang atau China, terkait dengan pekerjaan atau bisnis mereka. Bahasa Indonesia tidak sulit kok, tapi kalau kalimatnya panjang. Kalau terkait tema politik atau ekonomi, agak sulit juga memahaminya,” kata Marina.

Marina juga sebenarnya ingin belajar bahasa Arab. Namun karena dia perempuan, dia memahami agak sulit untuk perempuan bekerja dengan perusahaan atau kedutaan Timur Tengah karena faktor budaya.

"Kalau Indonesia kan Islamnya moderat. Komunikasi dengan perempuan juga terbuka, jadi saya belajar bahasa Indonesia," ujarnya.

Sahabat, mempelajari bahasa lain membuka cakrawala pandang tentang suatu bangsa. Orang yang hanya mau tahu tentang bahasanya sendiri akan ketinggalan dalam kehidupan. Cakrawala pandangnya pun menjadi lebih sempit. Ketika cakrawala pandang orang sempit, yang dilihat hanya dirinya sendiri. Dirinyalah yang paling baik. Orang lain tidak lebih baik dari dirinya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani melangkah lebih jauh daripada apa yang kita bisa lakukan sekarang. Marina Makarova memberi kita contoh untuk berani belajar tentang bahasa orang lain. Dengan belajar bahasa orang lain, kita juga dapat membuka cakrawala pandang kita. Bahkan kita bisa belajar tentang budaya dan kebiasaan-kebiasaan orang lain. Hasilnya, kita menjadi lebih kaya dalam kehidupan ini.

Dunia sudah terbuka luas. Tidak ada lagi benteng yang membatasi hidup manusia. Komunikasi antarmanusia begitu baik dan lancar. Persahabatan antarbangsa tidak perlu menunggu pihak-pihak yang berkepentingan untuk membuka jalinan persahabatan itu.

Persahabatan dapat dibangun melalui media sosial yang ada. Kita bisa memiliki sahabat dari negeri mana pun di dunia ini. Kita dapat mengenal bahasa dan budaya yang mereka gunakan. Kita dapat belajar bahasa dan kebudayaan mereka. Hasilnya, kita menjadi ‘orang-orang yang kaya’ dalam hidup ini. Kaya dalam membangun pergaulan dengan sesama, karena mampu mengerti bahasa mereka.

Orang yang beriman itu orang yang mampu membangun relasi dan persahabatan dengan semua orang. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak hidup sendiri dan dengan bangsanya sendiri. Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai bahasa dan bangsa dengan maksud untuk berbagi kehidupan. Yang satu dapat melengkapi kekurangan dari yang lain. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih damai dan bahagia. Mari kita membuka diri untuk belajar bahasa dan budaya bangsa lain. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1104

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.