Pages

26 Juni 2014

Kita Semua Berkenan kepada Tuhan

 

Apa yang akan terjadi, ketika kehadiran Anda disepelekan bahkan ditolak? Anda marah?

Seorang anak sudah lama meninggalkan orangtuanya. Ia merasa bahwa kehadirannya di dalam keluarga kurang diterima oleh kedua orangtuanya. Sejak kelas tiga SMA, ia mencari jalan sendiri. Ia berusaha untuk menyelesaikan sekolahnya di SMA. Sejak itu, ia mulai bekerja. Ia pun tidak terlalu peduli terhadap sikap kedua orangtuanya.

Suatu hari, ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi dengan biaya sendiri. Cita-citanya adalah membuktikan kepada orangtuanya bahwa ia merupakan anak yang baik. Ia semestinya berkenan di hati mereka. Ia ingin kembali ke rumah orangtuanya dengan kesuksesan hidup.

Semester demi semester ia mampu lewati dengan baik. Di semester terakhir, ia mampu mempertahankan karya tulisnya. Ia lulus dengan sangat memuaskan. Dengan ijazah S1 di tangan, ia ingin menaklukan hati kedua orangtuanya. Ia pulang untuk menemui mereka. Ia pulang ke rumah untuk membawa berita gembira.

Sayang, begitu menginjakkan kakinya di pintu masuk rumah, sang ayah langsung menghalaunya keluar. “Semua orang di rumah ini tidak berkenan atas kehadiranmu. Kamu sudah mati! Anak durhaka tidak layak tinggal di rumah ini!” hardik ayahnya.

Anak itu merasa sangat tertusuk oleh kata-kata pedas ayahnya. Tetes-tetes airmata membasahi wajahnya. Dengan berat hati, ia mesti meninggalkan rumah orangtuanya. Ia pun bertekad untuk melanjutkan hidupnya tanpa orangtuanya.

“Sudah tidak ada siapa-siapa dalam hidup saya. Tidak ada cinta orangtua dalam diri saya. Tetapi saya tidak akan memberikan sedikit pun ruang bagi kebencian dalam diri saya. Saya tidak akan melakukan balas dendam,” janji anak itu dalam hatinya.

Sahabat, kita hidup dalam dunia dengan berbagai risiko yang mesti dihadapi. Ada yang kuat menghadapinya. Namun ada yang menyerah terhadap risiko-risiko hidup. Ketika orang menyerah terhadap risiko-risiko kehidupan, orang akan mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidup. Kebahagiaan masih menjadi impian dalam hidup ini.

Kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa risiko kehidupan ini mesti dihadapi dengan penuh iman. Apa pun yang terjadi, orang mesti menjalani kehidupan ini. Orang mesti berani mengarungi kehidupan ini, meski ada orang-orang terdekat menolak kehadiran kita. Anak dalam kisah di atas ditolak kehadirannya. Bahkan ia tidak diakui lagi. Namun ia tidak membalas penolakan dengan kebencian. Ia tidak mau membalas dendam.

Sebenarnya setiap orang berkenan kepada Tuhan. Ini yang semestinya menjadi patokan dalam perjalanan mengarungi kehidupan ini. Meski ada orang yang menolak kehadiran kita, tetapi Tuhan tidak pernah menolak kita. Tuhan selalu memperhitungkan kehadiran kita.

Berkenan di hadapan Tuhan mesti menjadi target utama dari perjuangan kehidupan orang beriman. Hal ini memberi motivasi bagi kita untuk terus maju dalam memperjuangkan kehidupan. Dengan cara ini, orang memelihara hati dan jiwanya. Orang punya keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menemani dan menyertai perjuangan hidupnya. Orang tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, orang justru selalu memperjuangkan cinta kasih dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1111

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.