Pages

Tampilkan postingan dengan label relasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label relasi. Tampilkan semua postingan

10 Oktober 2015

Kikis Kesombongan, Bangun Relasi dengan Tuhan

 

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda ditilang karena melanggar lalulintas? Saya yakin, Anda tidak begitu saja menerima tilang dari polisi itu. Anda merasa tidak bersalah.

Saya sangat senang menonton pertandingan sepakbola. Selain dapat melihat keterampilan pemain-pemain mengolah bola di lapangan hijau, dari situ saya dapat belajar banyak hal. Saya belajar mengenai sportivitas. Saya belajar tentang karakter para pemain. Tetapi saya juga belajar bagaimana para pemain mesti memikili sikap yang baik dalam bermain sepakbola.

Di dunia sepakbola, setiap pemain tidak bisa menghindari pelanggaran-pelanggaran. Tidak jarang mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu. Bahkan ada saat di mana mereka mesti melakukan pelanggaran secara sengaja, supaya gawang tidak kebobolan. Atas tindakan tersebut, pasti mereka mendapatkan ganjaran dari wasit berupa kartu kuning atau kartu merah. Jika pelanggaran yang dilakukan pemain sangat berat, maka organisasi sepakbola di mana ia berada biasanya yang akan memberikan ganjaran.

Lionel Mesi atau Kristiano Ronaldo sering menjadi sasaran pelanggaran. Tidak hanya pelanggaran kecil. Bahkan mereka mengalami pelanggaran besar hingga mengalami cedera. Namun mereka tetap sportif. Mereka tidak membalas pelanggaran itu dengan pelanggaran. Mengapa? Karena itulah bagian dari permainan sepakbola.
 
Melepaskan Pamrih

Kata ‘ganjaran’ tidak mesti selalu dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Hal yang positif pun dapat menggunakan kata ini. Ganjaran dapat dipakai untuk menyatakan upah di dunia bagi seseorang ketika berlaku rendah hati. Kata ganjaran ini mempunyai tiga makna. Pertama, seseorang memperoleh kekayaan. Kedua, seseorang memperoleh kehormatan. Ketiga, seseorang memperoleh kehidupan.

Tentu saja kerendahan hati bukan hal yang mudah bagi manusia. Mengapa? Karena manusia sering memiliki sikap pamrih dalam hidup ini. Melakukan sesuatu, kalau ada hadiah atau balasan.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap memiliki sikap rendah hati dalam hidup ini. Para pemain sepakbola tetap bersikap sportif dan rendah hati saat diganjar kartu kuning atau merah. Mereka menerima, meski dalam hati mereka merasa dihukum secara tidak adil. Mereka rela menerima hukuman atas pelanggaran yang mereka lakukan.

Sering dalam hidup ini, banyak orang tidak mau dihukum saat melanggar aturan-aturan kehidupan. Bahkan mati-matian mereka membela diri. Mereka tidak mau menerima hukuman. Mereka tidak mau menerima begitu saja, kalau dikatakan mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran. Padahal sudah ada bukti-bukti bahwa mereka melakukan pelanggaran.

Yang dibutuhkan dari orang beriman adalah membangun relasi yang baik dengan Tuhan. Artinya, kita meminta bantuan dari Tuhan, agar kita senantiasa diberi kerendahan hati. Tuhan menguatkan hati kita untuk rela menerima ganjaran atas perbuatan-perbuatan kita. Memang, tidak mudah. Namun kita mesti terus-menerus mencoba. Mengapa? Karena membangun relasi dengan Tuhan setiap hari akan mengikis kesombongan diri kita.

Seorang bijaksana berkata, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Mari kita terus-menerus membuka hati bagi Tuhan. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT

Palembang – (masih) Kota Asap


1168

04 November 2014

Memperbaiki Relasi yang Rusak dengan Rela Mengampuni

Bagaimana Anda memperbaiki relasi Anda yang sedang kurang harmonis? Saya yakin, Anda tentu punya berbagai cara.

Hubungan Eminem dan ibundanya, Deborah "Debbie" Mathers, sempat bermasalah. Dia bahkan menyindir sang bunda di lagu "Cleaning Out My Closet", beberapa tahun lalu. Namun, dia menyesal dan meminta maaf atas perbuatannya.

Rapper asal Detroit, Amerika Serikat, ini membuktikan hal tersebut dengan melibatkan Deborah di video klip untuk lagu terbarunya berjudul "Headlights". Di MV tersebut, dia memeluk sang bunda dan berterima kasih atas perjuangan yang dilakukannya. Lagu ini digarap oleh sutradara yang juga nominasi peraih Oscar, Spike Lee.

Video Klip ini dimulai dengan Deborah yang tengah mendengarkan lagu Eminem di TV. Foto masa lalu Eminem saat remaja pun muncul, ketika dia membuka foto album keluarga. Deborah lalu berusaha menemui Eminem, namun ditolak oleh para pengawal di gerbang rumahnya.

Lagu ini dirilis bertepatan dengan Hari Ibu Amerika Serikat. Headlights juga masuk dalam album Eminem tahun 2013, The Marshall Mathers LP 2. Dalam lagu ini, Eminem berduet dengan Fun's Nate Ruess.

Spike mengaku sangat tersentuh dengan lirik lagu "Headlights". Dia juga menilai lagu tersebut menceritakan makna dari sebuah kehidupan.

“Aku sangat suka dengan narasinya, untuk apa yang terjadi di 'Headlights'. Itu adalah cerita yang sangat bagus. Itu tulus, ada beberapa rasa sakit, tapi itulah kehidupan. Jadi itulah alasannya kita di sini, kembali ke asal, 8 Mile Detroit, syuting di mana semua ini bermula,” kata Spike Lee.

Sahabat, hidup yang kurang harmonis bisa diperbaiki. Sayang, banyak orang merasa bahwa hidup yang kurang harmonis itu lebih baik dihancurkan saja. Akibatnya, relasi semakin memburuk bahkan hancur berantakan. Terjadi perang dingin antarsesama. Saudara bisa menjadi lawan. Bahkan ibu kandung bisa diperlakukan dengan kurang hormat.

Kisah Eminem di atas menjadi sebuah pelajaran yang sangat bermakna bagi kehidupan kita di zaman modern ini. Mengampuni ternyata lebih baik daripada menyingkirkan. Berdamai kembali dengan orang yang terdekat dengan kita ternyata membuahkan kebaikan bersama. Karena itu, kesadaran Eminem untuk berdamai kembali dengan sang ibu merupakan suatu keutamaan yang indah.

Ketika menghadi relasi yang kurang harmonis, banyak orang di zaman sekarang lebih mudah dihancurkan. Mengapa? Karena orang berprinsip bahwa sesuatu yang sudah rusak itu lebih baik dibuang. Seperti barang yang rusak tidak perlu diperbaiki. Orang membuangnya, karena dapat membeli ganti yang baru.

Tentu saja hal seperti ini bukan cerminan orang yang beriman. Orang beriman mesti selalu memperbaiki relasi yang sedang rusak. Relasi yang kurang harmonis mesti diperbaiki, bukannya dihancurleburkan. Mengapa? Karena manusia memiliki hati daging, bukan hati batu yang keras dan beku.

Mari kita terus-menerus membangun kembali relasi yang kurang harmonis di antara kita. Dengan demikian, kita dapat membangun sebuah relasi yang lebih baik dan berguna bagi hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1167

30 November 2013

Bangun Relasi yang Baik dan Intens dengan Sesama


Apa yang akan Anda lakukan ketika sesama Anda dalam hidup bersama mempunyai masalah dalam hidupnya? Anda biarkan saja? Atau Anda terlibat dalam usaha-usaha untuk memecahkan persoalannya?

Ada seorang anak yang merasa kurang bersahabat dengan ayahnya. Ia merasa hidupnya hampa, meski sang ayah ada di sampingnya. Hal itu terjadi karena sewaktu kecil ia jarang berjumpa dengan ayahnya. Ayahnya seorang pengusaha yang sangat sibuk. Setiap kali ia punya masalah, ia selalu curahkan kepada sang ibu. Sedangkan sang ayah selalu merasa ia tidak punya persoalan hidup.

Akibatnya, ia kurang punya relasi yang mendalam dengan ayahnya. “Saya merasa kurang punya cinta terhadap ayah saya. Relasi kami tidak begitu intens. Ketika saya pulang ke rumah, saya jarang bertemu dengan ayah,” kata anak itu.

Kini anak itu punya hidup sendiri. Saat ayahnya berusaha untuk mendekatinya, ia selalu mengelak. Atau ia bisa dekat dengannya, tetapi ia tetap merasa hampa. Relasi antara mereka tidak punya makna yang dalam. Kondisi seperti ini membuat hatinya sedih. Ia ingin sekali dekat dengan ayahnya, tetapi ia mengalami kesulitan untuk mendekati ayahnya. Ada suasana canggung antara mereka.

Situasi seperti ini kemudian membuat dirinya resah. Ia tidak ingin kehilangan ayahnya. Ia tidak ingin hanya dekat dengan ibunya. Ia juga tidak ingin ayahnya merasa terasing dalam keluarganya. Ia ingin ayahnya mau memasang telinga untuk mendengarkan masalah-masalah yang dihadapinya. Ia ingin berbagi pengalaman hidup dengannya.

“Dalam hidup keluarga, semua mesti saling peduli. Ketika ada yang punya masalah, yang lain juga mesti merasakan. Saya ingin ayah saya juga merasakan masalah yang saya alami. Saya ingin ayah bisa membantu saya untuk menyelesaikan masalah-masalah saya,” katanya.

Sahabat, setiap orang ingin membangun relasi yang baik dan intens dengan orang-orang yang terdekat. Relasi yang baik dan intens akan membawa orang pada hidup yang bahagia dan tenteram. Dalam kehidupan bersama itu orang akan saling peduli. Ketika ada yang punya masalah, yang lain ikut terlibat dalam upaya menyelesaikannya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kegundahan dalam hidup bersama terjadi, ketika ada relasi yang kurang baik dan intens. Anak itu merasa sedih, karena relasi dengan ayahnya kurang akrab. Ia ingin mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapinya, tetapi ia tidak mampu. Relasi yang kurang dekat dan intens itu menyebabkan ia merasa enggan untuk mengungkapkan masalah-masalahnya kepada ayahnya.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup bersama adalah membangun relasi yang baik dan intens. Tentu saja dibutuhkan suatu rasa percaya di antara pada anggota yang hidup bersama itu. Kepercayaan akan memberi suasana bebas untuk saling mengungkapkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Mengapa? Karena ketika satu anggota punya masalah, setiap orang yang ada dalam hidup bersama itu punya kesempatan untuk membantu memecahkan persoalan itu.

Orang beriman dipanggil untuk terlibat dalam persoalan-persoalan hidup sesamanya. Tujuannya untuk membantu sesamanya mengatasi persoalan-persoalan itu. Kehadiran seseorang dalam hidup bersama itu menjadi rahmat bagi orang lain. Rahmat itu semakin membuahkan hal-hal baik, ketika digunakan sebaik-baiknya untuk kebahagiaan bersama. Mari kita membangun relasi yang baik dan intens dengan sesama. Dengan demikian, hidup bersama menjadi lebih baik dan menyenangkan bagi semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

TTabloid KOMUNIO


992

09 Oktober 2011

Membangun Relasi yang Lebih Dalam



Seorang ibu menceritakan pengalaman pahitnya dalam hidup berkeluarga. Ia sering disiksa oleh suaminya. Ia sering ditinggal pergi oleh suaminya berbulan-bulan. Bahkan suaminya itu telah menjalin kasih dengan perempuan lain.
Rata Penuh
Hati ibu itu terasa hancur. Ia merasa seolah-olah sudah jatuh ditimpa tangga pula. Hidup terasa berat baginya. Padahal, ia menikah dengan suaminya itu untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup. Ia ingin mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya.

Dari segi materi, ibu itu tidak berkekurangan. Ia punya usaha sendiri yang sungguh-sungguh mendatangkan banyak keuntungan. Ia tidak perlu kuatir akan masa depan tiga orang anaknya. Ia mampu menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi. Ia mampu membimbing anak-anaknya untuk memiliki masa depan yang cerah. Satu hal kekurangan dalam hidupnya, yaitu ketidakharmonisannya dengan sang suami. Kalau suaminya berada di rumah, mereka selalu bertengkar. Tidak ada damai di antara mereka.

Ibu itu berkata, ”Yang membuat saya bertahan adalah anak-anak saya. Mereka begitu mencintai saya. Mereka mau berbagi dengan saya.”

Namun suatu hari tumbuh pula rasa sesal dalam diri ibu itu. Ia menyesal, mengapa suaminya pergi meninggalkannya berbulan-bulan. Mengapa ia selalu melihat segi negatif dalam diri suaminya? Ibu itu tidak hanya berhenti pada rasa sesal. Ia berusaha untuk mengembalikan suaminya ke sisinya. Untuk itu, ia mesti mengubah sikap-sikapnya. Ia mau melihat segi-segi positif yang ada dalam diri suaminya. Ia mengakui bahwa ketidakharmonisan yang terjadi selama ini juga buah dari kesalahan dirinya.

Usaha itu berhasil. Setelah lama berpisah, sang suami kembali ke sisinya. Mereka pun hidup bahagia sebagai suami istri. Derita yang lama dialami oleh ibu itu pun berakhir dengan sukacita dan damai.

Sahabat, banyak pasangan suami istri di zaman sekarang mengalami kekeringan hidup rohani. Mereka punya banyak masalah dalam hidup. Ada yang berhasil menemukan solusi atas persoalan-persoalan mereka. Namun ada juga yang hidup di bawah tekanan, karena persoalan-persoalan yang tidak terselesaikan.

Pertanyaannya, mengapa pasangan suami istri mengalami kekeringan hidup rohani? Salah satu jawabannya adalah relasi mereka kurang mendalam. Mereka kurang saling mengenal. Pengenalan mereka hanya di kulit luar saja. Akibatnya, mereka mudah tersulut di saat ada persoalan yang menghadang kehidupan berkeluarga mereka. Mereka kurang punya dasar yang kokoh untuk meneruskan perjalanan hidup mereka sebagai suami istri. Banyak pasangan suami istri akhirnya memutuskan untuk berpisah. Sayang, memang. Tetapi itulah kenyataan yang ada.

Karena itu, apa yang mesti dibuat untuk mempertahankan hidup sebagai suami istri? Yang pertama-tama mesti dibuat adalah berusaha untuk mengenal pasangan masing-masing. Tentu saja hal ini menjadi tantangan yang tidak ringan. Seseorang mesti mengenal betul isi hati pasangannya. Orang mengatakan, dalamnya laut dapat diduga. Tetapi dalamnya hati siapa yang tahu.

Namun berkat bantuan rahmat Tuhan, orang beriman mampu mengenal pasangannya dengan baik. Untuk itu, orang mesti berani menyerahkan hidupnya dan pasangannya ke dalam kuasa Tuhan. Orang beriman membiarkan Tuhan mengintervensi hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi indah dan membahagiakan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

800

26 September 2011

Bangun Relasi dengan Tuhan Melalui Doa

Ada seorang anak yang suka berdoa. Ke mana pun ia pergi, ia pasti berdoa lebih dahulu sebelum berangkat. Ketika tiba di tempat tujuan, ia juga berdoa. Bahkan sepanjang perjalanan, ia melewatkan waktu-waktunya dengan berdoa. Ia ingin agar perjalanan hidupnya sungguh-sungguh ditemani oleh Yang Mahakuasa.

Suatu hari, ia lupa berdoa. Waktu itu ia hendak berangkat ke sekolah. Ia sibuk menyiapkan buku-buku pelajaran, sehingga ia lupa berdoa. Apa yang terjadi sesudah itu? Anak itu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia merasa resah. Ia merasa kekuatiran hinggap dalam dirinya. Ia merasa tidak tenang.

Melihat kondisi anaknya, sang ibu yang mengantarnya pagi itu ke sekolah juga bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang dialami oleh anaknya.”Apa yang terjadi denganmu? Ada yang tertinggal di rumah?” tanya sang ibu.

Anak itu juga bingung. Ia tidak tahu mau menjawab apa. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang tertinggal di rumahnya. Namun ia tidak menemukannya. Setelah hampir sampai di pintu gerbang sekolah, anak itu baru ingat.

Ia berkata, ”Mama, saya lupa berdoa tadi sebelum berangkat. Saya tidak tahu mengapa saya sampai melupakan hal yang sudah biasa saya lakukan. Bukankah berdoa itu sudah menjadi bagian dari hidup saya, bu?” Sang ibu berusaha menghiburnya.

Sahabat, sudahkah Anda berdoa hari ini sebelum Anda memulai suatu pekerjaan? Atau Anda lupa bahkan tidak peduli sama sekali terhadap doa? Bukankah berdoa itu membangun relasi yang lebih dekat dengan Tuhan? Bagaimana rasanya kalau Anda tidak berdoa?

Kisah di atas memberi inspirasi kepada kita tentang manfaat doa dalam hidup kita. Doa ternyata memberi ketenangan dalam hidup seseorang. Orang yang mengawali hari-hari hidupnya dengan berdoa akan mengalami betapa hidup ini menyenangkan. Orang tidak perlu merasa cemas. Orang tidak perlu kuatir dan takut akan apa yang akan dikerjakan pada hari itu.

Doa juga menjadi kesempatan bagi manusia untuk mengucapkann syukur dan terima kasih atas perlindungan Tuhan. Tuhan begitu baik kepada manusia. Tuhan senantiasa mengasihi manusia. Meskipun manusia membangkang dengan melakukan dosa-dosa, Tuhan tetap mengasihinya. Tuhan menawarkan pengampunan. Tuhan tidak meninggalkan manusia hancur lebur oleh dosa-dosa yang dilakukannya.

Karena itu, melalui doa, kita diajak untuk mensyukuri anugerah Tuhan dalam hidup kita. Kita diajak untuk tetap setia kepada Tuhan yang telah mengasihi kita itu. Marilah kita berdoa, Tuhan kami mengucapkan terima kasih atas penyertaanMu selama hari ini. Kami mengalami kebaikanMu melalui orang-orang yang membantu kami. Semoga kami senantiasa mengalami kasihMu dalam hidup ini. Amin. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


788

21 Agustus 2011

Bangun Relasi yang dalam dengan Tuhan lewat Doa


Setiap pagi, setelah sarapan, seorang gadis selalu masuk ke dalam kamarnya yang sunyi. Di sana ia memasrahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia berdoa, agar hidupnya damai. Ia berdoa, agar Tuhan memberikan kebahagiaan dalam hidupnya.

Dalam keheningan itu, ia berdoa, ”Tuhan, bantu aku menjadi orang yang peduli terhadap kehidupan. Ubahlah hatiku yang suam-suam kuku, agar hidup imanku bertumbuh dan berkembang lebih baik.”

Gadis itu menemukan ketenangan dalam hidupnya hari itu. Ia keluar dari kamarnya dengan senyum manis yang merekah. Ia tidak perlu lagi tenggelam dalam dukacita batinnya. Ia boleh bergembira, karena mengalami bahwa Tuhan begitu baik kepadanya. Tuhan senantiasa menyertai hidupnya. Tuhan tidak meninggalkannya berjuang sendiri.

Hari itu, gadis manis itu melaksanakan tugas-tugas kantornya dengan baik. Sebagai pegawai di kantornya, ia pun kreatif dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Ia tidak hanya terpaku pada tugas-tugas rutin. Ia sungguh-sungguh mengembangkan diri dan tugas-tugasnya dengan penuh kreativitas. Hasilnya? Perusahaan di mana ia mengabdi berkembang dengan pesat.

Gadis itu tetap setia pada kebiasaannya. Sebelum melakukan kegiatan-kegiatannya, ia berdoa kepada Tuhan. Dengan berdoa itu, ia mau menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Ia yakin, hanya Tuhan yang mampu membahagiakan hidupnya. Ia yakin, hanya Tuhan yang memberikan perlindungan bagi dirinya.

Sahabat, pernahkah Anda mengalami doa begitu penting bagi hidup Anda? Atau doa Anda hanyalah sebuah acara rutin dan kewajiban belaka dari manusia yang beriman? Atau Anda berdoa karena Anda membutuhkan relasi yang lebih baik dengan Tuhan yang Anda imani?

Kisah gadis itu menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak hanya berdoa karena rutinitasnya sebagai orang beriman. Ia berdoa, karena ia ingin relasinya dengan Tuhan terjalin dengan baik. Ia berdoa, karena ia ingin menyerahkan dirinya terus-menerus kepada Tuhan. Dengan demikian, Tuhan saja yang menjadi penguasa atas dirinya. Bukan kekuatan-kekuatan lain yang justru menjerumuskan dirinya ke dalam kegelapan hidup.

Dari kisah di atas kita dapat mengatakan bahwa doa mampu mengubah cara hidup seseorang. Gadis itu menjadi orang yang bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab. Ia menjadi lebih kreatif berkat doa yang dipanjatkannya kepada Tuhan. Dalam doa, orang mempersatukan diri dengan Tuhan yang diimaninya. Dalam doa, orang dapat membangun suatu relasi yang lebih baik dan mendalam dengan Tuhan.

Hasilnya adalah orang mengalami bahwa hidup ini menjadi lebih bermakna. Hidup yang dijalani ini bukan hanya sekedar suatu rutinitas. Kalau orang bekerja, orang menjadi lebih kreatif. Orang tidak berhenti pada menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Melalui doa, orang mampu melihat kebaikan Tuhan dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar doa kita memiliki daya guna bagi hidup kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih bermakna. Kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



762

01 Oktober 2009

Menjalin Relasi yang Baik dengan Tuhan


Seorang ayah mengajari anaknya yang berusia 5 tahun tentang doa dan kuasa Tuhan yang dapat menjawab setiap permohonan doa orang yang percaya kepadaNya. Anak itu menerima semua pengajaran ayahnya dengan hati yang sangat terbuka. Tetapi ia agak bingung karena belum tahu bagaimana caranya mengeluarkan kata-kata yang tepat untuk berdoa.

Pada waktu itu, ia sedang bermain-main dengan huruf-huruf alfabet A-B-C-D yang terbuat dari plastik. Tiba-tiba timbul ide dalam diri anak tersebut. Ia berpikir bahwa Tuhan itu Mahakuasa, jadi Ia dapat melakukan apa saja yang mustahil bagi manusia.

Maka dengan tangannya ia mencampuradukkan mainan huruf-huruf plastik A-B-C itu seraya berkata, “Tuhan, aku tidak tahu bagaimana caranya berdoa, sebab aku masih kecil. Tetapi ayahku berkata bahwa Engkau Mahakuasa dan aku percaya akan hal itu. Maka kini aku mencampuraduk huruf-huruf ini, biar Engkau ya Tuhan yang menyusunnya menjadi kata-kata doa bagiku.”

Anak ini sangat polos dan tulus. Ia sadar, ia tidak tahu kata-kata yang indah yang ia panjatkan kepada Tuhan dalam doa-doanya. Karena itu, kita yakin, Tuhan mendengarkan doanya. Anak ini ingin berhubungan langsung dengan Tuhan. Ia merasa bahwa Tuhan itu seperti ayahnya sendiri. Karena itu, ia meminta Tuhan menyusun huruf-huruf permainannya menjadi kata-kata doa baginya.

Doa merupakan sumber energi paling kuat yang dikenal oleh manusia. Doa menawarkan sebuah hubungan langsung dengan Tuhan. Doa itu seperti berkas sinar yang tak henti-hentinya tercurah dari hati dan pikiran seorang pendoa.

Doa membuka hati kita untuk menerima bantuan dari Tuhan yang selalu mengelilingi dan menyertai kita. Tuhan menunggu kita untuk memanjatkan doa-doa kita kepadaNya. Tuhan ingin agar kita membangun relasi yang baik denganNya. Caranya adalah dengan berdoa kepadaNya. Artinya, orang beriman menyerahkan seluruh keluh kesahnya kepada Tuhan. Dan membiarkan Tuhan menjawab keluh kesah itu dengan penuh kasih.

Sebagai orang beriman, kita tentu ingin agar setiap persoalan hidup kita didengarkan oleh Tuhan. Kita ingin agar Tuhan mengabulkan setiap permohonan kita. Karena itu, mari kita berdoa dengan penuh iman kepadaNya. Kita biarkan Tuhan menguasai diri kita dengan kuasaNya. Dengan demikian kita menjadi orang-orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.